
Author Pov
Pukul 05.00 terlihat Aqila sudah bergelut dengan dapurnya. Meskipun kesehatannya belum begitu pulih, tapi Aqila tetap berniat membuatkan bekal untuk Kelvin. Setelah kurang lebih setengah jam bergelut dengan seluruh bahan dapur, bekal yang dibuat Aqilapun selesai. Ia kemudian bergegas naik ke kamarnya kemudian berniat membersihkan diri.
Tak perlu waktu lama untuk Aqila selesai mandi, kini dirinya sudah berada di depan meja riasnya. Mengoleskan sedikit bedak tabur dan memakai lipgloss agar bibirnya tidak terlihat pucat.
Setelah dirasa cukup, Aqilapun bergegas untuk segera berangkat meski waktu masih menunjukkan pukul 06.00.
Sesampainya di ruang makan, Aqila tidak menemui keberadaan kedua orang tua dan adiknya. Tanpa ada niat mencari, Aqila memilih melanjutkan langkahnya ke daput untuk mengambil kotak bekal yang telah ia siapkan.
"bi, Aqila berangkat dulu ya." pamit Aqila saat melihat Bi Inah menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.
"eh iya non, gak sarapan dulu?" tanya Bi Inah, karena sedari tadi dirinya hanya melihat Aqila membuat bekal tanpa memakannya.
"gak usah bi, ini udah bawa bekal kok. 2 lagi." jawab Aqila menunjukkan kotak bekalnya.
"kalo gitu Aqila berangkat dulu ya Bi, Assalamu'alaikum." tambah Aqila kemudian berlalu dari hadapan Bi Inah
"pagi Pak Joni." Sapa Aqila saat melihat Pak Joni sedang memanaskan mobilnya.
"pagi non, mau diantar?" tanya Pak Joni
"iya nih pak. Hehe." jawab Aqila
"ya sudah non, mari silahkan masuk." ucap Pak Joni sambil membuka pintu penumpang.
"terimakasih pak." ucap Aqila kemudian masuk ke dalam mobil.
"nanti dijemput jam berapa neng?" Tanya pak Jono saat sudah sampai di depan gerbang sekolah Aqila.
"seperti biasa aja ya pak." ucap Aqila yang bergegas turun dari mobil.
Hari ini Aqila memang sudah masuk sekolah seperti biasa. Ia diantarkan oleh supir pribadinya karena memang masih sedikit lemas untuk membawa kendaraan sendiri.
Namun hal itu tak membuat urung niatnya untuk memberikan bekal lagi pada Kelvin sebagai tanda terimakasih Aqila, karena kemarin Kelvinlah yang telah menolongnya.
Sesampainya di sekolah, Aqila memilih untuk ke kantin terlebih dahulu. Ia berniat untuk memakan bekalnya di kantin sekaligus membelikan Kelvin minuman terlebih dahulu. Toh kalaupun Aqila ke kelas sahabatnya juga belum datang. Maklum, setengah 7 saja masih kurang.
Tepat saat suapan terakhir di mulut Aqila, ia melihat Kelvin dan para sahabatnya memasuki area kantin. Aqilapun segera merapikan kotak bekalnya dan berniat menghampiri Kelvin.
"pagi kak." sapa Aqila saat dirinya sudah sampai di meja Kelvin
"pagi neng cantik." Balas Raka genit, sedangkan Aqila hanya menampilkan senyum manisnya.
"kak, ini Aqila bawa bekal buat kakak." Ucap Aqila pada Kelvin sambil menyerahlan kotak makannya. Sedangkan Kelvin hanya menatap Aqila dengan tatapan tidak suka.
"kak." sapa Aqila lagi
"lo tuli atau gimana, gue gak butuh bekal dari lo." balas Kelvin dingin dan tajam
"aduh tenang aja Qil, mana bekal lo buat gue aja." ucap Sean lalu merebut kotak makan di tangan Aqila
"lain kali lo bawain makanan buat kita aja. Lagian masakan lo lebih enak dari restoran bintang 5 kok." puji Radit
"em, kakak terlalu berlebihan, masakan Aqila biasa aja kok. Owh iya Aqila cuma mau bilang terimakasih sama kak Kelvin karena kemarin udah nolongin Aqila." Ucap Aqila pada Kelvin yang membuat ketiga sahabat Kelvin membulatkan matanya tak percaya.
"jadi kemarin elo yang nolongin Aqila?" tanya Sean
"gak nyangka gue bro." tambah Radit
"jadi gosip yang beredar soal lo yang gendong Aqila ke UKS itu bener ya?" Tanya Raka lagi yang membuat Kelvin menampakkan raut wajah kesal.
"lo hutang penjelasan sama kita-kita." Ucap Sean sambil menatap tajam Kelvin
"cerewet." hanya itu yang keluar dari mulut Kelvin sebelum dirinua beranjak dari meja kantin.
"eum Aqila kita duluan ya, btw makasih bekalnya." Ucap Raka pada Aqila
"iya kak, sama-sama." balas Aqila
"bye cantik, kita duluan." ucap Sean, kemudian mereka berlalu dari hadapan Aqila.
Aqila yang menyadari bahwa waktu sudah mendekati pukul tujuhpun memilih untuk kembali ke kelasnya.
"hallo guys." sapa Aqila
"waizz, udah masuk nih tuan putri. Gimana? Udah sembuh ya?" tanya Syila dengan tatapan menggoda
"jelas udah lah, kemarin aja disamperin sama pangerannya." tambah Sindi dengan tatapan yang tak kalah menggoda.
"iiih apaan sih kalian." gerutu Aqila malu
"udah sini duduk. Sebentar lagi bel nih." ucap Sindi pada Aqila
*
*
*
"Vin." Ucap Radit pada Kelvin saat mereka sampai di kelas.
"apa?" tanya Kelvin dingin
"jadi kemarin lo nolongin Aqila?" tanya Radit balik yang hanya mendapat respon tatapn dari Kelvin.
"apa lo mulai ada rasa sama dia?" tanya Raka
"nggak." jawab Kelvin cepat
"eh Vin, tapi dia tu kayaknya anak baik loh. Gak ada bibit-bibit pelakornya." ucap Sean berpendapat
"gue juga mikir gitu. Udah cantik, manis, baik, masakannya enak. Idaman gue banget." Puji Raka yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kelvin.
"eh balik ke topik. Gimana ceritanya lo bisa nolongin dia?" tanya Radit lagi, Kelvinpun mulai menceritakan kejadian yang menimpanya kemarin sehingga dia bisa menemukan Aqila di dalam gedung tua.
"untung aja ada elo." ucap Sean sambil menepuk-nepuk pundak Kelvin
"kalo gak ada lo mungkin Aqila udah masuk rumah sakit." tambah Raka
"peduli apa kalian?" tanya Raka sambil menaikkan sebelah alisnya
"santai bro, kita gak akan ganggu misi lo kok." ucap Raka
"tapi kita tetep gak bisa diem kalo lo sampe main kasar. Biar gimanapun dia itu perempuan." ucap Radit yang diangguki oleh sahabatnya kecuali Kelvin
"makan kuy, lumayan gratis lagi." ucap Sean tiba-tiba sambil membuka kotak bekal yang Aqila berikan.
"enak aja, ini buat gue." ucap Kelvin dan langsung merebut kotak bekal pemberian Aqila dari tangan Sean.
Kelvinpun memakan bekal yang Aqila berikan, ia tidak bisa lagi mengelak bahwa masakan Aqila memang benar-benar enak. Ia memakannya dengan lahap sampai habis. Bahkan tanpa menyadari bahwa ketiga sahabatnya sudah geleng-geleng kepala sejak tadi melihat tingkah laku Kelvin.
"enak banget ya, sampai habis gak bersisa." ejek Sean yang membuat Kelvin menatap mereka dengan wajah tanpa dosanya.
"nih balikin." ucap Kelvin sambil menyerahkan kembali kotak bekal tersebut kepada Sean.
"enak aja. Yang makan lo yang suruh balikin gue." tolak Sean
"gue gak peduli." ucap Kelvin lalu kembali fokus dengan gadgednya.
Ia tidak mungkin mengembalikan kotak bekal itu sendiri kepada Aqila mau ditaruh dimana mukanya kalau sampai ketahuan ternyata dialah yang memakan bekal pemberian Aqila sampai habis.
.
.
.
.
.
bersambung . . .