
Author pov
Berbeda dengan Aqila, Kelvin justru melajukan mobilnya menuju cafe tempat biasa ia nongkrong bersama teman-temannya. Saat mereka masuk ternyata di sana sudah ada Raka yang menunggu kedatangan mereka. Namun Raka tidak menyapa mereka, sepertinya ia marah dengan kejadian tadi pagi.
"rajin amat bro udah sampe sini." tanya Radit cengengesan
"diem lo. Gara-gara lo pada, gue dihukum sama pak Agung- salah satu guru BP di SMK Xailucry." ucap Raka masih dengan memanyunkan bibirnya
"gue juga dihukum, tapi santai." ucap Kelvin tiba-tiba
"hah, lo dihukum ngapain Vin?" tanya Sean penasaran
"cih kepo." jawab Kelvin yang membuat ketiga temannya hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya
"emangnya lo dihukum ngapain Rak?" tanya Sean
"gue tadi disuruh bersihin toilet. Mana bau banget lagi. Masa ganteng-ganteng gini suruh bersihin WC. Gue sih sebenarnya gak mau, tapi dipaksa." jawab Raka sambil memperlihatkan ekspresi memelasnya.
"ya iyalah lo dipaksa, namanya juga dihukum." ucap Radit
"trus kenapa lo pulang cepet banget?" tanya Radit pada Raka
"ya kan tadi selesai bersihin toilet gue langsung ke sini." jawab Raka
"pantes dari tadi gue ngerasa ada bau-bau aneh, ternyata lo biangnya." ucap Kelvin yang tiba-tiba membuka suara.
"enak aja, gue wangi ya. Tuh si Radit sama Sean yang dari pagi belum mandi." jawab Raka yang membuat Kelvin menoleh pada Radit dan Sean
"owh, jadi kalian belum mandi." tanya Kelvin penuh selidik
"kan tadi pagi kita udah bilang kalo gak mandi." jawab Sean sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"dasar jorok." ucap Kelvin mengakhiri percakapam mereka sebelum akhirnya Radit memanggil seorang pelayan.
Tak selang lama, seorang pelayan datang menghampiri mereka.
"permisi mas, mau pesan apa ya?" tanya seorang pelayan yang sangat cantik tersebut. Terlihat dari wajahnya, sepertinya pelayan tersebut masih muda. Hingga membuat keempat pasang mata melihat ke arah pelayan tersebut.
"ehm, permisi mas." ucap sang pelayan lagi, menyadarkan keempat orang itu dari lamunannya.
"eh, pada mau pesen apa?" tanya Radit gugup memecah keheningan yang terjadi
"samain aja deh." ucap Sean yang tiba-tiba gugup
"ya udah mbak, latte machiatonya 4 sama lava cake cocholatenya juga 4." ucap Radit sambil melihat daftar menu.
"saya ulangi ya mas, latte macchiatonya 4, lava cake chocolatenya juga 4."
"iya mbak udan bener." jawab Radit sambil menampilkan senyum manisnya.
"baik mas, saya permisi dulu."
Setelah kepergian sang pelayan, Radit malah senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Ketiga sahabat yang sudah memperhatikannya sejak tadi hanya bisa geleng-geleng kepala.
"gini nih kalo gak pernah deket sama cewek." celetuk Raka yang membuat Radit menoleh ke arahnya
"makanya sekali-kali tu pacaran. Nggak gay kan lo?" tanya Sean yang mendaratkan jitakan di kepalanya.
"gue normal b*go." jawab Radit mendengus
Sedangkan Kelvin hanya tersenyum memperhatikan interaksi ketiga sahabatnya.
"tapi gue baru kali ini liat si Radit salting kayak gitu, jangan jangan... ..." Sean menggantungkan kalimatnya yang kemudian disambung oleh Raka
"enggak, enak aja." elak Radit
Tak selang lama, makanan yang mereka pesan sudah datang. Merekapun memakan larva cakenya dan sesekali menyeruput latte macchiatonya.
Di sela aktifitas makan, tiba-tiba Raka membuka suara yang membuat Kelvin mendongak menatapnya
"lo tadi ketemu ama dia?" Tanya Raka pada Kelvin
"enggak." jawab Kelvin singkat
"kenapa lo nggak cari tahu tentang dia?" tanya Sean
"males." jawab Kelvin singkat
"lah gimana sih lo ini, katanya mau bales dendam tapi males-malesan." ucap Radit
"besok deh gue coba cari." ucap Kelvin
"eum, trus gimana rencana lo selanjutnya?" tanya Sean
"gue juga belum tau sih. Tapi gue udah punya rencana." jawab Kelvin mantap
"gue sih dukung lo Vin, gue cuma ngingetin apapun rencana lo, gue harap lo gak keterlaluan. Gimanapun dia cewek bro." ucap Raka panjang lebar.
Semua mata sahabatnyapun melotot ke arahnya, sedetik kemudian mereka malah tertawa terbahak-bahak.
"lah, gue serius kalik." ucap Raka yang agak bingung dengan perlakuan sahabat-sahabatnya.
"gue gak nyangka, kalo playboy kayaj lo ternyata masih punya hati Rak." ucap Kelvin di sela tawanya
"makanya jangan suka menilai orang lain dari luarnya doang bro, gini-gini gue itu pantang nyakitin perempuan." ucap Raka
"lah terus yang nangis-nangis saat tiba-tiba lo tinggalin itu namanya apa?" tanya Radit yang membuat wajah Raka pucat
"tapikan itu mereka yang minta gue ajak jalan." ucap Raka membela diri
"iyain deh, biar lo seneng." ucap Sean dengan malas.
"udah yuk pulang, udah jam 5 nih." ajak Radit menyadarkan sahabat-sahabatnya bahwa waktu sudah sore.
"kuylah, gue juga capek." ucap Kelvin menyetujui
"ya udah deh, kalo pak bosnya aja udah setuju kita mah cuma bisa ngikut." ucap Raka sambil menaik turunkan alisnya kepada Kelvin
Merekapun segera keluar dari cafe dan bergegas pulang ke rumah Kelvin terlebih dahulu karena motor Sean dan Radir ada di sana. Sedangkan Raka memilih untuk langsung pulang ke rumahnya sendiri. Tak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di rumah Kelvin.
"gue langsung balik Vin, thank's ya." ucap Radit sambil menepuk pundak Kelvin
"sans aja." jawab Kelvin sambil tersenyum
"gue juga langsung balik Vin, takut kemaleman." tambah Sean
"ya udah gih, tiati." ucap Kelvin saat kedua sahabatnya sudah mulai meninggalkan pekarangan rumahnya.
Kelvinpun bergegas masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya. Kelvin segera membersihkan dirinya ke kamar mandi. Setelah itu ia kembali ke meja belajarnya dan membuka laptopnya. Ia membaca data diri seseorang dari atas sampai bawah, mengulangi hingga beberapa kali sampai ia benar-benar mengerti. Setelah dirasa cukup, Kelvinpun kembali mematikan laptopnya dan memilih membaringkan diri di kasur empuknya. Matanya sibuk menerawang langit-langit kamarnya. Sedangkan hatinya entah sedang berada di mana.
"maaf kalo gue harus libatin lo dalam balas dendam gila ini." ucap Kelvin dalam hati
Ia memantapkan diri untuk menemui seseorang yang saat ini sedang ia cari. Hatinya memang sedang diselimuti emosi, dan Kelvin tidak mau gagal lagi, kali ini ia harus berhasil membalaskan dendamnya meski kepada orang yang mungkin tak tahu menahu soal hal ini. Biarlah Kelvin dibilang egois, tapi baginya luka akan dibalas dengan luka. Nyawa juga harus dibayar dengan nyawa.
Kelvin hanya bisa mengusap rambutnya gusar. Ia tahu ini salah, tapi tak ada pilihan lain baginya. Kebahagiaannya yang terenggut, harus diganti dengan air mata dia. Dia juga harus merasakan apa yang selama ini Kelvin rasakan.