
Bismillah.
"Ayo kita berangkat sekarang." Ajak Febry pada Elsa, istrinya.
Elsa mengangguk patuh, keduanya berjalan menuju luar apartemen. Senyum indah terus terukir di wajah Elsa dan Febry, mereka tidak tau jika hal buruk akan menimpa keduanya.
Sampai di depan pintu apartemen Febry langsung membuka pintu itu, baru dia dan Elsa akan melangkah keluar, hampir 10 orang berwajah dingin sudah berdiri di hadapan mereka.
Deg!
Elsa dan Febry sama-sama kaget melihat banyak sekali orang yang berdiri di depan apartemen mereka berdua, keduanya saling menatap tau sama lain.
Kejadian itu tepat jam 6:30, itu artinya di kediaman Amran, Jihan sedang mempersiapkan diri untuk menjadi mempelai wanita bagi Radit. Sedangkan di apartemen Elsa dan Febry, senyum bahagia keduanya yang tadi sangat lebar kini luntur seketika, saat melihat banyak orang berjejer di hadapan keduanya.
"Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya Febry.
Febry berusaha bicara seramah mungkin, sebenarnya tubuhnya sudah bergetar hebat, karena merasa takut dengan orang-orang di depannya ini. Tak jauh beda dengan Elsa, dia juga sudah ketakutan mendapatkan tatapan dingin dari banyak orang.
Hmm.
Salah satu polisi angkat bicara, dia komandan polisi dari 9 orang lainnya.
"Benar dengan bapak Febry dan ibu Elsa?" tanya komandan polisi itu ramah.
"Ya benar! Ada perlu apa ya?"
Febry sudah merasa resah, firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu pada dirinya dan juga Elsa.
Komandan polisi itu tak menjawab pertanyaan dari Febry, dia hanya memberi isyarat pada anak buahnya untuk segera menangkap kedua orang tersebut. Polisi yang lain tau maksud dari komandan mereka, segera bergerak cepat, dalam sekejap Elsa dan Febry sudah diborogol.
"Apa-apaan ini!" kesal Febry tidak terima.
"Benar, apa salah kami? Kenapa kalian menangkap kami begitu saja?" Elsa yang sedari tadi diam akhirnya bersuara.
"Kalian bisa tanyakan di kantor polisi nanti!" tegas komandan polisi.
"Bawa mereka!" suruh komandan polisi pada seluruh anak buahnya.
"Nggak lepas!" teriak Elsa berusaha memberontak.
Sayang sekali sekuat apapun Elsa memberontak, para polisi itu seakan tuli tidak mendengarkan perkataan Elsa sedikitpun.
Perempuan itu terus saja memberontak untuk dilepaskan.
"Diamlah! Jika tidak aku akan menembakmu!" ancam seorang polisi yang membawa Elsa.
Seketika Elsa jadi diam, gertakan polisi barusan membuat nyali Elsa jadi menciut, dia tidak lagi berani memberontak, seketika itu Elsa jadi seorang penurut tak lagi koar-koar seperti sebelumnya.
Mendengarkan kata tembak nyali Elsa langsung menciut begitu saja. jadilah pagi itu Elsa dan Febry sama suami dibawa ke kantor polisi. Elsa masih mengenakan baju penggantin yang Radit kirim ke apartemennya, karena waktu penangkapan kedua orang itu masih pagi. Jadi orang-orang di sekitar apartemen Elsa dan Febry dapat melihat kejadian tersebut.
Tak jarang ada yang merekam kejadian itu, ketika Elsa dan Radit dibawa oleh beberapa orang yang mereka ketahui orang-orang itu adalah para polisi. Dalam sekejap penangkapan Elsa dan Febry beredar di media sosial. Apalagi ada yang membuat hastag seorang mengenakan baju pengantin telah ditangkap oleh rombongan Polisi bersama satu orang laki-laki, mereka ditangkap dari apartemen daerah Kamala.
Semua rencana Elsa dan Febry hancur begitu saja, mereka berakhir di penjara. Tentu saja kedunya harus melawati tahap sidang dari polisi nantinya. Radit sendiri yang akan menghadiri sidang itu nanti, mungkin saja Radit akan membawa istrinya Jihan. Radit akan pamer pada Elsa, jika dia memiliki seorang istri jauh lebih dari segala-galanya dari Elsa.
Di kediaman keluarga Amran, acara pernikahan itu masih berlangsung dengan sangat bahagia.
"Mbak Jihan." Sapa Rafli.
Jihan dan Radit saat ini sedang menyambut para tamu yang datang. Jihan mengembangkan senyumnya melihat sang adik.
"Dek, apa kabar?" tanya Jihan.
Jihan memang baru bertemu dengan adiknya, tadi saat selesai akad Jihan tidak melihat kehadiran Rafli. Ternyata saat Radit selesai mengucapkan ijab qabul, Rafli sakit perut, jadi dia terpaksa harus menuntaskan panggilan alamnya dulu.
"Alhamdulillah baik mbak. Rafli nggak nyangka mbak Jihan bakal dapat lebih dari si Hilam, Hilam itu cuman ngomong doang mau lamar mbak Jihan, eh, taunya malah nikah sama sahabat mbak sendiri." Ceplos Rafli.
"Apa sih mbak Jihan! Awas Rafli mau sapa mas ipar dulu." Kesal Rafli, sambil berusaha melepaskan tangan mbak Jihan, dari mulutnya.
"Makanya kalau ngomong difilter jangan asal, nggak enak tau." Bisik Jihan.
Jihan malah merasa lebih kesal dari pada Rafli.
"Hehehe maaf mbak, habisnya terlalu senang mbak Jihan sudah nikah."
Melihat Jihan dan Rafli asik ngobrol sendiri Radit jadi merasa diabaikan oleh kedua orang itu.
Hm...
Dehem Radit yang membuat Jihan tersadar, Jihan menoleh pada Radit, saat itu Radit juga sedang menatap ke arahnya.
Deg!
Deg, deg, deg, Jihan tidak tau sekarang jika dia melihat tatapan Radit, jantungnya terus saja berdetak lebih cepat dari biasanya.
Sampai sekarang Jihan belum berani menatap Radit, dia masih malu dan juga rasa takut itu masih sedikit ada.
"Mas selamat ya, bahagiain terus mbak Jihan." Pesan Rafli.
Siapa saja yang berani menyakiti mbaknya maka Rafli tidak akan tinggal diam, Rafli begitu menyayangi mbak Jihan.
"Pasti, sudah tugasku untuk selalu membahagiakan istriku." Jawab Radit mantap.
Dia menjawab sambil terus memandang istrinya, yang sedari tadi tidak berani menatap dirinya.
Deg, deg, deg.
Kata-kata Radit semakin membuat jantung Jihan ingin meronta keluar saja.
'Ya Allah, aku meleleh.' Batin Jihan.
Jihan tidak tau sejak kapan Radit jadi berlaku semanis ini pada dirinya, Jihan sendiri sampai melenyot atas ucapan Radit.
"Aku percaya sama mas Radit." Baru Rafli selesai bicara, tiba-tiba seorang berlari sambil menabrak dirinya.
"Kak Ayu awas!" teriak Nafisa.
Bruk!
Bersama dengan itu Ayu menabrak punggu Rafli dengan sangat kuat.
"Astagfirullah." Ucap mereka semua kompak.
Untung saja Jihan cepat menahan tubuh Ayu, jika tidak kak Ayu sudah jatuh ke lantai mungkin.
"Siapa sih yang berdiri disini, tempat lebar begini!" gerut Ayu.
Padahal disini kak Ayu sendiri, Rafli hanya menatap datar gadis yang baru saja menabraknya, dia cukup tau kalau Ayu adik dari suami mbak Jihanya.
Hm...
Radit kembali berdeham dan seketika itu membuat Ayu tersadar akan satu hal, Ayu menoleh Radit dan Rafli sedang menatapnya datar.
"Jadi siapa yang salah?" tanya Radit.
"Hehehehe mas Radit." Ucap Ayu sambil nyengir.
Nafisa menghampiri mereka semua. "Kak Ayu, tadi Nafisa kan sudah teriak, tapi kak Ayu tidak dengar, akhirnya nabrak kak Rafli kan." Terang Nafisa.
Melihat Nafisa datang bersama kak Ayu, Jihan langsung membawa putrinya duduk ditengah-tengah mereka.