
Author Pov
Berbeda dengan Sindi dan Syila, Aqila malah terus melajukan mobilnya tanpa arah pasti. Ia terus menekan pedal gasnya tanpa tahu ke mana arah tujuannya.
Ia tidak ingin pulang. Itulah kata yang memenuhi kepalanya saat ini.
Aqila tidak mungkin pulang keadaan seperti ini. Seragam yang sudah acak-acakan serta mata sembab yang tidak bisa ia sembunyikan.
Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Yang artinya sudah sekitar 3 jam Aqila mengendarai mobilnya.
Ia tidak mungkin pulang saat ini. Karena pasti yang ia dapat hanyalah amarah dari sang mama.
Bukan, bukannya Aqila takut, ia hanya belum siap menghadapi hal itu. Bisa-bisa dirinya malah melakukan hal gila karena pikirannya yang sedang tak karuan tersebut.
Akhirnya Aqila memilih untuk berhenti di sebuah cafe. Tidak lupa ia menggunakan sweater untuk menutupi bagian atas seragamnya.
Setelah selesai memarkirkan mobilnya, ia segera turun untuk segera masuk ke dalam cafe.
Aqila memilih untuk duduk di pojok cafe. Ia memilih tempat itu karena dekat dengan kaca tembus pandang sehingga ia bisa melihat kendaraan yang berlalu lalang.
Setelah beberapa menit terdiam, Aqila kemudian memanggil pelayan untuk memesan beberapa makanan. Ia tidak bisa berbohong jika saat ini dirinya sangat lapar. Perutnya juga sudah berbunyi sejak tadi.
"mau pesan apa mbak?" Tanya pelayan saat tiba di meja Aqila.
"Veggie Burgers, kentang goreng, sama 3D latte." jawab Aqila
"ada tambahan lagi mbak?" Tanya pelayan tersebut setelah mencatat menu pesanan Aqila.
"nggak mbak." jawab Aqila
"baik kalo gitu mbak, tunggu sebentar ya." Ucap sang pelayan ramah kemudian berlalu dari hadapan Aqila.
Sembari menunggu pesanannya datang, Aqila kembali melihat ke luar cafe. Sesekali ia tersenyum melihat pemandangan di hadapannya.
Aqila tersenyum miris saat melihat beberapa orang yang masuk ke dalam cafe bersama teman-temannya. Ada juga yang datang bersama keluarganya, keluarga yang utuh tentu saja.
"seandainya." gumam Aqila pelan
Namun lamunannya segera buyar karena pesanannya sudah datang.
"silahkan dinikmati mbak." Ucap pelayan setelah selesai menaruh makanan Aqila ke atas meja.
"terimakasih." Ucap Aqila dengan senyum manisnya.
Setelah pelayan tersebut berlalu dari hadapan Aqila. Aqila segera menatap pesanannya dengan garang.
Namun tatapannya terhenti pada 3D latte yang terlihat sangat menggrmaskan, dengan gambar animasi di atasnya. Sampai-sampai Aqila merasa tidak tega untuk meminumnya.
Namun sekian menit kemudian, rasa tidak tega Aqila terhadap minuman yang dipesannya tertepis juga oleh rasa laparnya yang terus melanda.
Aqilapun segera memakan makanannya dengan lahap. Lalu sesekali menyesap 3D latte kesukaannya.
Sepertinya gadis tersebut benar-benar kelaparan. Terlihat dari cara makannya dan juga makanan di hadapannya yang sudah habis dalam waktu kurang dari 15 menit.
Aqila kemudian menyesap 3D lattenya sampai gelas kaca itu benar-benar kosong.
"akhirnya." Ucap Aqila senang karena merasa perutnya sudah kembali kenyang.
Sebenarnya Aqila bingung mau tidur di mana malam ini, sehingga ia memutuskan untuk berada di cafe terlebih dahulu sampai ia menemukan tempat penginapan yang cocok.
Ia kembali memakan kentang gorengnya yang masih tersisa. Sesekali ia kembali melihat ke arah luar cafe.
Sepertinya malam bukanlah halangan untuk tetap berkendara di tengah kota, karena nyatanya sampai saat ini jalanan masih dipadati oleh banyak kendaraan. Sorot lampu menerangi gelap malam yang tanpa bintang. Bunyi klakson seakan menjadi pelengkap suara mesin-mesin yang berlalu lalang.
Aqila masih terus menatap ke arah jalanan sampai ia melihat ke arah jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Namun masih tak ada niat dalam dirinya untuk pulang. Ia akan menunggu sampai cafe tutup, baru akan beranjak pulang.
.
.
.
Sedangkan di lain tempat, Kelvin dan ketiga sahabatnya sedang berdebat tentang tempat yang akan mereka kunjungi malam ini.
Mereka berkumpul di rumah Kelvin sejak pulang sekolah tadi, dan tidak berniat untuk pulang sama sekali. Karena kebetulan papa Kelvin sedang ke luar negeri bersama istrinya.
"gue laper woooy." Teriak Raka pada ketiga sahabatnya.
"trus mau lo apa?" tanya Sean
"ya keluar kek cari makan gitu." ucap Raka sewot
"lo kelaperan banget ya?" tanya Radit pada Raka
"udah tau pakek nanya lagi." jawab Raka ketus
"ya ampun ayolah. Gue laper tauk." ucap Raka lagi
"gimana Vin?" Tanya Radit meminta persetujuan Kelvin.
"ngikut." jawab Kelvin dingin
"lo tuh gak bisa apa anget dikit gitu? Dingin melulu perasaan." cibir Raka
"yang laper mah sensitif." Ejek Kelvin yang membuat sahabatnya tertawa kecuali Raka.
"ya udah ayook, keburu malem ini." Rengek Raka persis anak kecil.
"ya udah kuy." ucap Sean
"trus kemana ini?" tanya Radit
"cafe biasa aja." jawab Raka cepat
"yaudah cepeet." ucap Kelvin
Merekapun segera keluar rumah dan menuju garasi mobil di rumah Kelvin.
"pakek mobil siapa?" tanya Radit pada ketiga sahabatnya
"mobil gue, lo yang nyetir." ucap Kelvin pada Radit
"okelah." ucap Radit pasrah
Mereka segera masuk ke mobil Kelvin. Radit yang menyetir, Kelvin yang duduk di samping kemudi, kemudian Raka dan Sean duduk di kurai penumpang.
"kemana nih jadinya?" Tanya Radit di tengah perjalanan.
"cafe biasa." jawab Kelvin
Raditpun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi mereka malah keluar untuk sekedar cari makan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, akhirnya mereka sampai juga di cafe yang mereka tuju.
"kuy turun." Ajak Radit setelah memarkirkan mobilnya.
Mereka segera turun dan berjalan menuju cafe. Sesampainya di cafe mereka menjadi sorotan para pengunjung cafe karena ketampanan yang mereka suguhkan.
"***** ganteng banget"
"ganteng banget gila"
"ya ampun calon suami gue"
"aduh rezeki banget malam-malam liat cogan"
"aduh sini bang sama adek aja"
"aduh lacar gue"
"ganteng banget ya ampun"
Begitulah perkataan-perkataan para pengunjung cafe yang kebanyakan cewek-cewek yang seumuran Kelvin dan sahabatnya.
Jelas saja banyak orang yang terpukau ketika melihat mereka. Siapa juga yang berani menentang ketampanan keempag most wanted di SMA Xailucry tersebut.
Kelvin dan sahabatnya memilih duduk di meja dekat jendela. Mereka tidak ingin ke meja tengah karena takut lebih menjadi pusat perhatian lagi.
Mereka kemudian memesan makanan dalam jumlah lumayan banyak. Ini semua karena Raka yang memesan lebih dari 10 menu di cafe tersebut.
"lo gila ya Rak?" tanya Sean
"gue waras woey." jawab Raka
"lah makanan segitu banyak mau lo apain?" tanya Radit ganti
"ya tapikan nggak sebanyak itu juga kalik." ucap Sean
"jangan-jangan lo takut kalo gue suruh bayarin ya?" Tanya Raka jahil
"enak aja, buat beli nih cafe aja cukup uang gue." jawab Radit tidak terima
"ya udah kalo gitu lo diem aja." ucap Raka tajam
Tak selang lama pesanan merekapun datang. Kelvin, Sean, dan Radit membulatkan matanya tak percaya ketika melihat meja mereka penuh dengan berbagai makanan, bahkan hampir tidak muat.
Padahal mereka hanya memesan satu porsi saja, tapi Raka? Benar-benar gila anak itu.
"lo mau ngabisin ini sendiri?" Tanya Radit yang masih tidak menyangka dengan Raka
"iyalah." jawab Raka sambil melahap makanan di depannya.
Merekapun segera makan tanpa memerdulikan Raka yang gaya makannya sudah seperti orang yang tidak makan satu bulan.
Kelvin, Sean, dan Raditpun sudah selesai dwngan makanannya. Kemudian mereka hanya menatap Raka yang masih sibuk dengan makanannya.
Mereka hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Raka. Sepertinya anak itu laparnya tidak main-main. Terbukti dengan 10 porsi lebih makanan yang ia habiskan dalam waktu kurang dari 30 menit.
"yessshhh, akhirnya gue kenyang juga." Ucap Raka saat semua pesanannya sudah ludes termakan.
"Udah puas?" tanya Kelvin
Sedangkan Raka hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"siapa yang bayar?" Tanya Raka saat ketiga sahabatnya sudah beranjak dari kursinya.
"elo lah." jawab Radit
"gu-gue?" Tanya Raka sambil menunjuk dirinya sendiri.
"yang makan paling banyak siapa?" tanya Sean
"ya gue sih." jawab Raka sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"itu tau, ya udah sana bayar." ucap Sean
Mau tidak mau Rakapun beranjak ke kasir untuk membayar makanannya.
"meja nomor 19." Ucap Raka saat dirinya berada di meja kasir.
"totalnya Rp 935.000,00 mas." ucap petugas kasir
Rakapun membelalakkan matanya tak percaya. Sekali makan hampir habis satu juta. Astagah.
"i-ini mbak." Ucap Raka sambil menyerahkan kartu kreditnya yang langsung diterima oleh petugas kasir.
"terimakasih mas." Ucap petugas kasir sambil menyerahkan kembali kartu kredit Raka.
"sama-sama mbak " ucap Raka kemudian berlalu dari meja kasir tersebut.
Ternyata Kelvin, Sean, dan Radit masih menunggu Raka di depan cafe. Raka yang mengetahui kalo dirinya masih ditunggupun senangnya bukan main.
"makasih loh bang, dedek Rakanya udah ditungguin." Ucap Raka ala cewek.
"gak usah gitu, gue jijik." ucap Sean
"ya udah yuk pulang." Ucap Radit yang langsung diangguki oleh ketiga sahabatnya.
Sedangkan Kelvin hanya diam sambil memandang sudut cafe dari luar. Sepertinya ia mengenal seseorang yang duduk di sana.
"ayo Vin, liatin apa sih?" tanya Sean
"eh enggak. Lo duluan aja, gue ada perlu sebentar." ucap Kelvin
"lah lo nanti pulangnya gimana?" tanya Radit
"gampang." Ucap Kelvin yang langsung berlalu dari hadapan mereka.
.
.
.
Setelah memastikan ketiga temannya pulang, Kelvin kembali masuk ke dalam cafe. Ia memastikan sekali lagi kalau penglihatannya memang benar.
Setelah merasa yakin dengan penglihatannya, Kelvin langsung menuju meja paling sudut di cafe tersebut.
"Qila?" lirih Kelvin
Sang empu yang merasa namanya terpanggilpun segera mendongakkan kepalanya. Ia terkejut bukan main saat menyadari siapa yang memanggil namanya.
"kak Kelvin?" ucap Aqila dengan lirih
"lo ngapain di sini?" Tanya Kelvin yang tentunya dengan ekspresi sedingin mungkin.
"eum i-itu kak. Tadi a-aku cuma makan, iya cuma makan." jawab Aqila terbata
"pulang, udah malem." Perintah Kelvin tanpa basa-basi
"tapi Aqila masih mau di sini kak." ucap Aqila
"jam 10 lebih, bentar lagi cafe tutup." Ucap Kelvin
Kalimat Kelvin yang seharusnya sebagai bujukan agar Aqila segera pulang tersebut malah terdengar seperti kalimat berita yang memberitahukan pada Aqila bahwa cafe akan segera tutup.
"aku tahu kak." ucap Aqila
"trus ngapain masih di sini?" tanya Kelvin
"se-sebenarnya aku gak mau pulang kak." jawab Aqila lirih
Kelvin yang merasa bingung dengan jawab Aqilapun hanya bisa mengernyitkan dahinya.
"kenapa?" tanya Kelvin
Sedangkan Aqila hanya bungkam sambil menundulkan kepalanya tanpa berniat menjawab pertanyaan Kelvin.
"ikut gue." Ajak Kelvin yang langsung menarik tangan Aqila.
"ke-kemana kak?" Tanya Aqila saat dirinya begitu saja ditarik oleh Kelvin.
Sedangkan Kelvin hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Aqila.
"kunci mobil lo." Pinta Kelvin saat mereka sudah sampai di parkiran cafe.
Aqilapun menyerahkan kunci mobilnya pada Kelvin. Kemudian ia langsung duduk di samping kursi kemudi dan membiarkan Kelvin menyetir mobilnya.
Di perjalanan mereka hanya saling diam. Tidak ada yang berniat membuka percakapan sedikitpun.
Aqila juga sudah pasrah mau dibawa ke mana oleh Kelvin. Ia memilih diam tanpa ada niat untuk bertanya.
Namun saat di tengah perjalanan, sepertinya Aqila tidak asing dengan jalan yang mereka lewati. Tapi ke mana? Ah entahlah, Aqila malas untuk berpikir.
"apartemen?" gumam Aqila saat Kelvin sudah menghentikan mobilnya di depan sebuah apartemen.
"inikan apartemennya Kak Kelvin, trus ngapain dia bawa aku ke sini?" tanya Aqila dalam hati
"turun!" Perintah Kelvin yang langsung dituruti oleh Aqila.
Aqilapun segera turun dan hanya bisa mengekori Kelvin di belakangnya.
Mereka menaiki lift, dan seperti biasa. Kelvin menekan angka 20.
Sesampainya di sana mereka langsung masuk ke dalam apartemen. Lagi-lagi Aqila tidak berniat untuk bertanya pada Kelvin.
"lo tidur sini. Gue mau pulang, tapi pinjem mobil lo karena gue tadi gak bawa mobil. Jangan lupa besok pagi bikinin gue sarapan." Ucap Kelvin yang membuat Aqila benar-benar terkejut.
.
.
.
.
.
.
bersambungđź’•