
~Aku gak bisa cerita, karena aku nggak mau orang-orang yang aku cinta harus terkena luka yang aku rasa.
Aqila Anggara
~
~
~
"tapi sukakan?" Tanya Aqila pada Kelvin tiba-tiba
Sedangkan tubuh Kelvin langsung menegang seketika saat mendengar pertanyaan Aqila tersebut. Ia seperti baru saja tersengat arus listrik ketika Aqila menanyakan hal itu padanya.
"Apa iya gue suka sama Aqila? Bahkan gue macarin dia hanya untuk misi gue. Lalu di mana letak kata suka?" Pikir Kelvin dalam hati.
"kak." Ucap Aqila saat melihat Kelvin terdiam.
"i-iya apa?" Tanya Kelvin gugup.
"kakak gak suka ya sama Aqila?" Tanya Aqila, namun lagi-lagi Kelvin hanya diam tanpa berniat menjawabnya.
"makan snack yuk, gue tadi belinya banyak." Ucap Kelvin yang langsung mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Aqila hanya bisa menghela napasnya, seharusnya ia tidak perlu melontarkan pertanyaan bodoh itu pada Kelvin. Karena Aqila sendiri tahu jawabannya.
Ya, bahkan Aqila nggak tahu apa alasan Kelvin menjadikan dirinya kekasih. Apakah Aqila hanya bahan taruhan Kelvin dan sahabatnya seperti cerita di novel-novel yang Aqila baca? Entahlah, biarlah waktu yang menjawabnya.
Kelvin kini masih sibuk mengambil beberapa snack dari dalam kantong plastik yang tadi ia bawa. Ia mengeluarkan beberapa snack yang dia pikir Aqila suka, kemudian memberikannya pada Aqila.
"nih." Ucap Kelvin sambil menyerahkan beberapa snack pada Aqila.
Aqilapun menerima snack tersebut dan berniat untuk membukanya. Namun ia begitu terkejut saat memgetahui ternyata ada sebatang coklat di sela-sela snacknya.
"ini ada coklatnya juga kak?" Tanya Aqila pada Kelvin.
"iya, lo gak suka ya?" Tanya Kelvin balik.
"bukan gitu kak, Aqila suka banget malah." Jawab Aqila yang membuat Kelvin tersenyum.
"syukur deh kalo lo suka, gak sia-sia gue belinya." Ucap Kelvin
Aqilapun membuka plastik kemasan coklat tersebut, kemudian memakannya.
"kakak mau?" Tanya Aqila
"enggak deh, gue gak terlalu suka." Jawab Kelvin
Kelvin memang tidak terlalu suka dengan coklat. Ia tidak suka dengan makanan yang terlalu manis.
Apalagi saat melihat Aqila memakan coklat tersebut dengan rakus layaknya anak kecil yang takut makanannya direbut orang lain. Lalu mana mungkin Kelvin menerima tawaran Aqila untuk ikut makan coklat tersebut.
"kenapa kak kok gak suka?" Tanya Aqila lagi
"terlalu manis." Jawab Kelvin
"pasti hidup kakak udah terlalu manis ya, sampe gak suka lagi sama yang manis-manis." Ucap Aqila
DEG
Hidupnya manis? Bahkan Kelvin saja sudah lupa apa arti bahagia. Lalu manis dari mananya? pikir Kelvin.
"hemm." Akhirnya Kelvin hanya menjawab ucapan Aqila dengan deheman. Jujur ia bingung hendak mengatakan apa.
"pantesan aja Aqila yang manisnya kayak gini dianggurin terus." Ucap Aqila yang membuat Kelvin membulatkan kedua matanya.
"hahaha bercanda kak, tegang amat tuh muka." Ucap Aqila lagi yang membuat Kelvin memggeram kesal.
"jadi sekarang udah berani sama gue nih?" Tanya Kelvin sambil menatap Aqila.
"be-beranilah, ngapain juga takut." Jawab Aqila tanpa memandang wajah Kelvin.
"mau natap gue aja gak berani, sok-sokan lagi." Cibir Kelvin
"iiih kak Kelvin jangan nyebelin dong." Ucap Aqila sambil merajuk.
Kelvinpun hanya bisa tertawa melihat eskpresi lucu Aqila. Ia benar-benar tidak menyangka jika gadis di sampingnya itu memiliki wajah yang begitu imut.
"iiih malah ketawa." Aqilapun tambah merajuk melihat Kelvin malah tertawa terbahak-bahak melihat dirinya.
Aqila yang merasa kesalpun langsung melahap habis coklatnya. Ia memakan sisa coklat di tangannya dengan begitu rakus, khas orang yang sedang marah.
Setelah coklatnya benar-benar habis, Aqila langsung melipat-lipat bungkus coklatnya kemudiaj melemparkannya ke tempat sampah yang berada di samping pintu.
"yash, masuk." Ucap Aqila saat bungkus coklatnya masuk dengan sempurna ke dalam tempat sampah.
Sedangkan Kelvin yang menatap Aqilapun kini terfokus pada coklat-coklat yang tersisa di bibir dan pipi Aqila.
Kelvin menggelengkan kepalanya melihat cara makan Aqila, bagaimana bisa gadis SMA itu memakan coklat layaknya anak balita hingga membuat bibirnya sendiri belepotan.
Jari jemari Kelvinpun tergerak untuk membersihkan sisa coklat di bibir Aqila.
Aqila yang kaget dengan perlakuan Kelvinpun berusaha untuk menghindar, namun teftahan oleh perkataan Kelvin.
"biar gue bersihin sebentar, elo makannya kayak anak kecil sih. Jadinya belepotan gini." Ucap kelvin
Aqilapun memilih diam, membiarkan jari Kelvin bergerak di bibir Aqila. Jujur, jantung Aqila kini sedang berdetak dengan cepat, bersamaan dengan rasa gugup yang Aqila rasakan.
"nah, udah bersih sekarang." Ucap Kelvin sambil menarik kembali tangannya.
"sama-sama." Jawab Kelvin sambil menampilkan senyuk tulusnya.
Jantung Aqila kembali berdetak dengan cepat saat melihat Kelvin tersenyum seperti ini.
Sungguh, sejak pertama kali mengenal pria itu, baru Aqila melihat Kelvin menampilkan senyum manis untuknya. Hingga membuat ketampanan Kelvin begitu lengkap saat dipadu dengan senyum manis tersebut.
Saat mereka saling memandang, tiba-tiba pintu Aqila diketuk dari luar. Aqilapun merasa panik seketika.
Bagaimana jika yang mengetuk pintu mama atau papanya?
Bagaimana jika mereka tahu keberadaan Kelvin?
Pikir Aqila namun langsung lenyap bersamaan dengan suara orang dari luar.
"ini Bi Inah Non, mau nganter minum." Ucap orang yang mengetuk pintu kamar Aqila yang ternyata adalah Bi Inah.
"masuk aja bi." Ucap Aqila dengan perasaan lega.
"maaf ya Bibi baru bikinin minum. Soalnya badu tahu kalo Dwn Kelvin dateng." Ucap Bi Inah sambil menaruh nampan di atas nakas Aqila.
"gak papa kok Bi." Ucap Kelvin
"makasih ya Bi." Tambah Aqila
"iya Non, Den, kalo ada apa-apa nanti panggil Bi Inah aja ya." Ucap Bi Inah yang hendak berlalu dari kamar Aqila.
"iya bi," Jawab Aqila
"diminum kak." Ucap Aqila mempersilahakan Kelvin.
"iya Qil." Jawab Kelvin
"eh Qil, btw nyokap sama bokap lo ke mana?" tanya Kelvin tiba-tiba.
Pasalnya sedang Kelvin datang tadi, tidak ada tanda-tanda bahwa orang tua Aqila ada di rumah. Padahal Kelvin sudah di sini hampir dua jam. Terbukti dengan jam tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul 19.45. Padahal tadi Kelvin datang ke sini tepat pukul 18.00.
"kata Bi Inah mereka lagi ke luar kota kak." Jawab Aqila
"urusan bisnis?" Tebak Kelvin
"iya kayaknya kak." Jawab Aqila ragu.
"loh, kok kayaknya sih. Emang mereka gak ngabarin kamu?" Tanya Kelvin
"e-enggak kak." Jawab Aqila lirih.
Jujur, Kelvin merasa ada sesuatu hal yang Aqila sembunyikan. Bagaimana bisa orang tua Aqila pergi tanpa pamit terlebih dahulu pada anaknya. Padahal papa dan mama tiri Kelvin saja selalu pamit pada Kelvin kemanapun mereka pergi.
"lo baik-baik aja kan Qil? Ma-maksud gue lo gak punya masalahkan sama kedua orang tua lo?" Tanya Kelvin
"aku fine kak, seperti yang kakak lihat. Gak terjadi apa-apa di keluarga aku." Jawab Aqila meyakinkan Kelvin.
Sedangkan Kelvin hanya mengangguk mempercayai ucapam Aqila. Bahkan Kelvin tidak tahu, jika saat ini sorot mata Aqila tengah menunjukkan suatu kebohongan.
Ya, kebohongan yang tidak seorangpun boleh tahu. Kebohongan yang akan Aqila pendam sampai ia benar-benae merasa tidak kuat lagi.
"udah malem nih Qil, gue pulang ya." Pamit Kelvin ketika menyadari ternyata jam tangannya sudah menunjukkan angka 9 malam.
"iya kak hati-hati, dan makasih buat semuanya." Ucap Aqila dengan senyumnya yang mengembang.
"sama-sama, lo tidur gih biar cepet sembuh." Ucap Kelvin sambil mengusap pucuk kepala Aqila.
Aqilapun hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum melihat perlakuan Kelvin padanya.
Hari ini Kelvinnya benar-benar berubah. Kelvinnya benar-benar menjadi Kelvin yang Aqila harapkan.
Aqila memang tahu jika sebenarnya Kelvin itu sikapnya hangat, makanya dia bisa bertahan dengan hubungan ini, dan terus berharap agar Kelvin segera berubah.
Dan malam ini menjadi saksi bagaimana perubahan seorang Kelvin. Bagaimana Kelvin bersikap sangat hangat pada Aqila.
Setelah memastikan Kelvin keluar dari kamarnya. Aqilapun mengembangkan senyum bahagianya. Sebelum akhirnya Aqila harus kembali bergulat dengan pikirannya. Memikirkan pertanyaan yang tadi Kelvin lontarkan.
"lo baik-baik aja kan Qil? Ma-maksud gue lo gak punya masalahkan sama kedua orang tua lo?"
Ya, pertanyaan itulah yang sampai saat ini masih menghantui pikiran Aqila. Melayang-layang di sana seakan membuat luka yang Aqila jaga kembali terbuka.
"Aku emang sedang gak baik-baik aja kak. Tapi aku gak bisa cerita, karena aku gak mau orang-orang yang aku cinta harus terkena luka yang aku rasa," ucap Aqila dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambungđź’•
jangan lupa like and commentnya ya readers🤗