
Bismillah.
"Pa, kembalilah ke perusahaan aku mohon, besok niatnya aku, Jihan dan Nafisa sudah akan berangkat ke desa Marga." Pinta Radit pada papa Amran.
Desa Marga tempat kedua orang tua Jihan tinggal, sekaligus desa kelahiran Jihan, tumbuh besar di desa itu.
Opa Amran menatap putranya sejenak. "Kenapa kamu sudah tidak kuat untuk mengelolah Amran Mingin sendiri? Sampai menyuruh papa kembali kesana."
"Tidak, bukan begitu hanya saja besok kan aku harus ke rumah mertua pa, papa sendiri yang bilang 1 minggu lagi akan ada resepsi disana."
"Baiklah kalau papa tidak malas."
Sejak hari dimana opa Amran pergi ke Surabaya, beliau jadi malas untuk kembali ke perusahaan, efek terlalu lama di rumah. Jadilah sekarang semua tanggung jawab Amran Mining diberikan seluruhnya pada Radit.
"Pa, ayolah jangan begitu papa kan tau aku baru saja menikah, berli libur kenapa." Bujuk Radit lagi.
"Jadi maksudnya kamu menumpukkan semua tanggungjawabmu pada papa begitu?"
"Cek, tidak begitu juga kali." Dengus Radit kesal.
Oma Rifa yang baru saja dari dapur ikut bergabung bersama anak dan suaminya.
Oma Rifa duduk di sebelah suaminya, sambil memberikan segelas air minum.
"Sudahlah pa kasihan Radit namanya juga pengganti baru."
"Iya Ma."
Oma Rifa, opa Amran dan Radit terus mengobrol ringan, sampai Jihan menghampiri mereka sambil membawa segelas air teh untuk suaminya. Jihan begitu senang karena suaminya itu tidak merokok dan juga tidak mengopi, jadi Jihan tidak was-was akan kesehatan suaminya.
Radit memang orang yang sangat menjaga sekali pola kesehatannya, maka dari itu dia sangat menghindari roko dan kopi, dua hal yang biasanya tidak bisa lepas dari laki-laki.
Kebetulan sekali Jihan memang tidak menyukai asap roko juga bau roko.
"Minum dulu mas." Ucap Jihan sambil ikut duduk di sebelah suaminya.
"Jihan benar Radit besok akan mengajak kalian ke rumah ibu Kasih?" tanya oma Rifa.
Jihan tidak langsung menjawab, dia menoleh pada suaminya sejenak, Radit memang sudah mengatakan padanya mereka akan ke desa, tapi tidak tau kapan.
"Benar ma, tapi Jihan sama mas Radit belum ngobrol lagi."
"Tidak usah diskusi lagi sayang, besok kita langsung berangkat ke sana."
Blus!
Jihan jadi malu sendiri mendengar suaminya memanggil dirinya sayang di depan mertuanya, berbeda dengan oma Rifa dan kakek Amran yang menyunging senyum senang. Mereka tidak perlu khawatir lagi Radit menyakiti Jihan, oma Rifa dan opa Amran tau sekali sifat anak mereka. Radit sudah sangat mencintai Jihan.
Jika Radit sudah begitu sayang dengan seseorang maka dia tidak akan pernah tega menyakit orang itu. Oma Rifa dan opa Amran juga sudah sangat yakin jika Radit begitu menyayangi Jihan, Radit tidak akan pernah main-main dengan perasaannya sendiri.
"Nafisa mana Jihan?" tanya oma Rifa.
Tumben sekali bocah itu tidak rusuh di jam setelah makan malam ini.
"Sudah tidur Ma, di kamarnya."
Oma Rifa mengangguk tanda paham, merasa aneh pada Nafisa tumben jam segini anak itu sudah tidur saja.
"Tapi kalian pergi besok, apakah Nafisa sudah libur sekolah?"
"Sudah pa, sekolah Nafisa mengadakan libur 2 minggu." Jawab Radit.
"Ya, tapi ingat Radit kamu hanya papa beri libur seminggu, ingat disini papa masih atasan kamu." Ucap opa Amran mengejek anaknya.
"Iya, siap bos Radit paham." Jawab Radit malah membuat mereka semua terkekeh.
"Ma, pa, aku dan Jihan ke kamar dulu." Ucap Radit sambil mengandeng tangan istrinya.
"Mas, ada apa sih?" heran Jihan.
Keduanya sudah masuk ke dalam lift.
"Mumpung Nafisa tidur di kamarnya dek." Ucap Radit yang membuat Jihan mengerutkan dahinya.
Hah! bingung Jihan masih tak mengerti.
"Memang kenapa kalau Nafisa sudah tidur mas?" akhirnya Jihan tidak bisa menahan untuk bertanya melihat gelagat aneh suaminya.
Tig!
Lift terbuka Radit langsung menggendong istrinya mesra, sontak Jihan langsung mengalunkan tangannya di leher sang suami.
"Waktunya kita berdua." Jawab Radit tersenyum menggoda.
Mendengar perkataan suaminya membuat Jihan jadi terkekeh. Sampai di kamar Radit langsung saja menurukan istrinya pelan di atas kasur. Radit membuka pela hijab istrinya, terlihat jelas lah rambut Jihan yang begitu indah di depan mata Radit. Tak pernah bosan sama sekali Radit memandangi istrinya, apalagi tanpa hijab seperti sekarang ini.
Waktu berlalu.
Azan subuh telah tiba, Jihan sudah bangun sedari tadi, saat melaksanakan shalat malam Jihan sempat membangunkan suaminya, tapi Radit tak kujung bangun, mungkin suaminya itu sangat lelah, jadilah Jihan hanya melaksanakan shalat lail sendirian.
"Mas ayo bangun, sudah subuh." Jihan membangunkan suaminya pelan.
Tak butuh waktu lama Radit langsung membuka kedua matanya sempuran.
"Bismillahirohmanirohim, Alhamdulillah hilazi ahyana ba'dama ama tana wailahin nusyur!"
Jihan sudah biasa mendengar suaminya itu refleks berdoa setelah bangun tidur, mungkin saja sudah kebisaan Radit sedari dulu seperti itu. Radit menyunggingkan senyum bahagia pada istrinya saat melihat Jihan yang membangunkannya begitu lembut.
"Mandilah mas, setelah itu kita shalat subuh berjamaah, atau mas mau ke masjid, Jihan sudah siapkan baju shalat mas Radit, Jihan bangunkan Nafisa dulu." pamit Jihan.
Baru saja Jihan akan melangkah keluar kamar Radit menahan tangannya, tentu saja Jihan jadi kembali berbalik menatap suaminya merasa aneh.
"Ada apa, mas."
"Beri aku semangat dulu."
Hah!
Semangat yang seperti apa? Mungkin begitu pikir Jihan.
"Semangat? Maksudnya?" binung Jihan.
Sungguh Jihan sama sekali tidak bisa menembak kata-kata aneh suaminya dan gelagat aneh sang suami. Radit yang tau istrinya tidak peka, akhirnya menjuk pipinya.
Jihan yang sudah tau apa keinginan suaminya mengangguk lalu mendekat pada Radit.
Cup!
Satu ciuman mendarat di pipi Radit, membuat pria itu semakin menyungging senyum manis berkali-kali lipat.
"Sudah ya, kasihan Nafisa kalau sudah bangun."
"Siap tuan putri." Jihan terkekeh, ada-ada saja pikir Jihan.
Begitulah Jihan, walaupun dia sudah menjadi nyonya muda di kediaman Amran, Jihan tak pernah sekelipun melalikan Nafisa. Bahkan dia semakin memperhatikan Nafisa lebih ekstar lagi dari sebelumnya, sekarang Jihan jadi merasa sedang merawat dua anak sekaligus.
Walaupun Radit terlihat dingin dan begitu tegas di hadapan orang lain, maka jika di hadapan istrinya Radit menjadi sangat manja.
Sikap Radit yang seprti itu membuat Jihan merasa heran, dia rasa suaminya memiliki kepribadian ganda.
Tapi jujur Jihan suka sifat suaminya yang selalu manja saat bersamanya, lebih senangnya lagi Jihan, sifat manja Radit hanya ditunjukkan untuk dirinya saja. Setelah mendapatkan persetujuan dari Radit, Jihan langsung menuju kamar Nafisa, mungkin saja anak itu sudah bangun.