AQILA

AQILA
19. Kuat



Author pov


Aqila mengerjapkan matanya berkali-kali. Rasa kantuk dan lelah seakan membuatnya enggan beranjak dari ranjang tidurnya. Badannya terasa sakit, ditambah pikirannya yang sudah melayang entah ke mana.


Untung saja hari ini Sabtu, jadi Aqila bisa mengembangkan hobby rebahannya.


Setelah beberapa menit membiarkan tubuhnya tetap rebahan dengan mata yang sudah terbuka, akhirnya Aqila memilih untuk duduk di tepi ranjang.


"hoaamm." Ia masih terus menguap menandakan bahwa dirinya masih benar-benar dalam fase mengantuk.


Kesadarannya berangsur pulih sempurna, matanya benar-benar terbuka. Lalu senyum kecil terukir di bibir ranumnya.


Ia memegang pipi kirinya, lalu seketika rasa perih menjalar di tubuhnya.


Sesak


Sakit


Lelah


Itulah kata yang menggambarkan keadannya saat ini. Salah besar jika kalian pikir Kelvin mencium Aqila dan membuat gadis itu bersedih. Bukan Kelvin, tapi tangan halus sang mama yang mendarat di pipi kirinya.


Bukan tanpa sebab, bukan tanpa alasan. Ini memang konsekuensi atas apa yang Aqila lalukan.


Ya, Aqila tahu itu. Bahkan Aqila sudah memprediksi bahwa hal ini akan terjadi.


Namun bukankah ada cara lain untuk menyelesaikan masalah selain dengan marah-marah?


Bukankah ada jalan lain untuk menasehati tanpa harus melukai salah satu hati?


Semalam Aqila memang mendapatkan amarah dari sang mama karena ia yang pulang larut malam.


*


*


*


Flasback on


"akhirnya selesai juga tuh film." Ucap Syila setelah 2 jam berada di dalam bioskop.


"iya nih, sampe capek gue, padahalkan cuma nonton." timp Sindi


Sedangkan Aqila tak berniat ikut bergabung dalam obrolan kedua sahabatnya. Ia masih marah karena mengetahui bahwa kedua sahabatnya itu telah mengerjai dirinya.


"pulang kak." Ucap Aqila pada Kelvin yang membuat Sindi dan Syila langsung menoleh ke arahnya.


"eitzz gak bisa cantik. Kita harus makan dulu. Lo gak mau kurus tiba-tibakan?" ucap Sindi


"gue gak akan kurus cuma karena gak makan satu malam." bantah Aqila


"kalo lo gak mau makan gak papa kok. Cukup temenin kita, ya gak?" Ucap Syila dengan menaik turunkan alisnya.


"terserah deh." ucap Aqila dengan nada sedikit merajuk.


Merekapun akhirnya berjalan menuju ke sebuah restorant. Waktu memang sudah larut malam, ditandai dengan langit malam yang mulai datang dan juga jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 18.45.


Sesampainya di restoran, Sindi segera memanggil pelayan.


"pelayan." ucap Sindi, kemudian salah seorang pelayan berjalan ke arah mereka dengan membawa buku menu.


"silahkan dipilih menunya." ucap pelayan tersebut dengan ramah


"nasi goreng sama lemon tea." ucap Sindi


"ayam geprek level 7 sama lemon tea." tambah Syila


"lo apa Qil sama kak Kelvin?" tanya Sindi saat mereka berdua tak kunjung membuka buku menu.


"samain aja sama lo." jawab Kelvin cepat mewakili Aqila


Sedangkan Aqila hanya bisa menoleh ke arah Kelvin saat laki-laki tersebut tidak membiarkan dirinya berkata.


"baik mbak saya ulangi, nasi goreng 3, ayam geprek level 7nya 1, lemon tea 4 ya." Ulang sang pelayan memastikan bahwa pesanannya sudah benar.


"iya mbak." jawab Sindi


"apa ada tambahan lagi?" tanya sang pelayan


"tidak terimakasih." jawab Sindi lagi


"baik kalo gitu, mohon ditunggu sebentar ya." ucap sang pelayan kemudian berlalu dari meja tersebut.


Selang 15 menit, pesanan merekapun akhirnya datang. Mereka segera memakannya tanpa mengeluarkan sedikitpun suara.


Setelah selesai makan, mereka juga masih diselimuti keheningan.


Sindi dan Syilapun saling menatap sampai akhirnya mereka memilih meminta maaf pada Aqila.


"iya Qil, kita minta maaf kalo punya salah sama lo." tambah Syila


"janji deh lain kali gak gitu lagi." ucap Sindi dengan wajah memelasnya


"iya gue maafin." ucap Aqila akhirnya


Setelah memastikan Aqila tak lagi marah dengan mereka, Sindi dan Syilapun segera pulang karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 8 malam.


"gue duluan ya, kalo kalian masih mau berduaaan lanjutin aja." Ucap Syila pada Aqila sambil mengerlingkan sebelah matanya


"iya kita duluan, bye bye Aqila." Tambah Sindi, kemudian mereka berdua berlalu meninggalkan Aqila yang hanya menatap mereka dengan tatapan malas.


Setelah kepergian Sindi dan Syila, Aqila dan Kelvin hanya diam sampai akhirnya salah satu dari mereka memberanikan diri untuk membuka mukut.


"pulang?" tanya Kelvin


"iya kak." jawab Aqila


Merekapun segera keluar dari tempat tersebut menuju tempat Kelvin memarkirkan mobil tadi.


.


.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Aqila.


"mau mampir kak?" tanya Aqila ragu


"nggak usah, lo mau gue anter dulu?" tanya Kelvin balik


"enggak usah juga, makasih ya kak." Ucap Aqila kemudian turun dari mobil Kelvin.


Kelvinpun kembali melajukan mobilnya ke apartemennya. Sedangkan Aqila mulai melangkah masuk ke dalam rumah.


Baru saja Aqila kembali menutup daun pintu rumahnya dari dalam, ia sudah dikejutkan dengan suara marah sang mama.


"udah pulang?" Tanya sang mama dengan menampilkan senyum sinisnya.


"ma-maaf ma." jawab Aqila terbata


"nggak usah pulang aja sekalian." Ucap sang mama yang kemudian berjalan ke arahnya.


Sedangkan Aqila masih setia menundukkan kepalanya. Sambil menunggu perlakuan apa lagi yang akan mamanya lakukan.


Sedetik kemudian sebuat tamparan lolos di pipi kirinya. Rasa panaspun menjalar ke seluruh tubuh Aqila. Dipegangnya pipi bekas tamparan sang mama dengan nanar.


Aqila berusaha mati-matian menahan air matanya. Tapi ia juga cuma manusia biasa yang tak begitu kuasa untul menahan air mata.


Aqila menangis. Ya, untuk kesekian kalinya sisi rapuh itu kembali ia tunjukkan pada wanita yang ia sebut mama. Untuk kesekian kalinya Aqila terlihat lemah di hadapan mamanya.


Tak selang lama setelah tamparan tersebut, rambut Aqila juga ditarik kencang ke belakang. Sampai ia merasa kulit kepalanya hampir saja terlepas.


"awww sakitt maa." rintih Aqila


"apa uang yang kami kasih ke kamu kurang, ha?" Tanya sang mama dengan bentakan yang Aqila pastikan bisa didengar oleh seluruh penghuni rumah.


"sampai kamu jadi jalang, pulang malam dan diantar pakek mobil orang kaya?" tanyanya lagi


"di sini saya cuma terpaksa nerima kamu. Jadi jangan berlaku seenaknya sendiri di rumah ini." ucapnya lalu melepaskan tangannya dari rambut Aqila dan berlalu pergi.


Aqila juga berlari ke kamarnya. Ia mengunci pintu dan langsung menghambur diri ke ranjang tidurnya.


Aqila tahu hal ini akan terjadi, Aqila tahu hal ini akan menimpanya. Aqila tahu, bahkan ia sudah mempersiapkan dirinya sejak tadi.


Ia akui dirinya memang salah, ia akui dirinyalah yang bersalah. Tidak seharusnya ia pulang larut malam. Aplagi jam sudah menunjukkan pukul 9 malam lebih.


Aqila masih menangis sesegukan di dalam kamar. Memeluk gulingnya erat dan menumpahkan seluruh rasa sakitnya.


Tidak, ia tidak ingin berlama-lama seperti ini. Ia kuat. Ia akan selalu kuat. Ia akan bertahan, sebentar lagi misinya akan segera terwujud.


Ia tidak boleh lemah, ini demi misinya. Jika ia menyerah saat ini, lalu apa arti perjuangannya selama 8 tahun ini. Semua akan sia-ska jika Aqila menyerah begitu saja.


Aqilapun mulai menyeka sisa-sisa air mata yang masih juga turun membasahi pipinya. Menahan agar air mata itu tak keluar lagi.


Ia mencoba memejamkan mata agar segera tertidur. Karena dengan begitu setidaknya ia akan terbebas dari rasa sakit ini meski hanya sebentar.


Flashback off


.


.


.


.


.