AQILA

AQILA
9. Dimulai



Author Pov


Kelvin tersenyum puas melihat dirinya berhasil mengerjai Aqila. Ia sengaja pergi ke kantin lebih awal dan membiarkan Icha duduk di sampingnya. Icha memang sudah lama memendam perasaan kepada Kelvin namun Kelvin selalu menolaknya. Kelvin hanya menganggap Icha sebagai rekan kerjanya di OSIS, tidak lebih. Icha sempat marah pada Kelvin saat mengetahui Kelvin menembak adik kelasnya di depan umum. Namun melihat Kelvin membiarkannya duduk berdua di kantin, semangat Icha untuk mengambil hati Kelvin seakan kembali berkobar-kobar. Dengan senang hati Icha menyuapi Kelvin yang juga tidak menolak suapannya.


Sedangkan Kelvin sesekali melihat ke arah Aqila yang sibuk makan. Sesekali pandangannya beradu dengan Aqila, namun Aqila segera memalingkan wajahnya. Kelvin tahu jika Aqila cemburu, dan memang hal itulah yang diinginkan Kelvin.


"permainan kita akan segera dimulai gadis kecil." Ucap Kelvin dalam hati dengan seringai jahatnya.


Belum selesai Kelvin melanjutkan misinya, tiba-tiba ketiga temannya sudah datang mengagetkan Kelvin. Sedangkan Icha menatap tak suka ke arah sahabat-sahabat Kelvin.


"ngapain lo kesini?" kesal Icha. Pasalnya setelah kedatangan mereka bertiga, bisa dipastikan Ichalah yang harus keluar dari kantin tersebut. Padahal tadinya Icha sangat senang bisa makan bareng dengan Kelvin. Icha pikir setelah punya pacar Kelvin akan jauh lebih cuek kepadanya. Namun dugaannya salah, Kelvin justru sedikit care kepadanya. Buktinya hari ini ia mengizinkan Icha duduk sebangku dengannya, padahal biasanya boro-boro duduk bareng. Nyapa aja gak pernah dipeduliin.


"waizz galak amat tante. Santai dong." ucap Radit sambil menatap sinis ke arah Icha. Radit sangat tidak suka dengan gadis tersebut, bagi Radit Icha sama sekali tidak punya malu sampai rela mengemis perhatian dari Kelvin. Padahal Kelvin sudah menolaknya berkali-kali.


"udah sana lo minggir, ini tempat kita. Lagian ada angin apa sih sampe Kelvin ngebiarin lo duduk di sini?" ucap Raka, sedangkan Sean hanya menatap tak suka ke arah Icha.


"cha, sebaiknya lo pergi dari sini." ucap Kelvin


"loh Vin, kok kamu gitu sih?" rengek Icha sambil bergelayut manja di lengan Kelvin.


"cha." Kelvin kembali memberi peringatan hingga akhirnya gadis itu pergi dari hadapan mereka.


"dasar gak tau malu." kesal Sean


"eh, btw kok dia bisa ada di sini ama lo? Biasanya lo nolak-nolak kalo dia minta satu meja ama lo." tanya Raka


"santai kalik, sekali doang juga." jawab Kelvin


"atau jangan-jangan ini ada hubungannya sama gadis yang kemarin lo tembak itu?" tanya Radit


"entahlah." jawab Kelvin dengan hanya mengedikkan bahunya.


"Vin, gue sih gak ngelarang lo buat bales dendam. Tapi gue harap lo jangan ngelibatin banyak orang yang gak tahu apa-apa soal ini, apalagi kalo mereka cewek. Biar gimanapun cewek itu baperan bro." ucap Radit sambil menepuk pundak sahabatnya, Kelvin.


"gue tahu." jawab Kelvin dengan mantap


"gue cuma ingin main-main aja." lanjut Kelvin


"syukur deh kalo lo paham. Gue cuma takut kalo ada banyak pihak yang tersakiti." tambah Radit, sedangkan Sean dan Raka hanya geleng-geleng kepala mendengar penuturan Radit.


"gue gak setega itu, tapi ya lo liat aja deh gimana kelanjutannya." ucap Kelvin mantap.


"gue gak nyangka, jomblo-jomblo ternyata Radit punya hati." ucap Raka yang justru membalas ucapan Radit


"gue salut ama lo Dit." tambah Sean.


"sama gue enggak nih?" tanya Kelvin


"nggak lah, lo mah suka nyimpen dendam." ucapan Raka yang secara tidak sengaja langsung membuat tatapan Kelvin sedikit tajam.


"gue bercanda bro." ucap Raka menyadari perubahan Kelvin


"ya udah yuk makan. Laper gue." ucap Radit tiba-tiba.


"gue juga." tambah Kelvin


"lah, bukannya tadi lo udah makan Vin?" tanya Sean


"masih laper." jawab Kelvin dengan watadosnya.


"udah cepetan pesen, gue gak mau dihukum cuma gara-gara telat ke kelas." ucap Kelvin hingga Raditpun memilih berdiri dan memesan makanan.


Setelah pesanan mereka datang, mereka segera memakan dan menghabiskannya sebelum jam tanda berakhirnya istirahat berbunyi. Seperti ucapan Kelvin, mereka juga tidak ingin dihukum hanya karena telat sampai di kelas. Merekapun makan dengan lahap sampai tak ada sisa sedikitpun. Setelah itu mereka kembali ke kelas karena bel tanda pelajaran akan dimulai sudah berbunyi.


..


Sedangkan di sisi lain, Aqila sudah kembali ke kelasnya bersama kedua temannya. Mereka tidak ingin terlambat masuk kelas hanya karena terlalu lama berada di kantin.


"eh Qil, gue mau nanya dong." ucap Sindi memecah keheningan.


"em apa?" tanya Aqila balik


"tapi lo jangan kesinggung ya." ucap Sindi lagi


"iya santai aja." jawab Aqila


"sebenarnya hubungan lo sama kak Kelvin itu


gimana sih?" tanya Sindi yang merubah raut wajah Aqila.


"eh maaf Qil kalo gue lancang." tambah Sindi yang justru membuat Aqila tertawa.


"santai kalik, kayak sama siapa aja. Oke gue jelasin biar kalian gak salah paham. Jadi sebenarnya waktu kak Kelvin nembak gue, itu adalah hukuman buat gue yang udah datang terlambat. Gue juga gak tau sih motifnya apa, soalnya kak Kelvin cuma bilang itu doang." jelas Aqila


"lah trus hubungan lo sama dia gimana?" tanya Syila angkat bicara.


"gue juga gak tau kalo masalah itu, sejak kejadian dia nembak gue kemarin, gue belum bicara sepatah katapun sama dia." tambah Aqila.


"lah, lo juga gak punya kontaknya dia? ID line atau apalah?" Tanya Sindi ganti.


"enggak." jawab Aqila.


"ya ampun, lha trus gimana dong kelanjutan hubungan lo. Kak Kelvin kayaknya playboy juga." ujar Syila.


"udah lah biarin aja. Gue mah santai, gue tinggal ngejalanin aja seperti air yang mengalir." ucap Aqila.


"kalo lo disakitin, atau saat lo ada masalah. Gue harap lo bisa cerita ke kita Qil, biar kita bisa bantu, ya meskipun cuma sedikit." ucap Sindi.


"iya Qil, kita siap kok jadi pendengar saat lo ingin berkeluh kesah." tambah Syila.


"iya Sin, gue pasti cerita sama kalian. Makasih ya udah selalu ada buat gue. Gue harap kita tetep kayak gini sampai kapanpun." ucap Aqila.


"aamiin." ucap Syila dan Sindi bebarengan.


"gue sayang banget sama kalian." ucap Aqila serius lalu memeluk kedua sahabatnya erat-erat.


"etdah, baru kenal berapa hari aja udah berani sayang-sayangan." timpal Syila sambil melepaskan pelukannya, lalu mereka tertawa bersama.


Aqila sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka. Setidaknya Aqila bisa kembali merasakan hangatnya sebuah pelukan. Aqila juga kembali mendapatkan kasih sayang dari kedua sahabatnya. Aqila harap sahabatnya tetap bisa bertahan apapun keadaan Aqila.


.


.


.