
Tiba-tiba terdengar suara report di Polus. Itu mengejutkan para Crewmate, termasuk Red yang sedang menggulung diri dengan selimutnya untuk memberikan rasa hangat.
Red keluar dari kamar lalu berlari ke sumber report itu. Begitu juga dengan Black dan Brown yang sedang berada di laboratorium.
Mereka tiba secara bersamaan di O2 yang merupakan asal dari suara report itu. Terlihat Lime yang berdiri membelakangi mereka sambil memegang megafon nya. Mereka lebih dikejutkan dengan mayat yang di dekat kaki Lime.
"Blue!" Seru Red lalu hendak berlari menghampirinya. Tapi Black menahannya.
"Lime, kau tidak melakukannya?" Tanya Black.
Lime berbalik, "Menurutmu?" Dengan nada tertahan.
"Lalu siapa?" Tanya Black sambil membiarkan Red menghampiri Blue.
"Aku sendiri juga tidak tahu. Aku kebetulan hendak ke O2 dan tidak sengaja menemukan mayat Blue," jawab Lime.
Mereka semua terdiam. Sedangkan Red mengecek kondisi Blue untuk memastikan apakah temannya itu baik-baik saja, tapi detak jantungnya serasa berhenti ketika mengetahui tidak ada napas dari Blue.
Blue sepertinya meninggal sudah cukup lama. Dapat dilihat dari bercak darahnya di lantai yang mulai kering. Red tidak bisa berkata-kata. Dada nya terasa sesak melihat temannya berakhir seperti itu.
Meski mereka berdua sering bertengkar, tapi tidak pernah sekalipun muncul rasa benci di hatinya. Dia tetap menganggap Blue sebagai temannya.
Lime, Brown dan Black masih menatap Red yang mulai meneteskan air matanya. Hingga Brown pun tersadar sesuatu.
"Tunggu, dimana Pink dan Yellow?" Tanya Brown mengejutkan mereka.
Lime dan Red baru sadar kalau kedua perempuan itu tidak ada di sini. Tapi berbeda dengan Black, dia menyadari bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak beres.
"Cari mereka!" Seru Black lalu berlari meninggalkan tempat itu.
Brown, Lime dan Red yang masih termangu juga ikut berlari meninggalkan tempat itu. Mereka membiarkan mayat Blue tergeletak di situ untuk sementara waktu karena dari seruan Black barusan, pasti ada sesuatu yang tidak beres.
Sementara itu, Pink dan Yellow sedang berada di storage. Yellow mendengar suara report itu dan dia sebenarnya ingin pergi ke sumber report itu. Tapi Pink menahannya dan mengatakan bahwa mereka berempat saja sudah cukup.
Lama-kelamaan dia mulai merasa tidak tenang. Rugel duduk di dekat kakinya. Dia juga merasakan kegelisahan hati Yellow.
"Pink, aku rasa kita harus pergi ke mereka. Aku mulai merasa tidak nyaman," kata Yellow sambil berdiri dengan gelisah.
Pink yang berdiri membelakangi Yellow, hanya menoleh, "Tidak perlu."
Yellow yang sudah tidak tahan langsung saja berdiri sambil menggendong Rugel lalu berjalan menuju pintu. Tapi tiba-tiba pintu tertutup di depannya.
Yellow terkejut, "Apa?"
"Bukankah sudah kubilang tidak perlu pergi?" Suara Pink yang sebelumnya lembut dan hangat tiba-tiba menjadi dingin dan berat.
Tubuh Yellow menegang. Dia menoleh perlahan ke arah Pink yang juga menatapnya sambil tersenyum sinis. Bibirnya terasa kering dan tenggorokannya tercekat. Rugel yang ada di pelukannya menggeram lalu melompat hendak menyerang Pink. Tapi Pink langsung memukul Rugel hingga menghantam dinding dengan keras.
"Rugel!" Seru Yellow khawatir tapi Pink berdiri menghadangnya yang hendak menghampiri Rugel.
"Kau harusnya mengkhawatirkan diri mu sendiri, Yellow," kata Pink sambil tersenyum. Perutnya mulai memunculkan goresan yang semakin lebar.
Yellow tercekat, "Ka...kau."
Perut Pink terbuka lebar menjadi mulut yang penuh gigi lalu dia melompat ke arah Yellow yang tidak bisa berbuat apa-apa.
KRAK!
Sementara itu...
Red, Lime, Brown dan Black berpencar mencari Pink dan Yellow. Red seketika melupakan rasa sakitnya dan kini hatinya dipenuhi rasa khawatir.
Mereka sudah masuk ke laboratorium, comunication, weapons, dan office. Tapi tidak berhasil menemukan mereka berdua.
"Black, aku tidak menemukan mereka. Apa mungkin mereka di specimen room?!" Tanya Lime dengan berteriak kepada Black yang ada di sekitar laboratorium bersama Brown.
"Tunggu, storage terkunci!" Seru Red.
Red menghampiri pintu itu lalu mencoba membukanya. Tapi tidak bisa karena tubuhnya yang masih lemah. Black maju lalu membantu Red membuka pintu itu.
Pintu itu berhasil terbuka dan mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat. Terlihat tubuh Yellow tergeletak di dekat pintu dengan tengkorak yang sudah hancur dan otaknya teronggok keluar dari tempatnya. Di dekat dinding agak jauh dari Yellow, terlihat Rugel yang tidak sadarkan diri.
Red masuk lalu menghampiri Rugel untuk memastikan dia masih bernafas. Setelah mengecek, Red menghela nafas lega karena ternyata Rugel hanya pingsan.
"Dia hanya pingsan," kata Red sambil memeluk Rugel.
Lime celingukan, "Dimana Pink?"
Brown ikut mencari. Sedangkan Black menatap lubang vent yang di sekitar lubang itu terdapat darah.
"Hahahaha...!!!" Mereka semua terkejut mendengar suara tawa yang memekakkan telinga itu. Mereka keluar lalu menghampiri sumber suara itu yang berasal dari sekitar kawah lava.
Setelah tiba, mereka menemukan Pink yang berdiri membelakangi mereka dengan tangan berlumuran darah. Dia menoleh sambil menjilat darah yang ada di tangannya. Senyum tersungging di bibirnya ketika melihat wajah terkejut dari orang-orang yang sudah ditipunya selama ini.
"Pink, berani sekali kau. Kenapa kau melakukan ini?!" Bentak Lime dengan penuh rasa marah.
"Pink? Kau masih berpikir aku adalah dia?" Suara Pink yang semula lembut menjadi berat dan dingin.
Matanya berubah merah dan perutnya mulai memunculkan gigi-gigi tajam. Tentakel muncul dari punggung nya.
Tiba-tiba, Black berlari menuju ke arah Pink. Mereka bertiga terkejut.
"Black!" Seru Brown.
Tapi Black tidak mendengar teriakan Brown. Hatinya sudah dipenuhi rasa benci dan ingin balas dendam pada Pink atas apa yang terjadi pada White.
Dia melompat lalu menyerang Pink. Sedangkan Pink hanya menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh Black. Ini bukan pertama kalinya dia bertarung dengan Black, jadi dia tidak akan terlalu bereaksi.
Red, Lime dan Brown masih ditempat. Lime berlari hendak membantu Black. Tapi Red menahan tangannya.
Lime menoleh, "Kenapa kau menahan ku? Apa kau tidak ingin aku membantu Black?"
"Apa kau tidak mendengar suara aneh?" Red bertanya balik.
Mendengar itu, Brown dan Lime diam dan mulai menajamkan pendengarannya. Terdengar suara gemuruh yang semakin lama semakin besar. Tiba-tiba tanah tempat mereka berpijak juga ikut bergetar seperti ada gempa. Black yang sedang bertarung juga merasakan hal itu.
Pink tersenyum lebar, "Mereka sudah datang!"
Salah satu tentakel nya bergerak cepat lalu memukul Black hingga dia terlempar ke arah teman-temannya. Lime berhasil menangkap tubuhnya sebelum dia terlempar lebih jauh.
"Apa itu?" Tanya Black sambil berdiri.
Pink tertawa lebar. Tiba-tiba dari semua lubang yang ada di Polus, muncul begitu banyak tentakel dan tanah mulai retak.
"Bertemulah dengan penguasa Polus, manusia!!!"
Tanah hancur dan dari dalam tanah muncul monster-monster mengerikan dengan gigi tajam dan mata merah. Mereka semua menatap bengis kepada ketiga Crewmate.
Mereka bertiga terkejut. Mereka melihat wujud asli dari penguasa Polus dan sekarang mereka sudah terjebak. Sudah tidak ada jalan keluar.
Bersambung
.
.
.
.
Sampai jumpa 👋