
Author Pov
Seperti biasa, Aqila menunggu jemputan supirnya di halte depan sekolah. Sebenarnya tadi Sindi dan Syila sudah menawarkan tumpangan untuk Aqila. Bahkan mereka mengeluarkan banyak bujukan agar Aqila bersedia pulang bersama mereka.
Namun Aqila tetaplah Aqila, ia kukuh dengan pendiriannya dan memilih untuk menunggu sampai supirnya datang menjemput. Alhasil saat ini dirinya sendirian di halte. Untung saja cuacanya cerah, jadi Aqila tak perlu khawatir akan kehujanan.
20 menit yang lalu Aqila sudah memberi kabar pada supirnya bahwa ia sudah pulang. Namun sampai saat ini belum juga datang. Mungkin macet, pikir Aqila.
Saat hendak menelpon supirnya lagi, tiba-tiba sebuah mobil sport berhenti di depan Aqila. Awalnya Aqila merasa asing dengan mobil tersebut, namun tak selang lama Aqila sudah bisa menebak siapa pemilik dari mobil mewah tersebut.
Dan benar saja tebakan Aqila, karena sang empu dari mobil tersebut segera turun dan menghampiri Aqila.
"mau berapa lama di sini?" tanyanya dingin
"eh, a-apa kak?" jawab Aqila terbata
"ikut gue." perintahnya
"loh tapi aku udah dijemput kak." Aqila berusaha menolak
"gue gak nerima penolakan." ucapnya lebih dingin membuat Aqila segera menuruti perintahnya dan masuk ke dalam mobil tersebut.
Hening
Ya, satu kata itulah yang mewakili keadaan mereka berdua. Tidak ada yang memulai percakapan, karena mereka memilih bungkam dengan perbedaan alasan.
Aqila memilih bungkam karena ia tahu seberapa banyak ia bicara, sama sekali tak akan berguna untuk orang di sampingnya tersebut.
Sedangkan Kelvin bungkam karena memang ia sosok dingin yang paling malas untuk diajak bicara.
Ya, Sosok yang menghampiri Aqila di halte tadi memang Kelvin.
Sosok yang memaksa Aqila untuk ikut dengannya juga Kelvin.
Sosok yang sangat Aqila kagumi meski Aqila kerap kali disakiti.
Saat ini Aqila memang tidak bisa lago memungkiri, bahwa ia jatuh dalam pesona seorang Kelvin. Ia tidak lagi bisa membohongi dirinya sendiri, sedangkan jantungnya selalu berdetak tak karuan saat berada di sisi Kelvin.
*
*
Saat menyadari kejanggalan arah mobil Kelvin, Aqilapun memberanikan diri untuk bertanya.
"kak, ini bukan jalan ke rumah aku." ucap Aqila saat menyadari bahwa ini bukan jalan ke rumahnya.
Sedangkan Kelvin hanya menatap Aqila sekilas tanpa berniat menjawab pertanyaan tersebut.
"kak, kita mau kemana?" ucap Aqila mulai panik. Bukan apa-apa, jika sampai terlambat pulang bisa-bisa Aqila dicincang habis oleh ibunya.
"gue ga nyuruh lo cerewet." ucap Kelvin yang tidak sedikitpun menjawab rasa penasaran Aqila.
"tapi kak-"
"diem." Ucap Kelcin yang lagi-lagi memotong pembicaraan Aqila.
Aqilapun hanya bisa pasrah dan memilih diam daripada harus berdebat dengan Kelvin. Karena mau bagaimanapun Aqila pasti kalah telak dengan Kelvin.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit. Kelvin memberhentikan mobilnya di parkiran apartemen.
Aqila mengernyitkan dahinya saat mengetahui ternyata Kelvin membawanya ke apartemen. Apalagi yang akan Kelvin perbuat padanya hari ini, pikir Aqila.
"ikut gue." perintah Kelvin.
Aqilapun hanya bisa mengikuti arah Kelvin. Hingga akhirnya mereka masuk lift dan Kelvin menekan angka 20.
Sesampainya di lantai 20, Kelvin menekan password apartemennya, lalu masuk dan diikuti Aqila di belakangnya.
"gue pengen makan masakan lo." ucap Kelvin tiba-tiba
Aqila mulai mencerna perkataan Kelvin, kemudiam ia tersenyum setelah paham maksud Kelvin membawanya kesini.
"dapurnya di mana kak?" tanya Aqila to the point. Ia yakin bahwa tugasnya kali ini adalah membuatkan masakan untul Kelvin.
"gue anter." ucap Kelvin yang diangguki oleh Aqila.
Sesampainya di dapur Aqila segera melihat bahan-bahan yang ada di kulkas. Lengkap, bahkan bisa dibilang sangat lengkap.
"kakak mau dimasakin apa?" Tanya Aqila setelah puas melihat isi dapur.
"terserah lo aja." jawab Kelvin
"gimana kalo nasi goreng sama omelet mie kak?" tanya Aqila meminta persetujuan Kelvin
"terserah." jawab Kelvin yang masih fokus dengan gadgetnya.
Setelah merasa Kelvin setuju dengan menu yang akan dibuatnya, Aqilapun segera memasang celemek dan memulai aksinya.
Diam-diam Kelvin memperhatikan gerakan Aqila yang sangat lincah saat memasak. Ada rasa hangat tersendiri di dalam hati Kelvin ketika melihat kelihaian Aqila dalam memasak. Namun rasa itu segera ditepisnya, mengingat bahwa bukan ini misi utamanya mendapatkan Aqila.
"eum, ini kak." Ucap Aqila menyadarkan Kelvin
"udah?" tanya Kelvin
"udah kak." jawab Aqila
Dan tanpa menunggu aba-aba, Kelvin langsung melahap masakan Aqila dengan begitu rakus. Bahkan ia sampai tersedak beberapa kali.
"ini kak minumnya, pelan-pelan aja makannya." ucap Aqila memperingatkan Kelvin sambil memberikan segelas air putih. Sedangkan Kelvin tidak memedulikan ucapan Aqila dan tetap fokus pada makanannya.
Setelah menghabiskan seluruh makanam buatan Aqila, Kelvin meringis pelan saat dirinya baru tersadar bahwa Aqila sendiri belum makan sejak tadi.
"lo belum makan ya?" tanya Kelvin tiba-tiba
"eum belum kak. Aku makan di rumah aja nanti." bohong Aqila, sebenarnya dia juga lapar. Bahkan tadi dirinya sudah memasak 2 porsi nasi goreng. Tapi melihat Kelvin begitu antusias dengan nasi goreng buatannya membuat Aqila mengurungkan niatnya untik ikut makan.
"sory." ucap Kelvin pelan
Di sini Aqila menemukan fakta baru bahwa sebenarnya Kelvin orang yang hangat. Aqila bisa tahu dari tatapan Kelvin yang begitu teduh saat berdua seperti ini, berbeda ketika ia sedang bersama teman-temannya.
"gak papa kak. Btw aku udah boleh pulang kan kak?" tanya Aqila karena waktu sudah menunuukkan pukul 17.15. Jika mamanya sudah pulang terlebih dahulu, bisa dipastikan bahwa Aqila habis malam ini.
"udah. Lo naik taksi aja, udah gue pesenin di depan." ucap Kelvin yang langsung membuat Aqila membulatkan matanya.
Bagaimana bisa ia pulang naik taksi sedangkan tadi saja Kelvin yang membawanya ke sini. Namun Aqila sedang tidak ingin merusak mood Kelvin yang sedikit membaik hari ini. Ia memilih untuk mengikuti ucapan Kelvin.
"oke kak." ucap Aqila kemudiam berlalu dari hadapan Kelvin. Ia mengambil tasnya lalu berniat untuk segera pulang
*
*
"jam berapa ini?" tanya Nesa-mama Aqila saat melihat Aqila baru pulang dan masih menggunakan seragam padahal waktu sudah menunjukkan pukul 18.30.
"maaf ma, Aqila tadi ke rumah temen." jawab Aqila lirih
"kamu itu gak tahu sopan santun ya. Apa sepantasnya anak sekolah baru pulang jam segini hah?" bentak Nesa
"ada apa sih Ma?" tanya Hermansyah menghampiri istrinya
"ini nih, kerjaaan anak pungutmu. Udah cuma numpang malah berlaku seenaknya sendiri." ucap Nesa lagi dengan nada yang tinggi
"darimana kamu Aqila?" tanya Hermansyah menatap Aqila
"Aqila dari rumah temen pa." jawab Aqila mencoba menatap sang papa
"ya udah, gih masuk kamar." Ucap sang papa membuat Aqila segera berlalu menuju kamarnya.
Di dalam kamar, Aqila masih samar-samar mendengar perdebatan kedua orang tuanya karena ulah dirinya.
"aku bilang juga apa pa, dia itu gak pantes di sini. Kembaliin aja ke panti asuhan." ucap Nesa pada Hermansyah
"maah-."
"udahlah la, mama capek mau tidur." ucap Nesa memotong perkataan Hermansyah kemudian bergegas menuju kamarnya.
Sedangkan Aqila hanya bisa menangis di dalam kamarnya. Ia terisak seorang diri tanpa adanya penenang hati.
Perdebatan itu ada karena kehadirannya
Perdebatan itu ada karena ulahnya
Perdebatan itu ada karena dirinya
Ini salahnya
Seharusnya Aqila sadar diri
Seharusnya Aqila tahu posisi
Sudah cukup, cukup. Aqila lelah. Dia lelah. Lelah akan penderitaan yang ia pendam sendirian. Lelah dengan keadaan yang terus memaksanya untuk bertahan.
Malam itu menjadi saksi bagaimana hancurnya hati seorang Aqila, bukan kali pertama namun untuk yang kesekian kalinya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung . . .