AQILA

AQILA
10. Hujan



Author Pov


Hari ini sepertinya memang tidak memihak kepada Aqila. Bayangkan saja, baru beberapa kali ia melangkahkan kaki keluar kelas, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Lagi-lagi Aqila hanya bisa menghembuskan nafasnya lelah.


Aqila pikir dipulangkan 1 jam lebih awal adalah suatu rejeki nomplok bagi dirinya. Namun sepertinya penderitaannya hari ini belum juga usai. Aqila melangkah menyusuri koridor sekolahnya. Ia tidak mungkin menunggu di dalam kelas sampai hujan reda. Ia harus segera menuju halte untuk menunggu supir yang menjemputnya.


Hari ini Aqila memang tidak membawa mobil sendiri, karena tadi pagi tiba-tiba ban mobilnya bocor. Sehingga ia berangkat bersama adiknya Greenindia.


Jika kalian pikir mudah bagi Aqila untuk nebeng di mobil adiknya, kalian salah besar. Tadi pagi Aqila harus terlebih dahulu melewati debat panjang dengan adik dan kedua orang tuanya. Melelahkan memang.


Sampai di gedung paling depan, Aqila melepaskan tasnya dan menggunakannya sebagai payung menuju halte. Ia melihat kanan kiri yang masih ramai, karena banyak siswa yang belum pulang dan memilih berteduh sambil bercengkerama dengan temannya. Mungkin Aqila juga akan melakukan hal tersebut jika saja kedua sahabatnya tidak pulang terlebih dahulu karena ada urusan keluarga.


Aqilapun berlari untuk jarak yang lumayan jauh tersebut. Maklum halaman sekolahnya sangat luas, sehingga untuk menuju halte cukup membuat Aqila basah kuyup.


Sesampainya di halte, Aqila langsung menelpon supirnya agar segera menjemput dirinya. Setelag menghubungi supirnya, Aqila kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas dan memilih menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk sedikit menghangatkan tubuhnya.


Sudah setengah jam menunggu, namun supirnya belum juga datang. Padahal jarak dari rumahnya ke sekolah bisa ditempuh kurang dari 15 menit. Aqila juga hanya duduk sendirian di halte, entah kenapa halte yang biasanya ramai tersebut menjadi sepi tak berpenghuni.


Sudah hampir 2 jam Aqila menunggu, dan tidak ada tanda-tanda supirnya akan datang. Aqilapun mengambil ponselnya dari dalam tas. Dan betapa terkejutnya dirinya melihat pesan masuk dari supirnya yang mengatakan kalau dirinya tidak bisa menjemput karena anaknya tiba-tiba sakit dan harus pulang.


Lagi-lagi Aqila menghela nafasnya kasar. Badannya sudah sangat kedinginan, bibirnya yang kini terlihat sangat pucatpun sudah mulai menggigil. Gosokan kedua tangannya tak lagi mampu menyalurkan rasa hangat. Ia menggigit bibir bawahnya, takut jika tiba-tiba pingsan di halte.


Iapun berniat untuk memesan gojek, namun belum sempat ia menekan tombol aplikasi tersebut, sebuah mobil sport tiba-tiba berhenti di depannya. Aqila mengernyitkan dahinya bingung, pintu kemudipun terbuka dan menampilkan sesosok manusia yang membuat Aqila membulatkan matanya. Aqila masih tak bergeming menatap sang empu yang baru saja turun dari mobil dan berjalan ke arahnya. Sesekali Aqila mengerjapkam matanya tak percaya.


"masuk." Perintah laki-laki tersebut yang tak lain tak bukan adalah Kelvin.


Sedangkan Aqila masih menatapnya dengan bingung.


"lo mau mati kedinginan di sini, hah? Cepet masuk." Bentak Kelvin yang menyadarkan Aqila dan langsung masuk ke dalam mobil Kelvin.


Entah kenapa Aqila bisa dengan mudah menuruti perkataan Kelvin, bahkan ia tak bisa membantahnya sedikitpun.


Setelah memasuli mobilnya, Kelvin menatap Aqila yang terlihat sangat kedinginan. Bibirnya bergetar begitupula dengan tangannya. Merasa tak tega Kelvinpun mengambil jaket yang tersampir di jok mobilnya dan memberikannya pada Aqila.


"pakai." perintah Kelvin


"hah?" Aqila menatap Kelvin dengan tatapan bertanya.


"pakai, lo kedinginankan?" Jawab Kelvin tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.


Sedangkan Aqila dengan tangan ragu mengambil jaket tersebut dan memakainya. Entah ia harus bersikap bagaimana kepada Kelvin, ia merasa bingung dengan perlakuan Kelvin yang berubah-ubah.


Selama perjalanan, Aqila tak henti-hentinya menatap Kelvin. Jujur, Aqila kagum dengan lelaki yang duduk di sampingnya itu. Bahkan tak bisa dipungkiri bahwa Kelvin terlihat sangat tampan. Dengan wajah putih, hidung mancung dan bibirnya yang merah, ditambah rambutnya yang basah terkena air hujan.


Sungguh Aqila merasa takjub dengan lelaki yang saat ini menyandang gelar kekasihnya. Ah, menyebut kata kekasih membuat Aqila menggeleng pelan. Bukankah status ini hanya sebagai hukuman atas kesalahan Aqila saat MOS? Tapi Aqila juga tidak bisa memungkiri bahwa dirinya mulai jatuh cinta kepada Kelvin.


Sang empu yang merasa terus dipandangipun menolehkan kepalanya ke arah Aqila. Pandangan mereka sempat terkunci sesaat sebelum Kelvin kembali menjatuhkan pandangannya ke arah jalanan.


"alamat lo." Tanya Kelvin saat ia sampai di persimpangan.


"belok kiri kak." jawab Aqila


"sampe gang belok kanan." tambah Aqila


Sedangkan Kelvin hanya fokus menyetir sambil mendengarkan instruksi dari Aqila tanpa berniat menjawabnya.


"pagar warna hitam kak." Ucap Aqila lagi saat mereka sudah hampir sampai di rumah Aqila.


Kelvinpun menghentikan mobilnya tepat di depan gang warna hitam sesuai yang dikatakan Aqila.


"eum, makasih kak." Ucap Aqila canggung, pasalnya Kelvin tidak mengatakan sepatah katapun kepada Aqila.


Sedangkan Kelvin hanya berdehem tanpa berniat memandang Aqila. Tatapannya masih lurus ke depan. Namun tanpa Aqila sadari, ternyata Kelvin menangkap senyum manis yang ia berikan.


Setelah memastikan Aqila benar-benar masuk rumah, Kelvinpun kembali melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Ah bukan, tepatnya ke apartemen pribadi Kelvin. Rupanya laki-laki itu sedang enggan pulang ke rumahnya, sampai ia memilih untuk menginap di apartemennya.


Sedangkan Aqila masuk ke rumahnya dengan tangan memegangi dadanya. Jantungnya masih berdebar dengan sangat kencang. Sebegitu besarkah efek Kelvin untuk jantungnya? Entahlah, Aqila sendiri tidak tahu. Yang jelas ia merasa bahagia saat berada di sisi Kelvin.


Sesampainya di kamar Aqila langsung membersihkan diri sekaligus mencuci jaket yang Kelvin pinjamkan tadi.


Memeluk jaket milik Kelvin saja sudah bisa membuatnya senyum-senyum sendiri, apalagi memeluk orangnya.


"eh apasih. Mikirin apa coba." Aqila menepuk-nepuk kepalanya ketika tersadar akan lamunannya.


Selesai mandi, Aqila langsung turun ke bawah untuk membantu bibinya menyiapkan makan malam. Namun sesampainya di dapur ternyata semua makanan sudah siap dihidangkan.


"loh bibi, ko tumben udah siap?" tanya Aqila pada pembantunya.


"iya non, tadi bibi masaknya agak siangan." jawab Bi Inah


"yah, Aqila bisa bantu apa nih bi?" tanya Aqila lagi


"em, non Aqila istirahat aja, bibi liat non tadi kehujanan." ucap bi Inah karena tadi dirinya melihat Aqila pulang dengan keadaan basah.


"iya deh Bi." jawab Aqila lesu, ia menampakkan raut cemberutnya karena merasa tidak ada yang bisa ia kerjakan lagi. Padahal ia merasa bosan jika harus berdiam diri di kamar. Merasa tidak ada pilihan lain iapun bergegas menuju kamar dan mengistirahatkan tubuhnya.


*


*


*


Kelvin baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mengambil kaos oblong dan juga celana pendek selututnya di lemari kemudian memakainya. Setelah dianggap cukup, ia segera menuju kasur kesayangannya yang sejak tadi sudah melambai-lambaikan tangan menggoda Kelvin.


"ternyata dia cantik juga." lirih Kelvin saat ia merebahkan dirinya di kasur, entah kenapa bayangan Aqila seakan enggan menjauh darinya. Namun sedetik kemudian ia memukul kepalanya dengan keras.


"apaan sih, orang biasa aja juga. Kelvin-Kelvin. Lo itu bisa dapetin cewek model apa aja. Jadi jangan sampe deh jatuh cinta sama adkel ga jelas itu." bantahnya dengan lantang.


Ia memandang langit-langit kamarnya, namun yang didapat hanyalah senyum Aqila saat di mobil tadi.


"ya Tuhan, gue kenapa sih." Gerutu Kelvin karena bayangan Aqila tak juga lepas dari kepalanya.


Akhirnya ia memutuskan untuk membuka laptopnya, dan mengerjakan tugas yang beberapa hari ini belum ia selesaikan. Dengan seperti ini, ia berharap wajah Aqila tak lagi muncul di pikirannya.


Tepat pukul 7 malam, Kelvin diserang rasa kantuk yang tak tertahankan. Iapun mematikan laptopnya dan memilih membaringkan diri di kasur, tak lama setelahnya ia mulai tertidur dengan pulas.


*


Berbeda dengan Kelvin, Aqila kini sedang menuju meja makan untuk ikut makan malam bersama keluarganya. Ia melangkahkan kaki menuruni anak tangga dengan harap-harap cemas. Ia takut kehadirannya kembali ditolak.


"bolah Aqila ikut makan malam?" tanya Aqila dengan hati-hati saat ia sampai di samping meja makan.


"enak aja, kamu itu dikasih jantung masih minta hati. Makan di dapur sana." bentak Nesa-mama Aqila.


"eum, ya udah. Maaf menganggu." Ucap Aqila sopan lalu bergegas menuju dapur.


Sampai di dapur, nyatanya Aqila tidak memakan sesuatupun. Ia hanya duduk sambil sesekali memandangi orang tua dan adiknya yang makan dengan bahagia.


Setelah kedua orang tua dan adiknya berlalu dari meja makan. Aqilapun segera keluar dari dapur menuju kamarnya.


Lagi-lagi, malam ini ia menangis karena hal yang sama. Hal yang sangat dibencinya. Ya, Aqila benci posisi ini. Aqila benci menjadi orang lain di rumah ini. Malam ini, gelapnya malam menjadi saksi untuk yang kesekian kali, bahwa Aqila tak sekuat yang mereka lihat.