
Author Pov
Saat ini Aqila sudah berada di dalam kamarnya. Bersyukurnya Aqila karena saat pulang tadi rumahnya masih terlihat sepi, sehingga ia tidak perlu sibuk menjawab pertanyaan mamanya yang pasti hanya akan menyudutkan dirinya.
Sepertinya baru Greenindia yang pulang, sedangkan mama dan papanya mungkin masih sibuk dengan urusan kantornya.
Aqila duduk di tepi ranjangnya, pikirannya kembali melayang mengingat perlakuan bunda Gavrin padanya tadi siang. Tidak hanya perlakuan sang bunda, tapi juga perlakuan anaknya yang membuat jantung Aqila berdetak cepat. Aqila juga ingat betul bagaimana Bunda Resta tadi bercerita tentang Gavrin saat berada di London.
.
Flasback on
"kamu pasti temen pertamanya Gavrin ya?" tanya bunda sembari melepaskan pelukannya pada Aqila.
"nggak tau juga sih bunda." jawab Aqila
"loh, emang kalian enggak sekelas?" tanya bunda lagi
"enggak bunda, Kak Gavrinkan kelas 11, kalo Aqila baru kelas 10." Jawab Aqila
"wah, hebat banget kamu, udah adik kelas, langsung dibawa pulang lagi sama Gavrin." Ucap sang bunda yang membuat pipi Aqila kembali memerah.
"iiih bunda jangan gituu." rengek Aqila
"hahaha, iya iya sayang, bunda bercanda." ucap bunda yang membuat Aqila kembali tersenyum.
Lagi-lagi bunda Gavrin berhasil membuat hati Aqila menghangat dengan panggilan 'sayang' yang sudah dua kali dilontarkan pada Aqila.
"eh kamu mau tahu gak soal Gavrin?" tanya bunda tiba-tiba.
"mau bunda, ceritain dong!" Jawab Aqila dengan antusias, entah mengapa saat ini Gavrin seakan menjadi topik hangat yang ingin selalu didengar oleh Aqila.
"awalnya dulu Gavrin itu gak mau diajak pindah ke London, tapi setelah bunda bujuk-bujuk sama ayahnya akhirnya dia mau, asalkan saat besar nanti dia boleh kembali ke Indonesia." Ucap sang bunda sedangkan Aqila masih fokus mencerna setiap kata yang bunda ucapkan. Hingga sang bunda kembali membuka suaranya.
"Gavrin tuh dulu susah banget beradaptasi di London, dia sedikit pemalu. Bahkan sampai sekarang dia gak punya satupun teman dekat." Cerita sang bunda sambil terus menatap Aqila.
"loh, berati Gavrin nggak dari kecil tinggal di London ya bunda?" tanya Aqila
"enggak sayang, Gavrin pindah ke sana saat usianya sudah sekitar 8 tahun." jawab sang bunda
"emangnya apa alasan Gavrin gak mau pindah tante?" tanya Aqila
"katanya sih dia gak mau ninggalin temennya di Indonesia." jawab bunda
"berati Gavrin punya temen di Indonesia dong bunda?" tanya Aqila
"punya sayang, tapi waktu kita balik ke sini, katanya temennya udah pindah. Gavrin sempet marah juga sama bunda sama ayahnya karena berfikir kita udah misahin mereka. Tapi akhirnya kita baikan lagi dan berjanji akan membantu Gavrin menemukan teman kecilnya." Jelas bunda
"wah, pasti orang itu spesial banget ya bunda di mata Gavrin." ucap Aqila
"sepertinya begitu, karena bahkan Gavrin sempat tidak makan dua hari saat mengetahui fakta kalau teman kecil yang dicarinya sudah pindah." Ucap bunda
"bunda jadi merasa bersalah sama Gavrin, karena bunda sendiri gak tahu di mana keberadaan teman Gavrin sekarang." lanjut bunda denyan nada lesu.
"em, bunda gak boleh gitu. Bunda berdoa aja semoga takdir kembali mempertemukan Gavrin dengan teman masa kecilnya, emang kalo bunda tahu trmennya itu cewek apa cowok?" tanya Aqila
"katanya sih cewek Aqila." Jawab Bunda
"sebenarnya Gavrin itu---"
"bundaaa." Ucap Gavrin yang membuat ucapan sang bunda terpotong.
Ternyata Gavrin sudah turun dari kamarnya dengab menggunakan baju santai dan celana selutut.
Sedangkan Aqila masih tak bergemint menatap penampilan Gavrin yang bahkan bisa dibilang jauh lebih tampan daripada saat Gavrin memakai seragam sekolahnya.
"gue emang ganteng kalik, gak usah diliatin sampe gitu juga." Ucap Gavrin sambil terkekeh.
Sedangkan Aqilapun malunya bukan main saat dirinya tertangkap basah sedang menatap Gavrin.
Gavrinpun langsung duduk di samping kanan bundanya. Kini bunda Resta berada di tengah-tengah antara Gavrin dan Aqila.
"bunda serasa punya dua anak sekarang. Yang satu ganteng, yang satu cantik banget." ucap sang bunda
"loh, emangnya Gavrin anak tunggal ya bun?" tanya Aqila
"iya sayang, bunda cuma punya Gavrin. Jadi kamu jangan sungkan-sungkan kalo mau main ke sini." Ucap bunda sambil mengelus kepala Aqila dengan sayang.
"Aqila boleh ya anggep bunda kayak bundanya Aqila sendiri?" Tanya Aqila kemudian ia menyenderkan kepalanya di pundak sang bunda.
"boleh dong sayang, bunda seneng banget malahan." Jawab sang bunda yang langsung merengkuh tubuh mungil Aqila ke dalam pelukannnya.
"aku mah apa atuh," Ucap Gavrin tiba-tiba yang membuat Aqila dan bunda melepaskan pelukannya lalu segera beralih menatap Gavrin, sedetik kemudian mereka tertawa melihat ekspreai Gavrin yang merajuk.
"uhh anak bundaaa marah ya." ucap bunda menggoda Gavrin sambil menggelitiki pinggang Gavrin.
"eh bunda apaan sih aduh geli bunda hahaha udah bunda Gavrin gak kuat hahaha bundaa gelii haha." teriak Gavrin yang spontan membuat Aqila kembali tertawa .
Bundapun segera menghentikan aksinya menggelitiki Gavrin. Sedangkan Gavrin langsung memalingkan wajahnya dari sang bunda.
"tuh Qil, urusin dulu bayi besar bunda yang lagi marah. Bunda mau ke dapur dulu." ucap bunda yang langsung pergi meninggalkan mereka.
"kak" Ucap Aqila pada Gavrin.
"apa?" tanya Gavrin cuek
"kakak tuh gak pantes kalo marah-marah, kalo gini baru deh cakep." Ucap Aqila yang entah dorongan darimana langsung menyentuh pipi Gavrin kemudian menariknya ke kanan dan ke kiri sehingga membuat Gavrin tersenyum.
Saat Aqila hendak melepaskan tangannya dari pipi Gavrin, Gavrin malah menahan tangan Aqila kemudian menggenggamnya erat.
"ehem."
Akhirnya deheman sang bunda membuat mereka tersadar dan langsung mengakhiri kegiatan saling pandang tersebut.
"baru juga ditinggal bikin minum, eh udah pada mesra aja." sindir bunda
Sedangkan Gavrin hanya diam sambil menampilkan deretan gigi rapinya pada sang bunda. Aqila? Jangan ditanya, sudah jelas gadis itu malu karena wajahnya yang sudah mirip kepiting rebus saat ini.
"nih bunda bikinin minum, dihabisin ya." ucap bunda pada mereka
"bunda mau ke butik dulu, soalnya ada urusan penting. Aqila gak papakan bunda tinggal?" tanya bunda
"em gak papa kok bunda." sebenarnya Aqila ragu, namun ia langsung menjawab karena tidak ingin merepotkan bunda Gavrin.
"ya udah bunda tinggal dulu ya. Nanti kalo Gavrin nakal bilang sama bunda ya Qil." Pesan bunda
"siap bunda." ucap Aqila penuh semangat
Selepas kepergian bunda, Aqila dan Gavrin terlibat obrolan kecil yang tentunya tidak lepas dari senyum keduanya.
Setelah dirasa cukup sore, Gavrinpun mengantarkan Aqila pulang menggunakan motornya. Karena ternyata mobil Aqila sudah diantar ke rumahnya oleh sopir Gavrin.
"yuk naik." Ucap Gavrin setelah dirinya mengambil motor ke garasi, ia juga menyerahkan sebuah helm berwarna pink kepada Aqila.
"mobilku kak?" tanya Aqila saat menyadari mobilnya sudah tak ada lagi di tempatnya semula.
"udah dianter kok sama sopir gue, cepet naik." jawab Gavrin
Aqilapun segera memakai helmnya, namun ia kesusahan saat mengaitkan tali pengikatnya.
Gavrin yang melihat Aqila kesusahanpun segera membantu Aqila mengaitkan tali helmnya.
DEG
Lagi-lagi Aqila harus merasakan jantungnya berdetak cepat kala tangan Gavrin dengan lincah mengaitkan tali helmnya. Gavrin memang selalu bisa melakukan hal-hal tak terduga.
Gavrin tersenyum saat dirinya sudah mengaitkan tali helm Aqila.
"udah, yuk naik." Ucap Gavrin lengkap dengan senyum manisnya.
Aqilapun hanya mengangguk lalu menaiki motor Gavrin. Gavrin melajukan motornya pelan, seakan ingin lebih lama menikmati momen ini bersama Aqila. Saat di persimpangan, tiba-tiba ada kucing menyeberang jalan yang membuat Gavrin mengerem motornya mendadak. Aqila yang tidak berpegangan pada apapun sontak tubuhnya terdorong ke depan menabrak punggung Gavrin.
Kali ini jantung mereka berdua sama-sama berdetak dengan cepat. Baik Gavrin maupun Aqila, keduanya sama-sama merasakan gejolak dalam dada. Aqila mukanya sudah memerah karena malu, sedangkan Gavrin justru tersenyum kecil saat melihat wajah Aqila lewat kaca spionnya.
"sory, tadi ada kucing La." Ucap Gavrin
"i-iya kak gak papa." jawab Aqila
"makanya lain kali pegangan, biar gak jatuh lagi." Ucap Gavrin yang dihadiahi pukulan kecil di punggungnya oleh Aqila.
"iiih, kak Gavren apaan sih." timpal Aqila.
Tak selang lama mereka sudah sampai di depan rumah Aqila. Aqilapun segera turun dari motor Gavrin dan melepas helmnya lalu menyerahkannya kembali pada Gavrin.
"kakak gak mampir dulu?" tanya Aqila
"gak usah, kapan-kapan aja. Gue balik ya." Ucap Gavrin sambil mengacak rambut Aqila.
Sontak Aqila membelalakkan matanya melihat perlakuan Gavrin.
"gue selalu sayang sama lo, Lala." ucap Gavrin dalam hati.
Gavrinpun segera menarik kembali tangannya dari kepala Aqila lalu bergegas meninggalkan rumah tersebut.
Tidak lupa ia menampilkan senyum manisnya sebelum ia kembali memacu motornya untuk pulang ke rumah.
Flashback ***off
***.
Aqila senyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian tadi sore. Di satu titik ia merasa bahagia bersama Gavrin, namun di titik lain ia juga merasa bersalah pada Kelvin.
Biar bagaimanapun seharusnya Aqila tidak terlalu dekat dengan cowok lain mengingat kini statusnya masih pacar Kelvin. Ingat! Pacar Kelvin.
Aqilapun kemudian merebahkan badannya di kasur. Menatap langit-langit kamarnya. Membiarkan pikirannya berkelana ke mana saja. Kadang terlintas bayanga tentang Kelvin, kadang terlintas juga bayangan tentang Gavrin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next? Like and comment okay👌💕