
Author Pov
Sudah lebih dari 2 jam Aqila dan Gavrin menjalani hukumannya. Mereka sudah mandi keringat karena sepertinya panas matahari benar-benar menyengat pagi ini.
Sesekali mereka saling pandang, tanpa berucap, namun cukup memberi semangat lewat senyum yang mereka lontarkan.
Namun seirint berjalannya waktu, wajah Aqila yang tadinya terluhat segar kini semakin pucat, bibir yang tadinya merah ranum, kinipun mulai memutih bersamaan dengan keringatnya yang menetes.
"La lo keliatan pucet banget La." Ucap Gavrin saat menatap wajah Aqila.
"aku gak papa kok kak." Ucap Aqila yang sepertinya paham akan raut kekhawatiran Gavrin.
"tapi La, lo pucet banget. Kalo lo gak kuat mendingan gue anter ke UKS aja." Ucap Gavrin mencoba membujuk Aqila.
"gue kuat kok kak." Ucap Aqila lagi
Aqila memaksakan senyumnya, kemudian dalam hati ia menguatkan dirinya sendiri.
"gue kuat kok, gue kuat." Ucap Aqila dalam hatinya.
Namun sepertinya kedua kakinya sudah melemas sehingga tak lagi kuat menahan beban tubuh Aqila.
"tapi La---"
BRUAAK
Ucapan Gavrin terpotong saat tiba-tiba tubuh Aqila sudah terjatuh ke tanah. Gavrin yang merasa terkejutpun langsung ikut jongkok di depan Aqila.
"La bangun La!"
"La, lo gak papakan?"
"Lala bangunn!"
Teriak Gavrin dengan keras, namun tak membuat Aqila terbangun dari pingsannya.
Gavrinpun memilih untuk menggendong Aqila menuju UKS. Untung saja kemarin Kelvin sudah memberitahu Gavrin sebagian ruang di sekolahnya. Jadi Gavrin sudah tahu di mana UKS berada.
Sesampainya di UKS, Gavrin segera menidurkan tubuh Aqila di ranjang UKS. Kemudian Aqila langsung ditangani oleh dokter yang berjaga di sana.
"dia kenapa?" Tanya dokter tersebut pada Gavrin.
"tadi dia pingsan saat menjalani hukuman di lapangan." Ucap Gavrin, masih dengan wajah cemasnya.
"ya sudah, saya coba cek keadaannya dulu ya." Ucap sang dokter kemudian menutup kain gorden hingga membuat Aqila tak lagi terlihat oleh Gavrin.
Gavrin hanya bisa menunggu sambil duduk di kursi UKS. Pikirannya benar-benar tidak tenang saat ini. Ia begitu takut jika Aqila kenapa-napa.
Tak selang lama dokterpun sudah keluar dan menghampiri Gavrin yang masih terduduk di tempatnya.
"dia gak papa cuma dehidrasi aja. Mungkin tadi dia juga belum sarapan, jadi perutnya kosong. Nanti kalo udah sadar jangan lupa kasih air putih yang banyak, setelah itu baru makan nasi." Jelas sang dokter panjang lebar yang langsung diangguki oleh Gavrin.
Setelah kepergian sang dokter, Gavrinpun segera menuju ke ranjang Aqila, berniat menemani Aqila hingga sadar.
Gavrin duduk di kursi yang sudah disiapkan di samping ranjang. Ia memandang Aqila tanpa sedikitpun jeda.
Tangan Gavrin juga tak tinggal diam, ia menelusuri setiap inci wajah Aqila sambil sesekali menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Aqila.
"gue kangen banget sama lo La, tapi kenapa lo gak inget sama gue?" Ucap Gavrin lirih, bahkan jika Aqila sadarpun ia tetap tidak bisa mendengar perkataan Gavrin.
Tangan Gavrin masih bergerak lincah di wajah Aqila. Mengelus pipi gadis itu dengan begitu lembut, seakan tersiratkan makna yang sudah lama ia pendam.
.
Sudah setengah jam Aqila pingsan. Gavrin merasa semakin cemas dibuatnya, hingga akhirnya jari-jari tangan Aqila bergerak. Membuat senyum Gavrin begitu saja terlukis.
"La, lo udah sadar?" Tanya Gavrin saat perlahan kelopak mata Aqila mulai terbuka.
Aqila yang belum kuat bicarapun hanya bisa mencoba tersenyum pada Gavrin.
"jangan dipaksain kalo belum kuat, lo udah sadar aja gue seneng banget." Ucap Gavrin yang secara tidak langsung berhasil membuat lengkungan di bibir Aqila.
"gue beliin lo minum dulu ya, lo tunggu sini." Ucap Gavrin yang hanya dibalas anggukan oleh Aqila.
Gavrinpun bergegas menuju kantin untuk membelikan Aqila air mineral serta nasi untuk sarapan.
Setelah dari kantin dan berniat untuk kembali ke UKS, Gavrin bertemu dengan kedua sahabat Aqila, Sindi dan Syila. Mereka membawa banyak buku dari peprustakaan, yang sepertinya akan dibawa ke kelas.
"Syila Sindi." Ucap Gavrin pada mereka.
"ada apa kak?" Tanya Syila heran melihat keberadaan Gavrin.
"APAAA." Pekik Sindi dan Syila yang sama-sama terkejut.
"ya udah kita ke kelas dulu kak. Nanti balik lagi." Ucap Sindi yang langsung berlalu dari hadapan Gavrin bersama Syila.
Gavrinpun melanjutkan langkahnya menuju UKS. Sesampainya di sana ia segera membantu Aqila untuk bangun, dan memberikan air mineral itu pada Aqila.
"hati-hati minumnya." Ucap Gavrin yang lagi-lagi hanya diangguki oleh Aqila.
"makan dulu ya, aku udah beliin kamu soto. Adanya cuma ini tadi." Ucap Gavrin sambil menyendok soto tersebut.
Percaya atau tidak, kini Gavrin terlah merubah gaya bicaranya pada Aqila, yang semula lo gue jadi aku kamu.
Entahlah, mungkin Gavrin lebih nyaman dengan panggilan itu.
"Aqila gak laper kak." Ucap Aqila sambil menutup mulutnya saat suapan Gavrin sudah sampai di depan mulutnya.
"ayo dong habisin, tadi kata dokter kamu belum sarapan. Gimana sih, udah buatin sarapan buat orang lain tapi dirinya sendiri gak sarapan." Ceroso Gavrin pada Aqila.
"tapi Aqila udah kenyang kak." Jawab Aqila karena perutnya terasa sudah terisi penuh.
"ayolah sedikit aja." Bujuk Gavrin hingga akhirnya Aqila mau membuka mulutnya.
"nah gitu dong, biar cepet sembuh." Ucap Gavrin kemudian kembali menyuapi Aqila, hingga semangkuk soto tersebut habis.
"enak kan?" Tanya Gavrin sambil tersenyum menggoda pada Aqila.
"iiih kak Gavrin." Rengek Aqila yang malah membuat Gavrin tertawa.
"tadi katanya gak laper, tapi pas disupain langsung ludes." Ucap Gavrin lagi yang membuat Aqila mengerucutkan bibirnya.
"hahaha, kamu lucu kalo lagi gitu." Goda Gavrin namun sama sekali tak ditanggapi Aqila.
"udah, kamu tidur lagi aja, aku tunggu di sini kok." Ucap Gavrin
Aqilapun hanya menurut, dan kembali merebahkan dirinya ke kasur. Namun sudah beberapa menit, Aqila tidak kunjung bisa tidur.
Saat ini mereka hanya diselimuti rasa diam. Aqila masih sibuk memandang langit-langit UKS, sedangkan Gavrin tidak lepas dari memandang wajah Aqila.
"kenapa gak tidur?" Tanya Gavrin
"gak bisa kak." Jawab Aqila
"emang nggak ngantuk?" Tanya Gavrin lagi
"enggak." Jawab Aqila cuek lalu kembali sibuk memandang langit-langit UKS.
Aqila yang mulai bosan tertidurpun kini berusaha untuk duduk di atas ranjangnya. Namun baru setengah terduduk, ia sudah hampir jatuh terbaring lagi ke ranjang.
Gavrin yang melihat itupun sontak menahan tubuh Aqila dan membantunya bangun hingga membuat Aqila kini terduduk dengan sempurna.
Kini pandangan Gavrin dan Aqila terkunci, dengan tangan kiri Gavrin yang masih berada di pundak kiri Aqila.
Sedetik
Dua detik
Tiga detik
Dan---
"Kak Kelvin."
.
.
.
.
.
.
Happy reading readers💕 smg kalian gak bosen sama kisah Aqila🤗
Owh ya, semakin banyak like and comment dari kalian, semakin banyak author upnya😇
thankyuu😚