
Author Pov
Saat ini Sindi dan Syila sedang dilanda rasa cemas. Bagaimana tidak? Sedangkan sampai saat ini mereka belum juga menemukan keberadaan Aqila.
Padahal jam tanda berakhirnya pelajaran akan berbunyi setengah jam lagi. Namun sama sekali belum ada tanda-tanda Aqila akan kembali.
Sindi dan Syilapun berniat untuk kembali mencari Aqila meski mereka harus terlebih dahulu menghadapi guru yang sekarang sedang mengajar.
"cari Aqila yuk." Ajak Sindi pada Syila pelan
"tapi ada Pak Bambang tuh." ucap Sindi
"ya kita izin dulu lah. Alesan mau ke toilet gitu." ucap Sindi
"kalo ntar ketauan gimana?" tanya Syila
"alah sok polos lo, kayak gak pernah bolos aja." cibir Sindi
"hehehe, tau aja." Ucap Syila nyengir
"ya udah kuy." ajak Sindi
"Kuylah." jawab Syila
Merekapun segera berdiri dari tempat duduknya dan berniat menjalankan aksinya.
"em permisi pak, kita mau izin ke kamar mandi boleh ya?" Tanya Sindi pada Pak Bambang.
"berdua?" Tanya pak Bambang saat melihat Syila yang juga ikut berdiri di samping Sindi.
"iyalah pak, kan saya takut diculik om-om." jawab Sindi asal
"ealah pd banget kamu, saya aja ogah sama kamu." ucap pak Bambang ketus.
Sontak seluruh siswa di kelas tersebut tertawa mendengar jawaban Pak Bambang. Ada-ada saja guru yang sudah hampir berkepala lima tersebut.
"aelah bapak sok jual mahal amat. Inget umur tuh pak." Ucap Sindi
"sudah-sudah, mau saya izinin nggak kalian?" tanya Pak Bambang lagi
"ya iyalah pak, pakek nanya lagi." lirih Syila
"ngomong apa kamu?" tanya Pak Bambang yang tidak mendengar ucapan Syila.
"eh enggak pak, kita permisi dulu ya. Keburu kebelet ini." Ucap syila lalu menarik tangan Sindi untuk segera keluar dari kelas tersebut.
Sedangkan Pak Bambang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan muridnya. Kemudian ia segera melanjutkan pelajaran yang tadi sempat tertunda sebentar.
.
.
.
Sesampainya di depan kelas, Sindi dan Syila berhenti terlebih dahulu untul memikirkan kemana mereka akan mencari Aqila.
Pasalnya setelah dari kantin tadi pagi, mereka sudah mengelilingi seluruh area sekolahan untuk mencari Aqila meakipun hasilnya masih nihil sampai saat ini.
Sebenarnya tadi Sindi dan Syila sudah berniat untuk membolos dan memilih untuk mencari Aqila.
Namun sialnya saat berada di perpustakaan mereka tidak sengaja bertemu dengan guru BP. Sehingga mau tidak mau mereka harus kembali ke kelas daripada harus masuk ruang BP.
"ini kita mau nyari kemana lagi?" tanya Syila pada Sindi
"gue juga gak tahu." jawab Sindi lesu
"lah gimana sih?" ucap Syila
"lo mikir juga dong, biasanya Aqila kemana." perintah Sindi
"iya iya." jawab Syila sambil memanyunkan bibirnya
"gimana kalo kita cari di cafe yang biasanya kkta kunjungi?" Ucap Syila tiba-tiba
"lo gila? Gerbang masih ditutup jam segini." ucap Sindi
"kita manjat pagar belakang sekolah aja. Kuy." ajak Syila
"ya udahlah ayok." jawab Sindi lesu
Mereka berduapun segera berjalan menuju belakang sekolah. Di sana ada pagar yang biasanya digunakan oleh para siswa yang terlambat.
Ya, begitulah kelakuan siswa SMA, meski mereka berada di sekolah elit sekalipun. Sepertinya terlambat memang sudah menjadi budaya yang sulit untuk kita tanggalkan.
.
.
.
Saat sampai di depan perpus, Sindi dan Syila berjalan dengan hati-hati sambil memastikan keadaan sekitar.
"aman." ucap Sindi lirih
"am-" ucap Sindi terpotong saat,
AAAAAAAA
Teriak Sindi dan Syila bersamaan saat tiba-tiba ada yang menepuk pundak mereka berdua dari belakang.
"gue harap bukan hantu." ucap Sindi pelan
"gue harap bukan guru bp." Tambah Syila dengan nada yang tak kalah pelan.
Sedangkan sesuatu di belakang mereka justru tertawa terbahak-bahak yang membuat Sindi dan Aqila semakin bergidik ngeri.
Sindi dan Syila saling menatap sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, mereka saling menepis pikiran negatif di benak mereka masing-masing.
"santak aja kalik." ucap seseorang di belakang mereka
"bukan hantu." ucap Sindi memastikan
"bukan hantu." tambah Syila
Sindi dan Syilapun membalikkan badannya ke belakang. Dan betapa terkejutnya mereka saat mengetahui siapa sosok yang mengagetkannya tadi.
"Kak Radit, Kak Raka, Kak Sean, Kak Kel-vin." Ucap Sindi memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
"kakak ngapain di sini?" tanya Syila
"harusnya kita kalik yang nanya lo ngapain di sini." jawab Radit
"udah jalannya ngendap-ngendap lagi." tambah Raka
"mau bolos ya?" tanya Sean
"enak aja bolos, kita tuh mau cari Aqila." Ucap Sindi tidak terima dengan perkataan Sean.
"ini juga gara-gara temen kakak tuh, sampe Aqila ilang." tambah Syila sambil sesekalo melirik Kelvin yang masih berdiri tanpa ekspresi.
"emang Aqila ngilang kemana?" tanya Raka
"lo ogeb atau gimana sih kak, ya kalo tahu Aqila ngilang kemana kita gak akan sibuk nyari kek gini." Jawab Sindi yang mulai tersulut emosi.
"lah iya, lo gimana sih Rak? Malu-maluin aja." cibir Sean
"udah-udah, emang kalian tadi udah nyari Aqila kemana aja?" tanya Raka
"kita udah keliling sekolahan kak, sampe ketahuan guru BP juga. Tapi sama sekali gak ada tanda-tanda keberadaan Aqila." jawab Syila
"emang Aqila ngilangnya sejak kapan?" tanya Radit
"setelah kejadian di kantin tadi kak, Aqila pergi dan sampai sekarang belum kembali." jelas Sindi
Raka, Radit, dan Sean saling menunjukkan ekspresi terkejutnya. Mereka tidak menyangka jika Aqila akan kabur seperti ini. Sedangkan Kelvin masih diam tanpa berniat ikut ke dalam obrolan tersebut.
"ini semua gara-gara elo bro, lo harus tanggung jawab." Ucap Sean pada Kelvin, sedangkan Kelvin hanya menautkan kedua alisnya tanpa berniat menjawab.
"seenggaknya lo harus ikut nyari." Tambah Radit sambil menepuk pundak Kelvin.
"iya Vin, jangan jadi pengecut. Biar gimanapun kita ikut andil dalam masalah ini." tambah Raka menatap Kelvin
Sedangkan Kelvin hanya mengedikkan kedua bahunya acuh. Sepertinya ia sama sekali tidak tertarik dengan obrolan tersebut.
Kelvin juga menampilkan ekspresi yang seakan mengatakan bahwa dirinya tidak punya rasa peduli sedikitpun pada Aqila.
Mereka semua hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Kelvin. Bahkan Sindi dan Syila sepertinya sudah sangat emosi melihat tingkah Kelvin.
Bagaimana mungkin Aqila bisa bertahan dengan Kelvin selama satu bulan? Sedangkan jika yang ada di posisi Aqila adalah Sindi atau Syila, sudah pasti mereka akan memutuskan Kelvin dan meludahi pria yang tak punya hati tersebut.
"ya udah kita mau lanjut cari, kalian ikut atau nggak terserah." Ucap Sindi kemudian mengajak Syila untuk berlalu dari tempat tersebut.
"kita ikut." Ucap Raka, Radit, dan Sean bersamaan.
"ya udah ayok." ucap Syila
"eh gimana kalo kita cari di setiap sudut sekolah lagi, Aqila kayaknya gak mungkin deh kalo sampe keluar lingkungan sekolah." Ucap Raka tiba-tiba saat mereka berjalan menuju pagar belakang sekolah.
"ide yang bagus tu, siapa tau kita tadi cuma gak teliti." jawab Sindi
"ya udah kuy." ucap Syila
Merekapun kemudian berjalan mengitari lingkungan sekolah. Lelah? Pastinya.
Selain harus menyusuri setiap sudut sekolah mereka yang sangat luas, mereka juga harus naik turun tangga.
Saat mereka sampai di depan UKS, tiba-tiba bel tanda berakhirnya pelajaran sudah berbunyi.
"astagah udah bel aja." ucap Sean
"kalo kalian mau pulang, pulang aja. Kita bisa kok nyari sendiri." ucap Sindi
"kita bakalan tetep ikut cari kok." Ucap Raka
"ya udah kalo gitu kita lanjut cari." ajak Radit
Namun saat mereka hendak melangkah mencari, tiba-tiba Kelvin malah melangkah ke lain arah.
"pulang." ucap Kelvin dingin
Mereka yang tak mau berdebat dengan Kelvinpun memilih membiarkan Kelvin pulang dan akan mencari Aqila tanpa bantuan Kelvin.
Mereka kembali mengelilingi area sekolah yang tadi belum sempat mereka datangi.
.
.
.
Sedangkan Kelvin sudah berjalan menuju kelas untuk mengambil tasnya. Sepertinya laki-laki itu memang berniat untuk pulang.
Setelah mengambil tas, Kelvinpun melangkah keluar kelas. Namun ia tidak menuju gerbang depan sekolah. Melainkan kembali ke arah belakang sekolah.
Ia terus berjalan dengan santainya, menaiki anak tangga hingga kemudian ia tiba di sebuah tempat yang selama ini selalu menjadi favoritnya. Tempat yang paling sering ia kunjungi selama ia sekolah di SMA Xailucry.
Ia membuka pintu pembatas tempat tersebut, lalu berniat masuk ke sana. Ya, Kelvin berniat menuju rooftop sekolahnya. Karena di sanalah tempat dirinya bisa merasakan ketenangan.
Namun langkahnya terhenti saat menyadari ada seseorang di dalam rooftop. Ia mengernyitkan dahinya lalu menajamkan indra penglihatannya agar bisa melihatnya dengan jelas.
Siapa dia? Sedangkan tidak banyak orang yang mengetahui tentang keberadaan rooftop sekolahnya tersebut. Bahkan sahabatnya saja hanya sesekali mengunjungi tempat itu. Karena Kelvin selalu ingin sendiri saat berada di tempat tersebut.
Kelvin semakin mendekat ke arah orang tersebut. Namun betapa tercekatnya dia saat menyadari suara orang tersebut.
"dia?" Gumam Kelvin dalam hati. Iapun menajamkan indra pendengarannya untuk bisa mendengar apa yang orang tadi katakan.
"apa gue gak bisa bahagia? Hiks, Apa gue gak pantes bahagia? Salah ya kalo gue berharap bisa bahagia? Hiks hiks." Ucap seseorang itu sambil menangis.
"hiks hiks, gu-gue gak minta dicintai, gue cuma pengin dihargai."
"kenapa kehadiran gue tidak pernah diharapkan? Kenapa? Kenapa selalu begitu? Hiks hiks."
"lucu ya, harusnya gue gak berharap banyak. Gimana mungkin orang lain bisa nerima aku? Sedangkan- " Ucap seseorang itu dengan suara yang parau. Ia memilih menggantungkan ucapannya kemudian mencoba tersenyum dan menghapus air matanya.
"gue bisa, gue harus bisa. Bukannya dari dulu gue emang sendiri?" ucapnya lagi, kemudian ia bergegas berdiri untuk segera keluar dari tempat itu.
Namun betapa terkejutnya dia saat membalikkan badan, dan ternyata ada seseorang yang diam mematung di hadapannya.
"ka-kak Kelvin." ucap Aqila lirih, bahkan sangat lirih.
Bagaimana bisa Kelvin ada di sini? Sejak kapan? Apakah Kelvin mendengar seluruh kesedihannya? Apakah Kelvin menyaksikan air matanya?
Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Tidak ada yang boleh mengetahui sisi lemah dirinya.
Aqila yang tadi terkejutpun kini menampilkan ekspresi seperti biasa, tersenyum dan seolah tidak merasakan beban apapun.
Kelvin yang sejak tadi menundukkan pandangannyapun segera mendongakkan kepalanya dan menatap Aqila.
"ma-maaf." ucap Kelvin lirih
Sedangkan Aqila hanya bisa kembali menampilkan senyumnya tanpa berniat menjawab permintaan maaf Kelvin.
"aku duluan ya kak." Ucap Aqila saat hanya ada keheningan diantara mereka, tidak lupa dengan senyum manis yang selalu Aqila tampilkan.
"lo gak usah munafik, banyak orang yang salah sangka dengan senyuman lo itu." ucap Kelvin
Namun lagi-lagi Aqila memilih diam. Sekali lagi ia menampilkan senyumnya yang membuat Kelvin begitu muak.
Bagaimana bisa Aqila tertawa sedangkan 5 menit yang lalu Kelvin melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Aqila sedang menangis tersedu-sedu.
Aqila melanjutkan langkahnya untuk keluar dari rooftop. Ia melewati Kelvin begitu saja tanpa sepatah katapun. Namun tetap dengan senyum manis yang selalu ia tampilkan.
"Qil." Ucap Kelvin saat Aqila mulai membuka pintu rooftop.
Aqilapun membalikkan badannya dan menatap Kelvin. Menunggu sang empu mengatakan sesuatu padanya.
"maaf." Ucap Kelvin. Sebenarnya ia ingin berkata banyak, namun entah mengapa hanya kata itu yang seakan mau keluar dari mulutnya.
Lagi-lagi Aqila hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Ia kemudian melanjutkan niatnya untuk keluar dari rooftop.
Setelah kepergian Aqila, Kelvin masih mematung di tempatnya. Mencerna setiap kata yang tadi Aqila lontarkan saat menangis.
Ia merasa iba dengan Aqila, gadis itu menangis karena ulah dirinya. Ia merasa bersalah saat melihat Aqila menangis sesenggukan seperti itu.
Namun pikiran itu segera ditepis Kelvin dari benaknya. Bukankah ini memang niat Kelvin? Lalu kenapa ia harus merasa kasihan?
Kelvin berusaha sekeras mungkin untuk menampis pikirannya tersebut, namun semakin ia berusaha menampisnya, semakin rasa bersalah itu menyelimuti dirinya.
Harusnya Kelvin bahagia karena melihat Aqila menangis, harusnya Kelvin senang karena sebagian misinya telah berhasil.
Tapi kenapa rasanya sulit sekali? Kenapa?
"aaarrghhh." ucap Kelvin frustasi
Kelvinpun memilih untuk beranjak dari rooftop dan bergegas untuk pulang, karena saat ini rooftop bukan tempat yang tepat untuk menenangkan pikiran Kelvin.
Kelvin menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Ia kemudian menekan pedal gasnya dan berlalu meninggalkan sekolah tanpa peduli dengan ketiga sahabatnya yang masih sibuk mencari Aqila.
.
.
.
Setelah keliling sekolah kurang lebih 2 jam, akhirnya Sindi, Syila, Raka, Radit, dan Sean memilih untuk menghentikan pencarian Aqila.
Mereka berniat untuk pulang karena waktu sudah sangat sore, bahkan langit sudah menampakkan senjanya.
"kak kita pulang duluan ya." Ucap Sindi
"iya Sin, kalo ada kabar tentang Aqila jangan lupa kabarin kita ya." ucap Raka
"siap kak." ucap Sindi
"bye kak, kita duluan." ucap Syila sambil melambaikan tangannya.
Sesampainya di dalam kelas, Sindi dan Syila dikejutkan dengan tas Aqila yang sudah tidak lagi berada di tempatnya.
"berati Aqila udah pulang dong?" tanya Sindi
"maybe sih iya." jawab Syila
"kok gak ngabarin sih, gak tau apa kalo kita sibuk nyari." tambah Syila lagi
"mungkin dia emang lagi kecewa banget, jadinya gitu deh. Ya udah gak papa, yang pentingkan Aqila udah pulang." ucap Sindi
"ya udah deh, yuk kita pulang juga." ajak Syila
"yukk." jawab Sindi
Merekapun berjalan berdua menuju parkiran. Keadaan sekolah sudah sangat sepi. Mungkin tinggal mereka berdua yang ada di sini.
Sesampainya di parkiran mereka melihat ketiga sahabat Kelvin yang juga masih berdiri di parkiran.
"kok belum pulang kak?" tanya Syila
"eh, ini nih, kita tadikan berangkatnya bareng Kelvin, trus orangnya udah pulang duluan ternyata." Jawab Radit menjelaskan
"ya udah ikut mobil kita aja kak, muat kok." ucap Sindi
"apa nggak ngrepotin?" tanya Sean
"enggaklah kak, sans aja kalik. Haha." jawab Syila sambil tertawa
"ya udah deh kalo gitu, kita numpang ya." ucap Raka
Merekapun kemudian masuk ke mobil Syila.
"eh btw gimana soal Aqila?" Tanya Sean di tengah perjalanan.
"tadi sih tasnya udah gak ada kak, mungkin dia udah pulang." jawab Sindi
"syukur deh kalo gitu." ucap Sean lega
"eh anterin kita ke rumah Kelvin ya, mobil kita ada di sana semua soalnya." Pinta Raka pada Syila yang menyetir.
Kebalik memang, Syila yang menyetir kemudian Raka, Sean, dan Radit yang duduk di kursi penumpang.
Bukannya para cogan itu tidak mau menyetir, tapi Syilalah yang tidak mau digantikan. Ia memilih menjadi sopir ketiga cowok itu hari ini.
"oke kak." Jawab Syila yang masih fokus menyetir.
Atas petunjuk arah ketiga sahabat Kelvin tersebut. Akhirnya mereka sampai juga di rumah Kelvin setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit.
"makasih ya," Ucap Raka saat turun dari mobil.
"sama-sama kak." jawab Syila
"mau mampir dulu nggak?" tanya Radit
"nggak usah kak, udah sore banget soalnya." jawab Syila
"eum ya udah ya kak, kita duluan." ucap Sindi
Syilapun kemudian melajukan mobilnya untuk segera pulang.
.
.
.
.
.
.
Happy reading readers💕
Maafkan seluruh typonya ya😊 mohon pengertiannya karena author gak sempat baca ulang episode ini yang panjangnya lebih dari 2k kata🤗