AQILA

AQILA
37. Suapan Kedua



~~Jika cinta hanya tentang mencari yang sempurna? Lantas untuk apa hadir kata 'menerima apa adanya'?


(Aqila Anggara)


~


~


~


Author Pov


Gavrin, Sindi, dan Syila kini sudah berada di ruang rawat Aqila. Gavrin duduk tepat di sebelah kanan ranjang Aqila, sedangkan Sindi dan Syila memilih duduk di sofa dan membiarkan Gavrin yang menjaga Aqila.


Saat Gavrin ingim beranjak dari duduknya, tiba-tiba beberapa jari Aqila mulai bergerak. Gavrinpun senangnya bukan main. Ia segera menggenggam tangan Aqila seakan menyalurkan kekuatan agar Aqila segera membuka matanya.


Tak selang lama, kelopak mata Aqila mulai terbuka. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya di ruangan tersebut.


"Lala udah sadar." Ucap Gavrin kepada Aqila yang membuat Sindi dan Syila langsung berlari ke arah ranjang Aqila.


"Qil lo gak papakan, apa ada yang masih sakit?" Tanya Sindi


"Qil, apanya yang masih sakit bilang ke kita!" tambah Syila


Sedangkan Aqila hanya tersenyum kepada mereka sambil menggelengkan kepalanya.


"gue gak papa." Ucap Aqila pelan.


"kalo belum kuat gak udah dipaksain ngomong, kalian sih pakek tanya-tanya segala." Ucap Gavrin posesif.


"ih kak Gavrin, kitakan juga khawatir sama Aqila." Timpal Sindi


"lah iya, emang kakak doang yang dari tadi cuma marah-marah aja gara-gara takut Aqila kenapa-papa." Cibir Syila yang berhasil membuat Aqila sedikit tertawa.


"si-siapa bilang." bantah Gavrin


"hahaha gak usah gugup gitu kali kak, kalo khawatir mah tinggal bilang khawatir aja. Ya gak Qil?" Ucap Sindi sedangkan Aqila enggan menanggapi.


"owh ya, kita belum kabarin orang tua elo Qil." Ucap Syila tiba-tiba.


"eum, jangan kasih tahu mereka ya." Pinta Aqila


"tapi Qil---"


"pleasee." Ucapan Sindi langsung terpotong oleh permohonan Aqila. Merekapun akhirnya mengangguk setuju.


"gue mau ke kantin dulu, kalian mau nitip apa?" Tanya Gavrin pada Sindi dan Syila.


"apa aja deh kak yang penting bikin kenyang. Kita belum makan dari tadi soalnya." Jawab Sindi


"okelah." Jawab Gavrin


"kalo Lala ada yang mau dipesen gak?" Tanya Gavrin dengan nada yang sangat-sangat lembut.


"kalo sama Aqila mah beda, halus bener bicaranya." Ucap Sindi saat Aqila bahkan belum sempat menjawab.


Lagi-lagi mereka hanya tertawa kecuali Gavrin tentunya.


"aku gak usah kak." Jawab Aqila


"ya udah kalo gitu, aku tinggal dulu ya." Ucap Gavrin smabil mengacak rambut Aqila.


"iih Kak Gavrin." rajuk Aqila namun tak dihiraukan Gavrin yang kini sudah keluar dari ruangan tersebut.


"eh Qil, ngomong-ngomong kak Gavrin perhatian banget ya sama elo." Ucap Sindi selepas kepergian Gavrin.


"iya loh Qil, Kak Kelvin aja gak ada apa-apanya kalo dibandingin Kak Gavrin." tambah Syila


"kalian ini apaan sih." Timpal Aqila yang sepertinya tidak terlalu suka dengan pembicaraan itu.


"kalo gue jadi elo, gue pasti pilih Kak Gavrin Qil." Ucap Sindi lagi


"iya Qil, dia tuh udah cakep, baik banget lagi. Jarang-jarang deh ada orang kayak dia." Tambah Syila


"kalo Kak Kelvin mah orangnya terlalu sombong, elo tau sendirikan Qil, gimana cara Kak Kelvin memperlakukan elo. Itu udah jauh banget dari norma-norma asmara." Ucap Syila mendramatis


"aelah bocah, bisa-bisanya lo ngebucin pas lagi serius kayak gini." Cibir Sindi pada Syila


"lah, bukannya ini emang masalah percintaan?" Tanya Syila sok polos.


"ya iya sih, tapi gak lebay gitu juga kalik." Jawab Sindi


"iya iya, judes amat sih jadi orang." gerutu Syila


"udah ah, kalian tuh berantem mulu, ini di rumah sakit tauk." Akhirnya Aqilapun angkat bicara saat kedua sahabatnya terus saja berdebat.


"iya iyaa diem." Jawab Sindi dan Syila barengan.


"eh Qil, emang lo gak ada rasa sama Kak Gavri?" Tanya Syila yany sepertinya masih fokua dengan topik yang dibahasnya tadi.


"astagah Syil, lo tuh masih sempet-sempetnya nanya. Ya jelas Aqila sukalah, iya kan Qil?" Ucap Sindi yang justru menggoda Aqila.


"tauk ah, kalian mah sama aja." Ucap Aqila sambil mengerucutkan bibirnya.


"tapi gue lebih dukung elo sama Kak Gavrin Qil, dia lebih bisa menghargai elo." Ucap Sindi


"gue juga Qil, gue setuju 100% kalo lo sama Kak Gavrin, karena dia itu jauh lebih baik dari Kak Kelvin." Tambah Syila


"jika cinta hanya tentang mencari yang sempurna? lantas untuk apa hadir kata 'menerima apa adanya'?" Tanya Aqila pada kedua sahabatnya.


Sindi dan Syilapun terpengangah akan ucapan Aqila. Bagaimana bisa sahabatnya yang satu itu berkata sebijak itu?


"tumben lo bijak?" Tanya Sindi


"udah bosen ngebucin terus soalnya." Jawab Aqila yang membuat mereka semua tertawa.


.


"ini ditaruh mana tuan?" Tanya salah satu pelayan itu pada Gavrin.


"kamu taruh di meja dekat sofa aja, Ini ada sedikit tip dari saya. Terimakasih." Ucap Gavrin sambil memberikan dua lembar uang seratus ribuan pada pelayan tersebut.


"terimakasih kembali tuan." Kedua pelayan itupun segera keluar dari ruang rawat Aqila.


"nih, gue cuma pesen nasi goreng sama ayam bakar." Ucap Gavrin pada kedua sahabat Aqila.


"okee kak, kuy Sin makan dulu. Caciny gue udah meronta-ronta dari tadi." Ucap Syila dengan penuh semangat.


"dasar gak punya malu." Cibir Sindi pada Syila.


"Qil, kita makan dulu ya. Hehe." Ucap Syila yang hanya diangguki oleh Aqila.


Mereka berduapun menuju ke sofa dan segera memakan makanan yang sudah dibelikan Gavrin tersebut.


"kak Gavrin sendiri gak makan?" Tanya Sindi saat melihat Gavrin belum juga menyentuk makanannya.


"gue nanti, nunggu Aqila mau makan juga." Ucap Gavrin yang membuat Aqila terkejut.


"kok aku kak?" Tanya Aqila.


"iya, kalo kamu mau makan, aku juga ikut makan." Jawab Gavrin


Sedangkan Aqila hanya memutar bola matanya malas, ini adalah salah satu trik Gavrin untuk membuat Aqila makan.


"ya udah deh kak, Aqila makan. Tapi dikit aja ya." Ucap Aqila setelah berpikir panjang.


"naaah gitu dong, kan tambah cantik." Ucap Gavrin


Sindi dan Syilapun hanya geleng-geleng kepala melihat aksi kedua orang yang bahkan sudah mirip dengan orang pacaran.


Gavrinpun berjalan menuju sofa yang ditempati Syila dan Sindi. Ia mengambil seporsi nasi goreng serta semangkuk bubur yang sepertinya mrmang sudah ia siapkan untuk Aqila.


"aku suapi ya." Ucap Gavrin


"aku bisa sendiri kok kak." Tolak Aqila


"gak ada penolakan, sini." Gavrinpun membantu Aqila untuk duduk.


Ia kemudian menyuapkan sendok demi sendok bubur ke mulut Aqila.


Ya, ini adalah kali kedua Gavrin menyuapi Aqila. Sepertinya laki-laki itu benar-benar tidak mengizinkan Aqila mengotori tangannya untuk sekedar makan.


"Aaaaaa." Ucap Gavrin


"Aqila udah kenyang kak, udah banyak tadi makannya." tolak Aqila


"ayolah, dikit lagi." Bujuk Gavrin


"nggak mau." Tolak Aqila sambil memegang mulutnya dengan tangan.


Gavrin yang isengpun malah mendaratkan sendok bubur tersebut ke pipi Aqila. Membuat sang empu membulatkan matanya.


"KAKA GAVRIIIN," Teriak Aqila saat pipi kanannya sudah dipenuhi oleh bubur.


"lucu tauk kayak anak kecil." Ucap Gavrin sambil terkekeh.


Sedangkan Aqila masih menampilkan muka marah, seakan mengibarkan bendera perang pada Gavrin.


"sini sini aku bantu." Ucap Gavrin kemudian mengelap pipi Aqila dengan tangannya.


Tangan lembut Gavrin yang mendarat di pipi kanannya membuat Aqila menolehkan pandang ke arah Gavrin.


Lagi-lagi mereka saling pandang, bertegur sapa lewat tatap mata. Kemudian saling tersenyum seakan ada siratan di setiap senyum yang mereka ciptakan.


EHEEM EHEEM


Dehem Sindi dan Syila yang merusak suasana romantis tersebut.


"yang jomblo mah apa atuh." cerocos Sindi


"serasa jadi obat nyamuk gua." Tambah Syila


"tau tempat dong, masih ada orang nih." Ucap Sindi lagi


Sedangkan Aqila dan Gavrin langsung saling pandang saat mendengar ucapan Sindi dan Syila.


Sedetik


Dua detik


Tiga detik


Dan---


AHAHAHAHHA


Gavrin dan Aqilapun tertawa terbahak-bahak meliat ekspresi Sindi dan Syila yang begitu serius. Sedangkan Sindi dan Syila hanya mengerucutkan bibirnya sebagai tanda marah.


.


.


.


.


.


berambungđź’•