Babysitting genius

Babysitting genius
#Mengunjungi mertua



Bismillah.


Sesuai yang dikatakan Radit semalam pada kedua orang tuanya, jika pagi ini mereka akan pergi ke desa Marga. Dimana tempat orang tua Jihan tinggal. Jihan juga sudah memberitahu adiknya mereka hari ini akan pulang ke rumah.


Keluarga kecil itu berangkat dari kota J pagi-pagi sekali, kira-kira sekitar jam 8 nanti. Mendapat kabar jika mantu dan anaknya akan datang sontak membuat ibu Kasih jadi sibuk wara wiri sana sini. Ibu Kasih ingin membuat nyaman menantunya dan cucunya, jika berada di rumah mereka.


Tidak sampai disitu saja, ibu Kasih juga mengganti kasur putrinya agar sedikit lebih besar. Karena Jihan memang memiliki dua kasur untuk dia gunakan secara bergantian, jika satu sudah tidak nyaman maka Jihan akan mengganti dengan yang satunya, lalu membersihkan yang tidak nyaman dia gunakan.


Rafli yang baru saja akan berangkat sekolah heran sendiri melihat ibunya super sibuk.


"Bu sibuk betul." Tegur Rafli, saat ini ibu Kasih tangan membereskan kamar Jihan.


"Heheh, kamu tau sendirikan kalau kakak iparmu itu orang berada, jadi kita harus bisa buat mereka nyaman disini." Jelas ibu Kasih.


"Ibu benar juga."


Tiba-tiba terbesit otak Rafli untuk mengerjai Ayu, 'Hahahaha, aku sudah tidak sabar melihat orang itu datang, aku akan mengerjainya.' Batin Rafli tersenyum licik.


"Maaf Rafli tidak bisa bantu ibu, Rafli berangkat sekolah dulu ya bu, Assalamualikum." Salam Rafli sambil menyalami ibunya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab ibu Kasih.


Sementara pak Joni sudah berangkat ke sawah sedari tadi pagi, karena sawah mereka tidak bisa ditinggal begitu saja.


"Aduh jadi tidak sabar menunggu Jihan dan mantu datang." Ucap ibu Kasih pada diri sendiri.


Setelah kepergian Rafli, ibu Kasih kembali melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai.


"Semoga Jihan dan yang lainnya selamat sampai tujuan." Doa ibu Kasih.


Beliau segera kembali beberas. Ibu Kasih juga sudah berniat masak banyak untuk nanti, tak lupa ibu Kasih akan mengundang beberapa kerabat yang rumahnya tidak jauh dari tempat tinggal mereka.


Sementara itu Rafli berjalan kaki menuju sekolahnya, tiba-tiba ada seorang yang menghalangi langkah Rafli.


Tatapan malas Rafli tunjukan pada laki-laki yang menghalangi jalannya menuju sekolah, Rafli tak menyapa orang itu sama sekali. Rafli melewati orang itu begitu saja, di dalam hati Rafli perasaan marah itu masih ada, tapi sebisa mungkin Rafli menahan gejolak marahnya, agar tidak melampiaskaan kekerasan pada orang di sebelahnya.


"Rafli tunggu sebentar." Cegah orang itu tak lain adalah Hilam.


Rafli seakan tuli tak mendengarkan perkataan Hilam, dia terus saja melangkah tanpa henti.


"Rafli aku hanya ingin bertanya kapan mbak mu pulang? Apa dia malu mau pulang karena mendapatkan suami duda, bukan pejaka sepertiku." Ucap Hilam pede.


Week! Rasanya Rafli ingin muntah mendengar perkataan Hilam, apa iya masih pejaka saat menikah dengan Puspa, jangan-jangan ada udang dibalik selimut, canda, dibalik batu.


"Kenapa bertanya?" ucap Rafli malas.


"Tidak hanya penasaran saja seperti apa suami mbakmu."


Hehehe.


Rafli terkekeh sinis mendegar ucapan Hilam, sudah jelas Radit lebih baik segalanya dari pada Hilam.


"Yang jelas mas ipar aku lebih jauh di atas anda paham! Anda itu tidak ada apa-apanya ketimbang suami mbak Jihan, satu banding seribu tau!" puas sekali Rafli sudah mengatakan itu pada Hilam.


Rafli segera pergi sementara Hilam merasa tersudutkan.


Jlb! Rasanya hati Hilam seperti begitu direndahkan.


Di kediaman keluarga Amran. Radit dan keluarga kecilnya sudah bersiap untuk pergi ke desa Marga.


Kali ini Radit menyetir sendiri dan membiarkan Cahyo mengurus semua pekerjaan kantornya, Cahyo hanya mampu mengelus dada sendiri pokoknya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab oma Rifa dan kakek Amran bersama.


Kedua orang tua itu mengiring kepergian anak dan menantu mereka, tak lupa cucu mereka.


Nafisa senang sekali kala dia tahu mereka akan pergi ke desa, akhirnya keinginan yang pernah Nafisa sampaikan pada neneknya terwujud juga.


"Bunda disana ada air sungai?" tanya Nafisa antusias.


Mereka sudah berada di dalam mobil, Radit juga sudah menlajaukan mobilnya, sangat senang Radit kala tau anaknya begitu bahagia mereka akan pergi ke desa.


"Ada." Jawab Jihan, sambil mengelus pucuk kepala Nafisa.


"Hore! Jadi tidak sabar cepat-cepat sampai desa." Jawab Nafisa lagi.


Bahkan dia sampai ikut duduk di depan bersama kedua orang taunya. Lalu Nafisa ceritaan pada Jihan kala waktu beberapa waktu lalu yang Nafisa meminta Jihan untuk menjadi bundanya di hadapan nenek Rifa.


Sebenarnya mereka sendang membahas desa, tapi siapa sangka Nafisa mendapatkan kedua duanya mbak Jihan sebagai bundanya dan gratis liburan ke desa.


Mendengar desa disebut Nafisa langsung bisa menggambarkan di kepalanya seperti apa desa itu. Desa yang biasanya masih asri, banyak sawah dan ladang juga jangan lupakan sungai yang mengalir tenang, tapi tidak menghanyutkan.


Air sungainya terlihat jernih, bahkan batu-batu yang terdapat di dalam sungai itu bisa dilihat dengan mata telanjang saking jernihnya air sungai. Lalu batang pohon yang masih alami dan segar.


Nafisa menatap bundanya. "Nafisa boleh mandi di sungai bunda?" tanya Nafisa penuh harapan.


Harapan agar Jihan memberinya izin untuk mandi di sungai.


"Hehe, kalau masalah itu jangan tanya bunda, Nafisa bisa tanya yang duduk di sebelah kita." Balas Jihan berbisik pada Nafisa.


Lalu Nafisa dan Jihan menatap Radit, Radit yang merasa di tatap menoleh sejenak pada istri dan anaknya sambil tersenyum, setelah itu dia kembali fokus mengemudi.


"Boleh, asal sama ayah sama bunda atau sama kak Rafli." Jawab Radit.


"Horee! Yeeee!" kesenangan Nafisa tiada tara pokoknya.


"Tapi memang Nafisa bisa mandi di sungai mas? Maksudnya Nafisa bisa berenang?" tanya Jihan sedikit ragu.


"Kamu tengan saja, putri kita apa yang tidak bisa."


Jihan akhirnya terkekeh merasa lega dengan jawaban suaminya, sangat tau kalau Nafisa tau banyak hal, apa-apa bisa. Masak bisa, main sama binatang buas bisa, apalagi kalau belajar langsung atau apa yang sedang dia pelajari begitu mudah paham. Jihan jadi berharap jika dia punya anak bisa seperti kakaknya yang sangat pintar. Tidak lama Nafisa akhirnya tertidur dipangkuan Jihan.


"Kok berhenti mas?" bingung Jihan.


Radit tidak tega melihat Jihan memangku Nafisa, sedangkan perjalanan mereka masih sangat jauh sekitar 3 jam lagi.


"Pindahkan Nafisa di belakang saja ya." Ucap Radit sambil mulai menggendong putrinya untuk dipindahkan ke belakang.


"Tapi nanti kalau Nafisa bangun?"


"Gampang kamu bisa putar kursinya menghadap Nafisa."


Jihan mengangguk paham, setelah memastikan putrinya tidur dengan posisi nyaman barulah Radit kembali melajukan mobilnya..


Dia dan istri menghabiskan waktu di jalan sambil bertukar cerita, jika dulu sebelum menikah saling diam jika hanya berdua, tapi tidak untuk sekarang keduanya suka berbincang bersama.