AQILA

AQILA
26. Apartemen



Author Pov


Aqila masih diam mencerna setiap perkataan yang dilontarkan Kelvin. Sesekali Aqila menepuk-nepuk pipinya, meragukan kenyataan yang baru saja diterimanya.


"ini bukan mimpi kan?" Ucap Aqila dalam hati.


Ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Kelvin padanya hari ini.


Pertama, Kelvin tetap diam saja saat bekal yang telah dibuatkan Aqila untuknya dijatuhkan oleh Icha.


Kedua, Kelvin menemukannya di rooftop kemudiaan tanpa angin tanpa hujan ia mengucapkan kata maaf pada Aqila.


Ketiga, Kelvin tiba-tiba menghampiri Aqila yang sedang berada di cafe.


Keempat, Kelvin membawa Aqila ke apartemennya dan mengizinkan Aqila untuk tidur di sana saat mengetahui Aqila sedang ingin pulang.


Kelima, Kelvin meminjam mobil Aqila untuk dibawa pulang tanpa rasa gengsi.


Dan yang keenam, Kelvin meminta Aqila membuatkan sarapan untuknya besok pagi.


Langka. Ya, ini merupakan momen langka. Tidak biasanya Kelvin berbuat seperti itu pada Aqila. Apalagi sampai berani meminjam mobil Aqila dan meminta Aqila untuk membuatkannya sarapan besok pagi.


Seperti benar-benar bukan Kelvin. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada pria itu? Begitulah pikir Aqila.


Bukankah Kelvin adalah sosok yang paling gengsi untuk meminta tolong apalagi meminjak barang orang lain?


Ah entahlah, Aqila tak cukup ilmu untuk memahami seluruh tingkah laku Kelvin. Pria itu benar-benar sulit untuk ditebak. Jangankan untuk ditebak, dipahami saja susahnya minta ampun.


Tak ingin berlama-lama memikirkan Kelvin, Aqilapun memilih untuk masuk ke salah satu kamar yang tadi sudah ditunjuk Kelvin.


Cukup luas, sangat rapi dan tentunya nyaman. Itulah yang Aqila rasakan saat ia baru membuka pintu kamar tersebut.


Warna ruangannya lebih dominan putih, sehingga memberi kesan simple bagi siapa saja yang melihatnya.


Aqila melangkahkan kaki memasuki kamar tersebut. Ia menatap ke sekililing kamar yang akan menjadi tempat tidurnya malam ini. Dindingnya putih bersih tanpa adanya lukisan, hiasan, atau figura foto.o


Merasa cukup untuk melihat-lihat kamar itu. Aqilapun segera merebahkan tubuhnya di kasur berukuran king size tersebut. Empuk? Sudah jelas, bahkan Aqila tahu jika ini kasur yang sangat mahal.


Merasa posisinya sudah nyaman. Aqilapun segera memejamkan matanya untuk menyusuri alam mimpi. Harapannya semoga segala hal buruk yang terjadi hari ini tidak akan terulangi esok hari. Semoga saja.


.


.


.


Sedangkan Kelvin malah sibuk memukuli kepalanya sendiri. Ia tidak habis pikir pada dirinya yang dengan mudahnya mengizinkan Aqila menginap di apartemennya.


Apalagi perkataannya tadi yang meminta izin untuk meminjam mobil Aqila, dan juga meminta Aqila membuatkan sarapan untuknya besok pagi.


"aaarrgghhh kenapa gue jadi kayak gini sih?" geram Kelvin


Saat ini Kelvin masih berada di dalam mobil Aqila. Ia bahkan belum melajukan mobil tersebut dari halaman apartemen.


Kelvin bingung akan dirinya sendiri. Kenapa dia jadi seperti ini? Melihat Aqila di dalam cafe tadi membuat hatinya tergerak untuk menolong gadis itu. Tapi egonya menolak untuk melakukan hal itu.


Egonya meminta Kelvin untuk membiarkan Aqila bagaimanapun kondisinya. Egonya meminta Kelvin untuk menyiksa Aqila dengan menghadirkan air mata di hidup gadis itu. Egonya berkata benci. Egonya berkata menjalin hubungan dengan Aqila hanyalah sebuah misi.


Tapi mengapa hati Kelvin berkata lain? Mengapa sikap dinginnya mencair saat berhadapan dengan Aqila. Mengapa ia mudah luluh jika melihat gadis itu?


"nggak, gue gak boleh terlena. Semua ini hanya bagian dari rencana gue. Gak mungkin gue peduli sama gadis itu." Ucap Kelvin menepis seluruh pikirannya tentang Aqila.


Merasa lebih tenang, Kelvinpun memilih untuk menyalakan mesin mobil Aqila, dan menjalankan menuju rumahnya.


Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Biar bagaimanapun pikirannya belum begitu tenang untuk diajak kebut-kebutan.


Sekitar pukul 11.30, Kelvin sampai di rumahnya. Ia memarkirkan mobil Aqila di garasi mobilnya. Di sana juga masih terparkir ketiga mobil sahabatnya.


Jika kalian bertanya seberapa luas garasi di rumah Kelvin sehingga bisa menampung banyak mobil, lihat saja lapangan sepak bola. Garasi rumah Kelvin sebesar 2/3 dari luas lapangan sepak bola.


Kelvin bingung bagaimana caranya ia masuk rumah. Soal kunci pintu, ia membawanya.


Tapi bagaimana dengan ketiga sahabatnya? Apa yang akan Kelvin katakan kepada mereka. Apalagi jika mereka mengetahui bahwa Kelvin pulang membawa mobil Aqila, bisa dipastikan ketiga sahabatnya terswbut akan menyudutkannya dengan berbagai pertanyaan. Mulai yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal.


Sial, bisa-bisanya Kelvin lupa jika ketiga sahabatnya itu memang sudah berniat untuk menginap di rumahnya. Jika saja Kelvin tadi ingat, tentu ia memilih untuk menyewa hotrl malam ini daripada harus pulang dan berhadapan dengan ketiga sahabatnya.


Kelvin kembali menimang-nimang langkahnya untuk masuk rumah.


"masuk nggak masuk nggak masuk- aarghhh."


Geram Kelvin sambil menjambak rambutnya frustasi.


"ceklek." Tiba-tiba ada suara pintu terbuka yang membuat Kelvin membelalakkan matanya.


"lo udah pulang Vin?" Tanya seseorang itu dengan suara khas bangun tidurnya.


"eh iya ini." Jawab Kelvin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Ternyata Sean yang membukakan pintu untuknya.


"kenapa gak ketok pintu? Tadi gue sama temen-temen ketiduran." Ucap Sean sambil sesekali menguap.


"gak enak gue. Ya udah yuk masuk." Ucap Kelvin


Seanpun hanya menuruti perintah Kelvin tanpa membantah perkataannya sedikitpun. Sepertinya Sean benar-benar mengantuk sampai tidak menanyakan satu halpun pada Kelvin.


"syukur deh." Ucap Kelvin pelan sambil mengelus dadanya khas orang yang selamat dari tagihan rentenir.


Kelvinpun segera masuk ke dalam kamarnya. Kemudian ikut membaringkan diri bersama ketiga sahabatnya.


.


.


.


Pukul 04.15, Kelvin sudah terbangun dari tidurnya. Ia memang berusaha untuk bangun pagi dan berangkat ke apartemennya sebelum ketiga sahabatnya terbangun.


Kelvin membangunkan dirinya dari ranjang dengan hati-hati agar tidak membuat ketiga sahabatnya terbangun.


Kemudian ia mengambil secarik kertas lalu menuliskan pesan untuk ketiga sahabatnya bahwa dia berangkat lebih dulu ke sekolah.


Kelvin juga membawa seragam dan tasnya, lalu bergegas keluar dari kamarnya. Ia membuka knop pintu perlahan. Merasa aman, Kelvin kemudian melanjutkan langkahnya menuju garasi mobil.


Ia berharap ketiga sahabatnya tidak ada yang melihat dirinya.


Kelvinpun segera masuk ke dalam mobil Aqila kemudian melajukannya menuju apartemen.


Sesampainya di apartemen, Kelvin langsung menaiki lift menuju apartemennya. Ia kemudian menekan password di pintu depan apartemen miliknya lalu segera masuk ke dalam tanpa permisi.


Sesampainya di dalam apartemen, Kelvin belum melihat adanya tanda-tanda jika Aqila sudah bangun.


Kelvinpun memilih untuk kembali melanjutkan tidurnya di kamar pribadinya.


Di apartemen Kelvin memang terdapat 2 kamar. Kamar pribadi Kelvin dan kamar tamu yang digunakan untuk orang-orang yang biasanya menginap di apartemen Kelvin.


Seperti yang ditempati Aqila saat ini adalah kamar tamu yang tentunya berbeda dengan kamar Kelvin.


Oleh sebab itu Kelvin akan lebih leluasa untuk tidur lagi di kamar pribadinya.


.


.


.


Iapun segera bangun dan memilih untuk mencuci mukanya terlebih dahulu.


Setelah merasa fresh kembali, Aqila keluar dari kamarnya menuju dapur. Ia akan membuat sarapan untuk dirinya sendiri tentunya. Owh iya, jangan lupakan perintah Kelvin pada Aqila kemarin.


Sesampainya di dapur, Aqila langsung membuka pintu kulkas. Seperti biasa, di sana ada banyak bahan makanan yang disiapkan.


Aqila sempat berpikir apakah Kelvin tidur di apartemennya setiap hari? Sampai-sampai isi kulkasnya selalu terisi penuh seperti ini.


Di tengah kesibukan masaknya, tiba-tiba Aqila mendengar suara percikan air seperti orang sedang mandi.


Aqilapun langsung merinding seketika, mengingat hanya dirinyalah yang berada di apartemen ini. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 05.30, tidak mungkin ada hantu harusnya.


Aqilapun menelusuri setiap sudut apartemen. Ternyata suara itu berasal dari salah satu kamar. Mungkin kamar Kelvin, pikir Aqila.


Aqilapun mencoba mengetuk pintu kamar tersebut.


Tok tok tok


"apa ada orang di dalam?" tanya Aqila dengan hati-hati


Merasa tidak ada jawaban, Aqilapun memberanikan diri untuk membuka knop pintu tersebut.


"tidak dikunci." ucapnya pelan


Aqilapun membuka pintu tersebut dengan lebar, namun baru satu langkah ia masuk tiba-tiba,


KYAAAAAAAA


Teriak Aqila saat ia melihat Kelvin berdiri di depan almari dengan handuk yang hanya melilit di pinggangnya.


Dan sedetik kemudian,


BRAKKKKK


Aqila kembali menutup daun pintu tersebut dengan keras. Dibalik pintu ia memegangi dadanya dan berusaha menenangkan detak jantungnya.


Kelvin yang terkejut dengan teriakan tersebutpun segera membalikkan badannya ke arah Aqila.


Namun ia hanya sekilas melihat Aqila sebelum akhirnya pintu tersebut ditutup dengan kasar. Kelvinpun kembali pada aktivitasnya tanpa memedulikan Aqila.


Sedangkan Aqila sudah mulai kembali ke dapur saat merasakan detak jantungnya sudah mulai membaik. Ia melanjutkan kegiatan masaknya karena sebentar lagi sudah jam 6.


Kelvin yang kini sudah rapi dengan seragam sekolahnyapun menuju dapur. Ia melihat Aqila masih menyiapkan beberapa makanan di atas meja makan.


"udah?" tanya Kelvin


"eh ini kak, bentar lagi." ucap Aqila


Kelvinpun memilih duduk di meja makan sambil menunggu Aqila menyelesaikan masakannya.


"ini kak." Ucap Aqila sambil menghidangkan menu terakhir di meja makan.


"apa aja?" tanya Kelvin


"ini ayam kecap, capcay, dan sambal bawang kak." jawab Aqila


Kelvin hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Saat melihat Kelvin yang sudah tidak lagi bertanya, Aqilapun berniat untuk mandi terlebih dahulu. Namun langkahnya terhenti saat suara Kelvin menginstruksi dirinya.


"mau ke mana?" tanya Kelvin


"mau mandi kak." jawab Aqila


"duduk." perintah Kelvin


"tapi aku belum mandi kak." tolak Aqila


"duduk." Perintah Kelvin lagi sehingga mau tidak mau Aqilapun ikut duduk di sebelahnya.


"ikut makan." ucap Kelvin


Aqilapun hanya mengangguk kemudian ikut mengambil makanan tersebut. Mereka berdua makan bersama dalam keheningan.


"mau nambah lagi kak?" Tanya Aqila saat piring Kelvin sudah kembali bersih. Padahal Kelvin sudah nambah 2 kali.


"bo-boleh?" Tanya Kelvin sedikit ragu. Bagaimana tidak jika dirinya saja sudah nambah 2 kali. Sepertinya masakan Aqila benar-benar menghipnotis lidah Kelvin.


"boleh kak." Jawab Aqila dengan senyuman.


Aqila tahu jika Kelvin malu padanya. Aqilapun memilih untuk mengambilkan Kelvin nasi dan juga lauk pauknya.


"cukup kak?" tanya Aqila


"i-iya udah." jawab Kelvin terbata


Dalam hati Kelvin merutuki dirinya sendiri. Kenapa setiap bersama Aqila jiwa dinginnya meleleh? Belum lagi sikap kerasnya yang harus berganti menjadi lembek seperti ini.


Setelah dirasa cukup dengan sarapannya. Aqilapun bergegas menuju kamarnya untuk mandi.


"gue tunggu 15 menit."


Lagi-lagi ucapan Kelvin membuat mulut Aqila membeo. 15 menit? Baiklah, bukannya Aqila memang sudah terbiasa mandi secepat kilat?


"iya kak." Jawab Aqila kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.


Saat Aqila mandi, Kelvin mengirimkan pesan kepada ketiga sahabatnya agar salah satu dari mereka membawa mobil Kelvin ke sekolahan.


Setelah mengirim pesan tersebut. Kelvin mengambil tas dan sepatunya ke ruang tamu. Ia segera memakainya sembari menunggu Aqila selesai mandi.


Tak selang lama, Aqila sudah keluar dari kamarnya. Lengkap dengan seragam, tas, dan juga sepatu yang sudah melekat di kakinya.


Sepersekian detik Kelvin terpana akan penampilan Aqila.


"natural." Ucap Kelvin dalam hati.


Namun sedetik kemudian Kelvin langsung tersadar dari saraf otaknya yang mulai rusak tersebut.


"ayo." ucap Kelvin


Aqilapun kembali mengekori Kelvin dari belakang. Ya, bahkan Aqila tak punya nyali untuk sekedar berjalan di samping Kelvin.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung💕


Jangan lupa tinggalkan jejak:)) like dan comment agar author makin semangat updatenya🤗