
Author Pov
Hari ini Aqila berniat untuk pergi ke panti asuhan. Ia merasa bosan jika harus berdiam diri di dalam kamar. Apalagi ia hanya sendirian, yang tentunya hal itu akan membuka lukanya semalam.
Mengunjungi panti asuhan memang sudah menjadi rutinitas Aqila sejak ia masuk SMP.
Namun beberapa minggu belakangan ini ia jarang sekali pergi ke sana. Dan hari ini Aqila memutuskan untuk pergi ke sana.
Baru saja Aqila hendak melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tiba-tiba hpnya berbunyi.
"siapa sih, tumben banget nelfon pagi-pagi." gerutu Aqila
Iapun dengan malas menggeser tanda hijau di layar panggilan masuk yang menandakan ia menerima panggilan tersebut.
"halo." Sapa Aqila dengan nada bicara khas bangun tidurnya.
"gue tunggu di taman deket rumah lo jam 9." ucap seseorang di seberang telepon yang membuat Aqila terlonjak kaget.
"ka-kak Kelvin." Ucap Aqila lirih namun masih bisa didengar oleh orang di seberang telepon.
"iya ini gue. Emang lo belum save nomer gue apa?" tanya Kelvin
Sedangkan Aqila hanya bisa meneguk salivanya susah payah. Pasalnya saat menerima telepon tadi, ia tidak melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya.
"udah kak, tadi Aqila cuma gak lihat namanya." Jawab Aqila, lalu hanya terdengar bunyi "tut tut tut" yang menandakan panggilan telah diakhiri sepihak oleh Kelvin.
Aqila lebih terkejut lagi saat menyadari ternyata jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan angka 8. Merasa tak percaya, ia kembali membuka hp dan memastikannya.
"Ternyata benar." gumamnya saat mengetahui ternyata ini sudah jam 8 pagi.
.
Tanpa mengulur waktu, Aqila memilih segera ke kamar mandi dan bersiap menemui Kelvin di taman.
Saat menuju kamar mandi, langkahnya terhenti di depan cermin riasnya.
"astagah." kaget Aqila saat mengetahui wajahnya begitu pucat, ditambah dengan mata sipit khas orang habis nangis.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya yang kurang lebih setengah jam tersebut, Aqila segera memilih pakaian di lemarinya. Iapun memilih memakai baju santai. Ia juga memoleskan bedak tipis dan juga lipgloss agar bibirnya tidak terlihat pucat.
Setelah dirasa cukup, Aqilapun bergegas pergi ke taman dengan membawa tas selempangnya.
Jarak antara taman dan rumah Aqila memang tidak begitu jauh. Sehingga Aqila lebih memilih untuk jalan kaki menuju taman.
Pukul 09.55 Aqila sudah sampai di teman. Ia mencari sosok Kelvin di sekeliling taman.
Lalu matanya tertuju pada sosok lelaki yang yang duduk di sebuah bangku memanjang. Setelah yakin jika lelaki tersebut adalah Kelvin, Aqilapun segera menghampiri lelaki tersebut.
"kak?" tanya Aqila memastikan.
Aqila terpana saat lelaki tersebut menoleh ke arahnya. Bukan, bukan karena ia salah orang. Tapi karena Kelvin yang terlihat sangat tampan.
Bahkan Aqila sampai menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Bagaimana mungkin dia bisa terlihat sangat tampan seperti itu.
"Astagah Aqila, ayolah sadar." Ucapnya dalam hati sambil merutuki tingkah bodohnya.
"lo kenapa?" tanya Kelvin saat melihat ekspresi Aqila
"e-eh enggak kok kak. Gak kenapa-napa." Jawab Aqila dengan wajah yang bersemu merah.
"lo sakit?" tanya Kelvin
"enggak kak, aku sehat." Jawab Aqila yang bingung dengan pertanyaan Kelvin. Pasalnya Aqila merasa dirinya baik-baik saja hari ini.
"soalnya pipi lo merah." Ucap Kelvin yang membuat Aqila langsung memegangi kedua pipinya.
Kelvinpun tertawa saat menyadari tingkah konyol Aqila. Dan Aqila yang mulai paham maksud perkataan Kelvinpun merasa sangat malu.
"iiih kak Kelvin." ucap Aqila dengan nada marahnya.
"duduk." Ucap Kelvin yang langsung dituruti oleh Aqila
"ada apa kak?" tanya Aqila pada Kelvin
"gak ada kok." jawab Kelvin cuek
"trus ngapain suruh aku ke sini?" tanya Aqila lagi
"penting banget ya buat gur jawab?" tanya Kelvin balik
"kalo gak ada apa-apa aku pergi dulu ya kak. Ada urusan soanya." Ucap Aqila yang berniat pergi dari hadapan Kelvin
"urusan apa?" tanya Kelvin
"em, itu kak, aku mau ke panti asuhan." jawab Aqila
"ngapain?" tanya Kelvin lagi
"i-itu kak." Kelvin yang mengetahui bahwa Aqila tidak bisa menjawab pertanyaannyapun memilih untuk mengantar Aqila ke panti asuhan.
"gue anter." ucap Kelvin lalu berjalan mendahului Aqila
Lagi-lagi Aqila hanya bisa menuruti perkataan Kelvin tanpa berniat membantahnya.
Saat tiba di parkiran. Setelah Kelvin membuka kunci mobilnya, Aqila segera masuk ke mobil Kelvin tanpa menunggu aba-aba darinya.
Kelvinpun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Aqila yang sudah mulai berani padanya.
"alamatnya?" Tanya Kelvin pada Aqila saat ia hendak melajukan mobilnya.
"ini kak." Aqilapun menyerahkan hpnya pada Kelvin untuk menunjukkan alamat panti yang akan ia kunjungi.
Kelvinpun hanya mengangguk paham dan mengembalikan hp Aqila. Ia mulai menjalankan mobilnya ke alamat yang tadi ia baca.
.
Saat di tengah perjalanan, Aqila menghentikan mobil Kelvin dengan tiba-tiba. Kelvin yang merasa terkejutpun segera menginjak pedal rem hingga mobilnya berhenti.
"ada apa?" tanya Kelvin panik
"kebiasaan." cibir Kelvin lalu memutar balik mobilnya.
Pasalnya Kelvin tahu, jika di depan sana sudah tidak ada lagi supermarket. Meskipun ada, pasti hanya toko-toko kecil.
Bukan, bukannya Kelvin tidak mau berbelanja di sana. Tapi ia yakin jika barang-barangnya tidak selengkap di supermarket. Jadi ia memilih untuk memutar balik arahnya.
"loh kok puter balik kak?" tanya Aqila bingung
"di depan gak ada supermarket." Jawab Kelvin yang membuat Aqila semakin bingung. Bagaimana bisa Kelvin tahu jika di depan sana sudah tidak ada supermarket.
"tapikan masih ada toko kak." ucap Aqila lagi
"gak lengkap." jawab Kelvin cuek
Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di sebuah supermarket. Kelvinpun ikut turun menemani Aqila.
"kak Kelvin ikut?" Tanya Aqila saat menyadaei Kelvin ikut berjalan di sampingnya.
"gak boleh?" Ucap Kelvin yang malah balik bertanya.
Sedangkan Aqila hanya mengedikkan bahunya tanpa berniat menjawab pertanyaan Kelvin.
Sesampainya di supermarket, Aqila mengambil troli dan mendorongnya. Ia mengambil ermacan-macam snack hingga memenuhi troli tersebut.
Kelvin membelalakkan matanya saat menyadaei troli Aqila sudah penuh. Iapun berjalan mengikuti Aqila tanpa berniat mengambil alih troli tersebut.
Kelvin pikir Aqila akan menuju kasir untuk membayar seluruh belanjaannya. Tapi Kelvin salah, Aqila malah justru mengambil 1 troli lagi yang membuat Kelvin semakin bingung dibuatnya.
"buat apa lagi?" tanya Kelvin
"tadi baru snack, mainannya belum. Kan lumayan mumpung ada yang nganter." Ucap Aqila sambil menampilkan senyum manisnya yang membuat Kelvin sedikit terpana.
"cantik." gumam Kelvin pelan
"kak Kelvin ngomong apa tadi?" tanya Aqila yang mendengar Kelvin bergumam.
"eh enggak." jawab Kelvin salah tingkah
Aqilapun memilih kembali berjalan menuju tempat mainan anak. Ia memilih beragam mainan, lagi-lagi hingga troli tersebut penuh.
Setelah merasa puas, Aqilapun berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
Ia mendorong 1 troli dulu, kemudian mengambil troli yang satunya lagi. Sedangkan laki-laki yang terus mengekorinya itu sama sekali tak berguna.
Kini, Aqila sedang berada di kasir untuk menunggu barang belanjaannya dihitung. Tentunya dengan Kelvin yang masih setia di sampingnya.
"berapa mbak?" Tanya Aqila saat petugas kasir telah selesai menghitung.
"dua juta tujuh ratus tiga puluh lima ribu dek." Ucap petugas kasirnya
Aqilapun segera membuka dompetnya dan berniat membayar dengan menggunakan kartu kreditnya.
Namun saat hendak menyerahkan kartu kredit tersebut kepada petugas kasir. Tiba-tiba Kelvin menahan lengan Aqila. Yang tentu membuat Aqila mengernyitkan dahinya bingung.
"pakek ini aja mbak." Ucap Kelvin lalu menyerahkan kartu kreditnya kepada petugas kasir.
"loh kak gak usah." Tolak Aqila
Namun Kelvin tetaplah Kelvin, ia tidak bisa sedikitpun dibantah.
Aqila membelalakkan matanya saat menyadari bahwa belanjaannya sangatlah banyak. 3 kardus dan 4 tas jinjing berukuran besar.
"Astagah, gimana gue bawanya." pikir Aqila dalam hati
Kalian tahu sendirikan bagaimana tidak bergunanya seorang Kelvin. Bahkan setelah membayar ia meninggalkan Aqila seorang diri di kasir sambil menunggu belanjaannya dimasukkan ke dalam kardus.
Aqilapun memilih membawanya satu persatu ke depan supermarket. Ia bolak-balik sampai akhirnya-
"selesai." ucapnya dengan nada bahagia.
Ia mengedarkan pandangannya mencari Kelvin, namun sosok lelaki itu tak juga ia dapatkan.
Ia memanyunkan bibirnya, namun sedetik kemudian ia tersenyum riang. Ternyata Kelvin sedang mengambil mobilnya ke parkiran. Dan kini mobil Kelvin sudah berada di hadapan Aqila.
"masukin!" Perintah Kelvin yang masih duduk di kursi kemudinya.
"gak ada niat bantuin apa!" kesal Aqila pada Kelvin
Lalu dengan berat hati Aqila memasukkan seluruh belanjaanya ke mobil Kelvin.
Setelah selesai, Aqilapun langsung masuk ke dalam mobil Kelvin dan menutup pintu dengan keras. Ia juga menyeka keringat di dahinya, karena cuaca hari ini memang begitu panas.
"lo gak akan bisa ganti kalo sampe pintunya rusak." ucap Kelvin
"gak peduli." jawab Aqila ketus
Entah mendapat dorongan darimana hingga dirinya berani berkata demikian kepada Kelvin. Yang jelas Aqila hari ini telah salah berbaik sangka pada Kelvin.
Ia mengira Kelvin akan membantunya, namun ternyata dugaannya salah besar. Kelvin ya tetaplah seorang Kelvin.
Kelvinpun kembali melajukan mobilnya menuju panti asuhan. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Iapun mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di panti asuhan.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung dulu yaa readersđź’•