
Bismillah.
2 Minggu sudah Jihan, Nafisa, Radit dan Ayu kembali ke kota J, setelah berita duka menimpa keluarga Hilam dan almarhum Puspa.
"Bunda, ayo sudah siap belum." Ucap Nafisa.
"Sebentar sayang." Balas Jihan.
Buru-buru Jihan menghampiri anak dan suaminya, hari ini Jihan dan Radit akan merencanakan acara ulang tahun Nafisa.
Tapi mereka harus mencari tempat yang Nafisa inginkan lebih dulu.
"Sudah ayo berangkat, oma kemana?" Jihan mencari keberadaan mertuanya.
"Kata oma berangkat saja tidak perlu menunggu oma."
"Ayo kita semua berangkat." Ajak Radit.
Jihan mengangguk setuju, melihat ada pekerja di rumah yang tak sengaja lewat, Jihan menitipkan pesan untuk oma Rifa, kalau mereka sudah berangkat.
"Bi, tolong biliangin ke oma ya, kalau oma sudah pulang kami berangkat." Pesan Jihan.
"Iya bu."
Jihan tersenyum. "Makasih ya bi."
"Assalamualaikum."
"Wa'akaikumsalam." Jawab bibi itu ramah sekali, dia senang memiliki majikan yang baik-baik.
Setelah itu Jihan, Radit dan Nafisa pergi ke tempat tujuan mereka.
Di dalam mobil.
"Sayang kita mau cari konsep untuk ulangtahun Nafisa seperti apa?"
Jihan berpikir sejenak, dia juga sebenarnya bingung harus menggunkan konsep seperti apa untuk konsep ulangtahun Nafisa..
"Huft!"
"Ah, aku tahu mas, bagaimana kalau kita pakai konsep campuran saja."
Radit juga ikut berpikir sejenak, karena Nafisa suka akan banyak hal terutama tentang alam. "Boleh dicoba ide kamu dek."
Tak lama mereka sampai di tempat pertama yang mereka kunjungi, semuanya turun dari mobil.
Setelah itu mereka langsung menemui maneger di tempat tersebut. "Bu bisa tidak kalau kita reques konsepnya campuran, tapi harus lebih dominan kealam gitu." Ucap Jihan.
"Sebentar ya bu saya cek dulu, apakah di tempat kami memiliki konsep campuran."
"Baik."
Manager tersebut mengotak-atik laptop yang ada di hadapannya, tidak perlu butuh waktu lama akhirnya kembali menghadap Jihan.
"Maaf bu, untuk konsep campuran sudah tidak bisa digunakan lagi."
Jihan tersenyum, "tidak apa bu, terima kasih banyak, kalau begitu saya permisi."
"Sama-sama bu."
Setelah itu Jihan menghampiri anak dan suaminya yang sedang menunggu dirinya dilaur.
"Mas ayo cari tempat lain, disini belum bisa."
"Baik."
Jihan dan Radit mengandeng putri mereka menuju mobil, "sebentar mas, Jihan mau beli minum dulu." Ucap Jihan.
Setelah mendapatkan persetujuan dari suaminya Jihan menghampiri seorang penjual minuman yang berada diseberang jalan.
Tidak ada firasat buruk apapun yang dipikirkan oleh Jihan dan Radit, semua terlihat seakan baik-baik saja. Sebelum menyeberang Jihan menoleh kekanan dan kiri dulu, merasa sudah aman barulah Jihan segera menyeberang.
Setelah selesai membeli minum, Jihan kembali melakukan hal yang sama, tapi tanpa sepengtahun Jihan, diujung jalan itu ada yang sudah mengintai mobil Radit sedari mereka masuk ke dalam gedung untuk memboking tempat agar bisa merayakan ulangtahun Nafisa secara terbuka.
"Seperti informasi yang diberikan bos, jika perempuan itu istri Radit, cepat lajukan mobilnya mumpung dia mau menyeberang."
"Siap beres, lo tenang aja, kali ini misi kita akan selesai dengan cepat."
Bertepatan saat Jihan menyeberang sebuah mobil melaju kencang dari arah belakang Jihan, Radit tidak menyadari hal itu, begitu juga dengan Nafisa.
Brak!
Sampai kedunya mendegar suara sesuatu yang terhantam sangat kuat sekali, "Bunda...!" terika Nafisa kala menyadari suara benturan keras tadi, bundanya yang terpental akibat tertabrak mobil.
Deg!
Radit langsung membeku di tempatnya melihat sang istri terpental jauh, Nafisa sudah menangis sejadi-jadinya melihat Jihan tergeletak.
Sementara orang yang tadi menebarkan Jihan kabur begitu saja.
"Hahaha, akhirnya selesai juga tugas kita, gue pastiin perempuan itu sudah mati."
"Walaupun tidak mati mungkin juga dia akan kritis atau koma dalam jangka waktu yang lama."
"Hahahaha." Kedua orang di dalam mobil itu tertawa terbahak-bahak.
Banyak orang yang sudah mengerubungi tubuh Jihan yang tergetek tak berada.
Radit cepat membawa istrinya ke rumah sakit, "Bertahanlah sayang aku mohon." Radit tak kuasa menahan air matanya.
Jika selama ini dia tidak pernah menjatuhkan air matanya, berbeda jika melihat orang-orang yang dia sayangi dalam keadaan tak berdaya, apalagi orang itu istrinya sendiri, perempuan yang selama ini membuat semangat dirinya semakin meningkat. Mendengar ucapan suaminya Jihan tersenyum disela-sela kesadaran yang masih mengawasi dirinya.
Jihan sudah dilarikan ke rumah sakit, dibantu oleh warga yang melihat kecelakaan tadi. Sama saja yang Jihan alami saat ini adalah kasus tabrak lari. Radit akan mencari tahu siapa pelaku yang sudah menabrak istrinya, sepertinya juga hal yang menimpa Jihan sudah direncanakan.
Soalnya Radit juga melihat jelas, sebelum Jihan menyeberang dia memperhatikan sekitar lebih dulu. Sampai di rumah sakit Jihan langsung dilarikan ke ruang UGD, Radit tidak sadar jika darah keluar dari perut istrinya.
Oma Rifa dan opa Amarna yang mendapatkan kabar Kecelakan Jihan langsung pergi ke rumah sakit. Saking syoknya oma Rifa, beliau langsung mengabari besannya di desa.
Siapa lagi kalau bukan kedua orang tua Jihan dan adiknya, mereka yang berada di desa juga kaget mendengar berita yang menimpa Jihan, saat ini yang mereka lakukan hanya bisa berdoa, pasrahkan semuanya pada Sang Kuasa.
"Radit." Teriak oma Rifa langsung menghampiri putranya, Nafisa segera memeluk oma Rifa, kala melihat kehadarian wanita paruh baya itu.
"Oma, bunda, hiks...hisk...hiks..." Tangis Nafisa kembali pecah, sedari tadi dia tidak bersuara seperti orang linglung saat melihat bundanya penuh dengan darah.
"Bunda pasti akan baik-baik saja sayang." ucap oma Rifa, "kamu harus kuat sayang." Oma Rifa memeluk cucunya.
Mungkin semua ini ujian dan cobaan untuk keluarga Amran. Opa Amran menepuk pundak putranya. Opa tau bagi mana rasanya pasti sang putra begitu terpukul, apalagi opa Amran dapat melihat jelas jika sang anak sulung begitu menyayangi istrinya.
Hampir 45 menit berlalu tapi dokter belum juga keluar dari ruang UGD. Radit dan yang lainnya sedari tadi terus berdoa untuk keselamatan Jihan.
Ceklek!
Pintu ruang UGD itu akhirnya terbuka juga. Melihat dokter yang tadi memeriksa istrinya, Radit menghampiri dokter tersebut begitu juga yang lainnya.
"Dok bagaimana keadaan istri saya?" tanya Radit tak kuasa, suaranya masih terdengar bergetar hebat.
Dokter tersebut menghembuskan nafas pelan, aku dua hal yang harus saya sampaikan. Kabar baik dan kabar buruk.
Kabar baiknya, "Allhamadulilah istri anda sudah melewati masa kritisnya." Ucap dokter.
Semua orang bernafas lega, tapi kelegaan itu tak berselang lama, kala dokter kembali bicara.
"Tapi."
"Tapi apa dok?" Radit sudah tak sabar mendengar kabar selanjutnya.
"Maaf, istri anda mengalami keguguran."
Deg!
Jantung semua orang seakan berhenti berdetak saat itu juga.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Allah berkendak lain."
Padahal mereka belum tahu jika Jihan hamil, begitu juga dengan Jihan.