Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 8: Cyan, Janitor yang dingin



Cyan adalah Janitor di The Skeld 385. Tugasnya sehari-hari hanya bersih-bersih. Tapi sebelum bersih-bersih dia sudah pasti harus mengerjakan task dulu.


Dia sama sekali tidak akrab dengan kru di sini terkecuali dengan Orange. Sifatnya kurang lebih sama dengan Brown. Hanya saja Brown masih mau bergaul. Karena itulah jarang yang mau bergaul dengan nya. Selain karena sifat dinginnya, Cyan juga adalah seorang yang temperamen. Dia akan mudah marah atau malah menyakiti seseorang jika mood nya sedang buruk.


Hari itu seperti biasa, Cyan mengepel lantai depan electrical. Penanda lantai basah yang ada di kepalanya diletakkan di lantai agar tidak ada yang lewat.


Red yang saat itu berlari menuju electrical, tidak sengaja menabrak penanda itu dan jatuh. Cyan yang menyadari hal itu berbalik dan menatap Red dengan tajam. Red menelan ludah. Dia belum pernah ditatap seperti itu. Dia berusaha berdiri meski kakinya sedikit gemetaran.


"Ma-ma maaf," kata Red terbata-bata. Kepalanya menunduk, tidak berani melihat wajah Cyan.


Cyan tidak berkedip. Dia berjalan menghampiri Red, "Apa kau mencari ini?" Tanya Cyan sambil mengangkat sebuah kotak peralatan.


Red terkejut. Seingatnya tadi Cyan tidak memegang apapun, "Iya."


"Lakukan apa yang harus kau lakukan. Setelah itu pergi ke ruang pesawat awak. Aku akan memberikan mu hukuman karena melewati penanda itu," kata Cyan lalu pergi.


Red masih gemetaran tapi dia berusaha menenangkan diri nya lalu pergi. Dia tadi disuruh Lime untuk mengambil kotak itu karena dia tidak sengaja meninggalkan nya di electrical.


Dia pergi ke cafetaria karena di sanalah Lime menunggunya. Setelah bertemu dia berikan kotak itu.


"Terima kasih Red," kata Lime lalu pergi ke dapur. Sementara Red juga pergi ke tempat yang disuruh Cyan.


Saat dia baru sampai, terlihat Cyan yang bersandar di pintu menunggunya.


Red menghampirinya, "Jadi apa yang harus kulakukan?"


"Ini," Cyan memberikan penyapu dan pengepel, "Aku mau kau membersihkan tempat ini sampai bersih hingga ke sudut-sudut nya," kata Cyan.


Red menerima benda itu lalu memperhatikan ruangan itu. Ruangan itu sangat besar dan luas, tapi dia tidak boleh mengeluh. Mengetahui Cyan itu seperti apa orangnya dan sifat tahu dirinya, Red pun menerimanya.


Dia mulai dengan membersihkan debu di dinding. Cyan memasang penanda dan mengawasi Red.


"Bagian itu masih kotor, bersihkan lagi!" Perintahnya membuat Red terkejut. Tidak sadar dirinya sedang diawasi.


Red terus mengulang-ulang membersihkan tempat itu hingga tubuhnya mulai kelelahan. Tapi Cyan sama sekali tidak memberikannya istirahat. Hingga akhirnya Red selesai membersihkan tempat itu hingga benar-benar bersih sekarang. Red duduk bersandar di dinding sambil terengah-engah.


"Kau melakukan nya dengan baik," puji Cyan.


Red duduk tegak menatap Cyan yang berdiri. Agak lama mereka saling bertatapan hingga akhirnya Cyan pun membantu Red berdiri.


"Istirahat lah ke cafetaria!" Perintah Cyan lalu pergi. Red pun pergi juga ke cafetaria.


Sesampainya di cafetaria, Red mengambil segelas air putih lalu duduk. Dia meneguk air itu sampai habis dan bernafas lega. Saat itu cafetaria sedang sepi, yang ada hanya Orange yang sibuk di dapur. Sisanya mungkin sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Red!"


Red menoleh. Ternyata Black yang memanggilnya. Red tidak melihat nya dari tadi pagi, jadi dia lumayan kaget ketika melihatnya.


"Kenapa?"


"Kau dari mana saja? Aku lelah berkeliling mencari mu," tanya Black lalu duduk di samping Red.


"Justru harusnya aku yang bertanya. Kau di mana? Tadi pagi aku tidak melihat mu," Red bertanya balik.


"Hehehe ya tadi pagi aku ada di comunication," jawab Black sambil terkekeh.


"Comunication? Kau sedang apa di sana?"


"Misi kita kan mencari pesawat The Skeld 301. Nah White menyuruhku untuk berjaga di comunication kalau-kalau ada sinyal masuk ke pesawat kita. The Skeld 301 mengirim kode sebelum menghilang jadi kita bisa pakai itu untuk menemukan mereka," jelas Black.


"Oh begitu ya. Tapi sepertinya itu melelahkan. Berjaga-jaga seperti itu," kata Red.


"Oh jelas itu melelahkan. Tapi aku mengatasinya dengan bermain game."


"Kau main game waktu berkerja? Bukankah Kapten akan marah?"


"Jelas dia marah asal tidak ketahuan pasti tidak apa-apa," Black benar-benar menyesatkan.


"Ya sudahlah, tapi aku boleh ikut main?"


"Boleh mumpung sekarang White sedang istirahat," jawab Black lalu mereka berdua pergi ke comunication.


Sementara itu Cyan baru sampai setelah Red dan Black keluar dari cafetaria. Dia sempat melihat punggung Red yang menghilang dibalik pintu. Tapi dia hanya diam saja lalu pergi ke dapur. Cyan bertemu Orange yang saat itu sibuk mencuci piring.


"Apa kau menyuruh orang itu membantu mu?" Tanya Orange. Dia sudah mendengar semuanya dari Red.


"Aku tidak menyuruhnya. Ini hukumannya," jawab Cyan cuek.


"Ya ya baiklah," kata Orange menyerah lalu pergi karena tugasnya sudah selesai.


Sementara itu kembali lagi ke Red dan Black. Mereka bergantian bermain game di komputer.


"Oh ya kau tidak menjawab ku tadi. Kau di mana waktu kucari kau?" Tanya Black sambil fokus di layar monitor.


Red menghela nafas lalu menceritakan semuanya. Black sampai terkejut dibuatnya.


"Tapi dia tidak memukul mu kan?" Tanya Black khawatir.


"Dia tidak memukul ku, tapi tetap saja dia mengerikan. Memangnya kenapa? Kau terlihat khawatir," Red bingung.


"Cyan adalah Janitor yang ditakuti. Tidak ada yang berani membantah nya, bahkan aku sendiri. Dia sangat terobsesi dengan kebersihan, jadi jika ada yang membuat kotor didekat nya ku jamin orang itu tidak selamat," jelas Black sambil sedikit berbisik.


Red berpikir, "Seperti nya semua crewmate di sini bahkan sampai ke Janitor nya juga, bukan yang main-main dipilih nya."


"Oh jelas," jawab Black bangga lalu mereka melanjutkan permainan mereka.


Keesokan harinya, entah ada alasan apa Cyan mengajak Red bersih-bersih lagi ditempat lain. Red bingung tapi akhirnya menurut juga. Untung saja saat itu Blue tidak melihat nya, jika itu terjadi sudah pasti Red akan menjadi bahan jahilnya.


Awalnya semua nya berjalan baik-baik saja. Red semakin hebat dalam bersih-bersih. Dia sudah tidak perlu lagi pantauan dari Cyan karena dia sudah tahu apa yang akan dilakukan nya. Tapi semua itu berubah setelah Blue mengetahui hal itu. Dia dan teman barunya yaitu Purple, menyusun rencana untuk menjahili Red.


Saat yang dinantikan oleh mereka berdua pun tiba. Red mengepel di lorong. Dia hampir selesai sebenarnya hingga akhirnya mereka berdua datang.


"Wah kau rajin sekali Red," puji Blue yang sebenarnya untuk akal-akalan saja. Red yang sudah curiga diam saja dan mulai berjaga-jaga.


"Iya, memangnya kenapa?" Tanya Red dingin.


"Tidak ada, tapi sepertinya kau harus bekerja lebih keras lagi Red," kata Blue sambil tersenyum licik.


Perasaan Red tidak nyaman. Benar saja, Purple muncul di belakang Red lalu membuang sampah dari sebuah kantong plastik besar.


"Heh!" Red berteriak marah sambil mengibaskan pengepel nya ke arah Purple.


Tapi Purple dengan lincah menghindar lalu berlari ke arah Blue dan mereka berdua meninggalkan tempat itu sambil tertawa-tawa. Red menjadi lesu. Tapi rasa itu seketika berubah ketika dia merasa ada yang berdiri di belakangnya. Bulu kuduknya berdiri.


Tiba-tiba sebuah benda keras dan tumpul menghantam punggung Red. Red terkejut lalu berbalik dan berhasil menahan serangan berikutnya. Ternyata Cyan lah yang menyerangnya menggunakan penyapu. Terlihat tatapan marah dari matanya membuat Red gemetaran. Cyan menyerang lagi dan terus menyerang, tapi Red berhasil menangkis nya. Tapi ternyata Cyan memegang dua penyapu, jadi ketika Red berhasil menahan yang satu. Yang satunya lagi bergerak memukul Red.


Red terduduk di lantai sambil meringis. Cyan mengarahkan ujung penyapu nya ke wajah Red.


"Kenapa kau menyerang ku?" Tanya Red meski sebenarnya dia sudah tahu apa salahnya.


"Kenapa? Kau tanya kenapa? Aku ingin bertanya balik, kenapa kau membuang sampah disini?" Tanya Cyan dengan geram.


"Bukan aku yang melakukannya," bela Red.


"Ada apa ini?" White dan semua crewmate termasuk Blue dan Purple muncul. Mereka berdua terlihat senang dengan penderitaan Red.


Cyan menjelaskan situasi nya saat itu. Sementara White terlihat tidak percaya lalu memandang Red.


"Apa kau benar-benar melakukannya Red?" Tanya White.


"Tidak Kapten, itu bukan saya. Purple dan Blue yang melakukan nya," jawab Red sambil menunjuk kedua orang itu.


"Ya tidak mungkin mereka berdua yang melakukan nya. Mereka bersama ku tadi," sambung Orange. Dia tidak bohong sebenarnya karena memang setelah Blue dan Purple melakukan aksinya, mereka berdua segera bersama dengan Orange jadi mereka punya alasan untuk tidak dituduh.


"Ta-tapi," Red tidak bisa berkata apa-apa. tampaknya kedua orang itu memang sudah merencanakan nya sampai sejauh ini. Red benar-benar sudah kalah.


"Sudahlah begini saja. Cyan kau tidak perlu pakai kekerasan begitu, dan kau Red segera bersihkan sampah itu. Bagaimana? lebih baik kan?" Saran White.


"Baiklah," Cyan menurunkan penyapu nya lalu pergi setelah memberi tatapan tajam pada Red.


Red menghela nafas lega lalu menatap White dengan tatapan terima kasih. White balas menatapnya. Sebenarnya dia percaya pada Red. Tapi sama seperti Red, dia juga tidak punya bukti untuk menyalahkan Blue dan Purple.


Setelah selesai membersihkan semua sampah itu, Red pergi ke medbay untuk mengobati bekas pukulan dari Cyan. Black dan Brown menemaninya di medbay.


"Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa mereka berdua tega melakukan itu," kata Red dengan sedikit kesal.


"Ya aku akhirnya mengerti kenapa kau begitu tidak suka pada Blue," sambung Black.


Brown hanya diam. Dia sibuk mengemaskan peralatan nya sambil tetap mendengar kan mereka berdua. Tiba-tiba vent terbuka membuat Red dan Black terkejut. Lalu muncul sosok Lime dari dalam vent.


"Astaga kau membuat ku terkejut," kata Black sambil mengelus dada.


"Kau sedang apa situ?" Tanya Red. Dia memang pernah melihat orang muncul dari dalam vent, tapi dia tidak tahu apa yang mereka lakukan.


"Aku memperbaiki lubang ventilasi ini. Lagipula aku tidak tahan didalam sana, sangat sesak," jawab Lime. Dia duduk di pinggiran dan kakinya masih di lubang vent.


Setelah kejadian itu, meski Red melakukan kesalahan. Tapi tampaknya Cyan masih berusaha untuk percaya pada Red. Dia sebenarnya sudah lelah, itulah sebabnya dia mencari orang yang bisa membantunya dan Red yang menurutnya paling cocok.


Sementara Blue dan Purple masih terus melancarkan aksi jahilnya kepada Red. Tapi Red yang sudah belajar dari kesalahan pertamanya, tidak akan membiarkan itu terulang lagi. Blue dan Purple benar-benar kesal karena aksi mereka berhasil digagalkan.


Hingga akhirnya semuanya diluar batas. Red yang berhasil melawan aksi mereka membuat Purple lepas kendali. Purple muncul di belakang Red tapi kali ini dia membawa sebuah batang besi yang entah dia dapat dari mana. Dengan batang besi itu, Purple memukul kepala Red hingga kepalanya berdarah dan dia pun rubuh di lantai. Blue terkejut karena semua diluar dugaan nya.


"Apa yang kau lakukan, Purple?" Tanya Blue panik lalu menghampiri Red untuk memastikan kondisi nya.


Red terlihat lemas dan menahan sakit di kepala nya. Dia meringis lalu akhirnya pingsan. Blue khawatir dan panik.


"Aku tidak suka jika rencana ku gagal," desis Purple sambil menatap ke arah Blue. Tapi jika diperhatikan lagi, tatapan nya terlihat kosong.


"Apa?" Blue bingung.


"Aku tidak suka, aku tidak suka, aku tidak suka," Purple terus menerus mengatakannya membuat Blue menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada Purple.


Purple yang awalnya hanya berdiri diam mulai bergerak. Tatapan kosongnya berubah menjadi tajam. Dia terlihat seperti ingin menerkam Blue. Purple bergerak menyerang Blue. Blue terkejut dan tidak siap. Dia sudah pasrah untuk serangan itu.


Tiba-tiba seseorang muncul di belakang Purple lalu menahannya. Mereka berdua menoleh dan tercekat. Ternyata Cyan lah yang menahannya. dia menatap tajam ke mereka berdua. sementara semua kru berdiri di belakangnya.


"Berhenti kau," kata Cyan dingin.


"Black bawa Red ke medbay," perintah White. Black menurut lalu menggendong Red dan membawanya pergi.


Semuanya berdiri tegang. Melihat ke Cyan dan Purple yang sudah saling bertatapan tajam.


"Lepaskan!" Desis Purple mengerikan.


Cyan tidak mendengarnya. Dia menarik paksa batang besi itu lalu melemparnya.


"Beraninya kau mengotori tempat yang sudah dibersihkan," ekspresi Cyan berubah menjadi menyeramkan. Semua Crewmate berdiri tegang. Was-was dengan apa yang akan terjadi berikutnya.


Beberapa saat kemudian...


Red perlahan-lahan membuka matanya. pandangan nya yang awalnya kabur berangsur-angsur jelas. Dia menyadari kalau dirinya berada di medbay.


"Kau baik-baik saja Red?" Tanya Black yang berdiri di sampingnya. Dia di sini menemani Red setelah Brown selesai mengobati nya.


Red berusaha duduk tapi tiba-tiba kepalanya pusing membuat dia terbaring kembali. Black terkejut lalu membantunya berbaring kembali.


"Jangan paksakan dirimu," tegur seseorang dibelakang Black.


Mereka berdua menoleh dan terlihat Cyan bersandar di pintu sambil melipat tangannya di depan dada.


"Wow Cyan kau mengagetkanku. Kau sedang apa di sini?" Tanya Black tidak suka.


"Tentu saja menjenguknya," jawab Cyan santai.


Pusing di kepala Red sudah hilang. Dia akhirnya ingat dengan apa yang terjadi sebenarnya. Dia ingat Purple memukul kepalanya dan Blue terlihat panik lalu setelah itu dia pingsan. Dia tidak tahu apa yang terjadi berikutnya.


"Um apa yang terjadi pada Blue dan Purple sekarang?" Tanya Red pelan.


"Oh kau ingat juga akhirnya," kata Black.


"Mereka dihukum," jawab Cyan lalu berjalan mendekati ranjang Red. Black terus menatapnya tidak suka.


"Apa hukumannya berat?" Tanya Red lagi.


"Apa kau peduli pada mereka?" Black bingung.


"Sedikit, tapi kenapa Purple tega melakukan itu?" Tanya Red tidak habis pikir.


"Purple memiliki masalah kejiwaan," jawab Cyan yang sudah duduk di samping ranjang Red, bersebelahan dengan Black. Black semakin tidak suka karena diabaikan.


"masalah kejiwaan?" Red bingung.


"Sejak kecil dia sangat di manja dan semua permintaan nya selalu dituruti. Mungkin karena ini jugalah dia sangat sinis dengan orang lain. Dia juga pintar dalam menyusun rencana, jadi semua rencananya selalu berhasil dan tidak pernah gagal sekalipun. Tapi kau berhasil menggagalkan rencananya berkali-kali dan itu membuatnya gila," jelas Cyan.


Black pun menyambung, "Tapi sejak dia berteman dengan Yellow, sifatnya menjadi lebih baik. Hanya saja dia masih tetap sinis pada orang lain. Dia berubah lagi setelah kenal dan berteman dengan Blue. Benar-benar menyesatkan."


"Apapun itu dia pantas untuk mendapatkan hukuman," sambung Orange yang muncul di pintu. Mengejutkan Red dan Black.


"Kau membuat ku kaget, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Black.


"Untuk apa? Menjenguk Red. Aku membawa kue untuk mu Red," Orange dengan cepat mengabaikan Black membuat orang itu kesal.


"Wah terima kasih," kata Red lalu memakan kue itu.


Cyan diam saja memperhatikan lalu dia pun berdiri hendak pergi.


"Kau mau kemana?" Tanya Orange.


"Aku sudah selesai. Oh ya Red," panggil Cyan. Red mengangkat kepalanya dan menatap Cyan dengan pipi yang membesar karena kue. Agak lama mereka bertatapan lalu akhirnya Cyan menghela nafas, "Cepat sembuh. Aku mau kau membantuku lagi bersih-bersih," katanya lalu pergi.


"Wow dia peduli padamu Red," kata Orange pada Red yang saat itu tidak percaya.


"Ck aku benci dia," kata Black kesal.


Sementara itu, Cyan yang sudah menjauh dari medbay berhenti di tempat yang sepi. Dia duduk di lantai bersandar pada dinding lalu mengusap kepalanya.


"Rasanya dia mirip seseorang tapi siapa," batin Cyan sambil berusaha mengingat.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋