
Author Pov
"Aqila." Ucapnya lirih namun penuh amarah.
Iapun memilih untuk mengurungkan niatnya untuk makan kemudian berjalan meninggalkan kantin menuju rooftop sekolahnya.
"Vin." Teriak Sean memanggil Kelvin yang berbalik arah begitu saja.
"gue laper woey." Tambah Radit yang tak kalah teriaknya.
"aelah, tu anak bisa cemburu juga." cerocos Raka
"udah kuy kejar." Ucap Sean lagi
Merekapun ikut meninggalkan kantin, dan memilih untuk mengejar Kelvin. Bagaimanapun mereka adalah seorang sahabat. Masa iya yang satu galau yang tiga makan? Kan tidak setia kawan namanya.
Ya, seseorang yang melihat Aqila dan Gavrin tadi adalah Kelvin. Seseorang yang marah ketika Aqilanya disentuh oleh orang lain tadi adalah Kelvin. Seseorang yang mengepalkan tangannya penuh emosi melihat perhatian yang Gavrin berikan pada Aqila tadi adalah Kelvin.
Dia adalah Kelvin, Kenandra Kelvin Aditama. Seorang yang menyandang gelar most wanted, ketua osis, serta ketua tim basket yang kini telah berstatus sebagai kekasih Aqila.
Perhatian pengunjung kantinpun sontak teralihkan pada kegaduhan yang dibuat ketiga sahabat Kelvin tadi.
Sama halnya dengan Aqila, Sindi, dan juga Syila yang juga ikut mengubah arah pandangnya ke sumber suara. Gavrinpun juga ikut menatap ke arah kegaduhan yang tadi terjadi.
"kelvin." Ucap Aqila saat melihat Kelvin sudah berjalan jauh meninggalkan kantin.
"apa Kelvin marah karena ngeliat gue sama kak Gavrin?" Pikir Aqila dalam hati.
Biarlah kali ini Aqila terlalu percaya diri dengan mengira Kelvin marah karena dirinya. Tapi Aqila benar-benar tidak bisa diam saat melihat Kelvin pergi dengan kedua tangan yang terkepal.
Tanpa berpikir lebih panjang lagi, Aqilapun segera berdiri dari duduknya kemudian berniat menyusul Kelvin
"eh Qil lo mau ke mana?" Tanya Sindi yang sama sekali tak digubris oleh Aqila.
"eh Qil kita ikut." Ucap Syila lalu bergegas menyusul Aqila bersama Sindi.
"kak, kita duluan ya, mau nyusul Aqila. Makasih buat traktirannya." Ucap Syila buru-buru, kemudian langsung berlari begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Gavrin.
"i-iya sama-sama." Ucap Gavrin yang masih belum bisa mencerna kejadian yang baru saja dilihatnya tersebut.
Ada hubungan apa antara Kelvin dan Aqila
Kenapa Aqila sepertinya terlihat sangat khawatir
Dan kenapa Kelvin tiba-tiba berlalu dari kantin begitu saja
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang kini terus terngiang di kepala Gavren. Berkeliaran di sana tanpa tahu kepada siapa Gavrin akan menemukan jawabnya.
.
Sean, Raka, Radit, Aqila, Sindi, dan Syilapun kini bersama-sama mengejar Kelvin yang terus berjalan menuju rooftop tanpa menggubris panggilan dari mereka.
Kelvin sudah masuk lebih dulu ke dalam rooftop. Meninggalkan teman-temannya yang sejak tadi terus berteriak memanggil namanya.
Kelvin mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang memang sudah ada di sana. Ia menatap langit yang menampilkan senyum cerahnya, sangat berbanding terbalik dengan keadaan Kelvin saat ini.
Apa gue cemburu?
Kenapa gue marah saat liat Aqila deket sama cowok lain
Kenapa rasanya nggak rela saat ada orang lain yang nyentuh Aqila
"aarrghhh, gue kenapa lagi sih?" Geram Kelvin pada dirinya sendiri.
"ini cuma misi Vin, ini cuma sebuah rencana. Inget! ini hanya rencana. Lo gak boleh jatuh cinta sama Aqila, lo gak boleh bawa hati di permainan ini." Ucap Kelvin pada dirinya sendiri.
Sedangkan segerombolan orang yang membuntuti Kelvin tadi juga ikut menaiki tangga menuju rooftop. Namun sesampainya di depan pintu, Sean tiba-tiba menghentikan langkahnya yang membuat orang-orang di belakangnya kebingungan.
"lo ngapain berhenti ha?" tanya Raka kesal
"lah iya, kasih aba-aba kek." ucap Radit
"gini-gini, gimana kalo yang masuk cukup Aqila, dan kita nunggu di sini aja." Ucap Sean yang membuat kedua sahabatnya kebingungan.
Tak hanya kedua sahabatnya, Aqilapun juga ikut kebingungan atas pernyataan Sean tersebut.
"loh kok aku kak?" tanya Aqila
"karena ini semua gara-gara lo, jadi lo aja yang bujuk Kelvin supaya moodnya balik lagi." Jelas Sean
"lah guekan juga pengen ngehibur Kelvin." ucap Raka
"lo itu buaya tapi gak peka-peka. Inikan kisah asmara mereka, jadi biarin diselesaikan berdua. Kita gak usah repot-repot ikut." Jelas Sean lagi
"gue setuju kak, biarin merek bicara berdua." Ucap Sindi
"kalo dedek gemes gue udah setuju, gue juga setuju deh." Ucap Raka lagi
"udah Qil lo masuk aja." Ucap Sean lagi
"iya Qil, kita nunggu di sini kok." Tambah Syila meyakinkan Aqila.
"em, iya deh. Aku masuk dulu ya." Ucap Aqila kemudian meraih knop pintu dan membukanya.
Aqila kini sudah masuk ke dalam rooftop. Bahkan ia sudah berdiri di belakang Kelvin. Namun sepertinya Kelvin sama sekali belum menyadari keberadaannya.
Baru berada di belakang Kelvin saja jantung Aqila sudah berdetak tak karuan, apalagi jika di hadapannya.
Setelah menimang-nimang dan berusaha menetralkan detak jantungnya. Dengan segenap keberanian yang ada Aqilapun meyakinkan dirinya untuk memanggil Kelvin.
"kak." Ucap Aqila
Hening, tidak ada jawaban sama sekali, bahkan tidak membuat Kelvin menoleh ke arahnya.
"kak." Ucap Aqila sekali lagi yang membuat Kelvin kemudian memutar kepalanya ke belakang.
Saat mengetahui ternyata yang memanggilnya adalah Aqila, Kelvinpun kembali merubah pandangannya ke arah semula. Ia bahkan tidak menggubris keberadaan Aqila sama sekali.
"boleh aku ikut duduk?" tanya Aqila
Namun lagi-lagi hening, Aqila hanya bisa menghela nafasnya lalu memberanikan diri duduk di samping Kelvin.
Sedangkan Kelvin yang merasakan tempat duduknya bergerak, segera menolehkan pandangannya dan ternyata sudah ada Aqila yang duduk di sampingnya.
"kakak kenapa?" tanya Aqila
Seperti biasa, lagi-lagi hening tidak ada jawaban dari Kelvin.
"kakak tahu, matahari di sana sedang mempersembahkan cahaya terbaiknya untuk kita, lalu kenapa kita malah menunjukkan kesedihan padanya?" Ucap Aqila yang membuat Kelvin menatapnya.
"kakak tahu, jika aku bisa, aku ingin menjadi matahari untuk kakak, yang bisa membuat sikap dingin kakak menjadi hangat. Bukankah matahari bisa mencairkan dinginnya es?" Ucap Aqila lagi yang berhasil membuat lengkungan di bibir Kelvin.
Namun seperti biasa, lengkungan itu segera berakhir saat sang empu sadar akan perbuatannya.
"kakak nggak sendiri, ada Aqila di sini. Kalo ada apa-apa kakak bisa cerita ke Aqila. Dan kalo Aqila ada salah, Aqila minta maaf kak." Ucap Aqila lagi kemudian dia menundukkan wajahnya saat mengucapkan kata maaf.
Entah ada angin darimana, tiba-tiba tangan Kelvin memegang wajah Aqila dan mendongakkannya, sehingga membuat mereka beradu pandang.
Lagi-lagi, tidak ada sepatah katapun yang diucapkan Kelvin. Namun sinar matanya mampu menunjukkan sebuah makna yang Aqila tak tahu kebenarannya.
Kelvin melepaskan tangannya yang menempel di pipi Aqila. Kemudian berdiri dari duduknya dan bergegas pergi dari tempat itu.
Tanpa sepatah katapun. Ingat! Tanpa sepatah katapun Kelvin meninggalkan Aqila.
Sedangkan Aqila? Jangan lagi ditanya, bahkan buliran bening sudah menetes di pipinya.
Kenapa semua yang ia lakukan untuk Kelvin seakan sia-sia?
Kenapa ia tidak pernah benar di mata Kelvin?
Aqila tidak tahu, Aqila tidak tahu kenapa Kelvin bersikap sangat dingin padanya. Aqila tidak tahu kenapa Kelvin selalu mengacuhkan keberadaannya.
Sakit
Iya, itulah yang dirasakan Aqila saat semua pengorbanannya terasa tag berguna.
Menyerah?
Tentuk tidak, hatinya sudah terlalu jatuh untuk Kelvin. Ia tidak mungkin menyerah di usia hubungannya yang masih sebiji jagung.
Aqila akan berjuang lagi. Aqila yakin, suatu hari dirinya akan memenangkan hati Kelvin.
Aqila harus kuat, demi hubungannya, dan demi rasa cintanya pada Kelvin.
.
.
.
.
.
.
hello readers happy reading ya💕
jangan lupa kasih likenya ya, budayakan kasih komentar juga biar authornya tambah semangat.🤗
Jangan cuma membaca lalu pergi gitu aja tanpa meninggalkan jejak, kan authornya jadi sedih:(( hehe