
Author Pov
Pagi ini Kelvin berniat menjemput Aqila ke rumahnya. Setelah membaca beberapa blog di google yang menjelaskan beragam cara untuk mendapatkan hati seorang wanita, Kelvinpun memilih untuk bersikap baik pada Aqila.
"gue lakuin ini demi ngelancarin misi gue." ucap Kelvin meyakinkan dirinya sendiri.
Iapun segera memacu mobilnya ke arah rumah Aqila. Jam di pergelangan tangannya memang masih menunjukkan pukul 05.30. Tapi tidak masalah, lebih baik ia menunggu daripada harus menerima kenyataan kalau Aqila sudah berangkat terlebih dulu.
Setengah jam kemudian, Kelvin sudah sampai di depan rumah Aqila. Ia memilih menunggu Aqila di dalam mobil tanpa ada niatan untuk turun.
Kelvin juga sengaja tidak sarapan pagi ini, karena ia berharap Aqila kembali membuatkan bekal untuknya. Meskipun misi Kelvin tetap tak ubah, tapi ia tak bisa mengelak jika masakan Aqila benar-benar enak. Bahkan mungkin saat ini Kelvin akui, bahwa dirinya sudah menjadi candu dengan masakan Aqila.
"jadi gini rasanya nunggu." ucap Kelvin pada dirinya sendiri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"sabar Vin sabar. Baru juga 10 menit." gumam Kelvin lagi
"akhirnya keluar juga." ucap Kelvin lega setelah melihat Aqila sudah keluar dari pintu rumahnya.
Kelvin memang type orang yang sangat tidak suka menunggu, jadi wajar jika dari tadi ia mwnggerutu tak jelas. Bahkan bisa dibilang Kelvin tidak lernah menunggu seseorang sama sekali, tapi hari ini ia berhasil menunggu Aqila selama kurang lebih 15 menit. Jelas saja hal tersebut menguras emosinya. Ia harus bergulat dengan hati dan egonya.
Kelvinpun memilih untuk keluar dari mobil agar Aqila mengetaui keberadaannya. Namun sepertinya Aqila sama sekali tak melihat dirinya. Kelvinoun memilih untuk ke tempat pos satpam agar memberitahui Aqila untuk berangkat bersamanya.
"misi pak." ucap Kelvin sopan
"eh iya tuan, ada apa?" tanya pak Pur-satpam rumah Aqila
"panggil Kelvin aja pak." bantah Kelvin tak setuju saat dirinya disebut tuan
"tapi gak sopan atuh." jawab pak Pur-satpam di rumah Aqila
"kalo gitu panggil den aja pak." ucap Kelvin lagi
"baik den kalo begitu, ada perlu apa ya den Kelvin kesini pagi-pagi?" tanya pak Pur
"saya mau mengajak Aqila berangkat bareng pak, apa dia sudah berangkat?" tanya Kelvin basa-basi, padahal jelas tadi dirinya melihat Aqila yang baru keluar rumah.
"oh belum den, saya panggilkan dulu ya." ucap pak Pur kemudian berlalu meninggalkan Kelvin.
Sesampainya di depan rumah, Pak Pur menemukan Aqila yang sedang duduk menunggu Pak Joni menyiapkan mobilnya.
"Non Qila, itu ada yang jemput." ucap Pak Pur yang membuat Aqila mengernyitkan dahinya bingung.
"siapa pak?" tanya Aqila
"namanya tadi den- Kelvin, iya den Kelvin non." jawab Pak Pur
"hah." Aqila hanya bisa membelalakkan matanya tak percaya. Kemudian ia menatap ke arah gerbang yang memang sudah ada Kelvin di sana.
"em, iya pak. Makasih ya." ucap Aqila pada Pak Pur
Aqilapun berjalan menghampiri Kelvin dengan tanda tanya yang memenuhi pikirannya. Ada apa lagi? Batinnya dalam hati
"eum, ada apa ya kak?" tanya Aqila pada Kelvin
"gue jemput lo." ucap Kelvin
"hah?" lagi-lagi Aqila hanya bisa membelalakkan matanya
"gue jemput lo, udah yuk berangkat. Keburu siang." ucap Kelvin
Aqila yakin, ini adalah kalimat terpanjang yang pernah Kelvin ucapkan padanya selain saat Kelvin menembaknya waktu itu.
"aku bilang ke Pak Joni dulu kak." ucap Aqila
Awalnya Kelvin bingung dengan siapa Pak Joni yang dimaksud Aqila, namun Kelvin segera paham saat Aqila menghampiri lelaki paruh baya yang sedang memanaskan mobilnya.
"Pak Joni, hari ini Aqila berangkat bareng temen. Nanti kalo butuh jemputan Aqila telfon bapak aja." Ucap Aqila pada Pak Joni supirnya.
Aqilapun kembali berjalan ke arah Kelvin untuk segera berangkat. Ia tidak mau kembali dihukum karena terlambat. Oh ya, jangan lupakan sebuah fakta jika Kelvin juga seorang ketua osis loh ya. Jadi biar gimanapun Aqila tetep takut sama dia.
Di dalam mobil mereka sama-sama diam dan terhanyut dalam keheningan. Sebenarnya Aqila ingin menanyakan apa alasan Kelvin menjemputnya, namun ia masih memilih kata-kata yang pas untuk menanyakan hal itu.
Ada apa kak kok jemput aku?
Ada perlu apa kakak jemput aku?
Tumben kakak jemput aku?
Ada perlu apa ya kak, kok sampai jemput aku?
"apasiiih." ucap Aqila tidak sadar hingga membuat Kelvin menoleh padanya.
"ada apa?" tanya Kelvin
"eh, itu- anu-, itu kak gak papa kok." jawab Aqila terbata sangking kagetnya
"gak usah mikirin yang nggak-nggak, gue cuma lagi pengen jemput lo doang." ucap Kelvin seakan mengetahui yang Aqila pikirkan
"hah." sedangkan Aqila hanya bisa membulatkan bibirnya. Bagaimana Kelvin bisa tahu isi hatinya? Gumamnya dalam hati.
"sampai." ucap Kelvin menyadarkan Aqila
Ternyata mereka sudah sampai di sekolahnya. Bahkan Kelvin sudah memarkirkan mobilnya dengan rapi. Laku bagaimana bisa Aqila tidak sadar? Entahlah, sikap lelaki ini cukup membuat Aqila hilang kesadaran.
"mana?" tanya Kelvin yang membuat Aqila bingung
"apanya kak?" tanya Aqila balik
"bekalnya." jawab Kelvin
"owh, i-ini kak." Aqilapun mebgambil kotak bekal di dalam tasnya kemudian memberikannya pada Kelvin.
"thank's." ucap Kelvin
"eum, aku juga makasih kak. Kalo gitu aku duluan ya kak." Ucap Aqila kemudian keluar dari mobil Kelvin. Ia sudah tidak bisa lagi menahan detak jantungnya yang tidak karuan.
Aqila berjalan menyusuri koridor sekolahnya seorang diri untuk menuju kelas dengan nafas yang memburu. Ia seperti habis dikejar anjing tetangga. Entah kenapa setiap berada di samping Kelvin jantungnya selalu nerdetak lebih cepat.
Apalagi tadi Aqila melihat senyumam Kelvin yang begitu manis. Senyuman yang tak pernah Aqila lihat sebelumnya. Senyuman yang menbuat hati Aqila kembali mencair.
Untung saja tidak ada orang yang menyadari bahwa Aqila berangkat bersama dengan Kelvin, jadi Aqila merasa bebas berjalan di koridor. Jika saja tadi ada salah satu siswa yang tahu, sudah dipastikan saat ini Aqila akan dihujani berbagai macam komentar, mulai yang positif sampai yang negatif. Maklumlah, netizenkan emang bisanya cuma berkomentar.
Sedangkan di dalam mobil, Kelvin masih setia dengan bekal yang diberikan Aqila. Ia memakannya dengan lahap, persis seperti orang kelaparan yang u hari 7 malam tidak makan.
"selalu saja enak." gumam Kelvin pelan
Setelah menghabiskan bekal pemberian Aqila, Kelvinpun bergegas turun dari mobil dan berjalan menuju kelas. 5 menit lagi bel akan berbunyi, dan Kelvin tidak mau nama baiknya tercemar hanya karena ia terlambat datang. Ah bukan terlambat lebih tepatnya, tapi karena ia terlalu asik menikmati bekal pemberian Aqila.
.
.
.
.
.
.
bersambung . . .