
Bismillahirohamnirohim.
"Nafisa kapan kita bisa keluar rumah? Mbak Jihan bosan tau, kita seperti tawanan ayah Radit saja kita, di kurung begini." Protes Jihan.
"Enak jadi kak Ayu, bisa bebas wara-wiri sana sini." Oceh Jihan lagi.
Nafisa memasang kupingnya lebar-lebar untuk mendengarkan ocehan mbak Jihan, yang sebentar lagi akan menjadi bundanya.
"Yee! Bunda Jihan." Senang sekali Nafisa jika ingat itu.
Nafisa membiarkan mbak Jihan mengoceh semaunya, dia akan menjadi pendengar setia mbak Jihan untuk saat ini. Tau apa yang dilakukan ayah Radit pada mereka saat ini demi keamana mbak Jihan dan dirinya juga agar mbak Jihan sudah mempersiapkan dirinya.
Saat ini yang Jihan lakukan hanya mondar-mandir kesana kemari di kamar Nafisa, lalu mulutnya terus saja mengoceh tak jelas. Menyalahkan ayah Radit yang sudah mengurung mereka seharian di rumah.
"Mana hp mbak Jihan belum dibalikin sama ayah Radit pula." Oceh Jihan lagi.
Gerak mata Nafisa hanya mengikuti mbak Jihan yang mondar-mandir tidak jelas, Nafisa tersenyum kecut.
Dia saja sudah lelah melihat mbak Jihan yang terus saja mondar-mandir tak jelas itu. "Sudah mbak Jihan duduklah." Suruh Nafisa.
Akhirnya Jihan menurut juga, Jihan mendaratkan bokong di kasur Nafisa, tepat di sebelah anak itu.
"Ayo kita keluar." Ajak Jihan.
Sambil menarik-narik tangan Nafisa, agar anak itu mau mengikuti keinginannya.
"Keluar kemana mbak?" bingung Nafisa.
Bukan sudah jelas mereka masih di kurung sampai besok.
"Keluar dari kamar Nafisa? setidaknya kita masih bisa melakukan kegiatan bermanfaat di rumah bukan, tidak mengurung diri seperti ini."
"Oke Nafisa setuju, kita membuat cake saja bagaimana?"
Jihan berpikir sejenak apakah dia bisa membuat cake atau tidak.
"Baiklah mbak Jihan setuju, ayo." Ajak Jihan.
Dia bahkan langsung bangkit dari duduknya. Jihan menarik tangan Nafisa, agar Nafisa mau ikut dengannya.
"Memang mbak Jihan bisa buat cake?" tanya Nafisa.
Mereka berdua sudah berjalan keluar dari kamar, tujuan utama mereka tentu saja dapur.
Para pekerja di rumah itu melihat Jihan dan Nafisa memasuki dapur merasa khawatir.
"Mbak Jihan mau ngapain?" tanya kepala pekerja di rumah Amran itu dengan raham.
"Aku sama Nafisan mau buat cake bi." Jawab Jihan.
"Benar bi, selama Nafisa sama bunda Jihan masih di dapur jangan ada yang mengganggu dulu ya."
Jihan langsung mendelik kala Nafisa sengaja memanggilnya dengan sebutan bunda di depan banyak orang, sorot mata Jihan sampai menatap tajam Nafisa. Tapi apa yang dilakukan Nafisa, dia tak takut Jihan memelototinya, dia malah terkekeh seperti seorang yang tengah meledak.
"Bunda Jihan ayo katanya mau bikin cake, jangan marah-marah terus." Goda Nafisa.
"Iya." Jawab Jihan malas.
Kepala pelayan yakin sekali jika itu terjadi pasti Radit akan marah pada mereka semua, karena sudah mengizinkan Jihan dan Nafisa menyentuh dapur. Mereka meperehatikan Jihan dan Nafisa sampai mengelus dada sendiri, tapi semua ketakutan itu hilang dalam sekejap saat melihat Jihan begitu cekat di dapur.
"Huh! syukurlah." Semua orang menghembuskan nafas lega.
Tak peluru mencemaskan Nafisa dan Jihan yang berada di dapur, karena Jiha dapat memegang kendali dapur agar tidak berantakan. Jihan dan Nafisa sama-sama menikmati kegiatan mereka di dapur, tidak butuh waktu lama akhirnya cake yang mereka buat siap untuk dipanggang.
"Seru juga ternyata ya bunda Jihan bikin cake sendiri."
Jihan tersenyum. "Kamu benar Nafisa dari pada kita mengurung diri dalam kamara saja."
###
Di desa tempat Jihan dilahirkan, sampai juga berita tentang pernikahan Jihan, di kuping Puspa dan Hilman. Tentu saja mereka tidak percaya jika Jihan sudah akan menikah. percaya bagaimananya mereka mendengar tentang pernikahan Jihan dari mulut ke mulut saja, tentu mereka tak akan percaya begitu saja. Hilam mengira Jihan tidak akan bisa move on dari dirinya.
'Aku nggak percaya kalau Jihan mau nikah! Sama siapa bukannya Jihan masih cinta sama aku.' Batin Hilam percaya diri sekali.
Tidak tau saja Hilam jika Jihan sudah melupakan dirinya sejak hari dimana dia dan Puspa mengkhianati Jihan terang-terangan.
Sejak hari itu juga Jihan sudah menganggap Puspa dan Hilam orang asing atau bahkan mereka sudah mati bagi Jihan.
Di rumah Jihan, semua orang sedang bersiap untuk hari ini juga akan berangkat ke kota, tepatnya ke rumah keluarga Amran. Kalau menunggu besok sudah tidak ada waktu lagi, besok hari pernikahan Jihan dan Radit tiba.
Jadi agar mereka bisa hadir dan tidak terlambat harus berangkat sekarang juga.
Manda sudah kembali ke rumah orang tua Jihan, dia hanya sebentar di rumahnya. Manda juga disuruh nenek Rifa untuk menghadiri acara pernikahan, Jihan. Bagaimanapun juga nenek Rifa berterima kasih pada Manda. Karena Manda lah yang sudah membawa Jihan masuk ke dalam keluarga Amran.
Semaunya sudah siap, mereka akan segera berangkat kembaki ke kota J. Nenek Rifa sama sekali tidak lelah terus bolak-balik kesana kemari dalam waktu satu hari saja.
Kebagian yang nenek Rifa rasakan membuat dirinya tidak merasa lelah sama sekali.
Tau kalau putranya menyukai Jihan, kebahagain bertubi-tubi menghampiri nenek Rifa.
"Bu Kasih bener Jihan mau nikah memangnya?" tanya seorang tetangga memberanikan diri.
"Bener bu." Jawab ibu Kasih tersenyum.
"Besok benar nikahnya bu?" tanya orang itu lagi.
"Iya bu bener, saya permisi dulu ya bu, saya juga titip rumah bu." Ucap ibu Kasih sebelum masuk ke dalam mobil.
"Beruntung sekali Jihan." Itulah tanggapan orang-orang yang akhirnya percaya jika Jihan akan segera menikah.
Diantara banyaknya orang yang berkerumun di depan rumah Jihan, ada Puspa dan suami ternyata disana. Mendengar Jihan akan menikah Hilam mengepalkan tangannya erat.
Padahal dia sudah punya Pusap, tapi tak tau apa sebabnya Hilam tidak senang atas kabar pernikahan Jihan.
"Huh, senang sekali ibu pak, akhirnya Jihan menikah juga." Ucap ibu Kasih di dalam mobil.
"Iya bu, ternyata gagalnya Jihan menikah dengan Hilam membawa hikam yang besar untuk Jihan."
Nenek Rifa dan kakek Amran juga sudah tau jika Jihan pernah gagal dalam pertunangannya. Ibu Kasih menceritakan semuanya tentang Jihan pada nenek Rifa tanpa ada sataupun yang ditutupi.
Rafli juga ikut untuk menghadiri pernikahan mbak satu-satunya itu. Semua orang sibuk dengan pernikahan Jihan, sedangkan yang mau menikah santai saja di dapur bersama Nafisa. Keduanya tertawa bersama saat berhasil membuat sebuah cake yang mereka inginkan.