
Author Pov
"loh, kok lo sendiri. Aqila mana?" Tanya Sean saat melihat Kelvin keluar dari pintu rooftop seorang diri tanpa Aqila.
"lah iya, napa kagak bareng Aqila?" tanya Raka ganti
Sedangkan Kelvin hanya diam tanpa berniat menjawab kemudian berlalu begitu saja dari hadapan mereka.
"ya ampun nih orang kesambet apa sih." Ucap Radit
"bentar ya cantik, kita nyusulin Kelvin dulu. Kalian masuk gih temuin Aqila." Ucap Sean pada Sindi dan Syila.
Sindi dan Syila hanya menganggukkan kepalanya tanpa berniat menjawab. Merekapun segera bergegas masuk ke dalam rooftop untuk menemui Aqila.
"Qil lo gak papa?" Tanya Sindi yang sudah duduk di samping kanan Aqila
"eh, gue gak papa kok." Jawab Aqila yang langsung menghapus sisa air matanya.
"kak Kelvin gak ngapa-ngapain lo kan?" Tanya Syila ganti, saat ini dirinya juga sudah duduk di samping kiri Aqila.
"nggak kok, kalian tenang aja." Jawab Aqila sambil berusaha menampilkan senyumnya.
"lo mungkin bisa bohong sama orang lain Qil, tapi nggak sama kita. Meskipun kita kenalnya baru sebulan, tapi ikatan batin antata kita itu udah kuat Qil, kita sama-sama bisa ngerasain kalo ada salah satu yang terluka diantara kita." Ucap Sindi yang membuat Aqila terdiam.
"nangis Qil kalo emang lo mau nangis, pundak kita selalu siap buat lo." tambah Sindi
Aqila yang mendengar perkataan kedua sahabatnyapun sontak menangis. Ia menumpahkan seluruh air mata yang sudah ditahannya sejak lama.
Ya, saat ini Aqila memang butuh pundak untuk bersandar. Aqila butuh tempat untuk menumpahkan seluruh kesedihannya.
Aqila lelah. Ya, kata itulah yang mendedinisikan keadaan Aqila saat ini. Kenapa semua orang yang disayanginya harus pergi meninggalkan dirinya? Kenapa?
Sindi dan Syilapun ikut terhanyut dalam kesedihan Aqila. Sesekali mereka ikut terisak menyaksikan sahabatnya yang saat ini begitu rapuh.
Setelah membiarkan Aqila menangis dalam kurun waktu sekitar 1 jam. Akhirnya Sindi dan Syilapun angkat bicara.
"udah dong, masa nangis terus. Gak capek apa." Ucap Sindi
"kita aja dengernya capek loh, seriusan deh." tambah Syila
Aqilapun mendongakkan wajahnya, ia menghapus seluruh air mata yang jatuh membasahi pipinya. Kemudian kembali menampilkan senyumnya, memperlihatkan seakan tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
"udah yuk balik." Ucap Aqila tiba-tiba
"hah, beneran?" tanya Sindi memastikan
"iya, capek gue." Jawab Aqila sambil terkekeh
"bisa-bisanya ya lo ketawa." ucap Syila
"emang bukannya gue dari tadi ketawa ya? Lo aja yang terlalu baper." tukas Aqila dengan menjulurkan lidahnya pada Syila
"enak aja lo tuh, gak tau terimakasih amat." cerocos Syila
"udah-udah, kebiasaan kalian tuh, yuk ke bawah. Kayaknya udah mau pulang deh." Ucap Sindi menengahi
"pulang?" Ucap Aqila dengan nada bertanya.
"iya, tadi katanya jam 12 udah boleh pulang, nah sekarangkan udah setengah 12, berati tinggal bentar lagikan?" Ucap Sindi
"iya nih, kuy turun." Ucap Syila semangat
"kuylah." ucap Aqila
Merekapun segera turun dari rooftop untuk menuju ke kelasnya. Ternyata benar jika hari ini akan pulang lebih awal, karena di sepanjang koridor sudah terlihat sangat sepi, hanya tinggal beberapa siswa yang masih mengobrol sambil membawa tasnya. Mungkin mereka akan segera pulang juga.
"tukan bener kalo pulang siang." Ucap Sindi saat berhenti di tengah-tengah koridor.
"ck, iyaiya Sindi mah selalu bener." Timpal Syila
"udahlah cepetan, ngomong mulu perasaan." Ucap Aqila kesal
"perasaan tadi yang lama elo deh." Ucap Sindi namun kedua sahabatnya sudah berjalan mendahuluinya.
"aelah jubaedah, gue malah ditinggal." gerutu Sindi
Sindipun mengejar kedua sahabatnya dengan berjalan cepat, hingga langkahnya bisa mengimbangi langkah Aqila dan Syila.
Sesampainya di kelas mereka segera mengambil tasnya dan segera menuju ke parkiran. Si parkiran juga terlihat sudah sepi, bahkan tinggal ada beberapa kendaraan di sana.
"eh Qil lo bawa mobil?" tanya Syila
"iya Syil, gue bawa sendiri tadi." jawab Aqila
"lo kuatkan nyetir sendiri?" tanya Syila lagi
"emang gue kenapa sampai gak kuat nyetir?" Tanya balik Aqila yang heran dengan pertanyaan Syila.
"ya guekan cuma nanya, memastikan keadaan sahabat gue. Biar selamat sampe rumah." Ucap Syila sambil menaikturunkan alisnya.
Belum sampai Aqila menjawab ucapan Syila, datang seseorang yang tiba-tiba menghampiri mereka.
"permisi." Ucap seseorang itu.
"loh, kak Gavrin." Ucap Syila melihat kehadiran orang tersebut.
"eum, kalian bawa mobil?" Tanya Gavrin
"aku sama Sindi dijemput kak, kalo Aqila bawa mobil sendiri." Jawab Syila
"owh Lala ya." Ucap Gavrin memastikan.
"iya kak Aqila." Jawab Syila lagi yang kini sudah mendapat pelototan dari Aqila.
"ada apa ya kak?" Tanya Aqila pada akhirnya.
"gu-gue boleh numpang mobil lo nggak? Kakek masih lama soalnya." Ucap Gavrin yang sontak membuat Aqila tersedak.
"kakak gak naik taksi?" Tanya Aqila
"eum, kalo gak boleh ya udah deh. Gue nungguin kakek aja." Ucap Gavrin tidak lupa dengan senyumnya, kemudian ia bergegas untuk melangkah meninggalkan tempat tersebut.
"Ya ampun, gue tadi nanya apa sih. Bodoh banget" Gerutu Aqila dalam hati saat menyadari ucapannya tadi.
"eh boleh kok kak." Ucap Aqila kemudian yang menghentikan langkah Gavrin, entah mengapa rasanya Aqila terhipnotis akan senyum yang Gavrin berikan.
Sangat-sangat manis, pikir Aqila.
"gimana kalo gue yang nyetir?" Tanya Gavrin
"eum boleh kak, ini kuncinya." Ucap Aqila kemudian menyerahkan kunci mobilnya pada Gavrin.
Gavrinpun segera membuka kunci mobil Aqila, kemudian ia langsung membukakan pintu untuk Aqila.
Jujur Aqila sedikit grogi, pasalnya setiap bersama Kelvin, ia bahkan tidak pernah dibukakan pintu sekalipun. Yang ada hanya perintah 'masuk' dari sang empu.
.
.
"ke rumah gue dulu gak papa ya La?" Tanya Kelvin saat mereka sedang di tengah perjalanan.
"iya kak." Jawab Aqila
"lo udah makan?" Tanya Gavrin lagi
"udah kak, kan di kantin tadi." Jawab Aqila lagi
"gimana kalo kita makan dulu aja." Ajak Gavrin yang jelas membuat Aqila begitu terkejut
"eh- em, terserah kakak aja deh." Ucap Aqila akhirnya
"okay." Gavrinpun menjawab dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
Oh astagah, kenapa Gavrin seringkali tersenyum? Apa dia nggak tahu kalau senyumnya itu bisa membuat orang lain diabetes, pikir Aqila
Gavrinpun menepikan mobilnya di salah satu restoran bintang lima.
Sesampainya di sana Gavrin langsung duduk di salah satu bangku, kemudian segera memanggil pelayan.
"kamu mau pesen apa La?" Tanya Gavrin
"ngikut kakak aja deh." Jawab Aqila
Gavrinpun memesan beberapa menu makanan untuk launch mereka berdua.
Tak selang lama, pelayan sudah datang dengan satu nampan di tangannya.
"silahkan dinikmati mas mbak," Ucap pelayan tersebut
"terimakasih." Ucap Aqila dan Gavrin bersamaan, merekapun langsung saling pandang lalu terukir senyum di bibir masing-masing.
Mereka makan dengan khidmat, tidak ada yang memulai pembicaraan sedikitpun hingga makanan mereka habis.
"udah kenyang La?" Tanya Gavrin saat mereka telah selesai makan.
"udah kok kak, makasih ya." Jawab Aqila
"iya La, sama-sama. Yuk pulang." Ajak Gavrin kemudian mereka berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Seperti tadi, Gavrin membukakan pintu untuk Aqila. Kemudian ia berjalan mengitari mobil lalu masuk ke kursi kemudi dengan Aqila yang sudah duduk manis di sampingnya.
Gavrin melajukan mobil Aqila menuju ke rumahnya. Ia berniat untuk memperkenalkan Aqila pada bundanya.
"ayo turun." Ucap Gavrin setelah memarkirkan mobil Aqila di depan rumahnya.
"a-aku langsung pulang aja kak." Jawab Aqila
"yah, padahal aku pengin ngenalin kamu sama bunda." Ucap Gavrin lesu
Aqila yang melihat ekspresu kecewa Gavrinpun memilih untuk mengurungkan niat pulangnya.
"em, iya deh kak." Ucap Aqila pada Gavrin
"nah gitu dong, ya udah yuk masuk." Ucap Gavrin dengan penuh semangat.
Gavrinpun langsung menggenggam tangan mungil Aqila dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Aqila? Jelas ia hanya bisa melongo melihat sikap Gavrin, namun tidak ada penolakan sedikitpun yang Aqila lakukan.
"assalamu'alaikum bunda." Ucap Gavrin sedikit berteriak.
"wa'alaikumsalam, anak bunda udah pul--- eh ada tamu juga to." Ucap sang bunda yang kini beralih menatap Aqila.
"iya bun, kenalin temen baru Gavrin." Ucap Gavrin, lalu melespas tautan tangannya dengan Aqila kemudiam berjalan untuk menjabat tangan sang bunda.
"kenalin tante, saya Aqila." Ucap Aqila sambil mengulurkan tangannya pada bunda Gavrin.
"wah nama yang cantik kayak orangnya ya, kenalin nama tante Resta, kamu manggilnya bunda aja ya biar samaan sama Gavrin." Ucap bunda Gavrin dengan ramah.
"iya tan--eh bunda maksudynya." Ucap Aqila
"ya udah yuk masuk, kita ngobrol-ngobrol di ruang tamu." ajak sang bunda
"Gavrin ke kamar dulu ya bun, La, mau ganti baju soalnya." Pamit Gavrin pada bundanya dan Aqila
"iya jangan lama-lama, ada cewek cantik jangan dianggurin." Ucap bunda yang membuat wajah Aqila merona.
"bunda berlebihan deh." Ucap Aqila
"loh apanya yang berlebihan sayang? Kamu emang cantik beneran kok, natural lagi." Ucap bunda yang tak henti-hentinya memuji Aqila.
"kan Aqila jadi malu bunda." Ucap Aqila sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
"hahaha kamu malu ya?" Goda sang bunda yang membuat Aqila lebih malu lagi.
"udah gak usah malu, anggep aja bunda ini seperti itu kamu sendiri." Ucap bunda yang langsung membuat Aqila tersenyum bahagia.
"beneran bunda?" Tanya Aqila memastikan.
"iya sayang, sini peluk bunda." jawab bunda yang langsung membawa Aqila ke dalam pelukannya.
Nyaman? Tentu saja, bahkan rasa hangat saat ini sedang menjalar di tubuh Aqila.
Ia merasakapan dekapan layaknya dari seorang ibu, ia merasakan sebuah kasih sayang yang meskipun lagi-lagi bukan dari ibu kandungnya.
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Aqila, yang jelas saat ini ia bahagia.
Bahagia karena mengenal Gavrin, bahagia karena Gavrin telah membuat Aqila kembali merasakan sosok ibu dalam hidupnya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambungđź’•