Babysitting genius

Babysitting genius
#Senang sekali!



Bismillahirohmanirohim.


"Papa!" panggil nenek Rifa pada suaminya sambil berteriak.


Sambung telepon nenek Rifa dan Radit baru saja terputus, setelah panggilan itu terputus nenek Rifa langsung memanggil suaminya.


Nenek Rifa ingin segera memberitahu kabar baik ini pada suaminya, saking senangnya ibu dua anak itu, sampai-sampai dia memanggil suaminya teriak. Kakek Amran yang berada di dapur baru saja akan minum, hampir tersedak air putih mendengar teriakan nenek Rifa.


"Astagfirullah." Istighfar pria paruh baya yang masih terlihat muda itu, diusianya yang hampir memasuki kepala 5.


"Mama kenapa sih teriak-teriak." Gerut kakek Amran.


Nenek Rifa yang tak mendapatkan jawaban dari suaminya, segera mencari keberadaan sang suami di seluruh penjuru rumah mereka yang ada di Surabaya.


"Papa! Mama panggil-panggil juga." Gerut nenek Rifa saat sudah menemukan orang yang dia cari.


Kakek Amran menatap istrinya datar, "Ada apa? Tumben heboh sekali?" tanya kakek Amran langsung pada intinya.


Laki-laki dua anak itu memang tidak suka basa-basi, sama seperti Radit jika bicara langsung saja pada intinya.


"Ini Radit mau menikah."


Kakek Amran mengerutkan keningnya, bukakah memang Radit akan menikah dengan Elsa? dan kenapa sekarang istirnya tiba-tiba senang jika sang anak menikah dengan wanita tidak tau malu itu, bukankah sebelumnya dia yang paling kukuh untuk membuat Radit tidak menikahi Elsa.


"Bukakah anak itu memang sudah mau menikah? Apakah mama berubah pikiran ingin menghadiri acara pernikahan Radit?"


Nenek Rifa menepuk jidatnya sendiri, saking senangnya dia sampai melupakan apa yang akan dikatakan pada suaminya.


"Astagfirullah hal-adzim, maaf mama lupa." Ujar nenek Rifa menjeda sejenak perkataannya.


"Maksud mama Radit memang mau menikah, tapi bukan dengan Elsa, menalinkan dengan Jihan." Terang nenek Rifa agar tidak salah paham.


"Kok bisa jadi Jihan? Apa anak kurang aja itu mau mempermainkan gadis baik-baik seperti Jihan, jika iya papa akan langsung mendendangnya dari rumah kita tanpa pikir panjang."


"Mama juga setuju, hanya saja anak bodoh itu baru menyadari perasaannya pada Jihan. Untuk cucuk kita pintar dan papa harus tau satu hal."


"Elsa sudah menikah! Dan suaminya adalah sekretaris papa!" ucap nenek Rifa mengebu-ngebu.


"Ohh." Sahut kakek Amran enteng.


"Kok cuman ooh doang sih pa."


Kakek Amran mengehebuskan nafas pelan, beliau memeang sering melihat Elsa dan Febry bersama, hanya saja kakek Arman tidak tau mereka suami istri.


Yang kakek Amran tau Elsa sudah selingkuh dibelakang putranya, maka dari itu beliau tidak setuju Radit menikah dengan Elsa, karena wanita itu tak baik. Tapi apa nyatanya kakek Amran mengetahui fakta yang sangat menjijikkan, bagaimana bisa seorang suami memberikan istrinya mendekati laki-laki lain.


Sungguh kakek Amran tidak habis pikir.


"Sudah ma, lagi pula tidak penting memikirkan mereka, sekarang yang lebih penting bukankah pernikahan Radit dan Jihan, sekarang kita harus berbuat apa untuk membantu bocah plin-plan itu?"


"Untung saja Radit mengetahui semuanya sebelum dia dan Elsa menikah." Kakek Amran membuang nafas lega.


"Sekarang kita harus menjemput keluarga Jihan." Kata nenek Rifa sangat antusias.


"Bener juga ayo kita pergi."


Sungguh nenek Rifa dan kakek Amrna sangat menyambut besar Jihan menjadi mantu mereka, kilatan berbinar jelas terlihat dari wajah kedua orang tua itu, wajah yang menampakkan eksperi bahagia.


"Tunggu sebentar ma, kita tidak tau dimana alamat rumah keluarga Jihan bukan?"


"Papa tenang saja ada Manda yang akan menunjukkan jalan untuk kita. Jadi kita tunggu Amanda dan Cahyo datang dulu.


Nafisa memang sudah menyuruh orang untuk memberitahu Manda, Manda setelahnya langsung di bawa ke Surabaya untuk bertemu dengan nenek Rifa dan kakek Amran.


Bukan hanya itu saja, Nafisa dan Ayu sudah mengatakan semua rencana mereka, hanya Jihan lah satu-satunya orang yang tidak tau rencana ini, entah nanti dia akan sedih atau bahagia. Tapi Jihan sudah berjanji pada Nafisa akan menjadi bundanya, Jihan juga mengatakan akan menikah dengan papa Radit.


Ya, Jihan mengatakan itu saat dia dan Nafisa masih saling menangis berpelukan, Jihan yang tak kuasa melihat tangis Nafisa semakin menjadi membuatnya tidak tega untuk menolak semua permintaan Nafisa.


Sampai tanpa Jihan sadari mulutnya terbuka, dan mengatakan. "Iya mbak Jihan mau jadi bunda Nafisa." Ucapnya kala itum


Kata-kata yang keluar dari mulut Mbak Jihan membuat Nafisa bersorak senang dalam hatinya, akhirnya air mata yang dia keluarkan tidak sia-sia. Padahal dia sendiri yang mengatakan pada ayah Radit, jika mereka tidak boleh memaksa mbak Jihan.


Tapi benar Nafisa sama sekali tidak memaksa mbak Jihan untuk menurut permintaannya, dia hanya menjual air mata kesedihannya saja. akhirnya trik itu berhasil. Jika seperti ini tentu Nafisa tidak bisa dikatakan memaksa bukan, Jihan menyetujui dengan sendirinya.


Bocah itu betul-betul licik sekali.


Kembali pada nenek Rifa dan kakek Amran, mereka sendang menunggu kedatangan Manda. Ayu mengatakan jika Manda sudah berada di Jalanan, setelah mbak Jihan menyetujui permintaan Nafisa. Bocak cilik itu langsung bergerak cepat.


Sat, set, sat set. Radit belum tau apa yang telah direncakan oleh anaknya, karena hari sudah malam. Niatnya besok pagi nenek Rifa dan kakek Amran akan mendatangi rumah orang tua Jihan, makanya malam ini Manda langsung dijemput. Agar bisa bertemu langsung dengan nenek Rifa dan kakek Amran..


1 jam berlalu akhirnya nenek Rifa dan kakek Amran mendengar suara mobil di halaman rumah mereka yang ada di Surabaya itu.


"Assalmaualikum, nenek." Salam Cahyo.


Benar, Cahyo yang jadi sasaran Nafisa untuk mengantar Mbak Manda ke Surabaya, tadinya Manda sudah berpikir yang tidak-tidak, dikira dia akan diculik.


"Wa'alaikumsalam, Ayo masuk Cahyo, Manda." Ajak Nenek Rifa.


Nenek Rifa langsung menghampiri Manda. "Maaf kamu pasti terkejut, tapi nenek akan menjelaskan semuanya nanti." Ucap nenek Rifa.


Nenek Rifa mengandeng tangan Manda lembut untuk mengajaknya masuk ke dalam.


"Tak apa nek, Manda hanya syok saja, Manda seperti akan diculik." Ucap Manda sedikit keras.


Sengaja dia melirik Cahyo tajam, tapi Cahyo membalas lirikan itu lebih tajam lagi untungnya Manda tidak takut sama sekali.


"Cahyo malam ini menginaplah disini, besok kamu yang akan menyetir menuju rumah Jihan."


"Baik Kakek." Sahut Cahyo tak membantah.


Selain Febry yang dekat dengan kakek Amran dan Radit, Cahyo pun sama. Tapi sifat Cahyo dan Ferby berbanding terbalik, Jika Cahyo apa adanya berbeda dengan Ferby yang suka mengumbarkan semua keberhasilan dirinya.


"Hah! Ke rumah Jihan? Maaf untuk apa ya nek?" tanya Manda.


Walaupun ragu tetap saja dia bertanya. Manda belum tau jika saat ini dia berdiri di depan CEO dan istri CEO tempatnya bekerja.


Mendapatkan pertanyaan dari Manda nenek Rifa menjelaskan semuanya, jika mereka akan melamar Jihan, sekaligus memboyong keluarga Jihan untuk menghadiri acara pernikahan Jihan dan Radit.