AQILA

AQILA
15. Canggung



"gila tuh guru, masak ngasih soal segitu banyaknya." gerutu Sindi


"lah iya, emang dia pikir gue robot apa." tambah Syila


"santai aja kalik." jawab Aqila santai


"lo mah pinter, lha kita-kita?" Ucap Sindi dengan raut wajah memelas


"trus apa gunanya sahabat kalo gak saling membantu?" tanya Aqila sambil menatap kedua sahabatnya.


"jadi lo mau bantuin kita?" tanya Syila antusias


"mau lah." jawab Aqila


"ya ampun makasih banget Qilaaaa." Teriak Syila sampai membuat pengunjung kantin menoleh ke arah mereka.


Ya, saat ini Aqila dan kedua sahabatnya memang sedang berada di kantin. Mereka berniat untuk makan siang karena cacing di perut mereka sudah meronta-ronta sejak tadi. Pelajaran fisika kali ini memang cukup menguras energi. Apalagi ditambah tugas yang diberikan cukup banyak sampai membuat seisi kelas Aqila pusing tujuh keliling.


"udah gih pesen, laper banget nih" Ucap Sindi tidak sabar.


Namun belum sempat mereka memesan makanan tiba-tiba datanglah segerombolan most wanted yang menyita perhatian seluruh pengunjung kantin.


Banyak cewek-cewek yang meneriaki mereka dengan kata-kata kagumnya, tidak sedikit pula yang menyanjung ketampanan keempat most wanted tersebut secara terang-terangan. Bahkan ada yang langsung menyatakan perasaan mereka dengan lantang meskipun mereka tahu tidak akan digubris sedikitpun oleh para most wanted tersebut.


Ya, most wanted tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Kelvin dan kawan-kawan. Mereka baru saja memasuki kantin, dan mengedarkan pandangan untuk melihat bangku yang masih kosong.


"nihil." ucap Raka pelan namun masih bisa terdengar oleh ketiga sahabatnya


"duduk di sini aja kak."


"ikut kita aja kak."


"gabung kita aja kak, masih sisa kok bangkunya."


"sama kita-kita aja kak."


Begitulah teriakan para siswi yang mengetahui bahwa tidak ada lagi meja yang kosong. Dengan senang hati mereka memberikan tawaran pada most wanted tersebut untuk bergabung bersama mereka.


Namun mereka justru berjalan ke arah Aqila, begitupun Kelvin yang mengikuti langkah ketiga sahabatnya.


"kita boleh gabung?" tanya Radit dengan sopan, tumben sekali Radit mau bicara lebih dulu apalagi kepada adik kelasnya.


"em, silahkan kak." Jawab syila dengan semangat. Bagaimanapun ia tidak akan menolak rejeko untuk bisa makan bareng bersama para most wanted di sekolahnya


"makasih." jawab Radit yang langsung duduk di samping Syila.


Rakapun ikut duduk di samping Sindi, kemudian Sean duduk di samping kiri Aqila, dan Kelvin mau tidak mau harus duduk di samping kanan Aqila karena hanya itulah bangku yang kosong di meja itu.


"kalian udah pesen?" tanya Raka menyadari belum ada makanan di meja tersebut.


"belum kak " jawab Sindi


"kalian mau pesen apa emangnya?" tanya Raka


"eum, samain aja sama kalian kak." Jawab Aqila yang akhirnya membuka suara.


"gak pengen apa-apa lagi?" tanya Radit memastikan


"nggak usah kak." kini giliran Sindi yang menjawab.


"ya udah kalo gitu gue aja yang pesen." Ucap Radit kemudian berdiri hendak memesan makanan.


"aku bantu kak." ucap Syila kemudian menyusul Radit


"ehem." dehem Raka memecah keheningan di meja tersebut. Pasalnya setelah Syila dan Radit pergi memesan makanan. Hanya tercipta keheningan di meja tersebut.


"eh iya kak." ucap Sindi canggung


"btw nama lo Sindi kan?" Tanya Raka memastikan


"iya kak." jawab Sindi


"Kenalin, gue Raka, dia Sean, dan yang tadi itu Radit. Kalo yang ini lo udah pada tahukan." Ucap Raka menjelaskan.


"eum iya kak." jawab Sindi lagi


Tak beberapa lama Radir dan Syilapun datang dengan nampan di tangan mereka.


"taaraaa makanannya udah datang." Teriak Syila cempreng, sedangkan Radit hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Syila.


Merekapun segera memakan pesanan mereka dengan tenang, bahkan tidak ada yang berbicara sedikitpun.


Namun, disela aktivitas makan mereka tiba-tiba Aqila tersedak. Kelvin yang melihat Aqila tersedakpun langsung memberikan minum pada Aqila.


Aqila menerima minum yang diberikan Kelvin dengan suka cita, hatinya sedikit menghangat. Setidaknya Kelvin masih peduli terhadapnya. Hingga tercipta sebuah lengkungan kecil di bibir Aqila.


"nggak usah kepedean, gue cuma reflek ngasih minum." Ucap Kelvin dingin, seakan ia tahu uang Aqila pikirkan, hingga membuat Aqila langsung tersadar, bahwa dirinya sudah terlalu kepedean akan perlakuan Kelvin.


"Cowok emang gitu ya, udah ngebaperin sampai terbang eh malah dijatuhin gak karuan." cerocos Aqila dalam hati.


Merekapun melanjutkan aktivitas makannya.Setelah selesai, keadaan masih juga hening. Rakapun berniat untuk menjahili Kelvin.


"itu ada cewek cantik kenapa dianggurin sih An?" Tanya Raka pada Sean


"wah iya, di sampingnya ada bidadari juga." tambah Radit


"eh iya sampai gak sadar kalo dari tadi sebelahan sama bidadari." ucap Sean menggoda Aqila. Sedangkan Aqila hanya salah tingkah dengan perlakuan ketiga sahabat Kelvin.


Baru saja Sean ingin mengucapkam gombalannya pada Aqila, bel tanda istirahat telah usaipun berbunyi. Sehingga membuat mereka mau tidak mau harus kembali ke kelas.


"yah, baru aja mau godain bidadari. Malah udah bunyi tuh bel." gerutu Sean


"haha, bukan rejeki lo kalik." timpal Radit sambil tertawa


"ya udah deh, kita balik duluan ya girls." ucap Raka yang beranjak dari meja makan tersebut.


"iya kak, silahkan." ucap Aqila mempersilahkan


Sepeninggalan Kelvin dan kawan-kawannya, Aqila dah sahabatnyapun juga bergegas kembali ke kelas.


Sesampainya di kelas, Sindi dan Syila hanya menggerutu tak jelas tentang perlakuan Kelvin pada Aqila.


"punya cowok gitu amat sih, udah judes, dingin, gak ada manis-manisnya sama sekali." cerocos Sindi


"percuma ganteng tapi songong kayak gitu." tambah Syila


"lagian lo mau-mau aja sih Qil nerima si Kelvin itu." ucap Sindi lagi


"mendingan si Radit yang cool abis itu." ucap Syila sambil senyum-senyum sendiri


"jangan bilang lo suka sama Radit." hardik Sindi dengan cepat


"ya gak papakan kalo gue suka ama dia, lagian siapa sih yang nolak pesona seorang most wanted kayak mereka." jawab Syila dengan tenang


"dasar manusia, tadi marahin gue kenapa mau sama Kelvin, sekarang malah jatuh cinta sama sahabatnya." ucap Aqila


"ya kan beda, kalo Radit mah baik gak kayak Kelvin." nela Syila


"semerdeka lo aja deh Syil." ucap Sindi


"mau gimanapun juga tetep bakal kalah sama yang lagi bucin. hahaha." tawa Aqila dan Sindipun pecah bersama dengan raut cemberut dari Syila.


Tak selang lama, seorang guru masuk ke dalam kelas mereka. Keadaan yang semula riuhpun menjadi hening. Hingga Aqila dan teman-temannyapun juga ikut mengakhiri obrolan mereka. Mereka kembali menerima pelajaran seperti biasa sampai jam pelajaran selesai.


.


.


.


.


.


.


bersambung . . .