AQILA

AQILA
11. Terimakasih



Author pov


Hari ini Aqila bangun lebih pagi dari biasanya. Meski matanya masih terlihat sembab karena menangis semalaman, tapi ia berusaha bangun lebih awal agar bisa membuat bekal sarapan untuk Kelvin.


Entah apa yang mendorong keberanian Aqila, hingga ia bertekad membuatkan bekal untuk Kelvin. Ah, mengingat Kelvin membuat senyum Aqila kembali merekah. Karena Kelvin, sesaat Aqila bisa melupakan kesedihannya.


Sebelum turun, Aqila mencuci mukanya terlebih dahulu di wastafel. Ia memang berniat mandi setelah selesai masak.


"loh, non Qila kok sudah bangun." Ucap Bi Inah yang terkejut dengan kedatangan Aqila.


"ehehe, mau ikut masak bi." jawab Aqila cengengesan


"ini bibikan udah masak non, non tunggu aja di kamar. Nanti kalo udah selesai bibi kasih tau."


"eum, sebenarnya Aqila mau masak buat seseorang bi." Ucap Aqila sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"owh, pasti buat pacarnya ya." Goda bi Inah yang membuat wajah Aqila memerah.


"cuma temen kok bi." jawab Aqila malu-malu.


"ya udah deh non kalo gitu, non silahkan masak sesuka non."


"oke bi, makasih ya."


Aqilapun segera menyiapkan bahan-bahan yang akan ia gunakan. Rencananya ia ingin menbuat nasi goreng spesial untuk Kelvin.


Setelah kurang lebih 1 jam bergelut dengan bau dapur, akhirnya nasi goreng spesial buatan Aqila selesai juga.


"finish." ucap Aqila dengan senang


"udah selesai ya non?" Tanya Bibi tiba-tiba.


"udah ini bi, hehe. Ya udah ya Aqila mandi dulu." jawab Aqila


"iya non silahkan."


Setelah dirasa cukup, Aqilapun bergegas kembali ke kamarnya untuk mandi. Ia harus berangkat pagi agar tiba di sekolah lebih dulu daripada Kelvin.


Pukul 06.15 Aqila sudah siap untuk berangkat sekolah. Ia menuruni anak tangga dengan hati-hati. Dilihatnya kedua orang tua dan adiknya sedang sarapan bersama. Merasa tak ingin mengganggu, Aqila langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil kotak bekalnya tanpa menyapa keluarga yang terlihat bahagia tersebut. Setelah itu ia langsung bergegas keluar rumah untuk segera berangkat.


"Pak Joni, Aqila bawa mobil sendiri aja ya." Ucap Aqila pada supirnya yang sedang memanaskan mobil Aqila.


"loh, nggak dianterin saya aja non?" tanya Pak Joni


"nggak usah pak." jawab Aqila sopan


"maaf ya non soal kemarin bapak gak bisa jemput." sesal pak Joni


"iya pak, Aqila gak papa kok. Ya udah ya pak Aqila berangkat dulu." pamit Aqila


Pukul 06.30 Aqila sudah sampai di sekolahnya. Ia menarik nafas lega ketika belum mendapati mobil sport Kelvin di area parkir. Aqilapun tidak berniat turun dari mobil karena ia sengaja menunggu Kelvin di dalam mobil.


Kurang lebih 15 menit Aqila menunggu, mobil Kelvinpun akhirnya memasuki area parkir. Aqila kemudian mengambil jaket yang kemarim Kelvin pinjamkan dan juga mengambil kotak bekal yang sudah ia siapkan.


Aqila turun dari mobil bersamaan denyan Kelvin yang juga baru membuka pintu mobilnya. Dengan jantung yang berdebar Aqila memberanikan diri menghampiri Kelvin.


"eum, pagi kak." Sapa Aqila kikuk, sedangkan Kelvin hanya memandang Aqila sekilas lalu kembali membuang pandangannya.


"a-aku cuma mau balikin jaket kakak yang kemarin." Ucap Aqila sambil menyerahkan jaketnya kepada Kelvin.


"ini juga ada nasi goreng kak. Sebagai ucapan terimakasih aku kemarin." Aqila menyodorkan bekal makanannya kepada Kelvin dengan senyum penuh harap. Sedangkan Kelvin lagi-lagi hanya melirik tanpa berniat mengambilnya.


"gue gak butuh." jawab Kelvin dingin


"tapi kak-" Belum sempat Aqila melanjutkan pembicaraannya Kelvin sudah berjalan mendahului Aqila dan menghampiri ketiga sahabatnya yang baru saja datang.


"cie yang masih pagi udah ketemuan." goda Raka


"kayaknya lagi jatuh cinta nih." Tammbah Sean, tapi Kelvin tetaplah Kelvin yang masih tak bergeming sama sekali.


Sedangkan Aqila yang melihat Kelvin berjalan ke arah temannyapun ikut menghampirinya.


"pagi kak." ucap Aqila ramah


"pagi cantik, ada apa nih pagi-pagi udah nyamperin para most wanted?" Tanya Raka dengan menaikturunkan alisnya.


"aku cuma mau ngasih ini ke kak Kelvin." Jawab Aqila sambil menyodorkan kotak bekalnya.


"owh, gimana kalo buag gue aja. Kebetulan gue belum sarapan." ucap Raka


"tapi kak-" Lagi-lagi belum selesai Aqila menyelesaikan perkatannya. Kelvin sudah lebih dulu bersuara.


"gue udah bilang kalo gue gak butuh. Tuli atau gimana sih lo?" Bentak Kelvin yang membuat hati Aqila tertohok, namun Aqila tetap berusaha memasang senyum manisnya.


"kakak terima aja, nanti kalo gak suka bisa dibuang." pinta Aqila dengan tulus


"maafin Kelvin ya, dia emang suka gitu." Ucap Radit memecah keheningan.


"eh iya kak gak papa." jawab Aqila gugup


"lo Aqila kan? Yang ditembak Kelvin waktu MOS." tanya Sean


"iya kak." Jawab Aqila sambil menundukkan kepalanya


"em ya udah ya, kita duluan. Dadaa cantik." Uap Raka yang langsung berjalan bersama kedua sahabatnya menyusul Kelvin.


Aqilapun menghela nafas lega. Rasanya tidak sia-sia ia membuatkan bekal untuk Kelvin. Perihal dimakan atau tidak itu urusan belakangan. Karena bagi Aqila, Kelvin mau menerimanya saja sudah menjadi hal yang luar biasa.


Setelah memberikan kotak bekalnya pada Kelvin, Aqilapun bergegas menuju ruang kelasnya. Waktu menunjukkan hampir pukul 07.00 yang menandakan bahwa bel pelajaran akan segera dimulai. Namun selama di parkiran, Aqila sama sekali tidak melihat batang hidung kedua sahabatnya.


Aqila sedikit terkejut saat kedua sahabatnya sudah berada di kelas.


"loh kalian udah berangkat?" Tanya Aqila yang berjalan menghampiri mereka.


"udah dari tadi kalik Qil." jawab Sindi


"loh, kok gue gak liat mobil lo di parkiran?" tanya Aqila


"gue sama Sindi dianter supir tadi." jawab Syila


"owh, pantes aja." ucap Aqila kemudian menaruh tasnya di atas meja.


"btw, lo ngapain jam segini baru dateng?" tanya Sindi tiba-tiba


"gue sebenarnya udah dari tadi sih." jawab Aqila


"lah trus kenapa baru masuk?" tanya Syila dengan wajah keponya


"sante aja napa tuh muka." sindir Sindi


"ya biarin kalik. Namanya juga kepo." bela Syila


"gue tadi nunggu kak Kelvin di parkiran. Balikin jaket sekaligus ngasih bekal." ucap Aqila


"balikin jaket, maksud lo?" tanya Sindi bingung


"kemarin gue kehujanan karena supir gue tiba-tiba gak bisa jemput. Dan kak Kelvin nganterin gue sampe rumah, dia juga minjemin jaketnya ke gue." Ucap Aqila panjang lebar


"cie peningkatan ciee." goda Syila


"ehem ehem." tambah Sindi


"ih apaan sih kalian." ucap Aqila dengan malu-malu. Bahkan ia yakin saat ini wajahnya sudah sangat marah.


*


*


"Nih makan." Ucap Kelvin sambil menyodorkan bekal makanan yang Aqila berikan pada ketiga sahabatnya.


"siap boss. kalo soal gratisan mah gue yang terdepan." Jawab Sean kemudian mengambil alih kotak bekal tersebut.


Sean langsung membuka kotak bekal tersebut dan memakannya dengan lahap.


"gila, enak bener ini." Ucap Sean di sela aktivitas makannya.


"cobain dong." Rakapum ikut mencicipi nasi goreng tersebut.


"restoran bintang lima kalah ini mah." ucap Raka setelah memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.


"gue juga mau." ucap Radit yang juga langsung menyendok nasi goreng tersebut.


"ini mah enak banget." ucap Radit sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sedangkan Kelvin mengerutkan dahinya sambil menatap ketiga sahabatnya, sedetik kemudian iapun mengambil alih sendok dan menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.


"enak?" goda Raka sambil menaikturunkan alisnya


"nggak. Biasa aja." Bohong Kelvin dengan cepat. Padahal nasi goreng buatan Aqila benar-benar enak. Bahkan benar yang dikatakan Raka bahwa restoran bintang limapun kalah dengan masakan Aqila. Tapi karena gengsi, Kelvin memilih mengatakan kalau rasa nasi goreng tersebut biasa saja.


"ya udah gue abisin aja." Ucap Sean yang langsung melahap habis nasi goreng Aqila.


Sedangkan Kelvin hanya bisa menarik napasnya, ia terlanjur malu untuk mengambil alih bekal yang Aqila berikan. Sehingga memilih untuk membiarkan Sean yang menghabiskan.


"makanya bro, kalo belum tau rasanya gak usah sok jual mahal." Ledek Raka yang langsung mendapatkan tatapan leser dari Kelvin.


.


.