
"Qil, kita duluan ya, mau nyusul Kelvin." Ucap Raka pada Aqila
"iya Qil, kita nyusul Kelvin dulu ya." Tambah Sean
"owh ya, sorry buat sikap Kelvin tadi." Ucap Radit yang hanya diangguki oleh Aqila.
Mereka bertigapun segera bergegas keluar dari kantin dan meninggalkan Aqila yang masih berdiri di tempatnya.
"Qil, yuk balik." Ajak Sindi yang tiba-tiba sudah ada di hadapan Aqila.
"ayo" Jawab Aqila
Sindi dan Syilapun menggandeng tangan Aqila untuk keluar dari kantin. Namun mereka begitu terkejut saat merasakan suhu tubuh Aqila yang begitu tinggi.
"Qil lo masih sakit?" Tanya Sindi
"Qil lo baik-baik ajakan?" Tanya Syila ganti
Sedangkan Aqila hanya diam tak menjawab pertanyaan kedua sahabatnya. Kepalanya yang masih terasa berat membuat Aqila bahkan sulit untuk sekedar membuka mulutnya.
Aqila mengerjapkan matanya beberapa kali yang membuat Sindi dan Syila semakin bingung dibuatnya.
"kita ke UKS dulu aja Qil." Ucap Sindi yang sudah tak mendapat respon dari Aqila.
Merekapun memilih untuk membawa Aqila kembali ke UKS dan memapahnya, namun belum sampai di UKS, tubuh Aqila sudah limbung ke tanah terlebih dahulu. Hal itu membuat kepanikan Sindi dan Syila semakin bertambah.
"Qil bangun Qil."
"Qil, please bangun."
"Aqila."
"Qil, lo itu kuat."
"Qil, ayolah bangun."
Ucap Sindi dan Syila sambil menggerak-gerakkan tubuh Aqila. Namun tidak terjadi reaksi apapun dari tubuh Aqila.
"Syil, lo panggil kak Gavrin gih, biar gue yang jaga Aqila di sini. Kita harus bawa Aqila ke rumah sakit sekarang juga, karena badannya udah panas banget." perintah Sindi
"i-iya Sin, gue cari kak Gavrin." Jawab Syila dengan gugup, bukan karena harus menemui kak Gavrin, tapi karena Aqila yang sudah terlihat sangat-sangat pucat.
Syilapun berlari menuju kelas Gavrin, ia berharap saat ini Gavrin ada di kelasnya.
Syila yang sudah sampai di kelas Gavrin langsung masuk ke dalam tanpa mengucap salam terlebih dahulu.
"ada Kak Gavrin kak?" Tanya Syila pada beberapa siswa saa berada di dalam kelas tersebut.
"ada, tuh di belakang." Jawab salah satu siswa sambil mrnunjuk ke arah Gavrin.
Ternyata Gavrin sedang duduk membelakangi Syila sambil mengobrol dengan salah satu temannya.
"kak, kak Gavrin." Panggil Syila sedikit berteriak.
"ada apa Syil?" Tanya Gavrin penasaran
"i-itu kak A-Aqila ping-pingsan lagi." Ucap Syila terpenggal-penggal.
"di mana dia?" tanya Gavrin cepat
"de-dekat UKS kak." Jawab Syila
Mereka berduapun segera berlari menuju UKS. Sedangkan sepasang mata sedang melihat ke arah mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.
Ya, dia adalah Kelvin. Sepertinya Syila melupakan fakta jika Gavrin adalah teman sekelas Kelvin.
Raut kekhawatiran terlihat jelas di wajah Gavrin. Sepertinya laki-laki itu benar-benar memgkhawatirkan keadaan Aqila.
"astagah Qil, lo kenapa lagi?" Tanya Gavrin dengan bodohnya saat ia sendiri tahu Aqila tidak akan menjawab pertanyaannya.
"Biar gue angkat, kalian buka pintu mobil gue. Ini kuncinya." Ucap Gavrin pada Sindi dan Syila sambil menyerahkan kunci mobilnya saat ia telah sampai di tempat Aqila pingsan.
"i-iya kak." Jawab Syila
Gavrinpun segera membopong tubuh Aqila menuju mobilnya. Ia tak menghiraukan tatapan-tatapan yang diberikan siswa Xailucry kepadanya, namun Gavrin merasa sakit hati saat ada mulut-mulut iri yang menghina Aqila.
"kemarin Kelvin, eh sekarang Gavrin."
"heran gue, apasih istimewanya tuh cewek?"
"most wanted digebet semua sama dia."
"dia pakek resep apasih?"
"nggak cantik-cantik banget kok, cantikan juga gue."
"kok bisa sih semua cogan nempel ama dia?"
"dasar gak tahu diri banget."
Ya, begitulah teriakan para manusia-manusia kurang kasih sayang. Jika saja tak menyadari keberadaan Aqila di gendongannya, sudah dipastikan Gavrin akan membuat mulut-mulut sialan itu tidak lagi bisa bicara.
Gavrin tidak suka Lalanya dihina.
Gavrin tidak suka Lalanya dicela.
Gavrin tidak suka jika ada yang menyakiti gadis kecilnya.
Dan Gavrin tidak akan tinggal diam jika hal itu sampai terjadi.
Saat di perjalanan, Gavrin hanya fokus menyetir karena dirinya mengendarai mobil dengan jecepatan di atas rata-rata.
Bahkan Sindi sampai ketakutan dibawa ngebut seperti itu oleh Gavrin.
"kak hati-hati, pelan-pelan aja." Ucap Sindi dengan suara gemetar.
"biar cepet sampai." Jawab Gavrin meskipin ia tahu jika Sindi sedang ketakutan. Tapi biar bagaimanapun kondisi Aqila lebih penting baginya.
.
Selang 15 menit, mereka akhirnya sampai di rumah sakit berkat kegilaan Gavrin dalam mengendarai mobilnya. Syila juga sudah sampai di sana dengan nafas tersenggal-senggal persis seperti orang yang habis lari maraton.
"apa penyakit Aqila parah sampai-sampai Gavrin membawanya ke rumah sakit besar seperti ini?" Tanya Sindi dalam hati saat menyadari ke rumah sakit mana Gavrin membawa Aqila.
Gavrinpun langsung membopong tubuh Aqila dan membawanya ke dalam rumah sakit sambil berlari. Sindi dan Syila juga mengikutinya di belakang
"tu-tuan muda." Ucap salah satu suster yang berjaga di meja resepsionis.
"cepat panggilkan dokter terbaik di sini." Perintah Gavrin yang langsung diangguki oleh suster tersebut.
"ba-baik tuan." Suster tersebutpun segera menelpon salah satu dokter terbaik di rumah sakit itu.
Ah, bahkan sebenarnya seluruh dokternya terbaik, mengingat ini adalah salah satu rumah sakit terbaik di Indonesia.
Gavrin langsung membawa Aqila ke ruang UGD, di sana sudah ada beberapa dokter yang tadi dipesan Gavrin.
"cepat tangani dia dengan baik dok." Ucap Gavrin pada beberapa dokter tersebut.
"baik tuan, kami akan berusaha melakukan yang terbaik." Jawab salah satu dokter.
"siapa namanya tuan?" Tanya salah satu suster yang bertugas mendata identitas pasien.
"Aqila." Jawab Gavrin tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Aqila.
Para dokterpun segera memeriksa keadaan Aqila. Bahkan Gavrin juga ikut di sana dan terus menggenggam tangan Aqila seakan enggan untuk melepaskan.
"dia harus dirawat di sini sementawa waktu tuan, jika dalam beberapa jam ke depan keadaannya sudah membaik maka dia sudah diizinkan pulang. Namun jika belum ada perubahan yang signifikan, terpaksa besok baru boleh pulang." Jelas salah satu dokter.
"lakukan yang terbaik, dan tolong siapkan ruang rawat terbaik di ruang sakit ini." Perintah Gavrin
"baik tuan." Jawab sang dokter
Sedangkan Sindi dan Syila yang menunggu di luar masih berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Ga-gavrin nga-ngajak mati, gu-gue sampe jan-jantungan ngikutinnya." Ucap Syila pada Sindi.
"gu-gue juga ta-takut banget kali." timpal Sindi
Merekapun kembali terdiam sambil mengatur napasnya masing-masing. Kemudian mulai angkat bicara lagi saat napasnya sudah terasa membaik.
"ini rumah sakit milik keluarga Gavrin ya?" Tanya Sindi
"kayaknya sih iya, tadi perawatnya ada yang manggil Gavrin dengan sebutan tuan muda." Jawab Syila
"pantes aja, tadi aja gue mikir kenapa sampe dibawa ke rumah sakit besar kayak gini. Ternyata rumah sakit ini milik keluarga Gavrin." Ucap Sindi yang hanya diangguki oleh Syila.
Tak selang lama, sebuah brankar keluar dari ruangan Aqila diperiksa, lengkap dengan Aqila yang berada di atasnya.
"A-Aqila mau dibawa kemana kak?" Tanya Sindi pada Gavrin.
"dia harus dirawat dulu di sini, kita mau bawa dia ke ruang rawat inap." Jawab Gavrin
Sindi dan Syilapun mengikuti arah langkah Gavrin dengan beberapa perawat yang mendorong brankar Aqila.
Bahkan mereka menaiki lift, hingga sampai di lantai 10 rumah sakit tersebut.
Aqila dibawa masuk ke dalam ruangan yang di depannya tertulis huruf Ruang VVIP 1.
Sindi dan Syila semlat membelalakkan matanya ketika melihat tulisan itu. Namun mereka langsung bersikap biasa saat mengingat keluarga Gavrinlah pemilik rumah sakit ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Hai guys? sampai di sini gimana nih ceritanya?π
Mau lanjut main-main dulu atau langsung ke end??π
Jawab di kolom komentar ya! karena author butuh pendapat kalian.π
Dan jangan lupa buat kasih likenya**π
Thankyuuπ