
~~Cinta itu palsu, dia terlalu pandai menipu.Kenandra Kelvin Aditama
~~Kita saling diam dalam dekapan, seakan menyalurkan lara yang telah lama terpendam. Aqila Anggara
~
~
~
Author Pov
Hari ini Aqila masuk sekolah seperti biasa. Ia juga sudah menyiapkan kotak bekal untuk Kelvin.
Namun sepertinya Aqila akan sedikit kesiangan hari ini, melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.10, dan dirinya baru bergegas membersihkan diri.
Setelah selesai dengan bekalnya, Aqila langsung bergegas ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap.
Seperti biasa, cukup 20 menit. Aqila sudah selesai merapikan dirinya. Iapun kembali turun ke bawah untuk segera berangkat sekolah, namun sebelumnya ia pergi ke dapur dulu untuk mengambil bekal buatannya.
Ia tidak menemukan seorangpun di ruang makan. Orang tuanya memang belum pulang, dan sepertinya Green sudah berangkat lebih awal.
Di dapur juga tidak ada orang, mungkin Bi Inah sedang menjemur baju di belakang.
Aqilapun segera melangkahkan kakinya keluar rumah. Hari ini ia akan diantar oleh Pak Joni karena sepertinya Aqila belum ingin menyetir mobil sendiri.
Pukul 06.55, Aqila sampai di sekolahnya. Ia berjalan menuju kelasnya dengan memasang wajah ceria, bahkan orang-orang yang melihatnya bisa langsung mengetahui jika Aqila sedang bahagia.
Merasa jika bel akan segera berbunyi, Aqilapun memilih untuk segera masuk ke dalam kelasnya dan akan memberikan bekalnya pada Kelvin saat jam istirahat saja.
Sesampainya di kelas, Aqila langsung menghampiri kedua sahabatnya.
"hello guyss." Sapa Aqila dengan senyum selebar mungkin.
"wizz lagi bahagia nih kayaknya." Ucap Sindi
"muka-muka abis ngedate nih." Tambah Syila
"ish kalian mah gak." Gerutu Aqila
"ceri---"
"HALLO GUYSS, pagi ini kita free 1 jam, karena guru mapelnya lagi ada urusan. Jadi kita baru mulai belajar di jam kedua." Ucap Dio di depan kelas.
"HOREEE" Sorak bahagia seluruh siswa di kelas tersebut.
Setelah keasaan mulai tenang. Sindipun langsung melanjutkan perktataannya yang sempat terpotong oleh Dio tadi.
"ceritain dong soal elo sama Kak Kelvin kemarin." Ucap Sindi
"iya dong Qil, kepo nih." Tambah Syila
"eum, jadi kemarin tuh gini..." Aqilapun menceritakan keseruannya saat bersama Kelvin kemarin.
.
.
.
Flashback on
Aqila Pov
Gue gak nyangka kalo ternyata Kak Kelvin ngajak gue ke rumah pohon. Gue pikir Kak Kelvin tadi mau ngajakin gue makan atau nonton bioskop. Eh ternyata gue malah dibawa ke taman.
Jujur gue gak tahu kenapa dia ngebawa gue ke sini. Gue juga gak tahu ini taman milik siapa.
Awalnya gue ngerasa biasa aja waktu di depan taman, tapi pas masuk ke dalamnya. Gue bener-bener dibuat ternganga.
Di dalam taman itu ada sebuah pohon besar dan di atasnya terdapat rumah pohon. Ada juga danau buatan, dan berbagai macam bunga dengan warna cantiknya. Gue bahkan gak nyangka kalo dalemnya bisa sebagus dan serapi ini.
Mungkin taman ini setiap hari dibersihkan, sampai gak ada satupun daun yang jatuh ke tanah. Bener-bener the best deh menurut gue.
Saat Kak Kelvin nyuruh gue buat naik ke rumah pohon awalnya gue ragu. Tapi akhirnya gue mau.
Gue menaiki satu persatu anak tangga yang terbuat dari kayu. Dan sesampainya di rumah pohon tersebut, kalian tau apa yang gue lihat?
Di sana banyak foto-foto Kelvin dan ketiga sahabatnya, ada juga fofo-foto yang gue sendiri gak tahu itu foto siapa.
Tak hanya itu, ada gitar dan berbagai hiasan yang terbuat dari kayu juga. Gue semakin dibuat kagum dengan ini semua.
Guepun melihat-lihat seisi rumah pohon itu sampai akhirnya gue puas. Dan ternyata Kak Kelvin juga udah duduk di dalam rumah pohon itu.
Sepertinya dia nungguin gue yang masih asyik mengedarkan pandangan ke seluruh sisi rumah pohon tersebut.
Saat melihat Kak Kelvin udah duduk di sana, guepun menghampirinya dan ikut duduk di sampingnya.
"kenapa kakak bawa Qila ke sini?" Tanya gue ke Kak Kelvin.
"pengen aja." Jawab Kak Kelvin cuek
"tempat ini punya kakak?" Tanya gue lagi
"heem." Jawab Kak Kelvin dengan deheman.
Sedangkan gue? Ya jelas gue sebel lah. Dia yang bawa gue ke sini, tapi dia juga yang cuekin gue.
Guepun memilih diam sambil nunggu Kak Kelvin angkat bicara.
Sampai akhirnya gue merasa ada yang menghangat di tangan gue.
Dan kalian tahu apa itu? Itu tangan Kak Kelvin. Itu tangan Kak Kelvin yang saat ini menggenggam tangan gue.
Guepun langsung mendongakkan kepala menatap sang empu dari tangan tersebut, tatapan gue seakan meminta penjelasan atas apa yang dia lakukan.
Tapi Kak Kelvin tetaplah Kak Kelvin, ia tetap diam tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia juga malah ikut natap gue.
Jadi deh kita tatap-tatapan sampai akhirnya mata gue kelilipan.
Gak asyik banget kan. Lagi adegan romantis, eh malah ada debu yang masuk ke mata.
Guepun langsung melepas tangan gue dari genggaman Kak Kelvin buat ngipasin mata gue.
Gue juga hampir nangis karena rasanya ada yang ngeganjel di mata gue. Sampai setiap gue kedip pasti rasanya sakit.
Kak Kelvin yang kayaknya pahampun segera melebarkan mata gue dengan tangannya, lalu ia tiup gitu aja.
Gue kaget, tapi syukurnya mata gue langsung sembuh.
Saat itu kita lagi-lagi terdiam. Sampai akhirnya Kak Kelvin yang angkat bicara.
"Qil." Ucap Kak Kelvin
"iya kak?" Tanya gue
"lo percaya sama yang namanya cinta?" Tanya Kak Kelvin tiba-tiba.
"nggak kak." Jawab gue jujur.
Karena gue emang gak pernah percaya dengan yang namanya cinta. Kara cinta seakan asing dari hidup gue, dan baru gue temukan saat gue mengenal Kak Kelvin.
"kenapa?" Tanya Kak Kelvin lagi.
"menurut banyak orang, cinta adalah rasa dan bahagia. Tapi Aqila belum pernah merasakan cinta yang bahagia, jadi Aqila belum bisa percaya dengan yang namanya cinta." Jawab gue
"kalo kakak sendiri gimana?" Tanya gue
"gue juga gak percaya." Jawab Kak Kelvin.
"kenapa kak?" Tanya gue lagi.
"cinta itu palsu, dia terlalu pandai menipu." Jawab Kelvin.
"maksud kakak?" Gue yang gak paham sama jawaban Kak Kelvin balik bertanya untuk mendapatkan penjelasan.
"lupain aja." Jawab Kak Kelvin yang ngebuat gue sedikit kesel.
Guepun memilih kembali diam, rasanya hari ini gue pengen Kak Kelvin yang terlebih dahulu memulai percakapan.
"Qil." Ucap Kak Kelvin pada akhirnya.
"iya." Jawab gue singkat.
"apa lo percaya kalo gue jatuh cinta sama elo?" Tanya Kak Kelvin tiba-tiba.
Kalian tahu gimana perasaan gue? Gue bener-bener kaget. Bahkan jantung gue kayak mau melompat dari tempatnya.
"a-aku gak tau kak." Jawabku
"haha, lupain." Ucap Kak Kelvin lagi sambil tertawa.
Apa tadi dia bilang? Lupain? Gampang banget ya bilang lupain setelah bikin gue senam jantung.
Saat gue terdiam, tiba-tiba tangan Kak Kelvin mendarat di puncak kepala gue. Dia mengusap kepala gue dengan pelan.
Sampai akhirnya dia membawa tubuh gue ke dalam pelukannya. Gue gak tau apa maksudnya, tapi dari sorot matanya. Gue tahu ada raut kesedihan di sana. Guepun ikut membalas pelukan Kak Kelvin.
Kita saling diam dalam dekapan, seakan menyalurkan lara yang telah lama terpendam. Tapi sayangnya, masing-masing dari kita nggak ada yang tau apa luka itu.
Saat dekapan itu mulai mengendur, Kak Kelvin membisikkan gue sebuah kata yang yang hampir ngebuat gue lupa dunia.
"gue sayang sama lo." Ucap Kak Kelvin lirih tepat di telinga gue.
Sedangkan gue hanya bisa tersenyum dibalik punggung kak Kelvin. Sampai akhirnya kita memutuskan untuk pulang dan mengakhiri hari bahagia itu.
Flashback off
.
.
.
.
.
.
Bersambung😊 Jangan lupa like dan komen readers💕