AQILA

AQILA
45. Teman Lama



~~Kita pernah sedekat langit dan bulan, sebelum semuanya tersisih perlahan oleh ingatan.


Gavrin Arega Alexander


~


~


~


Author Pov


Setelah mendapat penolakan dari Aqila saat pulang sekolah tadi, Gavrinpun memilih untuk langsung pulang ke rumah.


Gavrin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Biar bagaimanapun pikirannya sedang tidak bisa berkonsentrasi saat ini.


Jadi daripada membahayakan dirinya dan orang lain, Gavrin memilih untuk menjalankan mobilnya sedikit pelan.


Saat di tengah perjalanan, Gavrin melihat ada penjual martabak. Gavrin yang ingat dengan makanan kesukaan bundanya itupun memilih untuk menepikan mobilnya di bahu jalan.


Namun karena ramainya kendaraan yang berlalu lalang, Gavrin yang kesulitan mendapatkan tempat parkirpun memilih untuk putar balik ke arah martabak tadi.


Sesampainya di depan penjual martabak, Gavrinpun segera turun dan memesan beberapa porsi martabak.


Saat sedang duduk mengantri, tiba-tiba ada seorang gadis cantik yang juga hendak membeli martabak.


Gadis cantik itu kemudian ikut duduk di sebelah Gavrin. Gavrin yang melihat wajah gadis itu langsung mengernyitkan dahinya, sepertinya wajah itu tak asing lagi bagi Gavrin.


Gavrin mencoba mengingat-ingat siapa nama gadis yang tak asing lagi untuknya itu. Ia terdiam cukup lama dengan pikiran yang sibuk mengingat masa kecilnya. Sampai akhirnya Gavrin benar-benar ingat siapa nama gadis itu.


"Dela, elo Dela kan?" Ucap Gavrin kepada gadia yang duduk di sampingnya itu.


Sang gadis yang merasa namanya dipanggilpun segera menolehkan kepalanya pada sang empu, dia mengernyitkan dahinya merasa tak mengenali pria yang duduk di sampingnya itu.


"lo beneran Dela kan?" Tanya Gavrin memastikan.


"i-iya, Anda siapa?" Tanya Dela dengan formal.


"lo gak inget siapa gue?" Tanya Gavrin yang membuat Dela terdiam.


"Gue Gavrin Del, gue Gavrin temen lo dulu." Ucap Gavrin yang menyadari raut binging di wajah Dela.


"lo-elo beneran Gavrin?" Tanya Dela yang sangat terkejut saat mengetahui pria di sampingnya itu adalah Gavrin.


"iyaa, gue Gavrin Del. Astagah, lo gak inget sama gue?" Jawab Gavrin lagi.


"ini beneran elo Dav. Loe berubah banget sumpah." Ucap Dela dengan tatapan kagum pada Gavrin.


"ya gini, gue besar di London." Ucap Gavrin dengan nada sombong.


"issh sombong amat, btw yang bawa lo waktu itu orang tua kandung lo ya?" Tanya Dela


Pertanyaan Dela tersebut membuat Gavrin kembali mengingat masa lalunya. Membuat Gavrin kembali teringat akan dunianya waktu itu.


Saat itu, saat Gavrin enggan untuk dibawa oleh seseorang yang mengaku sebagai orang tua kandungnya. Saat Gavrin menangis memohon karena dia tidak ingin meninggalkan Lalanya.


"Gav?" Ucap Dela lagi hingga membuat Gavrin tersadar dari lamunannya.


"eh iya apa tadi?" Tanya Gavrin sedikit terkejut.


"gak jadi deh. Lo sekolah di mana?" Tanya Dela saat menyadari bahwa Gavrin masih menggunakan seragam sekolahnya.


"gue di SMA Xailucry, lo sendiri?" Jawab Gavrin


"wah seriusan lo di sana?" Tanya Dela lagi.


"iya Del, gak percaya amat sih." Jawab Gavrin


"berati kita bakalan satu sekolahan dong." Ucap Dela dengan antusias.


"maksud lo?" Tanya Gavrin yang tidak mengerti arah pembicaraan Dela.


"gue juga bakal sekolah di sana Gav." Ucap Dela lagi dengan mata yang berbinar.


Dela yang melihat Gavrin terdiampun segera kembali membuka suaranya.


"gue bakalan pindah ke SMA Xailucry Gav, karena orang tua gue mau menetap di Indonesia katanya." Jelas Dela


"lo beneran Del?" Tanya Gavrin memastikan


"iya Gav, kita bakal barengan lagi nanti. Gue kangen banget sama elo dan yang lainnya, di Singapura gue gak punya temen sebaik kalian." Jelas Dela


"ini dek, martabaknya udah jadi." Ucap penjual martabak itu, membuat percakapan mereka harus terhenti.


"makasih ya Pak, ini uangnya sekalian buat bayar punya cewek itu." Ucap Gavrin kepada penjual martabak sambil menunjuk ke arah Dela.


"iya dek, sebentar ya kembaliannya." Ucap penjual martabak tersebut sambil bergegas mencarikan kembalian uang Gavrin.


"gak usah Pak, buat bapak aja." Ucap Gavrin


"tapi masih lumayan banyak ini dek." Ucap penjual martabak tadi.


"Del, gue duluan ya. See you next time." Ucap Gavrin pada Dela.


"see you Gav." balas Dela


"owh ya punya lo udah gue bayar." Ucap Gavrin yang kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Sedangkan Dela kini masih tersenyum menatap kepergian Gavrin.


Sebenarnya Dela pindah bukan karena orang tuanya, tapi karena seseorang. Namun mengingat pertemuannya dengan Gavrin, sepertinya Dela akan merubah tujuannya pindah ke Indonesia.


Gavrin segera melajukan mobilnya menuju rumah. Di dalam mobil dirinya masih tidak menyangka jika bisa bertemu dengan Dela di tempat martabak tadi.


.


.


.


Sesampainya di rumah, Gavrin segera memasukkan mobilnya ke dalam garasi dan bergegas masuk ke rumah dengan 2 kantong martabak di tangannya.


"assalamu'alaikum bundaa." Teriak Gavrin memanggil sang bunda.


"walaikumsalam sayang, kebiasaan ih teriak-teriak mulu." Jawab sang Bunda yang datang dari arah dapur.


Bunda yang melihat Gavrin datang sendiripun segera mengedarkan pandangannya. Setelah merasa tidak ada siapa-siapa di dalam rumah selain mereka berdua, bundapun mencoba menengok ke pintu depan. Dan masih tetap sama, tidak ada siapa-siapa.


"kamu gak bawain pesenan bunda?" Tanya bunda pada Gavrin.


"ini Gavrin bawain bunda martabak malahan." Jawab Gavrin


"bukan itu, maksud bunda Aqila. Dia gak ke sini?" Tanya sang bunda.


Gavrin yang mendengar pertanyaan bundanya hanya bisa menghela napasnya.


Apa bundanya ini tidak tahu jika anak laki-lakinya ini sedang bad mood? Pikir Gavrin.


"Aqila gak bisa ke sini hari ini bunda, mungkin lain waktu." Jawab Gavrin


"loh lok gitu, jangan-jangan kamu nakalin dia ya sampe dia gak mau ke sini?" Tanya bunda curiga.


"astaga bunda, Aqila tuh bener-bener lagi ada urusan, makanya gak bisa ke sini." Jawab Gavrin


"ish, padahal bunda kangen banget sama dia." Ucap Bunda lesu.


"kapan-kapan Gavrin ajak ke sini kok bun, bunda tenang aja. Owh ya, ini ada martabak jangan lupa dimakan." Ucap Gavrin sambil menyerahkan kedua plastik martabak yang dipegangnya pada sang bunda.


Setelah bunda menerima martabaknya, Gavrinpun bergegas melangkah menuju kamarnya.


.


Gavrin Pov


Sesampainya di kamar, gue langsung rebahin badan gue ke kasur. Gak tau kenapa rasanya hari ini gue bener-bener lelah.


Gue mencoba memejamkan mata dan melupakan segala penat yang gue rasa.


Tapi rasanya semakin gue berusaha mejamin mata, semakin bayangan Aqila melintas di kepala gue.


Aqila pergi ke mana?


Ah, Aqila pasti lagi romantis-romantisan sama Kelvin.


Kelvin ngejagain Aqila nggak ya?


Trus mereka lagi apa sekarang?


Apa Aqila bahagia?


"arrghh," Ucapku menggeram saat bayangan Aqila terus terlintas di pikiran gue.


Kenapa Aqila gak inget sama gue, apa bener kalo gue udah berubah banget. Sampe-sampe banyak yang pangling sama gue.


Gavrinpun memilih untuk menatap langit-langut kamarnya, dia tersenyum kecil lalu bergumam,


"Kita pernah sedekat langit dan bulan, sebelum semuanya tersisih perlahan oleh ingatan." Gumam Gavrin


.


.


.


.


bersambung💕


jangan lupa like and comment readers😊