
Author Pov
Sedangkan di kediaman Firman Aditama. Kelvin sedang beradu kekuatan dengan samsaknya.
Ia meluapkan seluruh emosi dan kekesalannya pada sebuah samsak di belakang rumahnya.
Ia terus memukul samsaknya, sampai keringat mengalir membanjiri wajahnya. Kelvin bahkan tidak menggunakan sarung tinjunya, padahal serangan tangannya begitu membabi buta.
Namun sepertinya Kelvin tidak merasakan sakit sama sekali, terbukti dengan dirinya yang masih setia memukul samsak tanpa ampun. Seakan menganggap samsak tersebut adalah orang yang baru saja mencari gara-gara dengan dirinya.
Mungkin kemarahannya kali ini lebih besar daripada rasa sakit di tubuhnya karena terus bergelut dengan samsak.
Sepertinya kali ini kemarahan Kelvin bukan hal yang main-main. Lihat saja, wajah putih tampannya kini berubah menjadi merah dan menyeramkan. Sesekali giginya digertakkan, membuat siapapun yang melihat pasti akan merasa takut seketika.
Setelah dirasa cukup meluapkan emosinya. Kelvin segera bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Saat melewati meja makan, Kelvin melihat Claras-mama tirinya sedang menyiapkan makan malam.
"Kelvin, makan dulu sayang. Dari tadi kamu belum makan." ucap Claras
Namun Kelvin sama sekali tidak menggubris panggilan itu. Ia memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Kelvin." Panggil Claras lagi, namun tetap nihil, tidak ada jawaban sama sekali dari Kelvin.
Ia masih terus berjalan menuju kamarnya tanpa mengindahkan panggilan Claras.
Sesampainya di kamar, Kelvin langsung mendudukkan dirinya di tepi kasur. Sesekali ia menyeka keringat yang masih nenetes di wajahnya.
Baru saja ingin merebahkan dirinya di kasur, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Membuatnya mengurungkan niat untuk tidur. dan memilih kembali duduk.
"Kelvin, mama masuk ya." Ucap Claras dari luar
Sebenarnya Kelvin malas berurusan dengan ibu tirinya tersebut. Tapi dia sedang tidak ingin angkat bicara, hingga membiarkan mamanya masuk.
Merasa tidak ada jawaban, Claraspun segera masuk ke kamar Kelvin. Ia membawa sebuah nampan yang berisi makanan untuk Kelvin.
Melihat Kelvin yang terduduk di tepi ranjang, Claras sedikit tersenyum. Setidaknya putra tirinya itu tidak lagi mengusir dirinya.
Claraspun segera menaruh nampannya di atas nakas Kelvin. Kemudian ia ikut duduk di samping Kelvin.
"sayang." Panggil Claras pada Kelvin sambil mencoba menyentuh wajah putranya.
"jangan sentuh saya!" bentak Kelvin saat tangan Claras hampir mendarat di wajahnya.
Claraspun hanya bisa menghela nafasnya melihat sikap Kelvin yang sampai saat ini belum bisa menerima dirinya.
"kalo ada masalah, kamu bisa cerita sama mama. Jangan dipendam sendirian." Ucap Claras dengan nada halus.
"peduli apa anda tentang hidup saya?" tanya Kelvin dingin.
"Kelvin, soal kejadian 10 tahun lalu, saya min---"
"jangan bahas masalah itu." Ucap Kelvin yang langsung memotong perkataan Claras.
"tolong terima mama di sini Kelvin, mama sayang sama kamu." Ucap Claras yang kini air matanya sudah turun ke pipinya.
"dari dulu, mama selalu berusaha jadi ibu yang baik buat kamu. Tapi kenapa kamu gak bisa sedikitpun nerima mama?" tanya Claras dengan sendu
"saya hanya punya 1 mama, dan itu bukan anda." Ucap Kelvin dengan keras.
"keluar dari sini." Tambah Kelvin sambil menunjukkan pintu keluar pada mamanya.
"jangan lupa makan ya, nanti kamu sakit." Ucap Claras lagi kemudian bergegas meninggalkan kamar Kelvin.
Sedangkan di balik daun pintu kamar Kelvin, Firman-papa Kelvin sudah berdiri di sana sejak tadi.
Firman menyaksikan bagaimana kebaikan istrinya yang tak pernah ternilai di mata Kelvin. Menyaksikan bagaimana anak satu-satunya itu tumbuh dengan dendam. Menyaksikan bagaimana mereka berdua terluka karena ulahnya.
Ya, ini semua karena dirinya. Ini semua salah dirinya. Dia yang membuat anak semata wayangnya berubah. Ia yang telah merenggut kebahagiaan Kelvin karena egonya.
Firman memang salah, namun selama ini ia juga sudah berusaha menjadi papa yang baik untuk Kelvin. Meski sekali lagi, semuanya tak pernah terlihat oleh Kelvin.
Firman kemudian beranjak dari sana saat Claras hampir keluar. Ia tidak ingin istrinya tahu, jika dia mendengar seluruh percakapan istrinya dengan Kelvin. Firmanpun memilih untuk berjalan ke ruang keluarga. Menunggu istrinya di sana.
.
.
.
Sepeninggal Claras dari kamar Kelvin, bukannya emosi Kelvin mereda tapi malah tersulut lagi seperti kobaran api.
Kelvin kembali mengepalkan kedua tangannya. Berusaha memejamkan mata agar emosinya reda. Namun yang terlintas di kepalanya malah bayangan Aqila yang pulang bersama Gavrin. Hingga ia kembali mengingat kejadian tadi siang yang membuatnya begitu emosi.
.
Flashback on
Kelvin mendengar pembicaraan Gavrin dan Aqila. Ia mulai mengepalkan tangannya saat mengetahui jika Aqila dengan mudah menyetujui permintaan Gavrin untuk ikut di mobilnya.
"jalang selamanya akan jadi jalang." Ucap Kelvin dalam hati dengan penuh amarah.
Kelvin melihat Gavrin yang membukakan pintu mobil untuk Aqila, kemudian Gavrin mengitari mobil menuju kursi kemudi.
Merasa tak puas dengan yang dilihatnya di parkiran, Kelvinpun bergegas untuk mengikuti mobil Aqila yang sudah mulai dijalankan oleh Gavrin.
Kelvin segera masuk ke mobilnya, dan membuntuti mobil Aqila dengan hati-hati. Beruntungnya sahabat Kelvin hari ini membawakan Kelvin mobil yang belum pernah keluar dari kandangnya. Sehingga Kelvin tidak perlu cemas jika Aqila akan mengetahuinya.
Kelvin merasa asing dengan jalan yang dilewatinya, karena dirinya belum pernah ke sini sebelumnya.
Kelvin menghentikan mobilnya agak jauh saat melihat Gavrin membawa mobil Aqila masuk ke dalam salah satu halaman rumah yang sangat mewah. Bahkan lebih mewah dari rumah Kelvin.
Kelvin mengernyitkan dahinya, namun sedetik kemudian ia paham jika Gavrin membawa Aqila ke rumahnya.
Kelvin melihat mereka masuk ke dalam rumah dengan tangan Gavren yang menggandeng tangan Aqila.
"shit." Umpat Kelvin sambil memukul setir mobilnya dengan keras.
Merasa penasaran dengan hubungan Gavrin dan Aqila, akhirnya Kelvin memutuskan untuk tetap menunggu di sana sampai Aqila pulang.
Tak selang lama, mobil Aqila terlihat keluar dari halaman rumah Kelvin. Namun tunggu dulu, di sana tidak ada Aqila dan tidak ada Gavrin juga, melainkan hanya satu orang lelaki bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam yang duduk di kursi kemudi.
Lalu di mana Aqila?
Apa Aqila diculik?
Mau di bawa ke mana mobil Aqila?
Apa sebenarnya hubungan Gavrin dan Aqila?
Ya, pertanyaan itu terus berputar di kepala Kelvin, membuat sang empu semakin pusing dibuatnya.
Awalnya Kelvin ingin berniat untuk mengikuti mobil Aqila, namun niatnya urung saat dia melihat seorang wanita paruh baya yang keluar dari dalam rumah tersebut.
Wanita itu masuk ke dalam salah satu mobil kemudian melajukan mobilnya hingga menjauh dari rumah itu.
Kelvin masih setia menanti, 1 jam 2 jam, dan ini sudah 3 jam. Saat Kelvin hendak memilih pulang, tiba-tiba Aqila dan Gavrin keluar dari rumah tersebut dengan menampilkan wajah bahagia mereka.
Kelvinpun menajamkan penglihatannya agar bisa melihat apa yang mereka lakukan. Kelvin tidak bisa mendengar percakapan Gavrin dan Aqila karena jarak mobilnya yang sedikit jauh dari rumah Gavrin.
Kelvin semakin diselimuti amarah saat Gavrin memakaikan helm di kepala Aqila.
Kelvin kembali mengikuti Gavrin yang mulai melajukan motornya dengan Aqila yang berada di jok belakang.
Kelvin memang tidak tahu apa alasan dirinya hingga mau membuang waktu hanya untuk mengikuti Aqila yang sama sekali tidak penting di hidupnya.
Ya, bagi Kelvin, Aqila memang tidak penting, bahkan bisa dibilang sangat dibencinya. Namun mengapa saat melihat Gavrin dan Aqila yang begitu dekat membuat dadanya sesak. Mengapa melihat Aqila dan Gavrin membuat amarahnya meluap?
Kelvin menghentikan mobilnya di persimpangan ke rumah Aqila. Cukup sampai di sini Kelvin sudah paham jika Gavrin mengantar Aqila pulang.
"kenapa gak pulang sendiri, dasar murahan." ucap Kelvin lagi, kemudian ia berlalu untuk segera pulang.
Sesampainya di rumah, ia langsung menuju halaman belakang dan memainkan samsaknya dengan emosi yang meluap-luap.
Flashback ***off
***.
"aarrghh." teriak Kelvin saat bayangan tentang Aqila tadi siang kembali berputar-putar di kepalanya. Bahkan seakan terus menghantui Kelvin tanpa mau berlalu dari pikirannya
Kenapa? Ada apa lagi dengan dirinya?
"gak mungkin gue cemburu. Gue itu cuma takut kalo misi gue gagal karena kedatangan Gavren." Ucap Kelvin meyakinkan dirinya
"biar gimanapun gue harus hati-hati, karena Gavren bisa jadi tameng untuk Aqila." tambah Kelvin
Kelvin berharap pikirannya akan tenang setelah ia berkata demikian. Namun lagi-lagi ada sisi lain di hatinya yang terus bergejolak entak karena apa. Membuat Kelvin memijit pelipisanya pelan, merasa frustasi dengan apa yang ia pikirkan.
.
.
.
.
.
.
Hallo readers💕 Gimana ceritanya? Masih kepo sama misi Kelvin? Makanya ikuti terus kelanjutan kisah AQILA. Jangan lupa like dan komen biar misi Kelvin cepet terungkap. Hehe🤗