
Bismillah.
Sekarang Jihan bisa merasakan seperti apa merawat seorang bayi, jika dulu Jihan merawat Nafisa yang sudah besar. Kini berbeda Jihan harus merawat 2 bayi dari kecil, tidak langsung sebesar Nafisa. Berat pasti tapi itulah resiko seorang ibu. Jika seorang perempuan sudah memutuskan menikah, tentu perempuan itu seharusnya dia sudah siap menjadi seorang ibu.
Di kamar Jihan dan Radit sudah ada 2 box bayi, tadinya Radit dan Jihan hanya membi 1 box bayi, karena mereka tidak tahu, jika Allah akan menitipkan 2 amahan sekaligus pada mereka berdua..
Jadilah Radit bergegas untuk membeli semua kebutuhan bayinya satu lagi, dan lagi-lagi yang menjadi korban oleh si Radit, sekretarisnya yang selalu patuh apapun yang Radit suruh pasti dilakukan, selagi masih tidak diluar nalar saja.
Sekarang Jihan tengah menyusui Athar, sedangkan Azlam sudah tidur lebih dulu, Azlam sebagai adik lebih anteng ketimbang Athar sang kakak. Azlam juga jarang sekali bangun ditengah malam, sedangkan Athar tak pernah absen, bayi satu itu setiap malam selalu saja bangun.
Ceklek!
Pintu kamar Jihan dan Radit terbuka, Jihan tahu siapa yang datang, pasti suaminya pikir Jihan siapa lagi.
"Sayang, Athar belum tidur." Radit mendekati anak dan istrinya.
"Belum mas, baru selesai nyusu, Nafisa sudah tidur mas?" tanya Jihan.
"Sudah baru saja, makanya mas balik kesini."
Jihan dan Radit tak pernah sekalipun melupakan Nafisa, kedunya selalu bergantian hanya untuk sekedar mengecek Nafisa atau mengucapkan selamat tidur untuk Nafisa.
"Sini biar mas gendong, kamu pasti capek, istrihatlah, biar mas yang jagain sama tidurin si Athar."
Athar memang lebih cepat tidur jika berada di gendongan sang ayah, berbeda dengan Azlam yang lebih cenderung pada bundanya.
Tak lama setelah itu, Athar benar-benar tertidur lelap di dalam gendongan sang ayah, Radit yang memastikan Athar sudah tidur nyenyak segera meletakkan Athar di box miliknya.
Tapi baru saja Radit akan menuju ranjangnya menyusul sang istri, Radit melihat Azlam seperti tidak nyaman, Radit segera memeriksa Azlam. Benar saja pikir Radit, ternyata Azlam tidak betah, karena dia bab.
Radit menoleh keranjang mereka sejenak, dilihatnya sang istri sudah tidur begitu lelap, Radit dengan sangat telaten mengganti popok Azlam. Radit benar-benar harus membagi kasih sayang istri pada anak-anaknya, tapi Radit salut padah Jihan, Jihan tak pernah mengeluh walaupun dia sudah menjaga 3 anak, Jihan juga tak pernah melupakan, tanggung jawabnya pada sang suami..
Jihan selalu melayani mereka semua dengan baik, Radit saja sampai kasihan melihat istrinya yang terlihat selalu sibuk. Tapi Jihan melakukan semua itu ikhlas, jadi Jihan sama sekali tidak merasa terbebani, selesai mengganti popok Azlam, barulah Radit menyusul sang istri ke atas ranjang.
"Pasti kamu capek banget ya dek, apalagi harus ngurus kami berempat." Ucap Radit sambil memandangi istrinya yang tengah tertidur pulas.
Radit mengelap sedikit kringat yang keluar dari dahi istrinya, "Kasihan kamu dek."
Radit tak henti-hetinya memandangi paras ayu istrinya, sejak Jihan melahirkan, ibu 3 anak itu bertambah cantik, bukan Radit saja yang mengakui hal itu, tapi setiap orang yang ada dikediaman Amran.
Setelah puas memandangi wajah istrinya Radit memeluk Jihan begitu erat, dia mengingkan istrinya tapi Radit tak mau egois.
"Bintang ayah dan bunda tidak akan pernah melupakan kamu sayang. Kami semua menyayangimu." Batin Radit, kala mengingat anak pertamanya yang belum sempat melihat dunia.
Radit memang tidak tahu jenis kelamin anak pertamanya dengan Jihan dulu. Tapi dia memberi nama Bintang, karena Bintang sangat luar biasa.
Sedangkan saat ini si kembar baru berumur 5 bulan.
Radit semakin erat memeluk sang istri, rasa rindunya pada sang istri begitu besar. Tak lama setelahnya ayah ketiga anak itu sudah terlelap pula.
Malam begitu sunyi, diluar sana langit terlihat temaram, bintang sudah tak banyak terlihat lagi. Angin tegah malam pasti begitu dingin berbeda dari angin dipagi hari yang membuat sejuk menyapa manusia.
Tapi Jihan masih tetap memfavoritkan warna biru tentunya. Jam kini sudah menunjukan pukul 3 : 20 dini hari..
Jihan terbangun saat mendengar tangis bayinya, Jihan segera bangkit untuk menenangkan bayinya.
"Cup, cup, cup, sayang bunda tumben sekali sudah bangun jam segini, jangan nangis oke." Ucap Jihan.
Ternyata yang terbanung Azlam. Jihan langsung memberikan asi pada putrnya, setiap kali menyusui kedua putranya, Jihan selalu mengucapkan lafal basmallah dan juga selalu bersholawat tak pernah ketinggalan.
Radit juga terbangun, merasa disebelahnya kosong Radit segera mencari keberadaan istrinya, Radit membuka matanya, dia langsung mendapati Jihan yang sedang menggendong bayi mereka.
"Athar bangun lagi sayang?" Radit segera bangkit mendekati istri dan anaknya.
"Bukan mas si adek yang bangun, si abangnya masih anteng tuh." Jawab Jihan.
Radit sudah berada di sampai istrinya, "Azlam tumben banget bangun tengah malem."
"Lapar kayaknya dia mas." Radit mengangguk.
"Mas ke kamar mandi dulu."
Setelahnya Radit berlalu ke kamar mandi untuk melaksanakan sholat malam, Azlam yang sudah kembali terlelap membuat Jihan segera menaru Azlam di dalam boxnya.
Barulah Jihan menyusul suaminya, untuk sholat malam bersama. Selesai sholat malam Jihan mengaji begitu juga dengan Radit.
Tak lama saat mereka membaca Al-quran Radit dan Jihan kembali mendengar tangis bayi. Radit segera bangkit untuk menggendong bayinya, ternyata kali ini yang menangis si Athar.
Tahu kalau dia ada di dalam gendongan sang Ayah Athar tak lagi menagis seperti tadi, Athar malah tertawa. Jihan dan Radit tidak lagi tidur setelah melaksanakan sholat malam, mereka menunggu adzan subuh kermumandang.
Waktu bergulir.
Pagi akhirnya tiba, para makhluk di bumi sudah kembali melakukan aktivitas mereka seperti bisanya, matahari sudah bersinar cerah memberikan kehangatan di pagi hari yang sejuk dan damai ini..
Jihan sebagai ibu rumah tangga melakukan tugasnya dengan baik, setelah memandikan Athar dan Azlam juga memberi asi pada kedua putranya, Jihan segers menyiapkan kebutuhan suaminya. Setelah milik suaminya sudah semua lengkap, Jihan beralih pada putrinya, Jihan segera mendatangi kamar putrinya, siapa lagi kalau bukan Nafisa.
Jihan mencari keberadaan putrinya, tapi samar-samar Jihan mendengar ada seorang yang berada di kamar mandi.
Ceklek! Pintu kamar madi teburka, perlahan memperkihatkan Nafisa yang baru saja selesai mandi.
"Bunda, sudah lama disini?" tanya Nafisa pada bundanya.
"Baru sayang, kamu sudah mandi, ayo sekarang pake baju."
Nafisa mengangguk setuju, "Bunda Nafisa pake baju sendiri ya."
"Baiklah."
Jihan senang karena Nafisa sudah mau memaki baju sendiri, Jihan mempehatikan Nafisa yang sedang memaki baju dengan begitu telaten. Setelah Nafisa memaki bajunya dan dia juga sudah rapi, Nafisa mengajak Jihan untuk pergi ke kamar Jihan, Nafisa ingin melihat kedua adik bayinya.