AQILA

AQILA
33. Terlambat



Author Pov


Hari ini Aqila masuk sekolah seperti biasa. Ia sudah terlihat rapi lengkap dengan seragam sekolahnya. Tak lupa polesan tipis di wajahnya yang membuat Aqila terlihat semakin cantik dan fresh.


Aqila keluar dari kamarnya kemudian berjalan menuruni anak tangga. Seperti biasa, sesampainya di lantai bawah, tak lupa Aqila pergi ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil bekal yang tadi pagi telah ia siapkan untuk Kelvin.


Ya, bagaimanapun sikap Kelvin pada Aqila, Aqila tetap akan menganggap Kelvin sebagai pacarnya. Apalagi mengingat kejadian kemarin saat Aqila pulang bersama Gavrin, membuat Aqila kembali merasa bersalah pada Kelvin.


Namun sepertinya pagi ini akan menjadi rumit bagi Aqila saat menyadari kedua orang tua dan adiknya sudah berkumpul di meja makan.


Sebenarnya Aqila ingin sekali menyapa mereka, tapi mengingat konsekuensi yang mungkin terjadi membuat nyali Aqila menciut kemudian memilih untuk melewati mereka begitu saja.


"gak sopan banget." Cibir Greenindia-adik Aqila


"itu anak emang gak punya sopan santun." tambah Nesa-mama Aqila


"udah-udah lanjutin makannya." Ucap Hermansyah menenangkan.


"papa mah belain dia terus." Ucap Green merajuk sambil menghempaskan garpu yang di pegangnya ke piring sehingga menimbulkan dentingan yang cukup keras.


"Green papa gak bermak--"


"udahlah mas, kamu emang selalu belain anak pungut itu." Ucap Nesa cepat hingga memotong perkataan Hermansyah-suaminya.


Kemudian Nesa dan Green langsung berlalu meninggalkan meja makan. Mereka langsung pergi keluar rumah, Green menuju sekolahnya, dan Nesa menuju kantornya.


Hermansyah hanya bisa menghela nafasnya kasar. Hal seperti ini bahkan sudah menjadi rutinitas bagi dirinya. Memang, sejak Aqila tinggal di rumah ini. Keadaan keluarganya menjadi kacau. Kerap kali terjadi pertengkaran diantara mereka hanya karena Aqila.


Aqila yang melihat hal itupun merasa bersalah, sekali lagi ini karena Aqila.


Hati Aqilapun tergerak hingga dirinya berani menghampiri sang papa yang masih duduk seorang diri di meja makan.


Waktu memang sudah menunjukkan pukul 6.30 yang seharusnya Aqila sudah berangkat ke sekolah. Tapi melihat papanya yang sendirian, Aqila memilih untuk menemui papanya terlebih dahulu dan baru berangkat ke sekolah.


"pah." Ucap Aqila


"eh iya, ada apa Qil?" Tanya sang papa yang bingung akan kehadiran Aqila.


"papa udah sarapan tadi?" tanya Aqila


"udah sedikit." jawab sang papa


Sepertinya masih ada rasa canggung diantara keduanya meski sudah bertahun-tahun tinggal bersama. Entahlah, bahkan mereka jarang sekali bertegur sapa.


"papa mau nyobain masakan Aqila?" Tanya Aqila lagi


"boleh." Ucap sang papa


Aqilapun membuka salah satu kotak bekal yang dibawanya, kemudian menyerahkannya pada sang papa.


"ini pa." ucap Aqila


"makasih." Ucap Hermansyah kemudian mulai memakan masakan Aqila.


"enak." Ucap Hermansyah yang berhasil membuat Aqila tersenyum.


"eum ya udah ya pa, Aqila berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Pamit Aqila sambil mencium punggung tangan papanya.


.


Saat di depan rumah, ternyata Pak Joni sudah menunggu Aqila.


Tapi kenapa di teras depan?


Bukannya Pak Joni kalau nunggu selalu di mobil?


Dan di mana mobil Aqila? Kenapa belum disiapkan?


Pertanyaan itulah yang selintas hadir di benak Aqila. Kemudian ia segera menghampiri Pak Joni yang sepertinya belum juga menyadari kehadiran Aqila.


"pak, mobil Aqila udah siap belum ya?" tanya Aqila


"loh, bukannya non Aqila mau berangkat bareng temennya ya? Itu udah ditunggu dari tadi di depan gerbang." Ucap Pak Joni yang sontak membuat Aqila terkejut.


Teman?


Menjemput?


Di depan gerbang?


Siapa lagi ini, tanya Aqila dalam hati.


"em ya udah kalo gitu pak, Aqila berangkat dulu ya." Pamit Aqila


"iya non, hati-hati." Ucap Pak Joni


Sesampainya di depan gerbang, rasa keterkejutan Aqila semakin membuncah. Ia tak percaya jika orang itu yang menjemputnya.


"non Aqila cowoknya ganti lagi ya?" tanya Pak Pur yang ternyata ada di pos satpam.


"eh bukan Pak Pur, itu temen Aqila." Jawab Aqila


"pacar juga gak papa loh neng, orangnya baik kok. Tadi aja ngobrol sama Pak Pur, trus ngasih Pak Pur uang juga, katanya suruh buat beli rokok sama Mang Joni." Ucap Pak Pur panjang lebar.


Sedangkan Aqila hanya bisa meneguk salivanya susah payah mendengar apa yang dikatakan Pak Pur.


"ya udah Aqila berangkat dulu ya Pak Pur." Pamit Aqila pada Pak Pur yang langsung bergegas menghampiri seseorang yang kini berdiri tepat di depan mobilnya.


"kak Gavrin." Sapa Aqila


Ya, seseorang yang menjemput Aqila tadi adalah Gavrin. Seseorang yang membuat Aqila terkejut tadi juga Gavrin.


Entah mengapa Gavrin bisa ada di depan rumah Aqila dan bahkan menjemputnya.


"udah mau berangkat?" Tanya Gavrin pada Aqila


"kakak ngapain di sini?" Tanya Aqila balik tanpa menjawab pertanyaan Gavrin.


"gue mau jemput lo Lala." Ucap Gavrin yang sontak membuat Aqila membelalakkan matanya.


"tapi kak---"


"udah gak ada tapi-tapian, sini masuk." Gavrin memotong ucapan Aqila kemudian langsung membukakan pintu di samping kemudi agar Aqila segera masuk.


"makasih kak." Ucap Aqila sambil memaksakan sedikit senyumnya.


Seperti biasa, setelah Aqila naik, Gavrin langsung mengitari mobilnya menuju kursi kemudi. Ia kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan agak tinggi karena 15 menit lagi bel masuk di sekolahnya akan berbunyi.


"kakak tadi dari jam berapa?" Tanya Aqila pada Gavrin yang masih fokus menyetir.


"jam 6 gue udah sampai." Jawab Gavrin tenang yang membuat keterkejutan Aqila semakin bertambah.


"kok nggak masuk kak?" Tanya Aqila


"enggak, gue emang sengaja mau nungguin lo sampe keluar." Jawab Gavrin


"tapi kalo tadi aku udah berangkat atau kalo aku tadi nggak masuk gimana kak?" Tanya Aqila


"nggak akan lah, kan tadi aku juga tanya-tanya dulu sama satpam sekaligus sopir kamu." Jawab Gavrin lagi


"owh iya, katanya tadi kakak ngasih uang ke Pak Pur buat beli rokok ya?" Tanya Aqila


"iya La, emang kenapa?" Tanya Gavrin balik.


"emang dalam rangka apa kakak ngasih uang?" Tanya Aqila lagi


Sepertinya mereka benar-benar suka tanya jawab.


Apa? Sedekah? Yang benar saja Gavrin ini, pikir Aqila dalam hati.


Sesampainya di lampu merah, ternyata ada kemacetan yang diakibatkan oleh kecelakaan. Gavrin dan Aqilapun terjebak di sana dan tidak bisa putar balik untuk cari jalan lain karena posisinya ada di tengah-tengah kendaraan lain.


"ini gimana La? Kita bisa terlambat." Tanya Gavrin pada Aqila.


"ya udah kak, mau gimana lagi, udah terlanjur masuk sini juga." Jawab Aqila lesu


"nanti kita dihukum dong?" Tanya Gavrin lagi


"sepertinya begitu." Jawab Aqila


Merekapun kembali diselimuti keheningan, sepertinya mereka sedang sama-sama membayangkan hukuman apa yang akan mereka terima di sekolah nanti.


"eh La, btw lo bawa bekal?" Tanya Gavrin saat menyadari ternyata Aqila membawa sebuah paper bag di pangkuannya yang berisi kotak bekal.


"eh iya kak." Jawab Aqila


"tapi kok kayaknya gak cuma 1, buat siapa aja?" Tanya Gavrin lagi karena rasa penasarannya cukup besar.


"i-ini bu-buat Kak Kelvin kak." Jawab Aqila sedikit melirih.


"ketua osis?" Tanya Gavrin lagi.


"iya kak." Jawab Aqila


"owh." Timpal Gavrin yang langsung mengalihkan pandangannya ke jalan raya.


"are you okay kak?" Tanya Aqila saat menyadari perubahan raut wajah Gavrin.


Sedangkan Gavrin hanya menganggukkan kepalanya tanpa melihat ke arah Aqila.


Aqila tidak tahu, kenapa Gavrin berubah cuek seperti itu.


Apa karena bekalnya?


Tapi kenapa? Apa ada yang salah?


Atau karena Kelvin?


Tapi kenapa? Apa Gavrin punya masalah bersama Kelvin?


Atau karena bekal yang akan Aqila berikan pada Kelvin?


Akhirnya kalimat terakhir yang terlintas di pikiran Aqila itu yang diyakini sebagai penyebab marahnya Gavrin.


Aqilapun kemudian mencoba untuk angkat bicara.


"Aqila emang bawa 2 bekal kak, yang satu buat Kak Kelvin, dan yang satunya buat Kak Gavrin." Ucap Aqila yang berhasil membuat Gavrin menoleh padanya.


"kamu ada hubungan apa sama Kelvin?" Tanya Gavrin yang jauh dari pernyataan Aqila.


"a-aku pacaran sama Kak Kelvin kak." Ucap Aqila sambil menunduk.


Sedangkan Gavrin hanya bisa menghembuskan nafasnya lalu mencoba tersenyum kecil pada Aqila.


Aqila kemudian menyerahkan salah satu kotak bekalnya pada Gavrin. Gavrinpun menerimanya dan segera membuka kotak bekal itu.


"macetnya kayaknya masih lama, boleh dong gue makan?" Tanya Gavrin pada Aqila.


Biar gimanapun kondisi hati Gavrin saat ini, ia tetap tidak bisa bersikap dingin pada Aqila. Karena Gavrin tidak ingin menggoreskan luka di hati Aqila.


"bo-boleh kak." Jawab Aqila dengan mata berbinar.


Aqila menduga Gavrin tadi tidak mau menerima pemberiannya, tapi ternyata dugaannya salah.


"enak " Ucap Gavrin saat memasukkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya.


"kamu belajar masak di mana?" Tanya Gavrin


"otodidak kak, emang beneran enak?" Tanya Aqila ganti


"Iya Lala, inimah enak banget." Ucap Gavrin dengan senyum tulusnya.


Namun baru akan memasukkan suapan kedua ke mulutnya, tiba-tiba bunyi klakson mobil di belakang menyadarkan Gavrin bahwa kemacetan sudah teratasi.


Gavrinpun menyerahkan kotak bekal yang belum sempat ia tutup itu pada Aqila.


Gavrinpun segera melajukan mobilnya. Waktu memang sudah menunjukkan pukul 07.30, yang artinya mereka memang sudah terambat sejak setengah jam yang lalu.


Sedangkan Aqila yang masih memegang kotak bekal dari Gavrinpun berniat untuk menyuapi lelaki itu. Entah pikiran darimana, tapi saat melihat Gavrin memakan bekalnya dengan lahap membuat Aqila ingin menyuapi lelaki itu sampai bekalnya habis.


"Aaaaa kak " Ucap Aqila saat sesendok nasi goreng telah berada di depan mulut Gavrin.


Gavrin yang terkejut dengan perlakuan Aqilapun hampir menghentikan mobilnya mendadak, namun untung saja jantung dan pikiran Gavrin masih bisa diajak kompromi, sehingga Gavrin langsung membuka mulutnya dan memakan suapan dari Aqila


Suapan demi suapan telah Aqila berikan sampai akhirnya bekalnya benar-benar habis.


"makasih banyak Lala." Ucap Gavrin pada Aqila dengan tulus.


"sama-sama kak." Jawab Aqila dengan sneyuman yang tak kalah tulus.


.


Sedangkan di Sma Xailucry, Sindi dan Syila sedang bingung mencari Aqila. Pelajaran memang sudah dimulai, namun sahabatnya itu belum juga datang bahkan tanpa memberi kabar pada mereka.


Sindi dan Syila juga sudah mencoba menghubungi nomor Aqila, namun sepertinya hp Aqila sedang dimatikan. Karena dari tadi hanya ada suara operator yang mengatakan kalau nomor Aqila sedang tidak aktif.


Tidak berbeda dengan Sindi dan Syila, Kelvin juga sedang beradu tanya di pikirannya, karena sejak tadi belum juga melihat tanda-tanda Aqila datang ke sekolah.


Tadi pagi Kelvin sudah pergi ke kantin untuk menunggu bekal Aqila. Tapi sampai bel masuk berbunyi, Aqila belum juga menampakkan batang hidungnya.


.


Pukul 07.45, Gavrin dan Aqila sudah sampai di sekolah. Mereka langsung digiring menuju ruang BP oleh satpam yang menjaga gerbang.


Sesampainya di ruang BP, mereka dihujani berbagai pertanyaan oleh gurunya. Hingga pada akhirnya Aqila dan Gavrin mendapat hukuman berdiri menghadap tiang bendera sampai bel istirahat berbunyi.


Dengan berat hati, Aqila dan Gavrinpun menjalani hukuman tersebut. Mereka menghadap tiang bendera dengan kedua tangan disilangkan di depan dada, kemudian tangan yang kanan memegang telinga kiri, dan tangan kiri memegang telinga kanan.


Mereka juga harus mengangkat salah satu kaki, ya meskipun kadang Aqila menurunkannya saat merasa lelah.


Ini pertama kalinya Aqila dihukum setelah hampir 2 bulan ia bersekolah di SMA ini, ah bahkan ini pertama kalinya Aqila terlambat. Karena sejak duduk di bangku SMP, Aqila tidak pernah terlambat sekalipun.


Gavrin sesekali melihat Aqila, ia merasa bersalah karena membuat Aqila terlambat saat berangkat bersamanya.


"hari ini gue terlambat La, terlambat datang ke sekolah, dan terlambat buat milikin lo lagi." Ucap Gavrin dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


bersambungđź’•


Jangan lupa likenya🤗