AQILA

AQILA
2. Teman Baru



Aqila pov


Aku terbangun dari tidur panjangku, mengerjap beberapa kali. Lalu menyadari bahwa waktu sudah tak lagi pagi. Akupun bergegas menuju kamar mandi untuk mrmbersihkan diri.


Hari ini hari Senin, dan aku harus melakukan daftar ulang ke sekolah baruku, SMA Xailucry.


SMA yang begitu terkenal dengan kemewahannya. SMA yang diyakini hanya milik orang-orang bertahta tinggi. Karena SMA ini tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang apalagi rakyat jelata.


Ah, sepertinya aku begitu berlebihan, namun itulah kenyataannya.


Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa masuk ke sekolah elit tersebut, yang jelas papaku memaksaku untuk masuk ke sekolah itu dengan alasan banyak rekan kerjanya yang juga menyekolahkan anaknya di sana.


Aku masih memakai seragam putih biruku, lalu sedikit memoles wajahku agar tidak terlihat pucat.


Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, yang artinya setengah jam lagi daftar ulang telah dimulai.


Aku langsung turun dari kamarku, kemudian mendapati papa dan mamaku yang masih duduk di meja makan.


Sepertinya adik perempuanku sudah berangkat terlebih dulu, karena nyatanya dia sudah tidak ada di meja makan.


Aku segera menghampiri orang tuaku untuk berpamitan, aku sudah tidak sempat sarapan karena sebentar lagi aku bisa terlambat.


"pah, mah, Qila berangkat dulu ya." Ucapku sambil menyalami keduanya.


Mereka hanya menjawab dengan anggukan, seakan enggan melontarkan kata meski hanya sekedar basa-basi semata.


Tanpa fikir panjang, akupun segera berlalu dan bergegas menuju gang depan rumah untuk berangkat menggunakan angkut. Saat sampai di depan gerbang aku ketemu Pak Joni-sopirku.


"non mau berangkat sekolah?" Tanyanya yang berada di pos satpam rumahku.


Sepertinya Pak Joni sedang mengobrol dengan pak satpam.


"iya ini pak." Jawabku debgan senyum ramah.


"mari saya antar non." Pak Joni sudah bergegas keluar dari pos satpam hendak mengantarku, namun aku segera menahannya.


"enggak usah pak, Qila mau naik angkuk aja."


"loh, beneran non? SMA Xailucry itu sekolahan elit loh non, nanti bisa-bisa non Qila diejek sama temen-temennya." Ucap Pak Joni dengan raut terkejut kemudian menampilkan wajah cemasnya.


"tenang aja pak, Qila juga udah biasa naik angkut kan? Ya udah ya pak, saya berangkat dulu, takut terlambat soalnya." Jawabku kemudian bergegas menuju gang depan rumahku.


"iya non, hati-hati ya." ucap Pak Joni.


Pak Joni merupakan sopir pribadiku semenjak aku duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. Mungkin itu sebabnya pak Joni sangat perhatian kepadaku.


Aku juga sudah menganggapnya seperti keluargaku sendiri. Jadi tak heran jika terkadang ia sangat mengkhawatirkanku.


Aku sedikit berlari menuju gang depan rumah, karena 5 menit lagi angkut pasti lewat. Aku memang sudah hafal dengan jam lewat angkut, bagaimana tidak? Semenjak aku kelas 2 SMP aku lebih memilih menggunakan kendaraan umum tersebut daripada harus menggunakan kendaraan pribadi. Selain menghemat ongkos dan bahan bakar, aku juga ikut mengurangi gas karbon monoksida.


Aku bukan orang yang suka foya-foya. Aku memilih hidup dengan sederhana, sehingga penampilanku tidak menampilkan bahwa aku anak dari orang kaya.


Dan benar, selang 5 menit angkut sudah berhenti di hadapanku. akupun segera memasuki kendaraan dengan warna khas, orange tersebut.


Ternyata lumayan penuh namun tidak apalah daripada harus berjalan kaki, pikirku dalam hati.


"sekolah di mana neng?" Tanya ibu-ibu yang kuyakini baru pulang dari pasar, karena ia membawa barang belanjaan yang lumayan banyak.


"di SMA Xailucry bu." Jawabku ramah dengan senyuman.


"wah, pasti anak orang kaya ya? Bisa sekolah di sana." Sahut ibu yang satunya, yang sepertinya juga teman ibu yang tadi.


"ah nggak juga bu." jawabku malu. Sungguh aku tidak suka ditanya seperti itu. Apasih gunanya harta? Nggak bisa dibawa mati juga.


"lha kok pilih naik angkut tho? Kan panas neng?"


"nggak papa bu, udah biasa kok." Aku masih menjawab dengan senyuman.


Lalu tanpa kusadari ternyata angkutku sudah berhenti di depan SMA Xailucry.


"mari bu, saya duluan." Ucapku sebelum turun dari angkut, kemudian menyerahkan selembar uang lima ribuan kepada sopir angkot.


Akupun segera memasuki gerbang SMA Xailucry. Megah, bahkan bisa dibilang gedungnya sangat megah.


Aku berjalan seorang diri dengan santai, namun sepertinya banyak pasang mata yang tertuju kepadaku, mereka sepertinya juga membicarakan perihal aku yang berangkat menggunakan angkut.


Namun aku sama sekali tidak peduli. Aku begitu saja berlalu dari hadapan mereka dan menuju ruangan yang akan digunakan untuk daftar ulang.


Sesampainya di sana aku duduk di salah satu bangku yang sudah ditempati oleh dua orang. Karena 1 bangku untuk 3 orang, aku memutuskan untuk menghampiri mereka.


"hay." sapaku dengan masih menampilkan senyum ramah.


"hay." mereka menjawab sapaanku dengan canggung.


"apakah di sini sudah ada yang menempati?" tanyaku sambil menunjuk bangku yang kosong.


"owh belum." jawab salah satu dari keduanya yang bekum kuketahui namanya.


"kalau begitu boleh saya duduk?"


"ah silahkan." jawab mereka dengan tersenyum.


"terimakasih. Oh ya nama kalian siapa?" akupun mengulurkan tanganku kepada salah satu dari mereka.


"aku Aqila, kalian bisa panggil aku Qila."


"aku Asyila Wijaya, kamu bisa panggil aku Syila." jawab salah satunya, kemudian aku kembali berkenalan dengan yang satunya lagi.


"Aqila, panggil aja Qila."


"aku Sindi Queenesya. Kamu bisa panggil aku Sindi." jawabnya dengan ramah.


"senang bertemu kalian. Semoga kita bisa berteman baik." ucapku kepada mereka yang dibalas anggukan oleh keduanya.


Author pov


3 jam sudah Aqila mengikuti program daftar ulang, meski terlihat sangat bosan, namun ia masih mampu menunjukkan wajah seriusnya.


Bukan apa-apa, Aqila hanya masih terbawa suasana liburan, jadi wajar jika ia sedikit merasa malas untuk kembali ke dunia sekolahnya apalagi sekolah barunya.


Tak terasa daftar ulang sudah selesai. Kemudian besok dilanjutkan dengan kegiatan MOS. Kegiatan yang pastinya sangat ditakuti oleh seluruh murid baru, karena terkenal dengan kekejamannya.


Sebelum pulang Aqila pergi ke kantin terlebih dahulu bersama kedua teman barunya tadi. Mereka makan sambil memperbincangkan banyak hal.


"eh, ngomong-ngomong kalian dari smp berapa?" tanya Aqila memecah keheningan.


"kita berdua dari SMP yang sama, SMP 21, lo sendiri?" jawab Sindi.


Aqila memang sudah hafal dengan nama keduanya, jadi tak lagi bingung membedakan. Mereka memang sedikit mirip, tapi senyum dan suaranya sangat berbeda.


"gue dari SMP Harapan." jawab Aqila


"wah, SMP lo juga sekolah mahal, pasti lo anak orang kaya ya?" ucap Syila yang kemudian diberi cubitan pada lengannya oleh Sindi.


"aww. Apaan sih Sin." Ucap Syila tak terima


"lo nih yang apa-apaan. Baru kenal aja udah nanyain yang macem-macem." kesal Sindi


"udah gak papa kok. Ya udah yuk lanjutin makannya." ucap Aqila melerai, kemudian segera menghabiskan semangkuk bakso yang sudah mulai dingin.


Merekapun segera menghabiskan makanannya, karena hari ini mereka berencana untuk membeli barang yang diperlukan untuk MOS bersama-sama.


"eh, kita nanti jadinya ke mana?" tanya Sindi setelah makan.


"gimana kalau ke mall aja?" ucap Syila dengan mata yang berbinar-binar, namun justru dihadiahi jitakan oleh Sindi.


"emang lo kira di mall ada caping? Ngotak dikit dong."


"Ya maaf kali, gue kan gak tau." Jawab Syila lesu


"hahaha, kalian ini lucu juga. Trus jadinya kita ke mana nih?" Aqila justru tertawa melihat perdebatan kecil sahabat barunya. "Pasti asyik punya teman seperti mereka" pikir Aqila dalam hati


"ya udah ke pasar aja. Kuy lah." Ajak Sindi


"gue gak bawa mobil, tadi dianterin sopir." jawab Syila


"gue juga gak bawa. Tadi cuma naik angkut." jawabku spontan, namun malah mengakibatkan tatapan aneh dari mereka.


"what!!! lo gak salah ke sekolah elit kayak gini naik angkut?" tanya Syila


"em, maaf. Kalau kalian gak mau temenan sama gue gak papa kok." ucap Aqila dengan kepala yang menunduk.


"eh sorry. Bukan gitu maksud gue." jawab Syila merasa bersalah


"gak papa Sin aku ikut?" tanyaku lagi


"sans aja kalik. Kaya sama siapa aja. Kuy lah masuk." Sindi membuka pintu mobilnya kemudian Aqila masuk bersama Syila.


"tega bener kalian duduk di belakang semua. Serasa sopir tau gak." Kesal Sindi


"emang lo udah cocok jadi sopir kalik, hahaha" jawab Syila yang membuat tawa kami pecah


"sialan." umpat Sindi


"eh, ini kita jadi ke pasar?" tanya Aqila


"jadi. Tapi gue belum pernah sekalipun ke pasar." ucap Sindi


"gue juga belum pernah." tambah Syila


"gue udah kok. Sans lah, gak nyeremin juga. Hahaha" ucap Aqila sambil tertawa. Aqila memang sudah pernah pergi ke pasar.


Terkadang saat Hari Minggu Aqila ikut membantu belanja Bi Inah-pembantu di rumahnya ke pasar.


Tak terasa Aqila dan teman-temannya sudah sampai di parkiran pasar. Mereka memilih salah satu pasar tradisional di kotanya, karena katanya ini pasar tradiaional yang paling bersih.


Aqila turun bersama Syila, sedangkan Sindi memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Setelah itu kami berjalan bersama menuju pasar.


"ya ampun, ini yang paling bersih ya. Trus yang kotor kayak gimana?"


"idihhh bauk bangettt."


"ini MOS mau bikin kita mati apa."


"baru beli bahan aja udah kayak gini, gimana MOSnya"


"pulang aja woy. Gag kuat gue."


"pengen pingsan."


Itulah teriakan-teriakan teman-teman Aqila hingga mengundang perhatian penghuni pasar.


"eh, kita diliatin tuh. Kalo kalian gak betah biar gue aja yang masuk." ucap Aqila menawarkan


"ah gak papa. Sekali-kali Qil. Hehe." itulah jawaban yang Sindi berikan padahal wajahnya sudah pucat pasi.


Sepertinya mereka benar-benar belum pernah pergi ke pasar.


Merekapun kembali berjalan mencari tempat penjual caping. Namun sudah setengah jam berkeliling mereka belum juga menemukannya. Akhirnya Aqilapun memutuskan untuk bertanya kepada salah satu pedagang.


"permisi pak, maaf kami mau tanya. Tempat penjual caping di mana ya pak?" tanyaku dengan sopan


"wah, kalian salah dek. Penjual caping ada di samping pasar. Dari sini kalian lurus, terus belok kiri sampai pentok, nanti kalian akan melewati gang samping pasar, nah di depan gang itulah tempatnya." penjelasan salah satu pedagang pasar panjang lebar.


"owh iya pak. Terimakasih. Kami permisi dulu." Ucap Aqila dengan sopan


"iya dek sama-sama."


Aqila, Syila, dan Sindipun kembali berjalan sesuai petunjuk yang tadi diberikan, Sindi dan Syila juga masih mengumpat tak jelas.


"sial. Tau gitu gak usah masuk tadi." ucap Syila


"namanya juga gak tau, bego amat sih lo." jawab Sindi


"udahlah, orang cuma pergi ke pasar kayak orang mau mati aja." jawab Aqila cengengesan.


Merekapun telah sampai di tempat penjual caping lalu segera membeli 3 buah caping yang akan mereka gunakan untuk MOS besok.


Setelah itu mereka menuju parkiran untuk melanjutkan perjalanan ke mall. Mereka ingin membeli perlengkapanyang lainnya di mall.


Aqila pov


"alhamdulillah kelar juga." ucap Sindi saat kami tiba di restaurant untuk makan siang.


"hem, repot juga ya MOS." sambungku


"iya, udah kayak emak-emak mau nglairin aja." timpal Syila yang membuat kami tertawa.


"lo pada mau pesen apa? Gue traktir deh." tawar Sindi


"waizzzz. Bu boss baik deh. Terserah lo deh bu bos, gue mah ngikut." jawab Syila


"gue juga samain aja Sin." jawabku sambil tersenyum


Setelah makan kami bergegas pulang, karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.00.


Belum terlalu sore sih, tapi kami harus segera mempersiapkan barang yang harus kami bawa saat MOS besuk.


"Qil, gue anter aja ya." ucap Sindi


"tapi rumah kita agak jauh Sin." jawabku tak ingin kembali merepotkan Sindi


"sans ae lah. Kayak sama siapa aja." jawab Syila


"Qila ngomong sama gue, bukan sama lo najis." timpal Sindi


"udah. Kalian mah ribut mulu. Rumah gue Jl. Lily no. 15." jawabku menengahi, Sindipun mengacungkan jempolnya tanda mengerti.


20 menit kemudian aku sudah sampai di depan rumah.


"kalian gak mampir dulu?" tawarku


"gak usah Qil, lain kali aja. Kita juga harus nyiapin buat MOS besok." jawab Sindi


"iya Qil. Kapan-kapan kita pasti ke sini kok." Tambah Syila dengab senyum lebarnya


"ya udah kalo gitu. Makasih ya udah mau anterin gue." ucapku


Aku masuk ke dalam rumah, suasana masih sepi seperti biasa. Papa sama Mama masih bekerja, dan adik perempuanku selalu pulang larut malam karena harus mengikuti les setelah jam pelajaran selesai.


Aku juga sudah terbiasa dengan suasana sepi seperti ini, jadi aku tidak lagi merasa bosan atau kesepian.


Setelah ganti baju aku turun lagi menghampiri Bi Inah yang sepertinya sedang memasak di dapur.


"bi, aku bantuin ya." ucapku pada Bi Inah yang sedang sibuk menggoreng sesuatu.


"eh non Qila udah pulang. Gak usah non, ini udah mau selesai kok."


"gak papa bi, daripada aku gak ada kerjaan. Bibi lanjutin aja nyapunya. Biar aku yang lanjutin masak."


"apa non tidak capek pulang dari sekolah?"


"tidak bi, saya juga sudah biasa."


"ya udah silahkan non. Tapi jangan sampe kecapekan ya."


"siap bibi" jawabku dengan mengacungkan dua jempol.


Author pov


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Keluarga Aqila sudah berkumpul di meja makan. Mereka hendak makan malam bersama. Aqilapun ikut turun dari kamarnya lalu berjalan menuju meja makan. Namun langkahnya terhenti mendengar ucapan adik perempuannya.


"ngapain lo ke sini?" tanya Greenindia atau yang akrab disapa Green, yang merupakan adik Aqila.


"a-aku mau ikut makan malam bersama Green."


"jangan mimpi! Sana ke dapur." bentak Green dengan kerasnya.


Akhirnya Aqilapun memilih untuk makan di dapur bersama bibinya. Selesai makan ia melihat keluarganya sedang bercengkerama.


Sebenarnya ia ingin sekali bergabung, namun ia takut kembali merusak suasana hingga akhirnya Aqila memutuskan untuk kembali ke kamarnya saja.


Ia segera merebahkan dirinya, lalu kembali mengecek peralatan MOS besuk. Setelah dirasa lengkap, Aqila segera merebahkan dirinya di kasur.


Ia tidak ingin terlalu lama memikirkan perkataan adiknya. Bukankah itu sudah hal biasa? Aqila mencoba mengerti dan sesaat kemudian ia sudah menjelajahi alam mimpi.


.


.


.


.


.