AQILA

AQILA
22. Pulang



Author Pov


Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa kini jam sudah menunjukkan pukul 16.00. Aqila yang sudah puas bermain dengan anak pantipun bergegas untuk pamit pulang.


"bunda, Lala pamit dulu ya." Ucap Aqila pada sang bunda.


"iya La, lain kali kalo ke sini gak usah repot-repot kayak gitu. Masa bawa barang banyak banget." Ucap Bunda mengingatkan Aqila.


"ah gak papa bunda, lagian itu tadi uangnya Kelvin ko- eh," Aqila menutup mulutnya kasar. Bagaimana bisa ia keceplosan mengatakan hal itu pada bunda.


"ciee, dibeliin Kelvin toh.?" tanya bunda menggoda


"ehehe, i-iya bunda." Jawab Aqila sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"ya udah sana. Keburu malem nanti." Ucap bundanya


"iya bunda, Lala pamit ya. Assalamu'alaikum." Ucap Aqila lalu mencium tangan sang bunda.


"walaikumsalam," jawab sang bunda


Aqilapun memghampiri Kelvin yang berada di teras panti, sejak tadi lelaki itu hanya sedikit bermain dan memilih menunggu Aqila di depan panti.


"kak." Ucap Aqila yang membuat Kelvin menoleh


"pulang?" tanya Kelvin


"iya kak. Kakak pamit dulu sama bunda, Aqila udah tadi." Jawab Aqila


Kelvinpun segera masuk ke dalam panti dan menghampiri Bunda Lia.


"bunda, Kelvin pamit dulu ya." Ucap Kelvin l


"iya nak, hati-hati ya. Terimakasih sudah mau berkunjung ke sini." Ucap bunda dengan ramah


"iya bunda, Kelvin juga makasih." Ucap Kelvin lalu mencium tangan sang bunda.


Namun sebelum melangkah keluar rumah, sang bunda kembali menginstrukai Kelvin.


"jagain Aqila ya Vin. Buat dia bahagia." ucap bunda


DEG


Jantung Kelvin seakan berhenti berdetak mendengar penuturan sang bunda. Nadinya serasa tak berdenyut lagi. Kakinya melemas namun masih sanggup menyangga tubuhnya.


"i-iya bunda." Ucap Kelvin dengan memaksakan sedikit senyuman.


Kelvinpun kemudian berlalu dari hadapan Bunda Lia. Sedangkan Bunda Lia menatap kepergian Kelvin dengan senyuman. Ia berharap Kelvin bisa membahagiakan Aqila, dan menghapus seluruh luka gadis tersebut.


"ayo" Ucap Kelvin saat dirinya sampai di depan panti. Ternyata Aqila masih menunggunya di sana.


"ayo kak." Ucap Aqila diiringi sedikit senyumnya.


.


.


.


Tepat pukul 17.00, Aqila sudah sampai di rumahnya. Ia pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.


"makasih ya kak." Ucap Aqila saat dirinya hendak turun dari mobil Kelvin.


"ya," Lagi-lagi Kelvin hanya menjawab cuek tanpa memandang Aqila sedikitpun.


Aqilapun segera turun dari mobil Kelvin, kemudian ia bergegas masuk ke rumahnya.


"syukurlah." Ucap Aqila lega saat mengetahui mobil orang tuanya belum ada yang datang.


Iapun segera masuk ke dalam rumahnya dan berjalan menuju kamar. Namun ketika menaiki anak tangga. Ada suara yang membuatnya menghentikan langkah.


"darimana aja lo?" Tanya Greenindia-adik tiri Aqila.


"bukan urusan lo." Jawab Aqila lalu berniat melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


"jangan berlaku seenaknya ya, lo tuh di sini cuma numpang." Ucap Green lagi yang justru dibalas senyuman oleh Aqila.


"dan inget, lo bukan siapa-siap di sini. Jadi jangan kurang ajar sama gue." tambah Green


"udah bicaranya? Kalo udah gue mau naik." Ucap Aqila santai yang membuat Green menggeram marah dan berniat menampar Aqila.


Namun sebelum tangan Green mendaray di pipi mulus Aqila. Aqila lebih dulu menepisnya dengan kasar hingga membuat Green terjatuh.


Greenpun berniat berdiri untuk membalas perlakuan Aqila, namun belum sempat ia berdiri. Tiba-tiba pintu rumah sudah terbuka.


Tanpa melihat, Green sudah tahu siapa yang datang. Sehingga ia memilih mengurungkan niatnya untuk berdiri. Dan malah menangis tersedu di lantai.


Aqila yang sudah tahu akal-akalan Greenpun lebih memilih diam. Membelapun rasanya percuma, karena tiada satu orangpun yang akan percaya.


"ya ampun Green kamu kenapa sayang?" Tanya Nesa-mamanya lalu berusaha membantu Green berdiri.


"kak Aqila ma." Ucap Green masih sambil menangis.


Sang papa yang sedari tadi hanya diam memperhatikan kini mulai angkat bicara.


"apa yang kamu lakukan pada adikmu Aqila?" Tanya sang papa dengan nada tegasnya.


"Sebuah pertanyaan atau sebuah tudingan yang ia katakan?" pikir Aqila dalam hati


"maaf." Tambah Aqila yang kemudian berlalu dari hadapan mereka.


"Heee anak gak tahu diri, mau kemana kamu? Berani sekali menyentuh putri saya lalu kabur begitu saja." teriak sang mama dengan marah


Namun Aqila sama sekali tak menggubrisnya, ia memilih melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga untuk pergi ke kamar, dari pada harus terus berdebat dengan keluarganya.


Aqila tidak sekuat itu, Aqila lemah. Ya ,seperti sekarang saat dirinya sedang berada di kamar seorang diri.


Aqila kembali menangis, menangis, dan menangis.


Hatinya serasa tersayat akan seluruh kejadian yang menimpa hidupnya. Sejak berada di rumah itu, bahkan Aqila tidak pernah tahu apa yang dinamakan keadilan.


Ia dicaci, ia dimaki, ia diperlakukan seenak hati.


Aqila lelah, Aqila ingin menyerah.


"nggak, aku harus kuat, aku gak boleh menyerah. Aku hanya perlu bersabar sebentar lagi." Ucapnya meyakinkan dirinya sendiri.


Kemudian ia memilih untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Ia pikir hari ini ia akan merasa sangat bahagia, namun lagi-lagi angan itu harus tertepis oleh nyata yang tidak pernah bisa diajak kerja sama.


"Ia kemudian merebahkan tubuhnya di kasur. Hari ini benar-benar melelahkan untuknya.


.


.


.


Sedangkan di kediaman Firman Aditama-ayah Kelvin, juga sedang terjadi hal serupa dengan yang dialami keluarga Hermansyah-ayah Aqila.


Hari ini setelah mengantar Aqila pulang dari panti, Kelvin memilih untuk pulang ke rumahnya.


Ia merindukan aroma khas kamarnya yang sudah seminggu ini tak ia tempati, selain itu ia juga ingin segera merebahkan tubuhnya di atas kasur karena merasa sangat lelah hari ini.


Jarak dari rumah Aqila ke rumahnya memang lebih dekat daripada jarak rumah Aqila ke apartemennya. Dan itu juga merupakan salah satu alasan Kelvin untuk menginap di rumah malam ini.


Namun rencananya untuk segera istirahat sepertinya akan gagal, melihat mobil papanya sudah terparkir di halaman rumah.


Namun kepalang tanggung, akhirnya Kelvinpun membulatkan tekadnya untuk bermalam di rumahnya.


Ia turun dari mobil lalu segera masuk ke dalam rumah. Dan benar saja, pemandangan pertama yang Kelvin lihat adalah papanya yang sedang bercengkerama di ruang tamu dengan Claras-ibu tirinya.


"eh Kelvin, udah pulang sayang?" tanya mama tirinya yang kini sudah berjalan menghampirinya.


"nggak usah basa basi." ucap Kelvin dingin tanpa berniat menjawab pertanyaan perempuan tersebut.


Sedangkan sang papa masih diam tak bergeming di sofa. Ia hanya menatap adegan di depannya tersebut dengan jengah.


"tadi mama masak makanan kesukaan Kelvin loh kita makan bersama yuk." ucap Claras lagi


"saya nggak lapar, dan berhenti menyebut diri anda dengan sebutan mama." Ucap Kelvin dengan nada lumayan tinggi yang membuat papanya ikut berdiri.


"yang sopan Kelvin!" Bentak Firman-papa Kelvin


Sedangkan Kelvin sama sekali tak peduli dan malah berjalan menuju kamarnya.


Ia tidak suka berdebat, dan sangat malas untuk berdebat. Baginya tidur lebih bermanfaat daripada harus berdebat.


Sesampainya di kamar, Kelvin langsung menutup pintu kamarnya dengan keras.


Ia segera merebahkan dirinya di kasur king sizenya. Menatap langit-langit kamarnya, lalu mengacak rambutnya gusar. Beberapa menit kemudian. Matanya sudah terpejam dengan hembusan nafas yang teratur. Menandakan bahwa dirinya sudah pergi menjelajahi alam mimpi.


Sedangkan Firman hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Kelvin.


"mau sampai kapan dia seperti itu? Apa dia sama sekali tak bisa melihatmu?" tanya Firman pada istrinya


"sudahlah mas, dia hanya butuh waktu." Ucap Claras menenangkan suaminya.


"tapi sampai kapan Ras? Ini sudah lebih dari 10 tahun. Tapi sikapnya masih saja seperti itu." ucap Firman frustasi


"bersabarlah mas." ucap Claras


"tapi mengapa Ras? Padahal kanu memperlakukannya dengan baik layaknya anak kandungmu sendiri. Tapi kenapa dia tetap keras kepala untuk menolak kehadiranmu?" Ucap Firman lagi dengan suara yang lebih parau.


"sudahlah jangan dipikirkan. Ayo kita istirahat ke kamar." Ajak Claras lalu membawa suaminya ke dalam kamar.


Bagi Claras, Kelvin bukanlah masalah besar untuknya. Lagi pula ia juga sudah hafal dengan seluruh kelakuan Kelvin. Jadi bukan hal baru baginya untuk menghadapi Kelvin.


Ia memang sudah lebih dari 10 tahun merawat Kelvin, dari saat Kelvin masih berusia sekitar 6 tahun. Claras berusaha menjadi ibu yang baik untuk Kelvin, namun usahanya sia-sia. Tak membuahkan hasil sama sekali sampai saat ini.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung . . .