
Author Pov
Setelah pemeriksaan yang dilakukan beberapa dokter tadi sore, akhirnya kini Aqila sudah dibolehkan pulang.
Saat ini Gavrin sedang melajukan mobilnya menuju rumah Aqila, lengkap dengan Aqila yang berada di sampingnya.
Sebenarnya Aqila masih sedikit lemas, namun anak itu ngotot minta dipulangkan hingga Gavrinpun akhirnya menyetujuinya.
Gavrin menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang agar Aqila merasa nyaman dengan perjalanan tersebut.
Mereka memang hanya berdua karena Sindi dan Syila sudah pulang terlelih dahulu, mereka tadi ditelfon keluarganya untuk mengikuti suatu acara keluarga di luar kota.
"La?" Ucap Gavrin menyadarkan Aqila dari lamunannya.
Karena sejak dari rumah sakit tadi, pandangan Aqila tidak lepas dari pemandangan kaca pintu mobil Gavrin. Bahkan Aqila sama sekali tak melihat ke arah Gavrin yang juga sibuk menyetir.
"iya kak?" Tanya Aqila yang kini menjauhkan kepalanya dari kaca.
"inget gak tadi apa aja kata dokter?" Tanya Gavrin
"inget kok kak, istirahat yang cukup, gak boleh tidur kemaleman, makan sayuran yang banyak, makan buah yang banyak, gak boleh makan makanan yang gak sehat, banyak minum air putih, gak boleh kecapekan, gak boleh banyak pikiran." Jawab Aqila panjang lebar.
"oke deh kalo kamu udah inget, jadi harus dijalanin dengam bener-bener." Ucap Gavrin
"emm, iya kak." Jawab Aqila yang hanya bisa menghembuskan napasnya pasrah.
"jangan ngeyel, biar gak sakit lagi." Ucap Gavrin
"emang kalo aku sakit kenapa kak?" Tanya Aqila
"kakak khawatir La, kakak gak mau liat kamu sakit." Ucap Gavrin keseplosan.
Sedangkan Aqila yang mendengar penuturan Gavrinpun hanya bisa mengembangkan senyumnya.
"ciee kakak perhatian banget ama Aqila." Ucap Aqila yang jelas membuat Gavrin salah tingkah.
"kamu tidur dulu aja La, masih agak jauh." Ucap Gavrin
"yahh, malah ngalihin pembicaraan." Cibir Aqila
"aku beneran La, ini masih jauh." Ucap Gavrin membela diri.
"ya iyalah jauh, salah sendiri kakak bawa Aqila ke rumah sakit sebesar itu. Emang kakak pikir Aqila sakit parah apa." Cerocos Aqila
"namanya juga khawatir." Ucap Gavrin lirih namun masih bisa didengar Aqila.
"apa tadi? Khawatir?" Ucap Aqila mengulangi perkataan Gavrin dengan nada menggodanya.
"astagah, tu telinga masih denger aja." Cibir Gavrin saat ternyata Aqila masih bisa mendengar ucapannya.
"hahahah kakak lucu." Ucap Aqila yang melihat wajah Gavrin memerah.
"aku mau fokus nyetir, kamu tidur aja. Nanti kalo udah sampe aku bangunin." Ucap Gavrin
Aqilapun hanya bisa menuruti perkataan Gavrin tanpa berniat membantahnya membantah, ia kemudian mulai memejamkan mata hingga akhirnya tertidur dengan pulas.
Jam di tangan Gavrin sudah menunjukkan pukul 17.00, mereka menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam. Kini mobil Gavrinpun sudah sampai di halaman rumah Aqila.
Gavrin yang melihat Aqila masih tertidur dengan pulaspun merasa tidak tega untuk membangunkannya.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Gavrin memutuskan untuk menggendong Aqila.
Sesampainya di depan pintu rumah Aqila yang masih tertutup. Gavrinpun memilih untuk memencet tombol bel dengan hidungnya, karena kedua tangannya digunakan untuk membopong tubuh Aqila.
Untung saja hidung Gavrin mancung dan badannya juga cukup tinggi, jadi bukan hal sulit bagi Gavrin untuk memencet bel rumah Aqila dengan hidungnya.
Bi Inah yang mendengar bel berbunyipun segera keluar dari dapur dan bergegas untuk membukakan pintu.
Sesampainya di depan pintu, Bi Inah yang melihat Aqila berada di gendongan Gavrinpun kagetnya bukan main.
"Non Aqila kenapa ini den?" Tanya Bi Inah
"dia cuma tidur bi." Jawab Gavrin berbohong.
Pasalnya tadi di rumah sakit, Aqila sudah mewanti-wanti Gavrin agar tidak menceritakan kepada siapapun jika dirinya sempat di rawat di rumah sakit. Tidak hanya kepada Gavrin, Aqila juga sudah menyampaikan ultimatum tersebut pada kedua sahabatnya, Sindi dan Syila.
"ya udah bawa masuk aja den----"Ucap bi Inah menggantung karena ia baru sadar jika ternyata bukan Kelvin yang mengantar Aqila.
"Gavrin bi." Ucap Gavrin yang mengerti kebingungan bi Inah.
"saya bi Inah den, ya udah yuk bibi anter ke kamarnya non Aqila." Ucap bi Inah yang kemudian berjalan menaiki anak tangga terlebih dahulu dan diikuti Gavrin di belakangnya.
Bi Inahpun membuka pintu kamar Aqila dan membiarkan Gavrin masuk untuk menidurkan Aqila di ranjangnya.
"kalo gitu, bibi ke dapur dulu ya den." Ucap Bi Inah pada Gavrin.
"owh iya bi, ini saya gak papa di sini?" Tanya Gavrin memastikan
"gak papa den, yang penting gak aneh-aneh." jawab Bibi bercanda
"haha, gak bakal kok bi." Ucap Gavrin
Bi Inahpun segera meninggalkan kamar Aqila untuk menuju dapur. Namun sesampainya di anak tangga paling bawah, ternyata sudah ada Greenindia yang menunggu Bi Inah turun.
"siapa bi?" Tanya Greenindia
"siapa apanya nyonya?" Tanya Bi Inah balik karena merasa tak mengerti dengan pertanyaan Greenindia.
Bahkan bisa dibilang Greenindia malah senang saat dia dipanggil nyonya oleh Bi Inah, bagi Green panggilan itu membuat dirinya terlihat lebih berkuasa dari Aqila.
"yang dateng sama Aqila tadi siapa?" Tanya Green dengan jutek
"owh, tadi itu den--- Gavrin nyonya, iya Den Gavrin." Ucap Bi Inah sambil kembali mengingat nama Gavrin.
"siapanya Aqila?" Tanya Green seakan Bi Inah tau segalanya.
"maaf nyonya, tapi saya tidak tahu hubungan mereka." Jawab Bi Inah
"ya cari taulah." Cibir Green dengan ketus
"ba-baik nyonya." Ucap Bi Inah sambil menundukkan kepalanya.
"ya udah lanjut kerja sana." Perintah Green
"iya nyonya, saya permisi, mari." Ucap Bi Inah dengan sopan.
Bi Inahpun segera berlalu dari hadapan Green untuk menuju dapur. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan putri majikannya tersebut. Sikapnya sangat-sangat tidak sopan di kalangannya yang bahkan masih duduk di bangku SMP.
Sedangkan Green masih termenung di anak tangga, sepertinya ia sedang memikirkan suatu rencana yang akan segera ia lakukan.
Setelah menemukan sesuatu di dalam pikirannya, Greenpun kembali ke kamarnya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
.
Sedangkan di dalam kamar, kini Aqila sudah bangun dari tidurnya. Ia juga masih bersama Gavrin yang setia menemaninya.
"udah bangun La?" Tanya Gavrin pada Aqila
Aqilapun berusaha menyesuaikan cahaya matanya, kemudian ia segera bangun dari tidurnya untuk ikut duduk seperti Gavrin.
"u-udah kak, kok kakak bisa di sini?" Tanya Aqila
"iya, tadi kamu tidurnya pules banget, jadi kakak gendong deh." Jawab Gavrin menjelaskan
"eum, maaf kak." Ucap Aqila
"loh, maaf kenapa?" Tanya Gavrin
"maaf karena Aqila udah ngrepotin kakak." Ucap Aqila tanpa menatap wajah Gavrin.
"hey, sini liat kakak. Kakak gak pernah ngerasa direpotin sama Lala. Sebaliknya, kakak malah ngerasa seneng kalo bisa bantuin Lala." Ucap Gavrin dengan tulus yang lagi-lagi mampu meloloskan senyum Aqila.
"makasih kak." Ucap Aqila yang secara tidak sadar langsung memghambur memeluk tubuh Gavrin.
Gavrin yang mendapat pelukan mendadak dari Aqilapun tidak bisa menolaknya. Gavrin tidak munafik, iapun ikut memeluk tubuh Aqila balik. Merasakan kembali kehangatan yang bertahun-tahun ia tinggalkan. Mendekap kembali tubuh mungil yang selalu ia rindukan.
Setidaknya pelukan yang Aqila berikan, bisa menggugurkan sedikit rindu yang terpendam. Setidaknya pelukan Aqila kembali membuat Gavrin yakin, jika ia bisa memenangkan hati gadis kecilnya lagi.
"gue sayang sama lo La, sayang banget." Ucap Gavrin dalam hati sambil menyesap aroma rambut Aqila dalam-dalam.
Setelah beberapa detik berada di pelukan Gavrin, Aqila akhirnya tersadar.
"eum ma-maaf kak." Ucap Aqila lirih, ia malu dengan perlakuannya pada Gavrin barusan.
"it's okay." Ucap Gavrin sambil mengacak rambut Aqila.
"eum, udah sore nih, aku pulang ya. Jangan lupa makan dan minum obatnya." Ucap Gavrin saat akan beranjak dari kasur Aqila.
"iya kak, makasih ya." Ucap Aqila
"makasih untuk apa?" Tanya Gavrin
"untuk semuanya." Jawab Aqila yang dihiasi senyum manisnya.
Gavrinpun hanya bisa ikut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Iapun segera keluar dari kamar Aqila. Gavrin menuruni satu persatu anak tangga.
Dan saat Gavrin membuka pintu depan rumah Aqila, ternyata juga bersamaan dengan suara bel yang berbunyi.
"KELVIN."
"GAVRIN."
.
.
.
.
.
.
.
bersambungđź’•
jangan lupa like and comment ya readers🤗🙏