
Bismillah.
Adzan subuh tiba, Jihan sudah bangung sedari tadi sejak pukul 3 : 30, dia dan suaminya sempat menunaikan shalat sunnah bersama, tapi setelahnya Radit kembali tertidur karena masih begitu mengantuk.
Jihan mendekati kasur mereka, dia pandangi anak dan suaminya sedikit lama sebelum membangunkan kedua orang itu.
"Alhamdulillah Ya Allah, sungguh karunia Engkau tiadatara." Ucap Jihan pelan.
"Sayang ayo bangun, Nak, sudah subuh." Jihan membangunkan Nafisa lebih dulu dari pada suaminya.
Tidak sulit untuk membangunkan Nafisa di waktu subuh, karena anak itu sudah terbiasa bangun saat subuh, hanya sekali saja Jihan membangunkan Nafisa, gadis cilik itu sudah membuka matanya sempurna.
Senyum Nafisa mengembang kala melihat sang bunda tengah menatap dirinya sambil tersenyum.
"Bunda." Ucap Nafisa langsung berhamburan ke dalam pelukan Nafisa.
"Iya Nafisa, ayo bangun."
"No! Nafisa mau dengar tadi waktu bunda bangunin Nafisa bunda panggil apa? Nafisa mau dengar lagi." Pintanya.
Jihan ingat tadi dia membangunkan Nafisa sambil mengucapkan kata sayang, "Sayang ayo bangun." Ucap Jihan lagi.
Nafisa mengangguk senang, Radit merasa sedikit terganggu membuka matanya, saat netralnya sudah membuka sempurna Radit melihat dua perempuan yang paling berharga dalam hidupnya sedang tersenyum kearahnya.
"Pagi sayangnya ayah." Sapa Radit.
Bahkan Radit langsung mendaratkan sebuah ciuman pada anak dan istrinya, "Pagi ayah." Jawab keduanya kompak.
"Sudah ayo ambil wudhu dulu." Ajak Jihan pada Nafisa.
Nafisa mengangguk patuh, keduanya meninggalkan Radit menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Sekarang Radit dan Jihan sudah bisa sholat berjamaah setiap bersama, tidak seperti dulu saat mereka belum menikah.
Selesai Jihan dan Nafisa mengambil air wudhu kini gantian Radit yang membersihkan diri. Jihan menggelar sajadah untuk dirinya, suaminya dan anaknya, "Kita tunggu ayah dulu ya." Ucap Jihan pada Nafisa.
"Siap bunda." Setiap kali memanggil Jihan dengan sebutan bunda rasanya Nafisa sangat senang sekali, apalagi Jihan tidak lagi marah jika dipanggil bunda, tidak seperti waktu itu kala belum menikah dengan ayah Radit.
Saat Radit sudah selesai mengambil air wudhu mereka segera melaksanakan shalat jamaah subuh. Setelah subuh Jihan langsung membersihkan diri Nafisa, dia juga menyiapkan semua kebutuhan suaminya, setelah di kamarnya semua beres barulah Jihan turun ke lantai bawah, dia baru ingat jika hari ini kedua orang tuanya dan adiknya harus pulang ke rumah mereka.
Jihan menghampiri ibunya dan oma Rifa yang sedang menyiapkan barang untuk dibawa pulang, "Ibu, mama sudah beres semua? Maaf Jihan tidak sempat bantu." Sesal Jihan merasa tidak enak.
Jihan merasa tidak enak pada kedua wanita paruh baya itu, ibu Kasih dan oma Rifa tersenyum pada anak mereka. "Tidak papa Jihan, semua sudah beres, kenapa sudah turun sekarang apa Radit tidak mencarimu?"
"Tidak ma, mas Radit sedang bersama Nafisa, mereka berdua baru selesai bersih-bersih."
Oma Rifa mengangguk paham, "Oh iya ibu, ibu pulang jam berapa?"
"Sehabis sarapan Jihan."
"Baik bu, Jihan juga sudah rindu rumah."
Waktu bergulir.
Sarapan pagi tiba mereka semua sudah berada di ruang makan, setiap istri melayani suami mereka masing-masing.
"Bunda Nafisa mau disuapin ayah boleh?"
"Sama bunda saja ya, kasihan ayah masih makan."
"Tidak bunda, lihat ayah enak-enak makan, tapi bunda belum makan, sekarang bunda makan, biar ayah yang supain Nafisa."
Jihan jadi terharu sendiri melihat Nafisa begitu perhatian pada dirinya.
"Ayah akan menyuapi Nafisa, bunda makanlah." Ucap Radit lembut.
"Nah gitu dong." Celetuk oma Rifa.
Mereka semua yang berada di meja makan tertawa bersama mendengar celetukan oma Rifa. Nafisa bukan tidak bisa makan sendiri hanya saja, dia lebih suka disuapi daripada makan sendiri, apalagi mbak Jihan sudah biasa menyuapi dirinya.
Saat sarapan sudah berakhir mereka semua mengantar ibu Kasih, pak Joni dan Rafli sampai ke depan rumah, besan oma Rifa itu akan segera pulang. Ayu sudah pamit lebih dulu, karena dia ada piket pagi di sekolah.
Setelah mobil ibu Kasih dan yang lainnya yang dibawa Cahyo sudah tidak terlihat lagi, barulah Radit berangkat kerja, Radit akan mengantar istrinya lebih dulu.
Mereka sudah berada di dalam mobil, Radit sudah melajukan mobilnya.
"Nafisa bunda tidak perlu menunggu Nafisa ya, nanti saat waktu pulang ayah dan bunda akan menjemput Nafisa, tapi ayah bawa bunda ke perusahaan dulu boleh?"
"Boleh yah." Jawab Nafisa.
"Tapi yah, memang tidak apa Nafisa ditinggal sendiri?" ragu Jihan.
"Tidak apa bunda." Sahut Nafisa dan ayah Radit kompak.
Sampai di sekolah Nafisa, Jihan dan Radit mengantar bocah itu sampai ke kelasnya. "Belajar yang rajin sayang." Ucap Jihan.
"Siap bunda."
Radit mengacak rambut putrinya lembut, "Ayah dan bunda pergi dulu ya, Assalamualaikum." Salam Radit dan Jihan.
"Waalaikumsalam ayah, bunda." Jawab Nafisa begitu antusias.
Saat Jihan dan Radit sudah pergi, seorang anak kecil memanggil Nafisa, "Nafisa." Teriak anak itu.
"Rara." Nafisa ikut berteriak.
"Ayo masuk." Ajak keduanya.
Nafisa dan Rara sudah lama menjadi teman dekat, saat pertama kali Nafisa masuk sekolah.
Beralih pada Jihan dan Radit.
"Sayang." Panggil Radit pelan.
Blus….
Muka Jihan langsung saja merona, mendengar Radit memanggil dirinya sayang.
Jihan terpaksa menatap suaminya, walaupun malu, karena Radit sedang menyetir.
"Iya mas." Jawab Jihan.
Radit menoleh sejenak ke arah istrinya, senang sekali Radit kala melihat Jihan tengah menatap dirinya.
"Ada yang akan aku beritahu padamu." Ucap Radit.
Radit tidak mau ada rahasia diantara mereka berdua, maka dari itu Radit akan menceritakan semuanya tentang Elsa dan pernikahan mereka. Radit juga sebenarnya ingin bertanya pada Jihan siapa Hilam dan Puspa, mengingat saat acara pernikahan mereka adik iparnya pernah menyinggung nama itu.
"Apa mas?"
"Nanti mas akan ceritakan semuanya setelah kita sampai kantor." Ucap Radit, Jihan patuh saja.
Tiba-tiba Radit memegang tangan istrinya lembut, "Mas bahagia sekali bisa menikah denganmu." Ucap Radit sungguh-sungguh.
Tidak ada kebohongan yang terpancar di kedua bola mata Radit, Jihan dapat melihat kesungguhan itu.
"Terimakasih mas sudah memilih Jihan menjadi istri mas Radit, tapi boleh Jihan sudah tanya 1 hal?"
"Tentu sayang." Radit masih mengelus tangan istrinya lembut.
"Jika Jihan yang menikah dengan mas Radit lalu bagaimana dengan mbak Elsa?" tanya Jihan ragu.
Radit tersenyum, pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut istrinya.
"Itu juga yang akan mas ceritakan padamu." Jawab Radit.
Deg!
Entah kenapa Jihan jadi berpikir yang tidak-tidak, takut Radit terpaksa menikahi dirinya. Sampai di perusahaan Amran Mingin Radit menggandeng istrinya mesra. Jihan jadi merasa malu sendiri.
"Mas." Bisik Jihan merasa malu.
"Tidak apa sayang, biar semua orang tau kalau kamu milikku dan aku memilikimu." Jawab Radit mantap.