AQILA

AQILA
8. Sahabat



Author pov


Aqila berjalan ke papan pengumuman bersama kedua temannya. Mereka berniat melihat hasil pengumuman pembagian kelas mereka.


Dengan teliti Aqila melihat satu persatu daftar nama peserta didik baru si SMA Xailucry. Membaca satu persatu lembaran yang tertempel di sana dengan sabar. Sesekali Aqila meghela nafasnya lelah, pasalnya sudah lebih dari 10 menit dirinya belum juga menemukan namanya.


"ini nama gue mana sih." kesal Aqila pada kedua temannya


"sabar lah Qil, kita juga belum nemu kok." ucap Sindi


"tinggal 1 kertas lagi yang belum gue baca, gue harap nama gue ada di sana." ucap Syila kemudian fokus membaca satu lembar hvs.


Sedangkan Aqila dan Sindi malah terduduk di lantai dan membiarkan Syila yang mencari nama mereka.


"capek gue gak nemu-nemu." ucap Sindi lesu


"jangan-jangan kita gak diterima lagi?" Ucap Aqila yang membuat Sindi spontan membulatkan kedua matanya.


"enak aja, gini-gini gue lumayan pinter kalik." ucap Sindi


"AHAA, ini diaa." teriak Syila yang membuat Aqila dan Sindi spontan berdiri.


"mana mana?" tanya Aqila kegirangan.


Sedangkan Sindi sudah ikut membaca hvs yang dibaca Syila.


"yeaaacch. Kita sekelas." ucap Sindi hingga Aqilapun ikut melihat ke arah yang mereka lihat.


"uhuyyyy, kita sekelass." teriak Aqila saat melihat namanya dan nama kedua temannya tertera di satu kertas yang sama dengan tulisan "X IPA 3"


Merekapun langsung berpelukan saking bahagianya.


Setelah yakin dengan kelas yang mereka dapatkan, merekapun memilih untuk segera masuk ke dalam kelasnya.


Di perjalanan menuju kelas barunya, Aqila berpapasan dengan Kelvin dan para sahabatnya. Aqila dan Kelvin sempat beradu mata namun Kelvin segera mengakhiri dan memilih lanjut berjalan tanpa memerdulikan Aqila.


"iih, cuek amat sih." ucap Sindi


"kayak orang gak kenal aja." tambah Syila


Sedangkan Aqila hanya mengedikkan bahunya seakan ia tak peduli. Padahal dalam lubuk hatinya Aqila juga merasa sakit hati.


Bagaimana tidak? Ini baru hari kedua setelah Kelvin menembaknya, lalu Kelvin sudah bersikap seakan tak pernah mengenal Aqila. Sebenarnya apa mau laki-laku itu?


"udah gak usah bahas. Gak penting juga." ucap Aqila cuek.


Kedua temannyapun hanya mampu saling pandang tanpa niat bertanya lebih jauh lagi.


"nah, ini kelas kita." ucap Sindi saat mereka menemukan kelas barunya.


"masuk kuy." ajak Syila


Merekapun masuk ke dalam kelas barunya. Ternyata sudah banyak siswa baru yang ada di sana. Mungkin ini calon teman baru mereka juga.


"pagi guys." ucap Syila sebelum masuj ke dalam kelas tersebut. Sedangkan Aqila dan Sindi hanya mengekorinya dari belakang lalu sesekali tersenyum pada orang-orang yang menatapnya.


"eh kita duduknya gimana? kan ganjil." tanya Syila


"gue dulu aja yang sendiri. Ntar juga bisa gantian." jawab Aqila


"eh, tapi lo gak papa kan Qil? kalo lo keberatan, biar gue aja yang duduk sendiri." tanya Sindi memastikan


"santuy kalik. Kayak lagi uji nyali aja." jawab Aqila dengan cengengesan


"ni anak ya, diajak serius malah guyonan ae." kesal Sindi pada Aqila


"udah-udah, karena lo yang sendiri jadi lo yang di depan Qil, trus gue sama Sindi di belakang lo." ucap Syila mengatur tempat duduk mereka


"semerdeka lo ajalah Syil." jawab Aqila kemudian menuju tempat duduk yang ditunjuk Syila


"gue juga maunya gitu." ucap Sindi dengan senyum tulusnya


"gue juga pengen kita sahabatan, selalu bertiga dan selalu ada dalam keadaan suka maupun duka." ucap Syila sok romantis


"dapet darimana lo kata-kata itu?" tanya Sindi mendengan ucapan Syila


"lo berdua mah berantem mulu, jadi gimana nih? kita sahabatan?" tanya Aqila


"iya dongg, sini peluk." ucap Sindi.


Merekapun saling berpelukan, seakan itu adalah janji mereka untuk selalu bersama dan tidak saling meninggalkan.


Tak lama setelah itu, tiba-tiba masuk seorang guru perempuan yang membuat hampir seisi ruangan terkejut.


"selamat pagi anak-anak." sapa guru yang masih terlihat sangat muda tersebut


"pagi buu." jawab murid-murid serempak


"sebelumnya ibu absen dulu ya, untuk memastikan apakah semuanya sudah masuk kelas atau belum." ucap sang guru


"iya bu." jawab murid-murid


Guru tersebutpun segera mengabsen satu persatu muridnya hingga sampai pada nama terakhir. Setelah dipastikan seluruh murid barunya sudah hadir. Guru tersebut segera memperkenalkan diri.


"baik anak-anak, sebelumnya perkenalkan nama ibu, Ibu Dewi. Di sini ibu sebagai wali kelas kalian sekaligus sebagai pengampu mata pelajaran Bahasa Inggris." ucap bu Dewi yang hanya diangguki oleh seluruh penghuni kelas.


"ibu minta kepada kalian untuk saling memperkenalkan diri dan bisa berteman baik. Setelah itu, ibu harap kalian bisa membentuk struktur organisasi kelas kita." tambah bu Dewi


"baik bu." jawab para siswa serempak


"kalau tidak ada yang ditanyakan saya keluar dulu, dan akan kembali setelah jam istirahat." bu Dewipun melangkahkan kakinya keluar dari kelas tersebut.


Para siswa kelas X IPA 3 itupun segera membentuk struktur organisasi kelas yang menghasilkan Dio swbagai ketua, Sindi sebagai bendahara, dan Aqila sebagai sekretaris.


Setelah pembentukan selesai, merekapun segera keluar kelas bertepatan dengan berbunyinya bel istirahat. Aqila, Sindi, dan Syila berniat untuk pergi ke kantin.


Sesampainya di kantin Aqila disuguhi dengan pemandangan yang membuat moodnya turun.


Di bangku kantin, Kelvin duduk bersama seorang perempuan yang kelihatannya sangat dekat dengan dirinya. Sindi dan Syilapun mengikuti ke mana arah tujuan mata Aqila.


"eh Qil, itu kak Kelvin ya?" tanya Sindi


"iya." jawab Aqila singkat


"gila, baru kemarin nembak lo, sekarang udah mesra-mesraan sama cewek lain." sahut Syila


"biarin lah, gak peduli gue." ucap Aqila,


"Bohong kalo gue bilang gak peduli. Karena nyatanya sakit liat lo mesra sama cewek lain. Awalnya gue belum punya perasaan sama lo, tapi gak tau kenapa hati gue bisa secepat ini nerima lo." batin Aqila


"eh, tapi itu bukannya anggota osis juga ya yang cewek?" tanya Sindi membuat Aqila dan Syila kembali menoleh ke arah Kelvin


"iya bener, itu anggota osis." jawab Syila


"itu namanya bukannya Icha ya? kemarin dia yang lihat gue dateng terlambat, dan gue liat betnya namanya Icha." ucap Aqila


"ya udah lah gak usah diurusin, biarin aja." pungkas Aqila kemudian melanjutkan niatnya untuk makan.


Mereka segera memesan makanan dan melahapnya sampai habis tanpa memerdulikan dua manusia yang sedang memadu kasih tersebut, Kelvin dan entah siapa itu, selingkuhannya mungkin.


.


.


.


maaf ya readers baru bisa update sedikit:))