AQILA

AQILA
40. Dijenguk



~~Ketulusan adalah ketika kita bisa mengikhlaskan dia yang kita cinta pergi bahagia bersama cintanya, meskipun itu bukan kita.


Gavrin Arega Alexander


~


~


~


"KELVIN"


"GAVRIN"


Ucap Gavrin dan Kelvin barengan. Ternyata yang memencet tombol bel tadi adalah Kelvin.


Gavrin sedikit terkejut melihat kedatangan Kelvin, namun sedetik kemudian ia teringat jika status Kelvin adalah pacar Aqila.


Jadi wajar saja jika saat ini Kelvin berkunjung ke rumah Aqila. Toh, Gavrin tidak tahu gimana kebiasaan dua pasangan itu saat Gavrin masih berada di London.


Tidak jauh berbeda dengan Gavrin, Kelvinpun juga sama terkejutnya saat melihat ternyata Gavrinlah yang membuka pintu rumah Aqila. Ia tidak menyangka jika Gavrin lebih dulu ada di sana dibanding dirinya.


Namun Kelvin juga teringat, jika tadi siang Gavrinlah yang menolong Aqila. Bukan dirinya yang bahkan berstatus sebagai pacar.


Mereka saling memandang dengan tatapan yang berbeda. Gavrin masih stay cool dengan tatapan bertemannya, sedangkan Kelvin wajahnya sudah memerah menahan amarah.


"sory, gue mau balik." Ucap Gavrin yang menyadari keadaan sedang tidak bersahabat.


"silahkan." Ucap Kelvin dingin sambil memberi jalan Gavrin.


"itu Aqila ada di kamarnya kalo lo mau jenguk dia." Ucap Gavrin sambil tersenyum, namun Kelvin sama sekali tidak menggubris perkataannya.


"owh ya satu lagi, jangan bikin Aqila terlalu banyak pikiran." Ucap Gavrin yang langsung berlalu dari hadapan Kelvin.


"cih, sok perhatian banget. Baru juga kenal beberapa minggu." Cibir Kelvin setelah kepergian Gavrin.


Sesampainya di mobil, Gavrin mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum mulai menjalankan mesin kendaraannya.


Sebenarnya Gavrin tidak rela jika ada orang lain yang dekat dengan Aqila, apalagi jika itu Kelvin.


Setelah apa yang dilakukan Kelvin di sekolah tadi siang, rasanya Gavrin tidak bisa mempercayakan kebahagiaan Aqila pada Kelvin.


Namun Gavrin tidak boleh egois, biar bagaimanapun Gavrin tahu, jika Aqila sudah menaruh rasa pada Kelvin.


"Ketulusan adalah ketika kita bisa mengikhlaskan dia yang kita cinta pergi bahagia bersama cintanya meskipun itu bukan kita." Ucap Gavrin sebelum ia benar-benar menjalankan mesin mobilnya keluar dari halaman rumah Aqila.


.


.


Sedangkan Kelvin masih diam mencerna setiap kata yang Gavrin lontarkan, sesekali ia bertanya dalam hati 'mengapa Gavrin mengizinkannya bertemu dengan Aqila? Bukannya Gavrin juga suka sama Aqila?'


Namun Kelvin segera menepis pertanyaan itu dari pikirannya.


Ia kemudian bergegas masuk ke dalam rumah Aqila, namun sepertinya tidak ada seorangpun di sana, hingga Kelvin memilih menunggu di pintu dan mengucap salam sekali lagi.


"assalamu'alaikum." Salam Kelvin saat tidak ada seorangpun di rumah itu.


Kelvin masih setia di depan pintu, ia juga memencet bel rumah Aqila sekali lagi, sampai akhirnya seorang gadis cantik keluar menghampiri Kelvin.


Gadis itu langsung terpukau pada penampilan Kelvin. Ia menganga tak percaya, hari ini sudah ada dua cowok tampan yang datang ke rumahnya.


"gila cakep bener, 11 12 ama yang tadi." Ucap Green dalam hati.


Ya, gadis yang menghampiri Kelvin tadi adalah Greenindia.


Sebenarnya Green tidak mau membukakan pintu, tapi saat mendengar bel sudah berbunyi dua kali dan Bi Inah kelihatannya masih mengangkat jemuran di belakang, Greenindia dengan terpaksa akhirnya membuka pintu.


Namun siapa sangka jika tamunya adalah cowok tampan yang penampilannya saja sangat perfect.


"siapa ya?" Tanya Green pada Kelvin


"owh kenalkan, saya Kelvin, pacarnya Aqila." Ucap Kelvin yang membuat Green kaget bukan main.


"pa-car-nya ya?" Tanya Green memastikan.


"iya, dia ada di rumah kan?" Tanya Kelvin balik.


"a-ada, di kamar kak." Ucap Green sambil menunjuk kamar Aqila.


"kalo gitu saya permisi ya, mau ke kamar Aqila." Ucap Kelvin


"i-iya kak silahkan."


Greenpun mempersilahkan Kelvin untuk masuk ke kamar Aqila.


Namun jangan ditanya bagaimana perasaan Green, karena sudah jelas ia sangat-sangat geram saat harus kembali menerima kenyataan kalau cowok-cowok tampan yang datang ke rumahnya hanya punya urusan dengan Aqila, bukan dirinya.


Apa coba yang kurang dari Green? Sampai Kelvin sama sekali tidal tergoda dengan dirinya.


Cantik? iya


Tajir? Jangan ditanya lagi, diakan pewaris tunggal keluarga Anggara.


Lalu apa coba kurangnya Green? Sampai-sampai ia kalah saing dengan Aqila.


Green melihat Kelvin mengetuk pintu kamar Aqila kemudian segera masuk ke kamar itu.


Setelah memastikan Kelvin masuk ke kamar Aqila, Green juga segera masuk ke kamarnya. Ia harus kembali memikirkan suatu hal yang akan dia lakukan.


.


.


.


Greenindia Pov


Setelah memastikan Kelvin masuk ke kamar Aqila, gue langsung pergi juga menuju kamar.


Sesampainya di depan pintu kamar guepun langsung masuk ke dalam dan menutup pintunya secara kasar, hiingga bunyinya terdengar begitu nyaring.


Gue gak peduli dengan pembantu-pembantu yang kaget sama perlakuan gue. Pikiran gue bener-bener gak tenang kali ini.


Ya, hati dan pikiran gue lagi gak enak banget saat ini, gue muak denger semua orang nyebut nama Aqila. Gue gak suka kalo ada yang temenan sama dia.


Sialnya, semua cowok tampan yang dateng ke sini cuma untuk Aqila Aqila dan Aqila.


Apalagi tadi Kak Kelvin bilang dia adalah pacarnya Aqila. Oh No! Itu gak boleh terjadi. Kak Kelvin milik gue, bukan Aqila.


Gue gak akan biarin Aqila bahagia sama Kak Kelvin, cepat atau lambat Kak Kelvin akan jadi milik gue.


Apa sih hebatnya si Aqila tuh, sampai bisa sedeket itu sama cogan-cogan. Pokoknya gue gak boleh tinggal diem. Gue gak akan kasih Aqila kesempatan buat bahagia.


Udah cukup selama ini dia ditampung di rumah ini, kali ini gue bakalan bikin dia bener-bener hancur.


.


.


.


Author Pov


Kelvin mengetuk pintu kamar Aqila, berniat meminta izin kepada sang empunya kamar.


"masuk." Ucap Aqila


Kelvin yang mendengar ucapan Aqilapun segera membuka knop pintu dan mendorongnya dengan pelan. Setelah pintu terbuka, Kelvinpun masuk ke dalam kamar Aqila dan kembali menutup pintunya.


Sedangkan Aqila yang belum juga menyadari siapa yang datangpun masih sibuk memeluk gulingnya sambil membelakangi pintu kamar.


Kelvin yang melihat Aqila tidur dengan posisi seperti itupun tersenyum.


"lucu." Gumam Kelvin sebelum akhirnya ia memilih untuk duduk di samping Aqila.


Aqila yang merasa tempat tidurnya bergerakpun segera melepaskan pelukan pada gulingnya. Ia kemudian memutar badannya dengan posisi yang masih tidur.


Aqila mengerjapkan matanya berkali-kali, memastikan bahwa yang dilihatnya bukanlah hantu.


"haay." Sapa Kelvin yang paham akan raut bingung Aqila.


Sedangkan Aqila masih tak mampu membuka mulutnya. Bukan karena rasa sakitnya, tapi karena rasa keterkejutannya.


"Qil??" Ucap Kelvin lagi sambil menggerakkan salah satu tangannya di depan wajah Aqila.


"aww" Ucap Aqila kesakitan saat dia mencubit pipinya sendiri.


"gak usah dicubitin, udah gembul gitu juga." Ucap Kelvin sambil terkekeh.


Kali ini Aqila benar-benar merasa seperti mimpi, mana mungkin Kelvin ada di rumahnya? Memangnya cowok itu peduli dengan keadaannya?


"heyy." Ucap Kelvin lagi saat Aqila masih juga terdiam.


"i-ini beneran?" Tanya Aqila pada dirinya sendiri.


"Qil ini gue." Ucap Kelvin lagi


"kak Kelvin?" Ucap Aqila memastikan


"iya Qil, ini gue." Ucap Kelvin yang membuat Aqila membentuk lengkungan di bibirnya.


"gimana keadaan lo?" Tanya Kelvin


"a-aku gak papa kak." Jawab Aqila


Apa tidak salah tadi Kelvin menanyakan keadaannya? Apa saat ini Kelvin juga sadar dengan pertanyaannya barusan?


Ya, itulah pikiran-pikiran yang melintas di kepala Aqila. Ia benar-benar tidak menyangka jika saat ini Kelvin ada di hadapannyam


"jangan bohong, wajah lo aja masih pucet." Ucap Kelvin yang membuat Aqila terdiam.


"lo udah makan?" Tanya Kelvin lagi, sedangkan Aqila hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"udah minum obat?" Tanya Kelvin yang lagi-lagi hanya dijawab gelengan oleh Aqila.


"kenapa gak makan?" Tanya Kelvin lagi


"gak nafsu kak." Ucap Aqila yang akhirnya membuka suara.


"mau gue suapin?" Tanya Kelvin


"haaa?" Kaget Aqila sambil membulatkan kedua matanya.


"mau gue suapin nggak?" Ulang Kelvin


Aqilapun menganggukkan kepalanya antusias, layaknya anak kecil yang akan mendapat hadiah dari orang tuanya.


Setelah melihat Aqila menganggukkan kepalanya, Kelvinpun segera mengambil bubur di dalam plastik yang ia bawa.


Ternyata selain berisi cemilan, plastik Kelvin tadi juga memuat seporsi bubur ayam yang ia belikan khusus untuk Aqila.


"tadi aku cuma beliin kamu bubur, dimakan ya." Ucap Kelvin yang lagi-lagi hanya diangguki oleh Aqila.


"AAAaa." Ucap Kelvin seperti sedang menyuapi anak kecil.


Aqilapun membuka mulutnya sambil terus menatap Kelvin, Aqila benar-benar tidak pernah menyangka jika Kelvin bisa berbaik hati seperti ini padanya.


"nih satu suapan lagi." Ucap Kelvin yang membuat Aqila terkejut.


Apa Aqila terlalu memperhatian Kelvin, sampai-sampai Aqila tidak sadar jika seporsi bubur ayam itu telah ia habiskan. Padahal tadi rasanya Aqila sangat malas untuk sekedar makan.


Tapi lihat sekarang, bahkan perutnya sudah terasa kenyang tanpa ia sadari.


"enak?" Tanya Kelvin setelah bubur ayam itu habis.


"i-iya kak." Jawab Aqila malu


Bagaimana ia tidak malu, jika tadi saja menolak untuk makan. Tapi sekali makan langsung dihabiskan.


"mana obatnya?" Tanya Kelvin


"di atas nakas kak." Jawab Aqila


Kelvinpun mengambil beberapa jenis obat yang berada di atas nakas Aqila. Ia kemudian membuka satu persatu obat itu dan memberikannya pada Aqila.


"ini." Ucap Kelvin sambil menyerahkan beberapa obat pada Aqila.


Setelah Aqila menerima obat itu, Kelvin kemudian mengambil segelas air putih lalu menyerahkannya pada Aqila.


"pahit." Ucap Aqila saat berhasil meneguk obat tersebut.


"ya iyalah pahit, namanya juga obat. Kan yang manis kamu." Ucap Kelvin tanpa sadar.


Aqila yang mendengar perkataan Kelvinpun segera mendongakkan kepalanya untuk menatap Kelvin.


"apa tadi kak?" Tanya Aqila memastikan pendengarannya.


"eh eng-enggak," Jawab Kelvin gugup


Aqilapun tertawa melihat kegugupan Kelvin, sedangkan pandangan Kelvin langsung terkunci pada Aqila yang sedang tertawa.


"udah tau aku cantik, masih diliatin aja." Sindir Aqila pada Kelvin.


"si-siapa juga yang liatin, percaya diri banget perasaan." Elak Kelvin


"tapi sukakan?"


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung💕


Jangan lupa like and comment ya readers😚