AQILA

AQILA
47. Cewek Baru



Author Pov


Saat ini Aqila, Sindi, dan Syila sedang berjalan menuju kantin. Tak lupa dengan paper bag di tangan kanan Aqila yang berisi kotak bekalnya untuk diberikan kepada Kelvin saat jam istirahat nanti.


Tadi setelah mendengarkan cerita Aqila, Sindi dan Syila hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tak habis pikir dengan jalan pikiran Kelvin. Apa Kelvin gak bisa lebih romantis buat ngungkapin perasaannya?


Sesampainya di kantin, mereka duduk di salah satu bangku yang lumayan dekat dengan bangku yang biasanya digunakan oleh Kelvin dan ketiga sahabatnya.


Keadaan kantin saat ini masih sepi, karena bel baru akan berbunyi 30 menit lagi.


Lalu kenapa Aqila dan ketiga sahabatnya bisa keluar dari kelas? Alasannya karena mereka tadi ada ulangan mendadak.


Dan ya, berkat otak cemerlang Aqila mereka akhirnya bisa menyelesaikan soal dalam waktu kurang dari 1 jam dan diperbolehkan untuk istirahat terlebih dahulu. Bukankan memang itu enaknya punya teman pintar? Eh, maksud author bukankah itu enaknya punya otak pintar?


"pesen makan gih!" Perintah Syila


"lo aja yang pesen, males gue." Jawab Aqila


"lo aja kalo gitu Sin." Perintah Syila


"ogah, mager gue." Ucap Sindi yang malah melipat kedua tangannya di atas meja kantin, lalu merebahkan kepalanya di atas tangan.


"kerbau mah di mana-mana bisa tidur." Sindir Syila.


"aelah bocaah, ganggu aja." Gerutu Sindi


"udah deh kalian pesen makan. Gue laper tauk." Perintah Aqila ganti.


"yah, masak gue sih?" Gerutu Syila


"lah trus siapa? Gue lagi? Enak aja, tadi aja soal 20 minta jawaban ke gue semua." Ucap Aqila


"iya iya, sans kalik." Ucap Syila


"ya udah deh, lo mau pesen apa? Cepetan, mumpung gue lagi baik." Ucap Syila lagi yang akhirnya mengalah untuk memesan makanan.


"samain aja." Ucap Aqila


"lah, si Sindi tuh mau makan apa?" Tanya Syila


"gak usah dipesenin, biarin aja tidur." Jawab Aqila dengan malas.


"ya udah deh." Ucap Syila yang kemudian bergegas memesan makanan.


Aqilapun hanya memainkan ponselnya sambil menunggu Syila balik. Sedangkan Sindi? Ah, jangan ditanya lagi. Dia sudah tertidur dengan sangat pulas.


Tak selang lama Syilapun sudah kembali dengan nampan yang berisi 2 mangkuk bakso dan 2 gelas es jeruk.


Aqila dan Syilapun segera memakan pesanannya tanpa membangunkan Sindi.


Sepertinya saat ini Sindi benar-benar kelelahan. lihat saja, saat Aqila dan Syila tertawa di tengah aksi makan nya, bahkan Sindi tidak merasa terganggu sedikitpun.


"tuh anak capek banget ya?" Tanya Aqila pada Syila.


"kayaknya sih gitu, kemarin diajak ke rumah neneknya yang di luar kota." Jawab Syila


"pantes aja keliatan capek banget gitu." Timpal Aqila.


Mereka selesai makan tepat saat bel istirahat berbunyi. Aqilapun segera membersihkan bekas makanan di bibirnya dengan tisu.


Aqila sibuk mengamati pintu kantin, sampai akhirnya matanya menatap sosok yang ditunggunya dari tadi.


Aqilapun melebarkan senyumnya saat melihat Kelvin datang ke kantin.


Namun senyum Aqila perlahan memudar saat menyadari Kelvin tidak hanya datang dengan ketiga sahabatnya, melainkan juga dengan seorang perempuan cantik yang tangannya bergelayut manja di lengan kokok Kelvin.


Aqila masih menatap langkah Kelvin yang berjalan menuju meja di sampingnya. Namun Kelvin melewati Aqila begitu saja, bahkan tanpa meliriknya sedikitpun.


"hay cantik." Sapa Raka pada Aqila, sedangkan Aqila hanya membalas dengan senyum manisnya.


Kelvin bersikap seolah-olah dirinya tak pernah mengenal Aqila. Kelvin bersikap seolah Aqila hanyalah orang asing di sana.


Rasa penasaran Aqila terhadap perempuan yang kini duduk di samping Kelvin itupun terjawab oleh percakapan beberapa siswa yang tak sengaja ia dengar.


"itu murid baru yang katanya dari Singapura itu ya?"


"kayaknya sih iya, liat deh cantik banget."


"katanya namanya Dela."


"terus katanya dia pacarnya Kelvin waktu SMP loh."


"wissh masuk deh, eh tapi gimana sama pacarnya Kelvin yang kelas 10 itu?"


"gak tau deh. Tapi menurut gue si Dela Dela itu dandanannya terlalu berlebihan, liat deh, sampe kayak tante-tante gitu."


"iya ya, masih natural ceweknya Kelvin yang kelas 10 itu."


Begitulah kurang lebih percakapan beberapa siswa yang mejanya tak jauh dari keberadaan Aqila.


"jangan negative thinking dulu Qil." Ucap Syila yang hanya diangguki oleh Aqila.


"coba deh lo samperin, sambil ngasih bekal lo ke Kak Kelvin." Saran Syila yang akhirnya dituruti oleh Aqila.


"gue coba ya." Ucap Aqila pada Syila.


"good luck." Ucap Syila memberi semangat pada Aqila.


Setelah Aqila berlalu dari mejanya, Syilapun langsung membangunkan Sindi.


"woey bangun woey." Ucap Syila sambil menggerak-gerakkan tubuh Sindi.


"apa sih." Gerutu Sindi


"ini, si Kelvin bawa cewek. Cepetan bangun, lo liat sendiri." Ucap Syila


Sindi yang mendengar ucapan Syilapun langsung membuka matanya lebar, seakan kini ia tidak merasa kantuk sama sekali.


"mana-mana?" Tanya Sindi


"itu di mejanya." Jawab Syila


Mereka berduapun akhirnya melihat ke arah Aqila yang kini sudah berada di samping meja Kelvin.


"pagi kak." Ucap Aqila pada Kelvin, namun tidak terdengar balasan sama sekali.


Sedangkan perempuan yang katanya bernama Dela itu saat ini sedang menatap ke arah Aqila dengan tatapan tidak suka.


"Aqila bawa bekal buat kakak." Ucap Aqila tanpa memerdulikan tatapan Dela.


"gue gak butuh." Ucap Kelvin ketus.


"tapi bukannya biasanya kakak suka sama masakan Aqila?" Tanya Aqila


"itu dulu." Ucap Kelvin


"tapi kak----"


"gue ingetin sekali lagi sama elo, mulai saat ini gak usah sok perhatian lagi sama gue. Dan satu lagi, gue gak perlu bekal buatan elo itu." Ucap Kelvin memotong perkataan Aqila.


Sedangkan Aqila hanya bisa membelalakkan matanya. Ia tak percaya jika Kelvin bisa berbicara demikian padanya setelah apa yang laki-laki itu katakan kemarin.


Aqila dengan kepala batunya tetap menaruh bekal yang ia bawa di meja Kelvin. Ia yakin jika sebenarnya Kelvin suka dengan bekal buatannya.


"lo tuli ya? Apa perkataan Kelvin tadi kurang jelas?" Tanya perempuan yang bernama Dela itu pada Aqila.


"maaf, saya tidak punya urusan dengan Anda." Ucap Aqila


"berani banget ya lo, apa lo gak tau siapa gue?" Tanya Dela dengan nada angkuh.


"saya tidak tahu dan saya tidak perlu tahu siapa Anda." Jawab Aqila yang membuat Dela naik pitam.


"kalo gitu kayaknya gue deh yang perlu ngasih tau ke elo siapa gue. Kenalin, gue Dela Puspita Mahardika, PACARNYA KELVIN." Jelas Dela dengan memperjelas kata 'pacarnya Kelvin'.


Sedangkan Aqila hanya bisa menahan gejolak dalam dadanya. Ada rasa sakit yang menggebu di dalam sana. Namun Aqila bisa apa? Bahkan ia tak punya kuasa untuk memberontak akan ini semua.


"nih, bawa balik bekal lo. Sorry, kita gak level makan makanan buatan lo." Ucap Dela sambil menggeser paper bag Aqila ke tepi meja dengan menampilkan perasaan jijik.


"gue aja yang makan." Ucap seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Aqila.


"kak Gavrin." Ucap Aqila lirih.


"kan sayang kalo masakan bintang 5 gak dimakan." Ucap Gavrin tanpa memerdulikan Aqila sambil mengambil paperg bag berisi kotak bekal tersebut dari meja.


"Gavrin?" Ucap Dela lirih


Namun Gavrin sama sekali tak menggubris keberadaan Dela. Gavrin benar-benar tidak menyangka jika Dela kini sudah berubah menjadi sosok perempuan sombong seperti itu.


"ayo Qil ikut gue, kita makan bareng." Ucap Gavrin sambil menarik tangan Aqila agar mengikuti langkahnya.


Aqila yang tak bisa menolakpun segera menyeimbangkan langkahnya dengan langkah Gavrin. Rasanya Aqila benar-benar berterimakasih pada Gavrin yang selalu datang menolongnya tepat waktu.


.


.


.


.


.


bersambung💕


jangan lupa like and comment readers😊 maafkan segala typo nya Ya☺