
Author Pov
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Akhirnya Aqila dan Kelvinpun tiba di sebuah rumah sederhana yang tidak terlalu besar dengan papan nama yang bertuliskan PANTI ASUHAN AISYAH.
Aqilapun segera turun dari mobil dengan begitu semangat. Bahkan sampai ia lupa jika saat ini ia datang bersama Kelvin.
Aqila langsung berlari masuk ke dalam panti, dan melupakan belanjaannya yang masih berada di mobil Kelvin.
Sedangkan Kelvin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aqila. Iapun memilih untuk membawa belanjaan Aqila ke dalam panti.
"assalamu'alaikum." ucap Kelvin saat sampai di ambang pintu.
"walaikumsalam." jawab anak-anak panti termasuk Aqila yang sudah duduk diantara mereka.
Anak-anak panti tentu mengeluarkan ekspresi terkejut saat tiba-tiba kehadiran cowok yang begitu tampan menurut mereka.
Merekapun masih setia menatap Kelvin yang berusaha membawa masuk semua belanjannya.
Sedangkan Aqila hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"cakep banget ya, anak-anak aja ngliatinnya sampe kayak gitu." ucap Aqila dalam hati
"salim gih sama kakak itu, trus kalian bantuin bawa plastiknya ke dalam ya." Ucap Aqila dengan lembut yang langsung diangguki oleh anak -anak panti.
Anak pantipun menyalami tangan Kelvin satu persatu. Jujur, Kelvin sedikit gugup dengan perlakuan mereka. Karena Kelvin sendiri memang type orang yang tidak terlalu menyukai anak kecil.
"sini kak kita bantu." Ucap salah satu anak panti pada Kelvin.
"wah, kakak bawa makanan banyak banget."
"iya nih, mainannya juga."
"makasih banget ya kak."
"iya kak, makasih."
Itulah ucapan-ucapan yang dilontarkan para anak panti kepada Kelvin. Sedangkan Kelvin hanya bisa tersenyum kaku kepada mereka.
Di sini Aqila mengetahui hal baru tentang Kelvin, anak itu sama sekali tidak mudah bersosialisasi. Pantas saja sikapnya cuek dan dingin.
Lalu tiba-tiba terbesit sebuah keinginan di benak Aqila untuk merubah sikap Kelvin menjadi lebih hangat. Ya, meskipun hal itu tidak akan mudah.
.
"eh, ada tamu to?" Ucap Bu Lia-bunda panti
"iya ini bunda. Maaf tadi gak ngasih kabar dulu." Ucap Aqila lalu menyalami tangan ibu panti yang lebih akrab dia panggil bunda.
Memang biasanya saat hendak berkunjung Aqila memberi kabar terlebih dahulu. Namun hari ini ia benar-benar lupa untuk mengabari ibu pantinya.
"nggak papa nak, bunda kangen sekali sama kamu." Ucap sang Bunda lalu memeluk Aqila dengan erat.
"Lala juga kangen banget sama bunda." Merekapun saling memeluk untuk melepas kerinduan hingga tidak sadar dengan keberadaan satu orang yang kini sedang menatap ke arah mereka.
"ehem." Dehem Kelvin menyadarkan Aqila.
"eh iya bunda, tadi Lala sama temen. Kenalin bunda, namanya Kelvin." Aqilapun memperkenalkan Kelvin pada bundanya.
Sedangkan sang bunda beralih menatap Kelvin dengan penuh senyuman.
"Lia, kamu bisa panggil ibu dengan sebutan Bunda." Ucap bunda sambil menyalami Kelvin.
"Kelvin bunda." balas Kelvin dengan menampilkan senyuman yang sangat manis.
"wah, ini pertama kalinya Lala ke sini sama temen. Biasanya ia sendiri terus, eh sekalinya bawa temen yang cakepnya gak ketulungan." ucap sang bunda
"iiih bunda apaan sih." rengek Aqila
"owh ya, kamu temennya atau pacarnya?" tanya bunda pada Kelvin
"buunndaa." teriak Aqila karena pertanyaan bundanya
Jujur Kelvin bingung ingin mengatakan apa pada bundanya. Bahkan ia sangat gugup kali ini.
"i-itu bun, sa-saya tem- eh saya pacarnya Aqila." Ucap Kelvin akhirnya
Sedangkan Aqila hanya bisa melongo tak percaya dengan jawab Kelvin. Apa benar yang ia dengar jika Kelvin mengakuinya sebagai pacar?
Ah, bahkan ini lebih terasa seperti mimpi.
"cie yang sekarang udah punya pacar." goda bunda
"bunda jangan gitu ih." kesal Aqila
"hahaha, ya udah kalian main aja sama anak-anak, bunda mau masak dulu." ucap bunda
"gak Lala bantuin masak bun?" tanya Aqila
"nggak usah, kamu di sini saja nemenin Kelvin." ucap bunda kemudian berlalu menuju dapur.
Aqilapun duduk di sofa sambil sesekali bermain dengan anak panti, sedangkan Kelvin masih sibuk dengan barang belanjaan yang tadi Aqila beli.
.
Aqila terkejut dari lamunannya saat tiba-tiba sesuatu menepuk pundaknya dengan pelan.
"eh Via, ada apa sayang?" tanya Aqila lembut
"itu kakaknya ganteng banget kak Lala." Ucap Via yang membuat Aqila terkekeh. Ternyata anak kecil saja sudah pada tahu mana yang cakep mana yang enggak.
Anak panti memang kerap memanggil Aqila dengan sebutan Kak Lala. Bahkan panggilan itu Aqila sendiri yang memberikannya.
Entah mengapa Aqila memilih memperkenalkan diri dengan nama itu di depan anak panti, namun saat Aqila dipanggil dengan sebutan itu, membuat rasa hatinya sedikit menghangat.
"itu namanya Kak Kelvn Vi." Ucap Aqila memberitahu Via.
"emang dia siapanya kakak?" tanya Via
"hah? Di-dia cuma temen kakak." Jawab Aqila bingung.
"ah yang bener kak?" Tanya Via dengan senyum jahilnya.
"beneran sayang." Jawab Aqila sambil menoel hidung Via.
"pacar juga gak papa loh kak. Cakep." ucap Via lagi
"ih anak kecil udah tahu yang namanya pacaran." cibir Aqila pada Via
Sedangkan Via malah tertawa atas perkataan Aqila. gadi kecil yang kini berusia kurang lebih 9 tahun itu memang sangat akrab dengan Aqila.
Via memang anak panti yang paling dekat dengan Aqila. Dulu Via adalah anak yang sama sekali tidak punya keinginan untuk hidup. Lalu dengan kedatangan Aqila yang terus memberi semangat pada Via, membuat gadis cilik itu kini bisa bergaul dan hidup dengan normal bersama teman-temannya.
Flasback On
Hari itu, saat Aqila selesai melaksanakan UN di sekolahnya. Ia berniat untuk pergi ke panti asuhan yang biasa ia kunjungi.
Karena tuntutan nilai UN membuatnya beberapa bulan ini tidak pergi ke sana karena fokus dengan UN.
Ia bahkan sampai ikut les di beberapa tempat debgan harapan akan membantu dirinya meraih nilai UN yang sempurna.
Bukan, ini bukan keinginan Aqila. Tapi ini adalah keinginan orang tuanya. Mereka ingin Aqila masuk di SMA elit di kalangan pembisnis.
Jadi mau tidak mau Aqila harus berusaha sekeras mungkin agar bisa masuk di SMA Xailucry, SMA yang diidam-idamkan oleh sang papa.
Namun perlu kalian ketahui, bahwa tidak mudah untuk masuk di sana. Dan salah satu syaratnya adalah nilai UN.
Hal itu membuat Aqila fokus belajar dan tak sempat mengunjungi panti asuhan.
Hari ini tepat hari terakhir UN berlangsung. Aqilapun berniat untuk mengunjungi panti asuhan AISYAH.
Ia sangat merindukan adik-adikbya di sana, juga Bunda Lia yang sangat menyayanginya.
Sore itu saat sampai di sana, ia dikejutkan dengan keadaan panti yang begitu ramai.
Bukan, ini bukan ramai karena pengunjung panti. Tapi ini ramai karena ada sesuatu hal yang baru saja terjadi.
Tanpa berpikir panjang, Aqila segera masuk ke dalam panti. Dan hal pertama yang ia lihat adalah keadaan seorang anak perempuan yang usianya sekitar 8 tahun. Keadaannya sangat jauh dari kata baik-baik saja. Rambut dan pakaiannya acak-acakan, dan tangisnya yang begitu memilukan.
"apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aqila pada dirinya sendiri
Aqila mendekati gadis tersebut, dan duduk menyejajarkan tubuhnya dengan sang gadis.
"adek." ucap Aqila lirih
Jauh dari perkiraan Aqila, gadis kecil tersebut justru mengamuk dirinya. Aqila sontak terkejut dengan perlakuan sang anak yang tiba-tiba menendangnya.
Namun Aqila berusaha sabar, dan mencoba merengkuh tubuh sang gadis.
"lepaskan tangannya bu," Ucap Aqila pada dua wanita paruh baya yang mencengkal tangan gadis kecil tersebut.
"tapi bahaya dek, dia bisa mengamuk." Ujar salah satu warga.
"tidak masalah bu, biar saya yang menenangkan." Ucap Aqila meyakinkan kedua ibu-ibu tersebut untuk melepaskan tangan Aqila.
"baiklah," Akhirnya tangan gadis kecil tersebutpun dilepas. Lalu Aqila segera merengkuh tubuh gadis kecil itu ke dalam pelukannya.
"menangislah." Ucap Aqila lirih tepat di telinga sang gadis.
Gadis kecil tersebut membalas pelukan Aqila dan menangis lebih kencang. Tidak ada sedikitpun perlawanan yang ia lakukan pada Aqila.
Wargapun tercengang melihat pemandangan di depannya. Bagaimanapun anak kecil yang sedari tadi mengamuk setiap orang yang menyapanya, bahkan hampir melakukan aksi bunuh diri tersebut bisa tenang di pelukan gadis SMP.
Wargapun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kini mereka mengerti, bahwa tak seharusnya mereka menenangkan anak kecil dengan cara yang keras. Karena bagaimanapun seorang anak kecil hatinya sangat lembut.
"sudah tenang?" Tanya Aqila pada gadia kecil tersebut. Namun sama sekali tak terdengar jawaban. Hanya isakan parau yang sesekali terlontar dari bibir mungil gadis itu.
"ayo kita ke taman." Ajak Aqila sambil menggandeng tangan sang gadis kecil.
Lagi-lagi, tidak ada perlawanan dari gadis kecil itu, ia setia mengikuti langkah Aqila yang entah kr mana membawanya.
Setelah sampai di taman, Aqila memilih untuk mengajak gadis kecil itu duduk di salah satu bangku taman.
Ia berjongkok di hadapan gadis kecil itu dengan senyum tulusnya.
"nama kamu siapa?" Tanyanya sambil membelai pipi sang gadis kecil.
"vi-via." Jawab sang gadis yang masih sesikit tersedu.
"kenalin, nama kakak Aqila. Kamu bisa panggil kak Lala." Ucap Aqila lagi, kemudian ia beranjak untuk ikut duduk di samping gadis itu.
"kakak boleh tanya?" Tanya Aqila yang mendapat anggukan dari sang gadis.
"kalo kakak boleh tahu, kamu kenapa bisa seperti ini?" tanya Aqila dengan hati-hati
"ma-ma, pa-papa." Ucap gadis tersebut dengan air mata yang sudah terbendung lagi di sudut matanya.
"eitzz jangan menangis, jadi gak cantik nanti." Ucap Aqila sambil menyeka air mata sang gadis.
"memangnya mereka kenapa?" Tanya Aqila lagi saat keadaan sudah mulai tenang.
"kecelakaan." Jawab sang gadis dengan wajah menunduk.
Sedetik kemudian Aqila sudah paham akan permasalahan yang dihadapi gadis kecil di hadapannya tersebut.
"kamu tahu, sekarang mereka sedang ada di Surga. Mereka sudah bahagia di sana, jadi kamu jangan nangis lagi. Kalo kamu nangis, mereka pasti ikut sedih. Jadi kamu harus bahagia di sini, tunjukin ke mereka kalo Via anak yang baik, dan jangan lupa juga untuk selalu kirim doa buat orang tua kamu. Kakak janji, kakak akan selalu nemenin Via. Via maukan jadi anaj yang baik buat papa sama mama Via?" Ucap Aqila panjang lebar.
Sedangkan Via hanya bisa menganggukan kepalanya pelan yang membuat Aqila tersenyum lebar.
"janji sama kakak, kamu gak akan kayak gini lagi. Okey?" Ucap Aqila yang lagi-lagi hanya mendapat anggukan dari Via.
"nah gitu dong, sekarang kialta balik ke panti ya. Di sana Via akan dapet banyak temen. Dan tentunya bunda panti yang sangat baik hati." Ucap Aaila
Merekapun kembali ke panti dengan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya.
Bunda panti juga sudah menunggu kedatangan mereka. Kini mereka semua mengerti, bahwa usia bukan jaminan dewasa. Karena nyatanya seorang gadis kecil yang tak bisa dikendalikan oleh orang tua, kini bisa takluk di tangan gadis SMP.
Jujur Aqila merasa iba kepada Via. Ia merasa kasihan atas takdir yang menimpa gadis itu. Di usianya yang bahkan masih dibilang sangat kecil, ia sudah harus menerima kenyataan pahit tersebut.
Flasback Off
.
"yuk kita makan siang dulu." Ucap Bunda Lia-ibu panti yang menyadarkan Aqila dari lamunan masa lalunya.
Aqilapun bergegas menghampiri Bunda Lia. Ia merasa bersalah karena tidak ikut membantu masak bundanya.
"bunda maaf, Aqila tadi gak bantuin masak." Ucap Aqila
"gak papa sayang. Yuk kita makan bareng-bareng. Ajak juga pacarmu itu." Ujar Bunda Lia dengan nada menggodanya.
"Iiih bundaa." rengek Aqila
"udah sana cepet, panggil juga adik-adikmu."
"iya iya bunda. Siap." Ucap Aqila lalu bergegas memanggil adik-adiknya dan juga Kelvin.
"kita makan siang dulu yuk, Bunda udah selesai masak tuh." ucap Aqila memberi instruksi kepada anak panti.
"horeeee." teriak mereka dengan semangat
"kak, makan dulu." Ajak Aqila saat menghampiri Kelvin
"gue gak laper." jawab Kelvin dingin
"makan kak, sedikit gak papa kok. Kasihan bunda udah masak banyak." Ucap Aqila lagi
"ya udah." jawab Kelvin kemudian mengikuti langkah Aqila menuju ruang makan.
Seluruh anak panti sudah mendapatkan makanan mereka. Kini giliran Kelvin dan Aqila yang mengambil makanan.
"Qil, ambilin gih Nak Kelvin." ucap bunda pada Aqila
"hem, iya bunda." jawab Aqila dengan malas
"kakak mau apa?" tanya Aqila pada Kelvin
"apa aja." jawab Kelvin
Aqilapun mengambilkan nasi beserta lauknya ke piring Kelvin. Kemudian segera menyerahkannya pada sang empu.
Sedangkan anak-anak panti yang melihat aksi kakaknya tersebut hanya bisa tersenyum dan bersorak
CIEE CIEE
CIEE CIEE
CIIE KAK AQILA
Sontak Aqila membelalakkan matanya terkejut. Bahkan wajahnya sudah terasa panas, mungkin sekarang benar-benar mirip dengan kepiting rebus.
"udah-udah, ayo kita makan. Nak Kelvin, tolong pimpin berdoa ya." Lerai bu panti setelah melihat pipi Aqila yang mulai memerah.
"eh i-iya bu." Jawab Kelvin gugup. Bagaimana mungkin ia memimpin anak-anak tersebut berdoa, sedangkan dirinya saja tak pernah berdoa.
Akhirnya dengan segala keberanian Kelvinpun memimpin doa dan dilanjutkan dengan makan siang bersama dengan anak panti.
.
.
.
.
.
.
.
jangan lupa like dan commentnya readersđź’•