AQILA

AQILA
28. Kantin



Author Pov


"Aqila." Gumam Gavrin pelan bahkan sampai tidak ada yang bisa mendengarnya.


Gavrin masih berdiri mematung di tempatnya. Badannya mendadak lemas dengan apa yang dilihatnya barusan.


Sedangkan Kelvin yang sudah lanjut berjalanpun kembali menengok ke belakang saat menyadari Gavrin belum juga menyusul langkahnya.


Ternyata Gavrin masih diam mematung di depan kelas Aqila dengan tatapan yang kosong.


"hem." Ucap Kelvin dengan suara tinggi sehingga Gavrin bisa mendengarnya.


"eh iya apa?" tanya Gavrin


"mau lanjut gak kelilingnya?" Tanya Kelvin dengan nada dingin.


"besok lagi aja deh, gue capek." Jawab Gavrin yang kemudian berlalu dari hadapan Kelvin.


"kalo bukan cucu dari pemilik sekolah, gak bakal mau gue." Gerutu Kelvin kemudian ia ikut bergegas meninggalkan tempat tersebut.


.


Aqila merasa ada sesuatu dengan murid baru tersebut. Aqila memang merasa tidak asing dengan laki-laki bernama Gavrin tersebut. Tapi Aqila benar-benar tidak bisa mengenalnya.


Tadi saat Aqila bertemu dengan Gavrin yang sedang keliling sekolah bersama Kelvin di depan kelasnya, cowok baru itu menatap Aqila dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.


Ah entahlah, Aqila tidak pandai menduga-duga, ia juga tidak ingin terlalu berprasangka. Aqilapun segera menepis pikirannya tentang Gavrin memilih untuk kembali masuk ke dalam kelasnya.


"darimana Qil?" tanya Sindi


"itu dari depan, tadi ada kak Kelvin." jawab Aqila


"owh, jadi ceritanya udah tambah lengket nih?" goda Syila


"lengket lengket, emangnya lem?" Ucap Aqila sambil memanyunkan bibirnya ke depan.


"hahaha, bibirnya gak usah gitu juga kalik." Ucap Sindi sambil tertawa.


"eh, btw tadi cowok barunya ganteng banget tauk." Ucap Syila tiba-tiba


"siapa tadi namanya?" tanya Sindi


"Gavrin." jawab Aqila


"wah wah, udah inget aja nih namanya. Jangan-jangan lo mau gebet semua most wanted di sekolah kita lagi." Ucap Syila pada Sindi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"lo cemburu?" Tanya Aqila sambil menaikturunkan alisnya.


"iiih enggak." rengek Syila


"kantin yuk." Ajak Sindi tiba-tiba.


"lah emang gak pelajaran?" Tanya Aqila karena saat ini memang belum waktunya jam istirahat.


"lo tuli apa gimana sih? Tadikan udah diumumin kalo hari ini free." Jawab Sindi


Aqilapun membelalakkan matanya tak percaya, bagaimana bisa ia tidak tahu dengan kabar baik ini?


Aqila memang termasuk ke dalam golongan siswa pandai. Tapi Aqila tidak munafik, jika jam kosong tetaplah kebahagiaan tersendiri bagi dirinya, dan mungkin bagi hampir seluruh siswa.


"emang gurunya ke mana?" tanya Aqila


"lagi ada pertemuan sama kakeknya si Gavrin." jawab Syila


"owh, lagi pertemuan sama pemilik sekolah?" tanya Aqila lagi


"iya sayangkuh cintakuh." Jawab Sindi yang gemas dengan pertanyaan Aqila.


"ya udah kalo gitu ayo ke kantin, nunggu apa lagi?" tanya Aqila


"nungguin kucing bertelur." Jawab Sindi asal yang langsung membuat kedua sahabatnya menatap ke arahnya.


"udah udah gak usah nanya, kuy kantin." Ucap Sindi lagi sebelum kedua temannya membuka mulut.


"kuy lah." Ucap Aqila dan Syila bersamaan.


.


Merekapun segera meninggalkan kelas untuk menuju kantin. Terlihat banyak anak-anak yang mengobrol di luar kelas, dan ada juga yang memilih untuk pergi ke perpustakaan.


"rajin banget ya, free kayak gini mau-maunya ke perpus." cerocos Sindi tiba-tiba


"aelah, emangnya elo?" tanya Syila


"ck, kita mah nggak masuk ke dalam kategori murid rajin." jawab Sindi


"kalo tau ngapain nanya?" tanya Aqila


"iih gitu amat sih." Jawab Sindi ketus


Merekapun segera melanjutkan langkahnya menuju kantin. Kebetulan di sana masih tersisa satu meja kosong, merekapun segera menuju ke meja tersebut untuk duduk di sana.


Namun saat mereka hampir sampai di meja yang mereka maksud tadi, ternyata ada 1 orang juga yang menuju meja tersebut.


Merasa nanggung, akhirnya Aqila dan kedua sahabatnya tetap berjalan menuju satu-satunya meja yang masih kosong tersebut.


Dan benar saja, saat mereka sampai di meja itu, ada satu orang juga yang sampai di meja tersebut.


"eh udah ada yang duduk di sini ya?" Tanya seseorang itu.


"ka-kak Gavrinkan?" Ucap Syila yang saking tidak percayanya sampai terbata.


"Iya, kenalin gue Gavrin." Jawab Gavrin ramah sambil mengulurkan tangannya pada Syila.


"Syila kak." Ucap Syila tak lupa dengan menampilkan senyumnya semanis mungkin.


"Gavrin." Ucap Gavrin yang kini ganti mengulurkan tangannya pada Sindi.


"Sindi kak." Ucap Sindi sopan


"Gavrin." Ucap Gavrin lagi yang kini mengulurkan tangannya pada Aqila.


"Aqila kak." Ucap Aqila sambil tersenyum


"boleh gue panggil Lala?" Tanya Gavrin tanpa melepaskan tangannya yang masih menjabat Aqila.


DEG


Lala


Lala


Lala


Jantung Aqila tertompa dengan cepat. Panggilan itu, kenapa Gavrin tahu tentang panggilan masa kecil Aqila? Kenapa sepertinya Gavrin sengaja memanggil Aqila dengan nama itu?


Gavrin


Gavrin


Gavrin


Tapi siapa Gavrin? Nama itu terus terngiang di kepala Aqila, namun sayangnya ia tidak menemukan titik terang sama sekali


"bo-boleh kak." jawab Aqila lirih


"oke kalau gitu, salam kenal Lala." Ucap Gavrin lagi, lalu menarik tangannya dari tangan Aqila.


Sedangkan Aqila masih berusaha menampilkan wajah tenangnya. Ia mencoba tersenyum sebisa mungkin. Agar kedua sahabatnya tidak curiga pada dirinya.


Beberapa detik setelah perkataan Gavrin, mereka semua masih bungkam dengan posisi berdiri. Sepertinya tidak ada niat diantara mereka untuk duduk.


"btw, gue boleh ikut gabung? Soalnya mejanya udah penuh semua." Ucap Gavrin memecah keheningan.


"iya kak silahkan, toh tadikan kita ke sininya barengan." Jawab Sindi


Merekapun segera duduk di bangku kantin tersebut. Posisi Gavrin tepat di samping kanan Aqila sehingga membuat Aqila merasa tidak leluasa untuk bergerak sedikitpun.


Sedangkan Sindi dan Syila? Jelas saja mereka semua tersanjung, bagaimana tidak? Jika new most wanted kali ini langsung ikut gabung di meja mereka. Ya meskipun bisa dibilang ini hanya kebetulan karena tadi mereka sama-sama menuju meja ini.


But, no problem. Ini rezeki namanya. Pikir mereka kecuali Aqila.


"guys, lo mau pesen apa?" Tanya Syila pada kedua sahabatnya.


"siomai sama es jeruk." jawab Sindi


"kalo lo Qil?" Tanya Syila pada Aqila.


"samain aja." jawab Aqila


"kalo kakak mau pesen apa? Biar sekalian kita pesenin?" tanya Syila


"gue ngikut sama kalian aja, soalnya gue juga belum tahu menunya apa aja." jawab Gavrin


"oke kak kalo gitu." Ucap Syila yang langsung berlalu dari hadapan mereka.


"eh tunggu dulu Syil." Ucap Gavrin tiba-tiba yang membuat Syila menghentikan langkahnya.


"ada apa kak?" tanya Syila


"pakek uang gue aja." Ucap Gavrin sambil menyerahkan selembar uang seratus ribuan pada Syila.


"kalo sisa kasih pemilik kantinnya aja." tambah Gavrin lagi


"makasih kak." Ucap Syila menerima uang tersebut yang kemudian segera berlalu.


.


Setelah beberapa saat, Syila sudah datang bersama Mang Ujang-salah satu penjaga kantin di sekolahnya yang membawa sebuah nampan berisi 4 mangkuk siomai, sedangkan nampan yang dibawa Syila berisi 4 gelas es jeruk.


"makasih mang." Ucap Aqila pada Mang Ujang.


"sama-sama neng, Mang permisi dulu ya." Ucap Mang Ujang


"iya Mang, silahkan." jawab Aqila


"eh sebentar deh, ini siapa ya? Kok Mang Ujang gak pernah liat sebelumnya?" tanya Mang Ujang saat menyadari keberadaan Gavrin.


"perkenalkan Mang, saya Gavrin, murid baru di sini." Ucap Gavrin ramah


"ganteng pisan si aden mah." Ucap Mang Ujang


"biasa aja kok Mang." Ucap Gavrin merendah.


"ya udah silahkan dinikmati. Semoga betah ya di sini." Ucap Mang Ujang sebelum pergi meninggalkan bangku tersebut.


"iya mang, aamiin." ucap Gavrin


Merekapun segera memakan makanannya sampai habis tak tersisa.


"enak kak?" tanya Sindi kepada Gavrin saat melihat mangkuk Gavrin sudah bersih, bahkan sampai tak ada sisa sedikitpun.


"hehe enak, soalnya di London gak makan ginian." Jawab Gavrin sedikit canggung. Ternyata ia begitu serakah hari ini.


"hahaha gak papa kalik kak gak usah malu. Masakan Mang Ujang emang selalu the best pokoknya." Ucap Sindi sambil mengacungkan jari jempolnya.


"kalo boleh tahu kakak kenapa pindah ke sini?" tanya Syila


"lagi nyari seseorang." Ucap Gavrin, kemudian menatap Aqila yang ternyata juga sedang menatapnya.


Namun sedetik kemudian Aqila kembali menundukkan kepalanya. Ia merutuki dirinya sendiri yang tadi spontan mendongak saat mendengar ucapan Gavrin yang mengatakan 'lagi nyari seseorang'.


"wah, pasti spesial banget ya kak. Sampe kakak bela-belain pindah ke sini." ucap Sindi lagi


"iya, dia spesial banget buat gue. Tapi sepertinya dia udah lupa siapa gue." Ucap Gavrin yang jelas membuat hati Aqila tersentil.


Aqila memang belum mengingat siapa Gavrin. Tapi setiap perkataan yang Gavrin lontarkan itu seakan untuk dirinya, atau hanya Aqila saja yang terlalu pd?


"Qil?" Ucap Sindi tiba-tiba


"eh iya, ada apa Sin?" tanya Aqila


"lo gak sakitkan? Dari tadi diem aja." tanya Sindi


"enggak kok, gue sehat." jawab Aqila


"tapi muka lo kayaknya pucet deh Qil." Ucap Syila ganti.


"gue gak papa kok." Jawab Aqila sambil memaksakan senyumnya.


"sini coba gue liat." Ucap Gavrin yang langsung berniat menempelkan tangannya di dahi Aqila.


Aqila yang terkejut dengan perlakuan Gavrin padanyapun mencoba untuk menghindar. Namun terlambat, Gavrin lebih dulu mendaratkan tangannya di dahi Aqila sebelum ia sempat mengelak.


Dan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengamati mereka sejak tadi. Ia sudah mengepalkan tangannya erat tanda bahwa emosinya sebentar lagi akan meluap.


"Aqila." Ucapnya lirih namun penuh amarah.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambungđź’•