
"Kak Kelvin." Ucap Aqila saat melihat keberadaan Kelvin di depan pintu UKS.
Kelvin yang posisinya sedang menatap Aqilapun membuat pandangan keduanya saling terkunci, sebelum akhirnya Kelvin memalingkan tubuhnya dan berlalu dari sana.
Aqila juga melihat keberadaan kedua sahabatnya di belakang Kelvin, yang kini sedang menatap Aqila dengan pandangan yang sulit diartikan.
Gavrinpun mengikuti arah pandang Aqila. Sepintas, Gavrin masih bisa melihat keberadaan Kelvin yang berlalu dari sana.
Sedangkan Aqila kini sudah berusaha turun dari ranjang UKS untuk mengejar Kelvin. Bahkan Aqila melupakan keadaannya yang belum begitu pulih.
"La kamu mau kemana?" Tanya Gavrin
"aku mau ngejar Kak Kelvin kak." Jawab Aqila
"tapi keadaan kamu belum pulih La." Ucap Gavrin
"aku gak peduli kak." Ucap Aqila yang kini sudah berhasil berdiri dengan sempurna.
"tapi La, kamu bener-bener masih pucet." Ucap Gavrin lagi sambil mencoba menghalangi jalan Aqila.
"kak aku mohon jangan halangi aku." Ucap Aqila semakin lirih, hingga akhirnya Gavrinpun menyingkir dan membiarkan Aqila pergi mengejar Kelvin.
Aqila hanya menatap kedua sahabatnya yang berada di pintu UKS tanpa berkata sepatah katapun. Sindi dan Syila yang paham akan situasipun hanya menganggukkan kepalanya pada Aqila tanda bahwa mereka tidak apa-apa.
Merasa mendapat persetujuan dari sahabatnya, Aqilapun langsung melanjutkan langkahnya untuk mengejar Kelvin. Meski sudah tertinggal sedikit jauh, tapi Aqila tak juga menyerah untuk menyusul langkah kaki pria tersebut.
Gavrin yang masih berdiri di tepi ranjang UKS hanya bisa tersenyum miris menyaksikan kepergian Aqila.
Sakit, hatinya sakit saat melihat Aqila mengejar laki-laki lain, dadanya sesak menerima kenyataan itu.
Kini Aqila bukanlah Lalanya yang dulu. Ya, Gavrin harus belajar untuk menerima kenyataan itu.
.
Sedangkan Aqila saat ini masih berjalan menyusuri koridor untuk mengejar Kelvin yang masih tetap berjalan meski berkian kali Aqila memanggilnya.
"kak Kelvin tunggu!"
"kak."
"kak tungguin Aqila."
Ya, kurang lebih kata itulah yang Aqila lontarkan, tapi tetap tak membuat Kelvin berhenti meski sebentar saja. Ah jangankan berhenti, menoleh ke arah Aqila saja tidak.
Aqila tahu ke mana arah langkah Kelvin. Ke rooftop, iya Kelvin akan pergi ke rooftop. Karena kini kaki Kelvin sudah melewati satu persatu anak tangga menuju rooftop.
Aqilapun tetap berusaha untuk mengejar Kelvin, meskipun dirinya sudah merasa tidak kuat lagi. Biar bagaimanapun kondisinya saat ini belum benar-benar pulih, hingga kakinya masih terasa lemas untuk berjalan.
Namun Aqila tidak akan menyerah, ia tetap berusaha menaiki anak tangga dengan tangan yang tidak lepas dari pegangan tangga.
Namun keadaa kaki yang melemas membuat Aqila terjatuh saat tinggal 3 anak tangga lagi yang harus ia lewati.
"awwwh." Rintih Aqila merasakan sakit di lututnya yang mengenai pinggiran tangga.
Kelvin yang samar-samar masih bisa mendengar suara Aqilapun menghentikan langkahnya, dan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu menuju rooftop.
Kelvin kemudian membalikkan badannya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Aqila sudah terduduk lemas di anak tangga.
"Aqila." Ucap Kelvin yang kemudian berjalan ke arah Aqila.
"lo-- lo gak papa?" Tanya Kelvin sedikit terbata
"sa-sakit kak." Ucap Aqila dengan air mata yang tertahan.
Tanpa menggubris ucapan Aqila, Kelvinpun langsung membopong tubuh Aqila dan berniat membawa Aqila kembali ke UKS.
Namun saat Kelvin baru hendak menuruni anak tangga, tiba-tiba Aqila menahannya.
"kita ke rooftop aja kak." Ucap Aqila lirih
"nggak, lo sakit." Tolak Kelvin
"please kak." Aqila kembali memohon hingga membuat Kelvin mau tidak mau berbalik arah menuju rooftop.
Kelvin mendudukkan Aqila di kursi rooftop. Ia kemudian berusaha menghalangi sinar matahari yang hendak menyentuh wajah Aqila dengan tangannya.
Kelvin merasa sedikit iba pada Aqila, saat melihat wajah cantik itu kini terlihat sangat pucat, apalagi saat menyadari bahwa Aqila kembali sakit karena ulahnya.
"kak." Ucap Aqila berusaha membuka percakapan.
"hemm," Dehem Kelvin sebagai jawaban.
"kakak marah?" Tanya Aqila
"-"
"Aqila salah ya kak?" Tanya Aqila lagi
"-"
"kak." Ucap Aqila lagi saat Kelvin tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"apa?" Tanya Kelvin dingin
"kenapa kakak tadi gak jadi masuk ke UKS?" Tanya Aqila pada akhirnya.
Kelvin yang mendengar pertanyaan Aqilapun spontan langsung menatap Aqila.
Melihat Kelvin yang hanya terdiam, Aqilapun memilih untuk kembali angkat bicara.
"apa kakak marah karena Kak Gavrin?" Tanya Aqila
DEG
Rasanya jantung Kelvin ingin melompat saat itu juga mendengar pertanyaan Aqila.
Apa iya Kelvin marah pada Aqila?
Apa iya Kelvin marah karena Gavrin?
Apa iya Gavrin adalah penyebab ketidak tenangan hati Kelvin beberapa hari ini?
"jawab kak." Ucap Aqila yang hanya melihat Kelvin diam.
"gu-gue gak tahu." Jawab Kelvin yang langsung mengalihkan pandangannya dari wajah Aqila.
"kak, aku sama kak Gavrin itu cuma temenan." Ucap Aqila mencoba menjelaskan.
"gue gak peduli." Ucap Kelvin dengan cepat.
"saat ini pacar Aqila itu kakak, jadi Aqila gak mungkin suka sama cowok lain." Jelas Aqila lagi.
"gue gak peduli Aqila." Ucap Kelvin dengan intonasi yang sedikit tinggi.
"Aqila tahu kakak gak peduli, Aqila cuma ingin menjelaskan hal itu kepada kakak. Siapa tahu penjelasan Aqila barusan bisa membuat kakak nggak ngehindar lagi dari Aqila." Ucap Aqila panjang lebar, namun lagi-lagi tak mendapat respon dari Kelvin.
Mereka berduapun kembali diam. Aqila maupun Kelvin sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sampai akhirnya bunyi perut Kelvin membuat mereka saling pandang. Kelvin yang memandang Aqila dengan tatapan malu, dan Aqila yang memandang Kelvin dengan sedikit senyumnya.
"kakak lapar?" Tanya Aqila
"nggak." Jawab Kelvin
"tapi tadi perut kakak udah bilang lapar."
Skak mat
"dasar perut malu-maluin." Umpat Kelvin dalam hati.
Kelvin tidak bisa mengelak lagi karena perutnya sudah angkat bicara. Sehingga ia memilih diam tanpa menjawab pertanyaan Aqila lagi.
"tadi Aqila bawain bekal loh buat kakak." Ucap Aqila
Sebenarnya Kelvin senang mendengar penuturan Aqila, tapi ia gengsi untuk mengakui hal itu.
"kita ke kantin yuk, makan bekalnya di sana." Ucap Aqila dengan semangat.
Aqilapun menarik tangan Kelvin agar sang empu segera mengikuti langkahnya.
Aqila kembali memaksakan diri agar terlihat kuat di hadapan Kelvin, namun rasa sakit di kepalanya seakan mengalahkan semangatnya untuk mengajak Kelvin ke kantin.
Lagi-lagi Aqila hampir terjatuh, namun untung saja tangan kokok Kelvin mampu menahan tubuh Aqila.
Mereka lagi-lagi beradu pandang, dengan tubuh Aqila yang masih berada di lengan Kelvin. Mereka saling menatap beberapa detik, hingga mereka kembali tersadar ke dunia nyata.
"ma-makasih kak." Ucap Aqila
"kalo gak kuat gak usah sok kuat." Cibir Kelvin yang membuat hati Aqila mencelos.
"udah yuk ke kantin." Ucap Aqila tanpa menggubris perkataan Kelvin.
Aqilapun berjalan dengan hati-hati, memastikan bahwa kali ini ia tidak akan terjatuh lagi.
Mereka berduapun berjalan menuju kantin. Bersama? Tentu tidak, Kelvin berjalan lebih dulu dan meminta agar Aqila jaga jarak dengan dirinya.
Tak hanya itu, Kelvin juga menyuruh Aqila untuk mengambil bekalnya terlebih dahulu, dan baru menemui Kelvin di kantin.
Kejam? Ya, begitulah sikap Kelvin. Namun bukankah cinta itu buta? Hingga membuat Aqila sama sekali tak peduli dengan sikap Kelvin.
Aqilapun mengambil bekalnya di dalam paper bag yang tadi ada di UKS, ya Gavrin yang membawanya ke sana.
Dan benar saja, paper bag serta tas Aqila masih ada di sana. Aqilapun mengambil paper bagnya dan memilih untuk meninggalkan tasnya di dalam UKS.
Aqila kemudian berjalan menuju kantin, namun sesampainya di kantin ternyata Kelvin sudah duduk bersama ketiga sahabatnya.
"hay kak." Sapa Aqila ramah.
"wah neng cantik, pasti bawain bekal buat kita ya?" Tanya Raka
"ini buat kak Kelvin kak." Jawab Aqila lalu memberikan bekal itu pada Kelvin.
Namun bukannya menerima, Kelvin justru melempar bekal itu ke lantai bersama dengan paper bagnya.
Aqila yang melihat hal itu hanya bisa membelalakkan matanya. Kini seluruh pengunjung kantin melihat ke arah mereka.
Sedangkan ketiga sahabat Kelvin? Mereka hanya diam menyaksikan hal itu, tak jauh berbeda dari Kelvin yang kini bahkan tak menatap ke arah Aqila.
Malu? Jelas iya, Aqila merasakan hal itu. Apalagi saat pengunjung kantin saling berbisik-bisik tentang dirinya.
Aqilapun segera berniat mengambil bekalnya yang jatuh ke lantai, untung saja isinya tidak tumpah jadi Aqila tidak perlu susah-susah membersihkannya.
"aku bantu." Ucap seseorang tiba-tiba, yang kini sudah mengambil paper bag serta kotak bekal Aqila dari lantai.
"ka-kak Gavren." Ucap Aqila lirih.
"kalo dia gak mau kasih gue aja, gue suka masakan lo." Ucap Gavrin sambil menatap Kelvin dan Aqila bergantian.
"owh ya, gue makan ya. Thank's." Ucap Gavrin lagi sambil membawa bekal Aqila dan berlalu dari sana.
Gavrin memang sengaja memanggil Aqila dengan lo gue lagi, karena Gavrin tidak mau orang lain mengira Aqila menjalin hubungan dengan dirinya jika dia menggunakan kata aku kamu.
Sedangkan Aqila hanya bisa mematung di tempatnya melihat perlakuan Gavrin, sedetik kemudian pandangannya berganti ke arah Kelvin yang sudah berlalu dari tempat duduknya dengan kasar.
.
.
.
.
.
.
.
Yeay author udah up lagi, jangan lupa like and commentnya ya readersâ˜ºđŸ’•