
~Dia hanyalah permainan sekaligus perantara balas dendam. Jadi mana mungkin gue memendam perasaan?
Kenandra Kelvin Aditama
~
~
~
~
Author Pov
Di kediaman Kelvin, baru saja terjadi gulat ganda antara Kelvin dengan samsaknya. Seperti biasa, laki-laki itu selalu meluapkan emosinya dengan terus memukuli samsaknya tanpa ampun.
Ya, sejak pulang sekolah tadi Kelvin langsung menuju ke halaman belakang rumahnya untuk menghabisi samsaknya.
Di sana juga ada Sean, Raka, dan Radit juga. Namun mereka tidak berniat sama sekali untuk bergabung dengan permainan gila Kelvin.
Mereka lebih memilih menyaksikan Kelvin, dengan ditemani beberapa camilan dan secangkir kopi yang tadi dibuatkan oleh Claras-mama Kelvin.
"tante Claras tuh sebenarnya baik orangnya, dia juga sayang banget kayaknya sama Kelvin. Tapi kenapa Kelvin gak bisa nerima dia ya?" Tanya Sean tiba-tiba.
"gue juga gak tahu, sepertinya ada salah satu cerita masa lalu Kelvin yang nggak kita tahu." Ucap Raka
"sepertinya iya, gue kasihan deh sama Tante Claras. Dia baik banget soalnya." Ucap Sean
"gue juga, dia aja perhatian banget sama Kelvin." timpal Raka
"apa lagi namanya kalo gak perhatian, sampe-sampe Tante Claras selalu ngehubungin wali kelas Kelvin buat mantau kegiatan belajar Kelvin." imbuh Sean
"udah deh gak usah pada ngegosip, udah mirip emak-emak tau gak." Cibir Radit yang masih asyik mengunyah makanannya.
"lo mah kalo udah makan suka lupa daratan." Cibir Sean pada Radit
"alah, kayak lo nggak aja." Timpal Radit
"sory, gue mah kagak kayak lo." Ucap Sean sambil menampilkan wajah jijiknya pada Radit.
"itu si Kelvin kenapa sih, gila kalik ya. Emangnya gak sakit apa?" Tanya Raka saat melihat Kelvin masih asyik dengan samsaknya.
"ya sakitlah ogeb, orang dia aja gak pakek sarung tangan tinju gitu." Jawab Sean
"Raka mah gak tau uang gituan, dia sukanya mainan cewek soalnya." Ucap Radit yang langsung membuat mereka semua tertawa.
Kelvin kuga menoleh ke arah mereka karena mendengar tawa menggelegar dari ketiga sahabatnya itu. Namun setelah merasa tidak penting, Kelvinpun kembali melakukan aksinya memukuli samsak.
"OEY Kelvin, udah dong mainnya." Teriak Raka saat melihat Kelvin menatap ke arah mereka.
"gue aja capek liatinnya." Tambah Sean
"kalo cemburu tuh bilang, gak marah-marah kayak gitu." Ucap Radit yang berhasil membuat Kelvin berhenti.
Namun bukannya berhenti marah, Kelvin sepertinya malah semakin tersulut amarah.
Kelvin menghampiri Radit dengan kepalan tangannya. Kemudia ia mencengkeram kerah seragam Radit yang jelas membuat sang empu ketakutan.
"sante Vin sante, guekan cuma ngasih saran." Ucap Radit mencoba menenangkan amarah Kelvin.
"apa tadi lo bilang? Gue cemburu? Bahkan gue benci banget sama tu cewek." Elak Kelvin
"ya-ya udah kalo gak cemburu, gak usah marah-marah juga kalik." Ucap Radit, dan akhirnya Kelvinpun menarik tangannya dari kerah Kelvin.
"lo kalo lagi marah gak inget temen sendiri apa?" Tanya Raka saat Kelvin sudah ikut duduk bergabung bersama mereka.
"nggak." Jawab Kelvin ketus.
"Vin, gue tanya nih sama elo. Lo itu sebenernya suka gak sih sama Aqila?" Tanya Sean
"-"
"Vin, kita serius." Ucap Raka
"gue gak tau." Jawab Kelvin pada akhirnya.
"Vin, lo gak boleh kayak gini terus. Lo harus tegas sama perasaan lo sendiri." Ucap Radit ganti
"gue bilang gue gak tau." Ucap Kelvin dengan nada tinggi.
"makanya kita sebagai temen ngebantuin lo biar tau gimana perasaan lo yang sebenernya." Ucap Sean yang membuat Kelvin terdiam.
"-"
"kita cuma gak mau lo nyesel nantinya Vin," Ucap Raka lirih
"-"
"gue takut, saat lo menyadari perasaan lo. Aqila udah pergi sama yang lain." Ucap Raka lagi.
"gue pikir lo semua paham kalo gue deketin Aqila cuma karena misi gue, tapi ternyata nggak." Ucap Kelvin yang bergegas pergi meninggalkan ketiga sahabatnya.
"mulut lo emang selalu bilang gitu Vin, tapi hati lo nggak bisa bohong." Timpal Sean yang membuat Kelvin menghentikan langkahnya.
"Dia hanyalah permainan sekaligus perantara balas dendam. Jadi mana mungkin gue memendam perasaan?" Ucap Kelvin sambil menampilkan senyum miringnya, kemudian ia segera melanjutkan langkahnya.
"kita balil Vin, gue harap lo bisa pikirin lagi ucapan kita." Ucap Radit yang sama sekali tak digubris oleh Kelvin.
"dia tetap kepala batu." Ucap Sean pada kedua sahabatnya.
"gue cuma berharap dia gak nyesel." Ucap Radit
"kuy balik, yang punya rumah lagi marah. Hahaha." Ucap Raka sambil tertawa
"kuylah." Timpal Sean dan Radit bersamaan
.
Merekapun segera keluar dari rumah Kelvin, namun sesampainya di halaman rumah, mereka bertemu dengan Claras-mama Kelvin.
"loh kalian udah mau pulang?" Tanya Claras dengan rama.
"udah tan, soalnya ada urusan di rumah. Hehe." Bohong Raka
"yah, padahalkan rumah jadi rame kalo ada kalian." Ucap Claras
"emangnya om Firman belum pulang tan?" Tanya Sean
"belum, katanya sih hari ini jadwal ke luar kota. Jadi kemungkinannya pulang malem atau malah nggak pulang." Jawab Claras
"wah, gitu ya kalo jadi pengusaha sukses. Sibuk terus." Ucap Radit
"kalian tuh bisa aja, orang tua kalian juga pasti sibuk kan?" Tanya Claras
"hehehe iya sih tan." Jawab Raka sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"em ya udah ya tan, kita pamit dulu." Ucap Raka kemudian.
"ya udah deh kalo gitu, hati-hati ya. Jangan kebut-kebutan." Ucap Claras menasihati.
"iya tan, siap." Ucap mereka bertiga dengan kompak.
Merekapun menyalami tangan Claras kemudian segera menuju garasi untuk mengambil mobil lalu bergegas pergi dari rumah Kelvin.
Sedangkan Kelvin memperhatikan interaksi antara Claras dan ketiga sahabatnya dari jendela kamarnya. Ia tidak habis pikir pada ketiga sahabatnya kenapa bisa begitu akrab dengan Claras.
Setelah kepergian ketiga sahabatnya, Kelvin menutup kembali kaca jendela kamarnya dan segera membaringkan tubuhnya ke kasur.
.
.
.
Kelvin Pov
Setelah kepergian Sean, Radit, dan Raka. Gue langsung membaringkan tubuh ke kasur, dan berusaha untuk memejamkan mata. Tapi lagi-lagi yang terlintas hanyalah bayangan Aqila dan juga perkataan ketiga sahabat gue.
aaaarrghh.
Gue kenapa sih?
Gue gak tahu apa yang terjadi dengan diri gue, beberapa hari ini atau tepatnya setelah kedatangan Gavrin, perasaan gue selalu gak tenang. Gue selalu dihantui oleh rasa takut yang gue sendiri gak tahu apa arti rasa takut itu.
Saat bertemu Aqila, jujur gue ngerasain ada yang berbeda di hati gue. Saat dia gak bawain gue bekal, gue merasa kesal sama dia.
Tapi apa bener yang dibilang ketiga curut itu kalau gue suka sama Aqila?
Gak mungkinlah.
Biar bagaimanapun otak gue masih berfungsi dengan normal, gue juga masih waras. Jadi gak mungkin gue sampai suka sama Aqila.
Gue tekanin sekali lagi, Aqila itu cuma seperti umpan pancing gue buat nangkep ikan, gak lebih.
Ya, gue selalu menekankan kata-kata itu dalam diri gue sendiri. Gue selalu berusaha ngeyakinin diri gue sendiri kalau gue itu gak suka sama Aqila.
Tapi kenapa saat baru menyebut namanya aja udah negbuat kelala gue penuh sama bayangan soal dirinya.
Bayangan saat gue sakitin dia, bayangan saat dia nangis di depan gue, bayangan saat dia selalu nyemangatin gue, bayangaan saat dia pulang bersama Gavrin.
Ah, gimana keadaannya sekarang?
Apa dia udah sembuh?
Apa dia baik-baik aja?
Apa dia juga sedang bersama Gavrin?
arrghhhh, gue gak bisa diem kayak gini. Gue harus temui Aqila untuk memastikan keadaannya sekarang.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Terlihat tidak sopan jika gue bertamu ke rumah Aqila jam segini.
Tapi gue udah kepalang tanggung, pikiran gue gak bisa tenang. Sampai akhirnya gue milih untuk berangkat sekarang juga, nanti beli cemilan dulu buat Aqila di supermarket.
Guepun langsung mandi dan berganti baju karena sampai saat ini gue masih pakai baju seragam. Selesai mandi, gue langsung mengambil kunci mobil gue di atas nakas dan bergegas menuju ke rumah Aqila.
.
.
.
.
.
bersambungđź’•
jangan lupa likenya yaa:)) author sedih kalo yang baca banyak tapi yang kasih like dikit:(( huhu