
Author pov
Pukul 06.00 Aqila sudah siap dengan segala keperluan sekolahnya. Mengingat hari ini hari terakhir MOS, jadi Aqila memutuskan untuk berangkat lebih pagi. Bukan hanya itu, sepertinya Aqila juga takut jika harus terkena hukuman lagi. Aqila sudah memantapkan hati dan pikirannya, ia juga sudah mempersiapkan diri atas hukuman yang akan ia terima. Lari keliling lapangan, membersihkan WC, atau membersihkan halaman sekolah. Entahlah, Aqila hanya berharap bahwa ia sanggup menerima apapun hukumannya.
Setelah dirasa seluruhnya sudah siap, Aqilapun bergegas untuk segera berangkat. Pagi ini ia melihat orang tua dan adik perempuannya sedang sarapan di meja makan. Aqilapun berniat menghampiri mereka, eitzz bukan untuk ikut sarapan ya tapi cuma untuk pamitan.
"Pah Mah, Qila berangkat dulu ya." ucapnya sambil menyalami tangan kedua orang tuanya
"hati-hati." ucap sang papa yang berhasil mencetak lengkungan manis di bibir Aqila
"iya Pah, assalamu'alaikum." pamit Aqila sembari melangkah keluar dari rumahnya.
Seaampainya di depan rumah, Aqila melihat Pak Joni-sopirnya sudah duduk di kursi kemudi mobilnya.
"loh, bapak mau anterin saya?" tanya Aqila kebingungan, karena Aqila merasa tidak menghubungi pak Joni untuk mengantarkannya.
"iya non, mulai hari ini Non Qila saya antar jemput." jawab Pak Joni
"loh, kok gitu pak?" tanya Aqila lagi
"iya non, ini perintah tuan. Non hanya boleh pergi sendiri beberapa kali." jelas Pak Joni, sedangkan Aqila hanya bisa menghembuskan nafas dan pasrah atas peraturan papanya.
Aqilapun segera masuk ke dalam mobilnya. Selama perjalanan Aqila hanya mengotak-atik HPnya agar tidak terlalu bosan.
"sudah sampai non." ucap Pak Joni menyadarkan Aqila
"oh iya pak makasih. Nanti kalo udah pulang saya hubungi bapak."
"baik non, saya permisi dulu." ucap pak Joni kemudian berlalu dari hadapan Aqila.
Aqila pov
Aku berjalan sendiri menuju ke halaman sekolah. Lalu sesampainya di sana aku melihat Syila dan Sindi sudah duduk di tepi halaman.
"haayy." sapaku pada mereka
"eh, nggak telat lagi nih?" ucap Syila mengejekku
"hukuman yang kemarin aja belom kelar, gimana mau telat lagi." ucapku dengan nada tak bersemangat
"tenang aja kalik, paling juga cuma lari keliling lapangan." ucap Sindi dengan menekankan kata 'cuma'nya.
"hemm. Merapat yuk, udah pada kumpul tuh." ucapku kemudian berjalan menuju ke tengah halaman bersama kedua temanku.
Seperti biasa, sesampainya di sana kami segera menyesuaikan barisan. Tak selang lama acarapun dimulai. Hari ini hanya pelaksanaan penutupan MOS yang dilanjutkan dengan pembagian kelas masing-masing siswa.
Saat ini seluruh pengurus osispun sudah berkumpul di tengah halaman. Mereka menggunakan seragam khas senada yang membuat mereka terlihat kompak dan semakin gagah berwibawa.
Tiba-tiba salah seorang panitia sudah membuka suaranya, dan ternyata itu Kelvin. Entah mengapa jantungku berdetak cepat mengingat hukuman yang akan diberikannya padaku. Aku ***-remas ujung jariku pertanda aku benar-benar takut. Apalagi jika nanti sampai ada surat pemanggilan orang tua tentu itu adalah malapetaka bagiku. Ya, mungkin pikiranku terlalu jauh. Tapi percayalah aku belum pernah merasakan dihukum karena melanggar peraturan
Dan ini bisa dikatakan pertama kalinya aku dihukum. Wajar saja jika jantungku berdetak tak karuan melebihi detak jantung orang-orang yang sedang jatuh cinta.
"Cek 1, 2. Tes Tes." suara di depan sana membuyarkanku dari lamunan. Aku segera menatap ke sumber suara yang ternyata orangnya masih sama, Kelvin.
"sebelumnya selamat pagi semuanya. Di sini gue selaku ketua osis akan membubarkan pelaksanaan MOS tahun ini di SMA Xailucry. Gue mewakili temen-temen mau minta maaf kalo kita pernah buat salah sama kalian. Dan setelah pembubaran ini, gue harap kalian gak pulang dulu karena akan ada pengumuman pribadi dari gue sendiri." ucap Kelvin menjeda kalimatnya sebentar, lalu kembali melanjutkannya
"untuk saudara Aqila Anggara dimohon maju ke depan." ucap Kelvin yang membuatku mau tidak mau harus maju ke depan. Aku tercekat cukup lama, bagaimana bisa Kelvin mengetahui nama panjangku, sedangkan jika memperkenalkan diri saja aku hanya menyebutkan nama depanku.
Banyak pasang mata yang melihatku dengan penuh tanda tanya. Namun aku tak menggubrisnya dan tetap maju ke depan untuk menemui Kelvin.
"ada apa kak?" tanyaku pada Kelvin, sedangkan Kelvin hanya menjawab dengan bisikan di telingaku
"hukumanmu." ucapnya penuh arti
"di sini gue Kenandra Kelvin Aditama akan menembak salah satu siswa baru di SMA Xailucry. Aqila Anggara, will you be my girlfriend?" Ucap Kelvin.
Sedangkan aku hanya menatap tak percaya ke arah Kelvin yang kini berlutut di hadapanku. Sesaat kemudian Kelvin segera bangkit dan membisikkan sesuatu di telingaku
"terima, karna aku gak nerima penolakan." ucapnya dingin dan tajam.
Akupun hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Rasanya ini bukan saat yang tepat untuk menolak, apalagi mengingat Kelvin adalah most wanted sekaligus ketua osis di sini, jadi tidak mungkin aku mempermalukanya di sini. Riuh suara siswa-siswi bertepuk tangan. Banyak juga dari mereka yang menatap tak suka ke arahku. Apalagi saat mereka mengatakan bahwa aku tidak pantas bersanding dengan seorang Kelvin. Memang apa salahku? Bukankah ini kemauan Kelvin? Apalagi mendengar bisikannya tadi membuatku mau tidak mau harus menerimanya sebagai kekasihku?
apa, kekasih? bukankah ini hanya sebatas hukumannya padaku yang terlambat.
Author pov
Sedangkan di sisi lain, Sindi dan Syila menatap tak percaya ke arah teman barunya yang kini menyandang status baru sebagai kekasih sang most wanted di SMA Xailucry.
"gue bener-bener gak nyangka kak Kelvin nembak Aqila." ucap Sindi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
"gue juga sama." ucap Syila menyetujui
"ternyata pesona Aqila bisa membuat hati kak Kelvin luluh juga." ucap Sindi
"iya juga ya, ini bener-bener luar biasa." tambah Syila
"pokoknya setelah ini, kita harus minta pajak jadian sama Aqila." ucap Sindi tiba-tiba
"wah gue setuju banget kalo soal itu." ucap Syila cengengesan
Dan tak jauh dari keberadaan Sindi dan Syila, tepatnya di sisi lapangan yang juga tak jauh dari keberadaan Kelvin dan Aqila, ada tiga manusia yang dari tadi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka adalah Sean, Radit, dan Raka. Mereka berdiri di pinggir lapangan bahkan sebelum Kelvin menembak Aqila.
"itu beneran Kelvin?" tanya Radit tak percaya dengan apa yang dilihatnya
"dia nggak lagi sakit kan?" timpal Sean yang malah balik bertanya
"apa ini termasuk dari rencana Kelvin?" tanya Raka yang membuat kedua sahabatnya menatap ke arahnya dengan tatapan penuh arti.
"jadi maksud lo ini salah satu dari misi Kelvin buat bales dendam?" tanya Radit dengan serius
"gua fikir gitu, karena rasanya gak mungkin Kelvin nembak cewek tiba-tiba." jawab Raka dengan mantap
"yah, kasihan dong. Itu lumayan cakep loh ceweknya, imut-imut gitu." ucap Sean dengan jujurnya
"udah kita gak usah ikut campur, kita biarin aja selagi Kelvin gak melampaui batas wajar." ucap Raka
"iya Rak, gue setuju. Ternyata otak lo bisa normal juga ya." ucap Radit cengengesan
"penting nanti kita minta pajak jadian, kan biar gimanapun Kelvin tetep punya cewei sekarang." ucap Sean dengan penuh semangat
"hahaha, otakmu kadang juga pinter banget An." timpal Radit pada Sean
Sedangkan Aqila masih menatap Kelvin dengan penuh tanda tanya. Pasalnya manusia itu tetap diam dan tak bergeming dari tempatnya. Padahal sudah lebih dari 10 menit mereka berdiri tanpa bicara. Kelvin melirik Aqila dengan senyum penuh kemenangannya. Kemudian dia kembali bicara.
"oke guys, cuma itu pengumuman dari gue. Dan sekarang gue sama Aqila resmi pacaran." ucap Kelvin dengan mantap, sedangkan Aqila hanya bisa memelototkan matanya mendengar penuturan Kelvin.
Di luar sana terdengar teriakan para siswa perempuan yang benar-benar memenuhi telinga Aqila. Sebenarnya apa kelebihan pria yang sekarang berada di hadapannya itu, sehingga membuat kaum hawa sangat mengaguminya.
"ya ampun sosweet banget sih."
"gue juga mau kalil diromantisin."
"gur juga mau dipacarin."
"aduh cocok ya, udah ganteng trus ceweknya cantik juga lagi."
"kok mau sih Kelvin sama anak kecil itu?"
"siapa sih tu cewek kecentilan banget."
"pasti yang cewek bar bar ya."
Begitulah kurang lebih teriakan yang dilontarkan para siswa.
Sedangkan Kelvin kini menarik tangan Aqila dan membawanya keluar dari kerumunan di dalam lapangan.
Kelvin membawa Aqila menuju taman belakang sekolah.
"duduk." perintahnya pada Aqila
"iya kak." Aqilapun duduk di salah satu kursi taman tanpa mau membantah Kelvin. Dan seperti biasa, Kelvin tak juga angkat bicara meski mereka telah duduk beberapa menit.
"em kak, boleh aku nanya?" ucap Aqila pelan
"apa?" jawab Kelvin dingin
"kenapa kakak nembak aku?" tanya Aqila
"hukuman lo." jawab Kelvin
"tapikan bisa hukuman yang lain kak." ucap Aqila mencoba mencari tahu alasan lain Kelvin menembaknya
"gue pengennya itu." lagi-lagi jawab Kelvin dengan dingin
"lagian lo seneng kan, bisa pacaran sawa seorang most wanted kayak gue?" tambah Kelvin dengan menyunggingkan senyum miringnya
"tapi aku sama sekali nggak berharap sama kakak." ucap Aqila membela diri
"alah udah deh gak usah munafik. Dan gue cuma mau peringatin lo, jangan terlalu serius sama hubungan ini. Dan jangan sampai jatuh cinta sama gue kalo lo gak mau sakit hati." ucap Kelvin kemudian berlalu meninggalkan Aqila seorang diri.
Hati Aqila mencelos mendengar penuturan Kelvin. Ini baru awap dari hubungan baru mereka, tapi Kelvin sudah sangat menyakiti hatinya. Kata-katanya benae-benar tajam dan dingin. Apalagi saat dia bicara tanpa ekspresi, maka aura dinginnya akan terlihat lebih menakutkan. Sebenarnya apa mau cowok itu? Kenapa dia memacari Aqila jika dia sendiri tak mencintainya? Dan kenapa harus Aqila diantara ratusan fansnya? Itulah pertanyaan yang muncul di benak Aqila. Namun terkubur kembali saat Aqila sadar ia tak akan pernah menemukan jawabannya.
Aqilapun memilih pergi dari taman dan kembali ke lapangan. Ia segera menghampiri kedua temannya, Sindi dan Syila.
"cie yang sekaeang udah punya pacar." ucap Sindi pada Aqila
"cie-cie pacarnya most wanted nih ye." tambah Syila
"udah deh gak usah ngledek." ucap Aqila dengan memanyunkan bibirnya
"tapi seneng kan?" goda Sindi
Sedangkan Aqila hanya bisa menghembuskan nafasnya. "Seneng apanya? yang ada gue malah bakal makan ati terus," ucap Aqila dalam hati
"ya udah yuk ke kantin, sekalian minta pajak jadian." ucap Syila yang menvuat Aqila terkejut
"apa, pajak jadian? gak salah?" tanya Aqila dengan polosnya
"ya enggak lah, sekarangkan lo udah jadi pacarnya kak Kelvin, jadi lo harus ngasih kita pj." jelas Sindi panjang lebar
"harus ya?" tanya Aqila lagi
"udah deh gak usah banyak nanya. Kuylah." ucap Syila yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju kantin meninggalkan Sindi dan Aqila yang hanya bisa geleng-geleng kepala, kemudian ikut berjalan menyamai langkah Syila. Karena Aqila juga tidak bisa memungkiri bahwa kini dirinya merasa sangat lapar. Sepertinya seluruh energinya sudah habis setelah menghadapi manusia seperti Kelvin.
.
.
.
Happy reading radersđź’• Semoga ceritanya menarik dan gak ngebosenin buat dibaca. Terus ikuti kisah Aqila, dan jangan lupa tinggalkan jejak:))