Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 4: Welcome to Mira HQ



Red bangun subuh pagi ini. Seperti yang telah di pesankan oleh orang misterius kemarin malam, dia pun segera menuju tempat yang ditentukan. Dia pergi berjalan karena lokasinya tidak terlalu jauh.


Setelah sampai, Red menjadi bingung. Tempat itu sepi sekali. Tidak ada seorang pun selain dirinya. Itu membuat Red sedikit takut. Takut kalau saat ini dia sedang dijebak.


Tiba-tiba seseorang muncul di belakang Red lalu membekap mulutnya. Red yang terkejut sontak berbalik sambil melayangkan pukulan.


"Aduh!" Kata orang itu sambil jatuh terduduk. Red melongo karena mengenal orang itu yang ternyata orang yang sama kemarin malam.


"E-eh maaf, apa kau tidak apa-apa?" Tanya Red panik.


"Hahaha... Sudah kubilang jangan main-main dengan dia sekarang kau kena pukul kan. Hahaha," tawa temannya.


"Cih diam lah," kata orang itu sambil berdiri di bantu Red.


"Maaf," kata Red lagi.


"Tidak apa-apa," jawab orang itu. Temannya berusaha menahan tawa, itu membuat dia semakin kesal.



"Sudahlah, bagaimana kalau kita langsung berangkat saja?" Usul Red yang di jawab anggukan oleh kedua orang itu.


Red mengikuti mereka menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat itu. Setelah masuk, mobil mulai bergerak menuju tempat yang dituju.


"Apakah Mira HQ itu di hutan?" Tanya Red karena saat ini mereka memang masuk hutan.


"Tidak, hanya jalan ke sana saja yang lewat hutan," jawab orang yang disampingnya.


"Kalau boleh tahu, siapa nama kalian berdua?" Tanya Red.


"Namaku Liu, lalu kalau orang yang kau pukul tadi namanya Vio," jawab orang yang bernama Liu itu. Menunjuk temannya yang sedang menyetir.


"Heh lupakan itu," kata Vio marah. Sementara Liu hanya cekikikan.


"*J*ika saja tidak ada Red di mobil ini, aku pasti sudah melemparnya ke luar," batin Vio.


Setelah melewati jalan yang menanjak dan berkelok-kelok, mereka pun sampai di sebuah pos jaga. Dari dalam pos itu, datang 2 orang yang memberhentikan mereka.


Vio membuka jendela mobilnya lalu menunjukkan sebuah kartu identitas. Melihat kartu itu, mereka mengijinkan Red dan kedua temannya lewat.


Setelah mendaki sedikit, akhirnya mereka sampai di sebuah lapangan terbuka yang merupakan landasan helikopter. Di sekitar situ juga ada beberapa bangunan kecil.


Liu segera turun dari mobil lalu berlari kecil menuju salah satu bangunan, di ikuti Red yang ikut turun dari mobil. Dia tidak tahu kalau di situ ada landasan helikopter.


"Kita segera berangkat," kata Liu yang sudah kembali bersama seseorang yang diduga Red sebagai pilot helikopter.


"Ayo!" Jawab Vio lalu mengajak Red untuk masuk ke salah satu helikopter diikuti ketiga orang itu.


Helikopter mulai bergerak lalu terbang menembus awan. Udara begitu dingin. Meski sudah memakai jaket tetap saja tidak cukup. Red mulai menggigil.


Kabut tebal mulai menyelimuti mereka. Jarak pandang menghilang tapi ketiga orang itu terlihat tenang, sepertinya karena sudah terbiasa menghadapi situasi seperti itu. Terkecuali Red yang sedikit cemas tapi berusaha percaya pada pilot itu.


Kabut perlahan-lahan menipis. Red melihat sebuah bangunan besar tapi tidak terlalu jelas karena tertutup kabut. Baru setelah helikopter menembus kabut, bangunan itu terlihat jelas.


Red terkagum. Dia melihat sebuah bangunan yang begitu tinggi dan besar menembus awan dan berlatar belakang matahari terbit.



"Selamat datang di Mira HQ," sambut Vio sambil tetap melihat ke depan.


Red benar-benar takjub. Dia melihat ke luar jendela dan terlihat beberapa helikopter dan pesawat luar angkasa yang turun dari atas lalu menuju Mira HQ. Itu membuat Red ingin menanyakan sesuatu tapi dia urungkan karena mereka sudah mendekati Mira HQ.


Helikopter mereka perlahan-lahan turun dan mendarat dengan mulus. Mereka turun dan di sambut oleh seseorang yang memakai seragam penjaga berwarna abu-abu. Red mengenali orang itu sebagai orang yang kemarin datang padanya.


"Kerja bagus, sekarang kalian bisa beristirahat. Red kau ikut aku," kata orang itu.


"Memang itu yang ingin kami lakukan," jawab Vio. Tiba-tiba Liu berlari menjauh.


"Siapa cepat dia dapat," kata Liu sambil berlari. Vio mengejarnya.


"Heh kau curang," pekiknya sambil ikut berlari.


"Aku ikut," kata si pilot lalu menyusul Vio dan Liu.


"Abaikan saja mereka. Ngomong-ngomong kau bisa panggil aku pak Junaidi, aku adalah petugas keamanan di Mira HQ," kata pak Junaidi sambil tersenyum ramah.



"Kita langsung saja ke tempat atasan," kata pak Junaidi lagi lalu pergi diikuti Red.


"Atasan?"


"Iya, dia adalah orang yang mengurus Mira HQ. Dan dia juga lah yang meminta agar kau dipindahkan ke sini," jawabnya.


Mereka sampai di tempat landasan khusus pesawat luar angkasa. Di situ ada beberapa astronot yang turun dari pesawat, beberapa mekanik yang sibuk memperbaiki pesawat, petugas kebersihan yang tidak kalah sibuk, dan masih banyak lagi.


"Kau tunggu di sini sebentar aku ingin berbicara dengan temanku," kata pak Junaidi lalu pergi menghampiri temannya yang juga memakai seragam penjaga. Red menurut dan tetap di posisinya.


"Psst... Hey kau jaket merah," panggil seseorang pada Red.


Red menoleh tapi tidak ada seseorang pun di dekatnya. Dia pun bingung.


"Hey di bawah sini," panggil suara itu lagi. Red menunduk dan terkejut sampai mundur.


Ternyata di bawah ada vent yang terbuka dan ada seseorang di dalamnya.


"Maaf membuatmu terkejut, tapi bisakah tolong ambilkan kotak hitam itu?" Pinta orang itu.


Red menoleh dan melihat sebuah kotak peralatan berwarna hitam yang terbuka. Dia mengambil kotak itu lalu memberikannya pada orang itu.


"Terima kasih," kata orang itu sambil menyalakan senter yang di atas topinya lalu menghilang dalam kegelapan vent. Red tetap memperhatikannya, bahkan saat orang itu menghilang dia tetap di posisinya.


"Apa yang kau lakukan Red?" Tanya pak Junaidi tiba-tiba.


Red terkejut lagi, "Astaga, oh um ya aku tidak melakukan apa-apa," jawab Red tergagap.


"Lalu kenapa kau melihat ke dalam vent?"


"Siapa yang di dalam vent itu?" Red bertanya balik.


"Oh itu engineer. Tugas mereka untuk memperbaiki kerusakan di Mira HQ," jawab pak Junaidi. Red hanya mengangguk.


Red mendapatkan pemandangan tidak biasa. Dia melihat ada hewan dengan tumbuhan yang tumbuh di tubuhnya. Seperti kodok setinggi dirinya dengan bunga teratai di punggungnya, ular bersisik daun, dan masih banyak lagi.


"Apa-apaan ini?" Tanya Red tercengang.


"Kenapa? Kau bingung?" Pak Junaidi terkekeh.


"Ya," jawab Red.


"Begini. Di zaman sekarang sudah banyak sekali spesies hewan dan tumbuhan yang sudah punah. Para ilmuwan di sini berusaha untuk mengembalikan mereka. Tapi tentu saja mereka harus melakukan uji coba terlebih dahulu dan makhluk-makhluk aneh yang kau lihat sekarang adalah hasil uji coba yang gagal," jelas pak Junaidi panjang lebar.


"Oh begitu, tapi tidakkah beberapa dari mereka berbahaya?"


"Kalau yang itu..."


Aaaaa...!!!


Kalimat pak Junaidi terpotong karena ada seorang penjaga yang berlari melewati mereka dan tidak lama setelah dia lewat, makhluk aneh berbentuk bunga mawar yang bergerak menggeliat seperti ular mengejar penjaga itu. Di susul dengan beberapa penjaga dan ilmuwan yang mengejar mereka.


"Sudah biasa," lanjut pak Junaidi sambil tersenyum tenang.


Mereka melanjutkan perjalanan hingga ketika sampai di lorong berbelok tajam, pak Junaidi berhenti lalu sedikit menjauh dari Red karena ponsel nya berbunyi.


"Halo? Ya dia sudah datang. Apa? Yang satunya belum datang? Oh baiklah. Hm ya sampai jumpa," pak Junaidi menutup teleponnya lalu kembali ke pada Red.


"Sebenarnya saat aku datang malam itu, ada satu orang lagi yang kunjungi. Dia dari tempat yang sama denganmu. Hanya saja dia belum datang, jadi bisakah kau menunggu di cafetaria sebentar? Karena atasan ingin berbicara langsung dengan kalian berdua jadi dia tidak perlu berbicara dua kali," pinta pak Junaidi.


"Baiklah aku akan menunggu, tapi cafetaria di mana?" Tanya Red.


"Sebentar," pak Junaidi celingak-celinguk, "Hey Nevi kemari!" Panggilnya pada salah satu ilmuwan.


Ilmuwan itu mendekati mereka sambil tersenyum ramah dan kedua tangannya di saku jubahnya. Pak Junaidi menjelaskan beberapa hal pada ilmuwan itu lalu pergi.



"Namaku Nevi, aku akan membawa mu ke cafetaria," kata Nevi sambil mengulurkan tangannya. Red membalasnya lalu mengikutinya.


"Apa kau seorang doctor, Nevi?" Tanya Red.


"Tidak aku hanya lah scientis," jawab Nevi


Mereka terus berjalan sampai melewati lorong yang terbuat dari kaca dan akhirnya sampai di sebuah ruangan besar dengan 2 meja persegi panjang dan sebuah mesin minuman.


"Ini cafetaria. Ayo kutemani, mumpung sekarang juga waktu istirahat ku," ajak Nevi.


Mereka mengambil 2 botol air mineral dan beberapa camilan lalu duduk dan mulai mengobrol santai.


Tiba-tiba makhluk aneh berwarna hijau dengan antena di kepala terbang rendah masuk ke cafetaria sambil menenteng sebuah headphone berwarna merah. Tidak lama setelah makhluk itu masuk, seseorang juga ikut masuk sambil berteriak pada makhluk itu.


"Jangan lari kau, kembalikan headphone ku!" Teriaknya membuat orang-orang terkejut. Termasuk Red.


Makhluk itu mengejeknya lalu mengajaknya mengelilingi ruangan itu. Ketika makhluk itu berbelok tajam, orang itu terpeleset dan jatuh. Makhluk itu tertawa lalu terbang menjauh, tapi Red menghalanginya.


"Kembalikan headphone nya!" Perintah Red tapi makhluk itu menggeleng. Tapi makhluk itu terdiam sejenak.


Tatapannya tertuju pada camilan milik Red. Dia melepaskan headphone itu lalu mengambil camilan dan pergi. Red dengan sigap menangkap headphone itu agar tidak jatuh lalu menghampiri orang tadi.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Red.


"Aduh," rintih orang itu sambil mengusap kepalanya yang tadi terbentur, "Aku tidak apa-apa," jawabnya lalu berdiri di bantu Red.


"Ini headphone mu."


"Woah terima kasih banyak," katanya lalu mengambil headphone itu dan mengenakannya.


"Heh Nevi, ajari lah peliharaan mu itu sopan santun!" Pekik orang itu lagi pada Nevi.


"Aku tidak tahu cara mengajari headslug sopan santun," jawab Nevi cuek.


"Ya seperti kau yang tidak sopan."


"Heh!" Bentak Nevi kesal. Sementara orang itu tertawa geli.


Orang itu berhenti tertawa lalu memperhatikan Red, "Aku belum pernah melihat mu sebelumnya. Apa kau orang baru?" Tanyanya.


"Dia itu astronot yang dipindahkan ke sini," jawab Nevi.


"Oh kau rupanya. Kenalkan namaku Black, aku adalah petugas komunikasi dan informasi di sini," kata orang yang bernama Black itu.


"Hai aku Red, salam kenal," kata Red sedikit gugup.


Red kembali duduk. Black membuat kopi terlebih dahulu lalu bergabung.


"Jadi bagaimana menurutmu dengan pesawat yang hilang itu?" Tanya Black membuka pembicaraan.


"Pesawat yang hilang?" Red bertanya balik dengan bingung.


"Heh dia belum diberi tahu tentang itu," kata Nevi sambil menyikut Black.


Black terkejut, "Belum diberi tahu? Astaga mulutku," kata Black menyesali perkataannya.


Rasa penasaran Red pun memuncak, "Ada apa dengan pesawat yang hilang? Bisakah kalian beritahu aku? Aku sudah menahan rasa penasaran ku sejak aku datang ke sini," paksa Red. Dia akan kehilangan sopan santun nya jika sedang penasaran.


Black dan Nevi saling bertatapan lalu menghela nafas.


"Akan ku beritahu," kata Black.


Red kembali diam. sebentar lagi semua pertanyaan nya akan terjawab.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋 selamat hari natal ( meski udah lewat).