AQILA

AQILA
23. One Month



Author Pov


Hari ini genap sebulan hubungan Aqila dan Kelvin. Namun sampai saat ini hubungan mereka masih jalan di tempat, tidak ada kemajuan sama sekali.


Selama sebulan ini pula Aqila mencoba bersabar menghadapi segala tingkah laku Kelvin. Laki-laki itu terkadang bersikap baik, lalu sedetik kemudian kembali berubah menjadi manusia menyebalkan.


Entah mengapa, Aqila bisa begitu cepat mencintai Kelvin. Tidak ada alasan yang mendasar atas rasa cintanya. Semuanya murni hadir sendiri tanpa bisa dipaksa atau dihalangi.


Tidak banyak yang Aqila ketahui tentang Kelvin. Yang Aqila tahu Kelvin hanyalah sosok yang menyebalkan. Sosok dingin, pemarah, dan tentunya sangat sensitif.


Namun hal itu tak menjadi masalah bagi Aqila, karena gadis itu telah memutuskan untuk terus bersikap baik kepada Kelvin. Tanpa peduli seberapa hal buruk yang Kelvin lakukan padanya.


Seperti hari ini, Aqila sudah menyiapkan bekal untul Kelvin. Menunya masih sama seperti hari biasa, nasi goreng dan juga omelet mie.


Kelvin juga sama sekali tidak keberatan dengan menu yang Aqila berikan, apapun menunya akan menjadi favorit Kelvin jika yang memasaknya adalah Aqila.


Eittzz, jangan berfikir positif dulu. Kelvin tetaplah Kelvin. Manusia yang sangat mengedepankan harga diri. Jadi jangankan untuk menerima masakan Aqila, mengakui jika ia mau memakannya saja sangat sulit.


Ya, setiap bekal yang Aqila berikan untuk Kelvin hanya dititipkan pada salah satu sahabat Kelvin. Aqila juga tidak tahu siapa yang memakan bekalnya, namun ia sudah cukup lega karena bisa memberi bekal untuk Kelvin.


Hari ini Aqila menghias nasi gorengnya dengan memberikan bermacam lalapan sebagai topping. Tak lupa juga untuk membentuk huruf AK di atasnya.


Kalian tentu tahu dong singkatan apa itu? Ya singkatan nama Aqila dan Kelvinlah. Masa iya singkatan nama author:vv


Setelah selesai menyiapkan bekalnya. Aqilapun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Seperti biasa, hanya memerlukan waktu swtengah jam Aqila sudah terlihat rapi dan siap untuk berangkat sekolah.


"bi, Aqila berangkat dulu ya." Ucap Aqila kepada Bi Inah saat ia berada di dapur untuk mengambil bekalnya.


"iya non, itu non Aqila bawa bekal lagi ya?" Tanya bi Inah heran, pasalnya hampir setiap hari Bi Inah melihat Aqila selalu membawa bekal, bahkan memasak dan menyiapkannya sendiri.


"hehe iya nih bi." jawab Aqila


"kenapa gak suruh buatin bibi aja Non? Kan kasihan Non Aqila kalo bikin sendiri tiap pagi." Ucap bi Inah


"soalnya ini spesial bi, jadi Aqila harus buat sendiri." jelas Aqila yang membuat bi Inah melongo. Masa iya majikannya itu setiap hari membawa bekal untuk orang lain.


"buat pacar non ya?" tanya bi Inah lagi


"iya bi, ini buat Kelvin, hehe. Ya udah ya bi, Aqila berangkat dulu takut terlambat. Assalamu'alaikum." pamit Aqila lalu bergegas pergi keluar rumah.


Sedangkan Bi Inah hanya geleng-geleng kepala melihat sikap majikannya. Ternyata bekal yang selama ini Aqila bawa bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk pacarnya.


Namun tanpa mereka sadari, ada sepasang telinga yang mendengar obrolan tersebut. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Bahkan wajahnya sudah memerah menahan amarah.


"lo gak boleh bahagia, secepatnya gue bakal cari tahu." Ucap orang tersebut dengan kilatan amarahnya.


Sedangkan Aqila kini sudah berangkat dwngan mengendarai mobilnya sendiri. Beberapa hari ini ia memilih untuk tidak diantar oleh Pak Joni.


Setelah kurang lebih 15 menit, Aqila akhirnya sampai di sekolahnya. Setelah memarkirkan mobil, iapun bergegas menuju kelasnya.


"hay Sin." sapa Aqila menghampiri Sindi


"hay Qil, tumben udah berangkat?" tanya Aqila


"kok tumben sih, biasnya juga jam segini kali." jawab Aqila


"eh, btw kemana Syila?" Tanya Aqila saat menyadari bahwa Sindi hanya duduk sendiri di mejanya.


"katanya dia dianter sopir gitu, mungkin agak siangan." jawab Sindi


"lah kenapa gak nebeng lo? Biasanya jugakan ngikut lo?" tanya Aqila lagi


"gak tahu juga gue. Tadi pas gue ke rumahnya katanya dia mau dianter gitu, ya udah gue tancap gass lah." Jawab Sindi, sedangkan Aqila hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


Tak selang lama, Syilapun akhirnya datang dengan tergesa-gesa.


"ngapain Syil lari-lari?" tanya Aqila


"lo lagi dikejar anjing tetangga ha?" tanya Sindi


"gila lo, nga-ngapain lo ninggalin gu-gue?" Tanya Syila pada Sindi dengan nafas yang masih terengah-engah.


"enak aja ninggalin. Gue tadi nyamperin lo ke rumah, trus kata pak satpam lo mau dianterin sopir gitu, ya gue duluan lah." Jawab Sindi


"i-iya awalnya gitu, tapi tiba-tiba mama ada urusan mendadak, jadi ya sopirnya nganterin mama." Jelas Syila


"trus lo naik apa?" tanya Aqila


"trus kenapa gue yang disalahin?" tanya Sindi


"kalian mah kompak banget, gue naik ojol. Mobil gue masih diservice. Dan lo jelas salah Sin, harusnya lo nungguin gue sampai gue dianter beneran." Jawab Syila


"enak aja, lo kira lo siapanya gue? Sory sory nih ye gak level gue nungguin lo." Ucap Sindi yang otomatis mendapat jitakan dari Syila.


"gayanya gak level, noh kucing lo masih suka makan di rumah gue." Ucap Syila yang membuat Sindi hanya menampilkan deretan gigi-giginya yang rapi.


Rumah Sindi dan Syila memang satu komplek, dan yang dikatakan Syila benar jika kucing milih Sindi sering main ke rumahnya.


.


.


.


Bel istirahatpun berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas. Begitupun dengan Kelvin dan ketiga sahabatnya. Mereka berniat ke kantin untuk memberi makan cacing di perutnya slyang sudah melakukan aksi demo sejak tadi.


"gila, gue laper banget." Ucap Raka di sela langkahnya menuju kantin


"gak lo doang kalik." timpal Raka


"berisik." gerutu Kelvin


Sesampainya di kantin, mereka msegera memesan makanan dengan porsi jumbo semua. Mungkin hari ini mereka benar-benar kelaparan.


"gue pesen mie ayam jumbo sama es jeruk." ucap Raka


"gue bakso jumbo sama es teh." tambah Radit


"gue siomay jumbo sama es jeruk." tambah Sean


"trus siapa yang pesen ogeb?" tanya Kelvin menatap ketiga sahabatnya.


"males." jawab Kelvin dingin


"udah Vin cepetan sana pesen, cacing-cacing gue udah pada mati kelaparan nih." ucap Sean


Akhirnya dengan langkah gontai Kelvin mau memesan makanan. Jika bukan karena ketiga sahabatnya, tidak mungkin ia mau mengantri bersama siswa lain seperti ini.


Saat Kelvin masih mengantri, tiba-tiba ada suara memanggilnya yang mau tidak mau membuat Kelvin mendongakkan kepalanya.


"Kelvin?" sapa gadis itu


"apa?" tanya Kelvin dingin


"tumben elo yang pesen makanan." ucap gadis itu


"emang kenapa?" tanya Kelvin lagi


"ya gak papa sih, mau gue bantu." tawar gadis tersebut


Dan setelah menimang-nimang cukup lama, akhirnya Kelvinpun menganggukkan kepalanya menerima tawaran gadis itu.


"lo tunggu sini, kalo udah bawa ke meja gue. Gue tunggu di sana." Ucap Kelvin sambil menunjukkan meja yang ia tempati bersama ketiga sahabatnya.


"siap kak." ucap gadis itu sambil mengacungkan jempolnya tanda mengerti.


Kelvinpun memilih kembali ke mejanya untuk bergabung bersama teman-temannya.


"loh mana makanannya?" tanya Raka yang bingung melihat Kelvin balik lagi tanpa membawa apapun.


"tuh, masih ditunggu Icha." ucap Kelvin sambil mengarahkan dagunya lada Icha.


"lo tega bener." timpal Sean


"dia yang nawarin." ucap Kelvin dingin


Sedangkan di sisi lain, Aqila yang melihat Kelvin ada di kantin berniat menghampiri laki-laki tersebut untuk memberikan bekalnya.


"guys, gue kasih ini dulu ya buat kak Kelvin." Ucap Aqila pada kedua sahabatnya.


"ck, dasar kepala batu." Cibir Syila, karena ia merasa jengah dengan sikap Aqila yang selalu perhatiin pada Kelvin, dan berbanding terbalik dengan perlakuan Kelvin pada Aaila


"udah biarin aja." Ucap Sindi yang hanya diangguki dengan malas oleh Syila


Namun Aqila sedikit terkejut ketika melihat satu siswa perempuan yang ikut bergabung di meja Kelvin, apalagi duduknya tepat di samping kanan Kelvin.


"positif thinking Aqila." ucap Aqila dalam hati


Aqilapun memantapkan langkah kakinya untuk menghampiri Kelvin.


"kak." Sapa Aqila, ia sedikit melirik ke arah perempuan tadi yang ternyata adalah Icha.


"eh neng cantik." ucap Raka


"sini gabung." tanbah Sean


Sedangkan Kelvin, jangan ditanyakan. Sudah jelas laki-laki itu diam dan sok sibuk dengan makanannya.


"eum, Aqila cuma mau kasih ini buat kak Kelvin, dimakan ya." Ucap Aqila lalu menyerahkan kotak bekalnya pada Kelvin.


Aqila berharap Kelvin memakan bekal tersebut, karena Aqila membuatnya spesial untuk hari jadi mereka yang ke satu bulan.


Diterima? Jangan harap, Kelvin bahkan tak memberi respon apapun pada Aqila. Hingga akhirnya Aqila memeilih meletakkan bekal itu di meja, tepat di sisi kiri Icha dan di sisi kanan Kelvin.


Saat Aqila baru saja ingin melangkah menjauh dari meja tersebut, tiba-tiba terdengar suara


PRAANGG


Bunyi nyaring itu terdengar di telinga Aqila, bersamaan dengan suara sendok yang bergesekan dengan lantai yang tentu menimbulkan suara yang membuat seisi kantin menoleh pada mereka.


Aqila yang hendak melangkah menjauhpun menghentikan langkahnya dan membalikkan arahnya ke arah Kelvin lagi.


Betapa terkejutnya dia saat melihat bekal makanan yang ia bawa kini sudah berserakan di lantai.


Ia menatap nanar ke arah kotak bekal itu, kemudian ganti menatap Kelvin dengan tatapan yang silit diartikan. Sedangkan Kelvin ganti menatap Aqila dengan tatapan yang mengatakan seolah bukan dia.


"maaf, gak sengaja." suara Icha yang tanpa rasa bersalahpun memecahkan keheningan yang terjadi, dan menguak fakta tentang siapa pelaku dari semua ini.


Sedangkan Aqila lebih memilih pergi tanpa berniat menjawab permintaan maaf atau lebih tepatnya disebut ejekan tersebut.


Pupus sudah harapan Aqila yang mengingunkan Kelvin memakan bekal buatannya. Karena nyatanya kini bekal itu sudah menyatu dengan lantai


Ia meninggalkan kantin dengan perasaan yang campur aduk. Bahkan ia sudah tidak lagi mendengarkan teriakan teman-temannya.


"Qil, Qila"


"Aqila"


"tungguin kita Qil"


Ucap Sindi dan Syila bersahutan lalu bergegas mengejar Aqila. Namun sebelum itu mereka menatap ke meja Kelvin dengan tatapan tajam yang seakan mengatakan 'gue bisa bunuh lo sekarang juga tanpa peduli siapa yang benar dan siapa yang salah'.


Ketiga sahabat Kelvin juga sudah ikut berlalu dari kantin. Mereka memilih pergi daripada harus makan bersama ratu iblis. Mereka sama-sama tidak suka dengan Icha. Karena perempuan itu bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Kelvin.


Sedangkan Kelvin, ia masih mematung di tempatnya. Seakan dirinya enggan beranjak dari sana. Ichapun hanya tersenyum mirinh atas perbuatan yang baru saja dibuatnya.


Malu? Tentu saja tidak, karena Icha justru merasa bangga saat ia mampu melakukan hal demikian.


"Qil?" gumam Kelvin pelan, sedetik kemudian ia juga ikut berlalu meninggalkan Icha tanpa sepatah katapun.


.


.


.


.


.


.


Bersambungđź’•