AQILA

AQILA
13. Sick



Author Pov


"Non, bibi masuk ya." Ucap Bi Inah menyadarkan Aqila dari lamunannya.


"iya bi, silahkan." jawab Aqila


"ini Bibi bawain bubur, Non Qila makan dulu ya." Ucap Bi Inah sambil menaruh nampan di nakas meja Aqila


"tapi Qila gak laper bi."


"dikit aja non, biar Non Qila cepet sembuh." bujuk Bi Inah


"iya deh bi, nanti Aqila makan." Ucap Aqila meyakinkan


"kalo begitu bibi keluar dulu ya non, kalo ada apa-apa langsung panggil bibi aja." ucap Bi Inah


"iya bi."


Bi inahpun keluar dari kamar Aqila, menyisakan Aqila yang duduk termenung seorang diri di pinggir ranjangnya.


Waktu menunjukkan pukul 20.00, di mana orang tua Aqila dan adiknya pasti sedang makan malam bersama. Jujur, Aqila sangat ingin makan malam bersama mereka. Atau mereka sekedar menanyakan kabar Aqila, itu sudah lebih dari cukup.


Tadi saat pulang memang hanya Bi Inah yang ada di rumah. Sehingga bisa dipastikan bahwa hanya Bi Inahlah yang tahu jika Aqila sakit.


Tapi apakah kedua orang tuanya sama sekali tidak ingin tahu keadaan Aqila? Apa mereka benar-benar tidak peduli akan hidup dan mati Aqila.


Aqila hanya bisa duduk termenung sendirian, sesekali matanya melihat langit-langit kamarnya. Hingga butiran bening lolos begitu saja daei kelopak matanya. Aqilapun segera menghapusnya dengan kasar.


Sudah cukup ia menangis, sudah cukup ia bersedih. Biarkan malam ini ia tertidur dengan pulas dan bermimpi bagaimana rasanya terbang bersama bintang-bintang.


Namun saat baru saja hendak memejamkan mata,Aqila tiba-tiba meringis merasakan denyutan di kepalanya. Rupanya rasa sakit akibat jambakan kakak kelasnya kemarin belum juga reda. Iapun mengambil obat pereda rasa nyeri di dalam nakasnya. Aqila segera meminumnya dan berharap rasa sakitnya akan hilang besok pagi.


*


Pukul 06.00 Aqila baru membuka matanya. Kepalanya yang masih terasa berat membuat Aqila mau tidak mau harus istirahat di rumah. Iapun membuat surat izin agar diantarkan oleh supirnya ke sekolahan.


"non, non Qila." Sapa Bi Inah yang sudah ada di depan pintu kamar Aqila


"iya bi. Masuk aja." jawab Aqila


"non nggak masuk sekolah ya?" tanya Bi Inah


"nggak bi. Kepala Qila masih sakit." jawab Aqila


"apa perlu ke dokter non?" tanya Bi Inah cemas


"gak usah bi, nanti juga mendingan kok. Owh ya bi, Aqila minta tolong ya, Bibi kasih surat izin ini ke pak Joni supaya diantar ke sekolahannya Qila." pinta Aqila dengam sopan sambil menyerahkam surat izinnya.


"baik non." Bi Inahpun menerima surat tersebut kemudian keluar dari kamar Aqila.


Setelah peninggalan Bi Inah, Aqila kembali menangis dalam diam. Bahkan orang tuanya tidak mengkhawatirkan keadaannya sama sekali.


Setelah merasa tenang, Aqila memutuskan untuk mandi. Badannya terasa lengket semua karena sejak kemarin sore ia tidak mandi. Terkesan jorok memang. Tapi kemarin Aqila benar-benar tidak kuat untuk sekedar cuci muka atau sikat gigi.


Setelah selesai mandi, Aqilapun mengambil ponselnya yang mati sejak kemarin. Ia kembali menghidupkan ponselnya dan membuka aplikasi whatsapp. Berharap kedua sahabatnya menghubungi.


Dan benar saja, grup chat Aqila, Sindi, dan Syila terpampang di chatroom paling atas.


Terlihat beberapa pesan belum terbaca yang terpampang digrup Whatsapp dengan nama *CANTIK MAKSIMAL* tersebut.


Namun ketika Aqila ingin membuka chat tersebut, tiba-tiba ada pesan masuk yang dari nomor yang tidak dikenal.


Dengan rasa penasaran akhirnya Aqila membuka chat tersebut dan membaca pesannya. Aqila membulatkan mata tak percaya dengan isi pesan yang dibacanya.


085771175xxx


Sv wa gue!


Klvn


Ya, itulah isi pesan yang membuat Aqila membulatkan mata tak percaya. Aqila benar-benar sulit memahami sikap dan perilaku Kelvin yang bisa berubah sewaktu-waktu tersebut. Kadang baik kadang juga sangat menyebalkan.


Ah, kapan Kelvin bersikap baik pada Aqila? Belum pernah malah.


Tanpa fikir panjang Aqilapun menyimpan nomor whatsapp Kelvin tanpa berniat membalas pesannya.


Bagi Aqila berhubungan dengan Kelvin hanyalah menambah masalah dalam hidupnya, meski tak bisa dipungkiri bahwa saat ini Aqila sudah benar-benar jatuh hati pada laki-laki dingin tersebut.


Setelah menyimpan nomor Kelvin, barulah Aqila masuk ke grup chat kedua sahabatnya. Ternyata di sana Sindi dan Syila sangat mengkhawatirkan keadaan Aqila sejak kemarin.


Aqila tersenyum dalam hati, ternyata masih ada orang-orang yang perhatian terhadapnya. Aqilapun mengetikkan beberapa pesan untuk membalas chat sahabatnya.


A_qila


Gue gak papa. Santai aja kalik:)


A_qila


Owh ya, gue pinjem buku kalian tentang materi hari ini ya ok:v


Baru saja Aqila ingin menaruh hpnya tiba-tiba sudah ada suara balasan. Aqilapun mengurungkan niatnya dan kembali membuka aplikasi whatsappnya. Ternyata Syila dan Sindi membalas pesan Aqila.


"Memangnya mereka tidak belajar? Padahal ini kan baru jam 9?" Gumam Aqila dalam hati


Syi_syila


Kalo gak kenapa-napa trs ngapain lo gak masuk😑


Sindi_queen


Lah iya, ngapain lo gak masuk😏


A_qila


Gue cuma sedikit pusing aja kok:v gak usah lebay gitu deh awokawokawok


Syi_syila


Oke diem aja di rumah. Ntar gue ke situ


Sindi_queen


2


A_qila


Gue tunggu:))


Setelah mengirim balasan tersebut, Aqilapun memilih kembali mematikan handphonenya dan menyimpannya di dalam nakas.


*


*


Syila dan Sindi berjalan keluar kelas dengan tergesa agar bisa cepat sampai di rumah Aqila. Namun saat melewati koridor mereka tidak sengaja menabrak seseorang.


"sory-sory, gue gak sengaja." Ucap Sindi


"iya sory, kita gak se-." Ucap Syila terputus saat menyadari siapa yang ia tabrak barusan


"loh kak Kelvin." ucap Syila kemudian


"kalo jalan pakek mata." ucap Kelvin dingin


"pakek kakilah, mana bisa jalan pakek mata." Jawab Syila tak mau kalah. Sedangkan Kelvin hanya menatap dengan malas tanpa berniat menjawab.


Saat Kelvin membalikkan tubuhnya dan hendak kembali berjalan, tiba-tiba Sindi mencegahnya.


"eh kak." Ucap Sindi yang spontan membuat Kelvin menoleh.


"kita mau jenguk Aqila, kakak mau ikut?" Sindipun langsung menjelaskan maksud hatinya


"gue sibuk." jawab Kelvin


"tapi kak-" lagi-lagi belum selesai Sindi mengakhiri ucapannya, Kelvin sudah berbalik dan berlalu meninggalkan mereka berdua.


Sindi dan Syilapun hanya bisa mengedikkan bahunya acuh dengan sikap Kelvin. Mereka kemudian menuju parkiran untuk mengambil mobil.


30 menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Aqila. Perjalanannya sedikit lama karena mereka tadi berhenti dulu di supermarket untuk membawakan Aqila cemilan dan beberapa buah-buahan.


Sesampainya di rumah Aqila, Sindi dan Syila sama-sama terkejut saat melihat mobl Kelvin sudah terparkir di halaman rumah Aqila.


"loh, itu bukannya mobilnya kak Kelvin?" tanya Sindi


"iya tuh, bener gak sih?" ucap Syila yang justru balik bertanya


"ya udah kuy masuk, biar tau." Ucap Sindi yang diangguki oleh Syila.


Merekapun menekan tombol bel di depan rumah Aqila dan keluarlah wanita paruh baya yang tak lain adalah Bi Inah, pembantu di rumah Aqila.


"temen-temennya Non Qila ya?" tanya Bibi


"iya bi, Aqilanya ada?" tanya Sindi


"ada non. Non Aqila sedang di atas, mari silahkan masuk."


"oke bi, kalo gitu kita langsung ke kamar Aqila aja ya." ucap Syila


"iya non silahkan."


Syila dan Sindipun menaiki tangga menuju kamar Aqila. Jika kalian bertanya bagaimana Sindi dan Syila bisa tahu di mana kamar Aqila, jawabannya karena kemarin Sindi dan Syilalah yang mengantar Aqila pulang dari sekolah saat Aqila sakit akibat dibully dari kakak kelasnya.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Sindi dan Syila langsung masuk ke kamar Aqila. Dan betapa terkejutnua mereka saat melihat Aqila sedang disuapi oleh Kelvin.


"loh kak Kelvin?" tanya Syila


"eh kalian udah dateng, sini-sini!" ucap Aqila


"kok lo bisa di sini kak?" tanya Syila lagi


"bukan urusan lo. Gue pulang." Ucap Kelvin kemudian berlalu dari kamar Aqila.


"Qil?" ucap Sindi membuyarkan lamunan Aqila


"eh, iya Sin. Ada apa?" tanya Aqila gelagapan


"kok kak Kelvin bisa di sini?" tanya Syila lagi


"gue juga gak tahu, tadi tiba-tiba dia ke sini nyuruh gue makan dan minum obat." jelas Aqila


"cuma itu doang?" kali ini ganti Sindi yang bertanya


"iya." jawab Aqila sambil menghela nafasnya


"eh ini gue bawain lo cemilan sama buah." ucap Syila memecah keheningan


"kok repot-repot segala sih?" tanya Aqila


"sekali doang juga." jawab Sindi.


Akhirnya hari itu mereka menghabiskan waktu bersama sampai pukul 5 sore. Aqila sungguh bahagia dengan kedatangan kedua sahabatnya. Ah bukan, lebih tepatnya kedatangan Kelvin tadi siang.


Flasback on


"non, ada yang cariin." ucap Bi Inah saat masuk ke kamar Aqila


"siapa bi?" tanya Aqila


"bibi gak tau non, orangnya cakep pisan." jawab Bibi


"cowok bi?" tanya Aqila lagi


"iya non, disuruh masuk apa gimana? Kasian atuh dianggurin."


"eum, suruh langsung ke sini aja lah bi." ucap Aqila


Tak lama terdengar suara sepatu mendekati kamar Aqila, dan muncullah sesosok yang amat Aqila harapkan, Kelvin. Iya, Kelvin datang ke rumah Aqila.


"eum kak." ucap Aqila bingung


"udah makan?" Tanya Kelvin, sedangkan Aqila hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"minum obat?" Lagi-lagi Aqila hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


Hingga Kelvin mengambil alih bubur di atas meja nakas Aqila, dan mulai menyuapi Aqila lalu meminumkan obatnya. Tidak ada obrolan manis di antara keduanya. Mereka hanya saling diam sampai akhirnya Sindi dan Syila datang dan merusak suasana.


Flasback off


.


.


.


.


.


bersambung . . .