
Author Pov
Setelah kepergian Aqila, Kelvinpun segera membuka kotal bekal yang diberikan Aqila padanya.
Terlihat telur mata sapi setengah matang yang menjadi topping nasi goreng tersebut. Tampilannya sangat cantik, secantik yang membuat.
"ada angin apa lo mau nerima bekal Aqila?" Tanya Raka, sedangkan Kelvin hanya mengedikkan bahunya acuh.
"tumben banget elo bro, biasanya juga nyuruh gur buat nerima, hahaha." Ucap Radit yang langsung membuat mereka semua tertawa kecuali Kelvin.
"trus yang balikin kotak bekalnya kalo udah kosong gue." Tambah Sean yang membuat mereka bertiga semakin keras tertawa.
"udah ketawanya?" Tanya Kelvin yang membuat ketiga sahabatnya terdiam.
"gue cuma takut lo lada keselek." Ucap Kelvin lagi.
Setelah memastikan ketiga sahabatnya benar-benar diam, Kelvinpun segera melancarkan aksinya untuk memakan bekal yang Aqila berikan.
Kelvin melahap bekal tersebut dengan sangat rakus. Bahkan ia tidak memberi izin mulutnya untuk istirahat sampai bekal itu benar-benar habis. Kini bekal itu sudah kosong tak ada sisa dalam waktu kurang dari 5 menit.
"wah gila, udah kayak gak makan 7 hari 7 malam." Ucap Sean.
"diem kalian." Ucap Kelvin yang malah membuat ketiga sahabatnya tertawa.
"lo tuh gak usah malu-malu, masakan Aqila emang enak kok." Sindir Radit.
"iya Vin, kita tahu kok kalo masakan Aqila enak banget, jadi gak heran kalo ngabisinnya secepet itu." Tambah Raka.
"btw, tadi malem lo kemana Vin?" Tanya Radit yang membuat badan Kelvin seketika menegang.
"gu-gue ke kantor papa." Ucap Kelvin mengelak.
"sejak kapan lo peduli sama kantor bokap lo?" Tanya Raka
"sial, gue salah cari alasan," Ucap Kelvin dalam hati.
"gu-gue beneran kok." Jawab Kelvin dengan cepat.
"tapi kenapa bokap lo gak tahu lo ada di mana?" Tanya Sean ganti
"gu-gue---"
"jujur aja kalik Vin. Kayak ama siapa aja." Ucap Radit saat menyadari Kelvin sedang mencari alasan.
"gue ke cafe kok, kalian aja yang gak ada." Jawab Kelvin yang membuat ketiga sahabatnya saling pandang kemudian lagi-lagi mereka tertawa.
"lo tuh sadis, tapi gak pandai bohong." Ucap Raka
"lo tau gak? Kita tadi malem nungguin lo di cafe tapi lo gak dateng. Gue telpon hp lo juga gak bisa, akhirnya gue telpon tante Claras, dan dia bilang dia gak tahu lo ke mana. Katanya lo keluar sejak kita pulang." Ucap Sean panjang lebar.
"gue ke rumah Aqila." Ucap Kelvin pasrah
"hahaha, ngapain gak jujur dari tadi." Ledek Radit
"lah iya, berbelit-belit amat hidup lo." Tambah Raka
"jadi gimana nih? Udah peka belum soal perasaannya?" Tanya Sean
"gue gak tau." Jawab Kelvin
"aelah bambang, udah keciduk tetep gak mau ngaku." Cibir Raka
"gue bener-bener gak tau." Ucap Kelvin membela diri.
"lo itu bukannya gak tahu, tapi gak peka sama perasaan lo sendiri." Ucap Radit
"udah deh mending lo lupain misi gak penting lo itu, dan segera mennyadari perasaan elo ke Aqila." Ucap Sean
"nah, gue setuju dan sepemikiran sama Sean." Timpal Radit
"kita cuma gak mau lo nyesel nantinya Vin." Ucap Raka lagi
"tau ah, itu mulu yang dibahas." Ucap Kelvin yang kemudian berlalu meninggalkan ketiga sahabatnya.
"lo lebih baik lupain misi gak penting lo dan harus buka hati buat Aqila, lupain seluruh masa lalu elo demi masa depan elo Vin." Teriak Raka yang masih bisa didengar oleh Kelvin.
"dasar keras kepala." Ucap Raka yang disetujui oleh Radit dan Sean.
.
.
.
Sedangkan di sisi lain, Aqila baru sampai di kelasnya.
"aelah pagi-pagi udah senyum-senyum bae." Ucap Sindi saat melihat Aqila yang baru sampai di kelas, dan tidak lepas dari senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
"cie yang udah sembuh, senyum terus pantang mundur." Tambah Syila
"aelah ogeb, gak nyambung kalik." Timpal Sindi
"iya iya, gitu amat." Ucap Syila
"eh, jadi kira-kira karena Kak Kelvin apa karena Kak Gavrin nih, sampe-sampe senyumnya gak luntur-luntur gitu?" Tanya Syila dengan tatapan menggodanya.
"ya pasti sama Kak Gavrinlah, Kak Kelvin mana pernah bikin Aqila senyum. Ya gak Qil?" Ucap Sindi sambil menaok turunkan alisnya.
"lah, lagian lo tuh jalan dari pintu sampe sini senyum mulu. Kenapa sih?" Tanya Sindi lagi
"tebak dong." Tantang Aqila
"menang taruhan."
"menangin tender di perusahaan bokap lo."
"habis kencan sama Kak Gavrin."
"dijemput sama Kak Gavrin."
"ma---."
"udah cukup, suara lo sampe kayak toa tau gak." Ucap Aqila menghentikan aksi cerewet kedua sahabatnya.
"lah, tadikan lo suruh kita nebak." Ucap Syila membela diri.
"iya sih, tapi gak gitu juga kalik." Timpal Aqila
"emang elo lagi kenapa sih? Sampe senyum-senyum terus dari tadi." Tanya Sindi lagi.
"lo tau nggak----"
"NGGAAAK" Jawab Syila dan Sindi kompak yang spontan memotong ucapan Aqila.
"ishh. Jadi tadi tuh---"
"apa cepetan." Ucap Syila yang memotong ucapan Aqila lagi.
"lah, gimna gue mau jawab kalo lo ngomong terus ogeb." Ucap Aqila emosi.
"iya iya maaf tuan putri." Ucap Syila dengan nada yang dibuat-buat.
"jadi gue tadi tuh ngasi bekal ke Kak Kelvin, terus---"
"dibuang lagi?" Tanya Sindi dengan cepat yang langsung memotong ucapan Aqila.
"serah lo serah. Males gue." Ucap Aqila yang langsung memalingkan pandangan dari Sindi dan Syila.
"sorry sorry, gue kepo banget soalnya." Ucap Sindi lagi
"makanya dengerin!" Ucap Aqila dengan nada tinggi.
"iya iya, emangnya apa sih?" Tanya Sindi sangat penasaran.
"Kak Kelvin nerima bekal dari gue, dia juga bilang makasih." Jelas Aqila yang membuat kedua sahabatnya membelalakkan mata.
"lo seriusan?" Tanya Sindi
"lo gak lagi halu kan?" Tanya Syila
"sini-sini gue liat dulu." Ucap Sindi yang langsung memegang dahi Aqila.
"gak panas kok." Ucap Sindi saat suhu di dahi Aqila terasa normal.
"lo pikir gue tukang halu apa." Ucap Aqila
"tapi kok bisa kak Kelvin nerima bekal lo? Biasanya juga dibuang." Tanya Syila
"ya mana gue tahu." Jawab Aqila acuh.
"tadi malem aja dia juga jenguk gue kok." Tambah Aqila.
"hah siapa?" Tanya Sindi kaget
"Kak Kelvin." Jawab Aqila santai.
"lo serius Qil?" Tanya Syila.
"iya ya ampun," Jawab Aqila jengkel.
Saat mereka hendak melanjutkan perbincangan, tiba-tiba bel masuk sudah berbunyi dan membuat mereka dengan terpaksa mengakhiri pembicaraannya.
"bel masuk mah kagak peka, kitakan lagi seru." Gerutu Syila.
"iya nih, gak tau apa kita lagi kepo-keponya." Tambah Sindi.
"udahlah gak usah lebay gitu." Cibir Aqila pada kedua sahabatnya.
Merekapun segera mengambil buku pelajaran dari dalam tasnya, kemudian menaruhnya di atas meja sambil menunggu gurunya datang.
.
.
.
.
.
bersambung💕
jangan lupa like dan komen readers😊