
Bismillah.
Tanpa Jihan sadari Nafisa dan Rafli sudah masuk ke dalam sungai yang sangat jernih itu.
Byur!
"Astagfirullah Nafisa!" kaget Jihan melihat anaknya sudah berada di dalam sungai.
Nafisa sudah memaki baju renang sedari rumah tadi. Jihan sudah sangat ketakutan, dia kira Nafisa tenggelam di dalam sungai, tapi siap sangka nyatanya Nafisa bisa berenang dengan begitu lincah.
"Bunda." Panggil Nafisa sambil tertawa.
Jihan sampai mengelus dadanya sendiri, "Kamu membuat bunda khawatir saja." Jihan merasa lega setelah melihat Nafisa muncul dari dalam sungai.
"Ingat tidak boleh loncat-loncat lagi dan kamu Rafli, jangan ajak adikmu nakal!" kesal Jihan.
Terus saja Jihan mengocah, tidak sadar jika suaminya sedang menatap dirinya intens, "Ayo kita mandi juga bunda." Ajak Radit.
Bahkan Radit langsung menggendong istrinya, membawa Jihan ke tengah sungai mendekati Rafli dan Nafisa yang sudah berada di dalam sungai lebih dulu.
"Ark! Mas Radit!" Jihan tentu saja kaget merasakan tubuhnya tiba-tiba melayang di udara, ternyata ulah suaminya.
Jihan masih mengenakan baju gamis dan kerudung, seperti syarat yang Jihan ajukan tidak ada yang boleh melepas baju mereka, saat mandi di sungai. Keempat orang itu akhirnya tertawa bersama, untungnya sungai tidak terlalu dalam dan juga begitu jernih arusnya begitu tenang membuat siapa saja betah berlama-lamaan berada di sungai.
"Nafisa ayo kita balapan." Ajak Rafli pada Nafisa.
"Ayo, siapa takut kak Rafli." Tantang Nafisa.
Jihan dan Radit sibuk dengan dunia mereka sendiri, tanpa sepengetahun Jihan, Radit membawa nasi untuk mereka makan.
Tadi sebelum ke sungai ibu Kasih mengusulkan Radit untuk coba makan di sungai pasti sangat nikamat dan seru, tentu saja Radit menerima baik usulan ibu mertuanya. Radit memang sengaja membawa nasi untuk dia dan istrinya makan bersama.
"Dek ayo makan, kata ibu kalau makan di pinggir sungai enak, apalagi kalau sama kamu." Goda Radit.
Satu kota bekel berwarna biru Radit keluarkan, walaupun asyik dengan suaminya, tapi Jihan sama sekali tak melepas pengawasan pada Nafisa, begitu juga dengan Radit. Walaupun sudah ada Rafli yang akan menjaga bocah itu, tetap saja Jihan dan Radit terus mengawasi Nafisa.
Jadilah untuk pertama kalinya Radit makan di sungai seperti ini, untuk pertama kalinya seorang Radit Amran mandi di sungai juga.
1 jam berlalu mereka memutuskan untuk selesai bermain di sungai. Di rumah orang tua Jihan juga pasti sudah ramai orang, karena tadi sore ini ibu Kasih mengundang saudara dan beberapa tetangganya mengadakan syukur kecil-kecilan, sebelum 3 hari lagi akan melaksanakan resepsi pernikahan Jihan dan Radit.
Diantara banyaknya orang disana, Himan dan istrinya juga hadir, begitu juga dengan ibu Hilam, kedua suami istir itu sudah sangat penasaran seperti apa tampang Radit.
Di perusahaan Amran Mingin.
Berbeda dengan Radit yang sedang bersenang-senang di kampung istrinya, Cahyo dibuat pusing sendiri dengan semua pekerjaan yang sangat menumpuk ditambah lagi kakek Amran, ternyata hanya 2 kali datang ke perusahaan.
Yang lebih membuat Cahyo pusing lagi karena Amanda yang direkrut oleh kakek Amran sebagai sekretarisnya untuk membantu dirinya, tapi menurut Cahyo. Amanda bukannya membantu malah membuat pekerjaannya semakin kacau.
"Amanda selesaikan dokumen ini!" suruh Cahyo.
"Bapak nggak lihat pekerjaan saya masih banyak!" dengus Amanda. Dia tidak peduli Cahyo menatapnya dingin.
"Hmmm, itu urusan kamu." Jawab Cahyo acuh.
"Atasan sialan!" maki Manda.
Kembali ke desa Marga, Radit dan yang lainnya sudah kembali ke rumah.
Benar saja di rumah sudah begitu ramai. "Ada siapa dek?"
"Tetangga mas, sama beberapa saudara." Jawab Jihan.
Radit menyerit bingung, Jihan yang tau akan ketidak pahaman suaminya akhirnya kembali bersuara. "Ibu ngadain syukuran kecil-kecilan mas, ibu ngundang tetangga sama beberapa saudara jauh yang ada di desan."
"Ayo mas masuk."
Jihan dan Radit menggandeng Nafisa di tengah-tengah mereka sambil bercanda dan tertawa bersama, mereka benar-benar terlihat keluarga bahagia sekali.
"Assalamualaikum." Sapa ketiganya bersama.
"Wa'alaikumsalam." Jawab semua orang.
Mereka semua langsung menoleh pada Jihan, Nafisa dan Radit. Mereka sangat serasi sekali.
Deg!
Puspa dan Hilam langsung bungkam, Hilam tak menyangka jika suami Jihan akan sangat tampan tidak terlihat seperti duda anak satu bahkan Nafisa lebih cocok menjadi adik Radit.
"Nah, datang juga yang ditunggu-tunggu, ayo sini duduk." Suruh ibu Kasih pada mereka semua.
Jihan dan Radit menyapa semua orang ramah. Walaupun Jihan masih sakit hati dengan Puspa dan Hilam. Tapi dia tetap menyapa kedua suami istri itu.
'Cih sombong.' Batin Puspa merasa kesal karena Jihan tidak berbasa basi dengan dirinya. Atau sekadar menggenalkan suami tampannya itu.
Radit menatap Hilam tak suka, karena terus menatap istrinya. Radit memang belum tau jika laki-laki yang terus menatap istrinya itu Hilam, calon tunangan Jihan yang malah menikah dengan sahabat Jihan sendiri. Tapi Jihan sama sekali tidak melihat kearah Hilam maupun Puspa, dia hanya fokus pada Nafisa.
Acara syukuran kecil itu segera dimulai, semua orang menikmati hidang yang sudah disiapkan oleh ibu Kasih.
"Makanya enak-enak sekali ibu Kasih, saya seperti pertama kali makan ini." Komentar salah satu tetangga.
"Benar bu saya juga, tidak pernah saya lihat makanan ini ada di desa." Sahut yang lainnya.
Ibu Kasih dan pak Joni tersenyum. "Bawaan menantu bu." Jawab ibu Kasih.
Banyak tetangga yang memuji Jihan dan Radit, sampai membuat Hilam dan Puspa merasakan kuping mereka terasa panas.
"Dek ayo ke kamar, kita belum shalat ashar." Ajak Radit.
Radit baru ingat akan satu hal itu, tapi ini juga bisa menjadi alasan Radit untuk tidak melihat laki-laki dan perempuan yang terus menatap istrinya. Jihan mengangguk setuju, lalu dia pamit pada semuanya. Untuk pergi dulu.
"Mau kemana Jihan? Kita belum ngobrol loh." Ucap Puspa pede sekali.
Padahal Jihan tadi sudah mengatakan dengab jelas, jika mereka belum asharan.
"Puspa, janga sikapmu." Tegur mertua Puspa.
Puspa acuh saja tak peduli, bahkan suaminya tidak mempedulikan Puspa. Jihan dan Radit juga Nafisa segera ke kamar.
Setelah kepergian 3 orang itu suasana di ruang tamu, jadi sedikit hening.
"Sudah dilajut makanya." Ucap pak Joni memecahkan keheningan yang terjadi.
Para bapak-bapak dan ibu-ibu lanjut mengobrol, Puspa yang kesal menarik suaminya keluar.
'Kenapa dia selalu menang dariku!' bentak Puspa di dalam hatinya.
Puspa tidak terima Jihan mendapatkan laki-laki lebih tampan dan lebih segalanya dari pada dia. Padahal dulu Puspa sendiri yang merebut Hilam.
"Puspa kamu apa-apaan sih! tidak sopan kita sedang bertamu!" kesal Hilam, karena mereka tidak berpamitan pada yang lain.
"Kenapa mas? Betah di dalam, iya? Karena ada Jihan begitu!" tuding Puspa.
"Astagfirullah." Hilam tak habis pikir dengan istrinya.